Upi berencana untuk tidak menuliskan kisah cinta. Meski bagaimanapun,
hal itulah yang selalu terlintas dalam kepalanya saat melihat gambar
yang menjadi bahan tulisannya. Sebuah foto; sepasang kaki—hanya kaki,
dari pinggang ke bawah—pria dan wanita, tengah berhadap-hadapan di
trotoar, dengan latar tembok yang dipenuhi grafiti. Ada sesuatu yang
karib dalam foto itu, sebuah emosi, sebuah perasaan asing, sebuah
kekuatan yang entah, yang terus saja menghantam dinding-dinding
ingatannya hingga jebol. Dan karena alasan itulah, selama lima jam duduk
di depan laptopnya, tiada lain yang dilakukannya kecuali duduk dan
sesekali menunduk, meremas sambil menyisir dengan jari, rambutnya yang
hitam ke belakang.
Upi masih tetap berencana untuk tidak menuliskan kisah cinta. Itu sudah
biasa. Ia bosan. Ia ingin menuliskan sesuatu yang lain, yang menantang
imajinasinya sampai taraf tak terlampaui. Tapi, bisakah? Sementara,
ketika menatap foto di dalam layar laptopnya itu, ia seperti mendengar
deru napas seorang wanita yang berlari: suara sol sepatu si wanita yang
bergesekan dengan trotoar yang kering, kibasan jaket warna biru muda
yang si wanita kenakan. Bahkan ia serasa bisa mendengar degub jantung si
wanita yang dipaksa bekerja lembur. Masih dalam bayangannya, rambut
panjang si wanita yang berwarna hitam dikuncir kuda, beberapa helainya
menempel pada kening, pipi, yang basah oleh keringat. Sorot mata si
wanita sarat akan kecemasan. Dan batin si wanita terus mengulang-ngulang
satu kata “Tidak, tidak, tidak!”.
Upi mulai menarikan jemarinya di atas keyboard, mencoba
menuliskan yang lain itu. Ia sadar, jika hanya dipikirkan, tulisannya
tidak akan pernah rampung. Maka ia putuskan untuk menulis acak,
menuliskan apa pun yang pertama kali terlintas. Tentu, selain yang
berhubungan dengan cinta. Dan, mulailah ia menulis tentang sebuah
kerajaan yang diserang oleh sekawanan lebah raksasa. Pada titik ini dia
berhenti, berpikir, kenapa lebah? Kemudian, seolah disadarkan
oleh sesuatu di luar kuasanya, ia mengabaikan pertanyaannya sendiri
lantas kembali menulis. Belum genap satu halaman, ia merutuk, dan
menghapus keseluruhan cerita yang sudah dibuatnya. Entah bagaiamana,
tiba-tiba saja cerita tentang penyerangan lebah itu berbelok menjadi
kisah cinta. Pasukan lebah raksasa menyerang. Kerajaan memberikan
perlawanan. Dan ketika itulah, si komandan lebah yang sebetulnya tengah
bertempur sengit dengan salah seorang panglima, tiba-tiba saja melihat
sosok putri kerajaan yang jelita. Celaka. Sebuah tombak tiba-tiba
menembus tubuhnya. Ia jatuh. Terkapar. Dan sesaat sebelum mati, ia
memohon kepada Tuhan Para Lebah untuk dihidupkan lagi sebagai manusia.
Dan kemudian itulah yang terjadi.
Upi masih bertahan pada pendapatnya: tidak akan menuliskan kisah cinta.
Sudah terlampau banyak kisah cinta yang ia tulis. Sampai ia sendiri
lupa, itu kisah dirinya atau kisah tokoh fiksinya. Karena keduanya
memang sama banyaknya. Ia pernah menulis tentang hari-hari bersama
kekasih yang, saat ketika ia menuliskannya, sebetulnya telah menjadi
mantan kekasih. Mulanya ia baik-baik saja. Dan merasa bahagia karena
telah menuliskannya. Lama berselang, barulah ia sadar bahwa yang
dilakukannya hanyalah menaburkan garam pada luka. Ia berhenti. Kemudian
menghapus semua tulisannya sendiri. Menghilangkan jejak. Meski ia sadar,
tidak satu kata pun yang hilang dalam pikirannya.
Kemudian cerita lain. Dan cerita lain. Semuanya adalah tentang cinta dan
luka. Air mata dan kehilangan. Jarak dan kesetiaan. Ia memang selalu
menuliskan kisah cinta, tapi tanpa bebunga atau sandiwara.
Upi masih menatap foto di dalam layar laptopnya. Dan belum juga tahu
akan menuliskan apa. Karena satu-satunya hal ia tahu hanyalah kisah
cinta. Akan tetapi, kali ini, Upi tidak ingin menuliskannya.
*gambar diambil dari ...
0 comments