Minggu 10 Olihn

Kamisan S3 #10: Upi dan Kisah Cinta

13.49Unknown

Upi berencana untuk tidak menuliskan kisah cinta. Meski bagaimanapun, hal itulah yang selalu terlintas dalam kepalanya saat melihat gambar yang menjadi bahan tulisannya. Sebuah foto; sepasang kaki—hanya kaki, dari pinggang ke bawah—pria dan wanita, tengah berhadap-hadapan di trotoar, dengan latar tembok yang dipenuhi grafiti. Ada sesuatu yang karib dalam foto itu, sebuah emosi, sebuah perasaan asing, sebuah kekuatan yang entah, yang terus saja menghantam dinding-dinding ingatannya hingga jebol. Dan karena alasan itulah, selama lima jam duduk di depan laptopnya, tiada lain yang dilakukannya kecuali duduk dan sesekali menunduk, meremas sambil menyisir dengan jari, rambutnya yang hitam ke belakang.
Upi masih tetap berencana untuk tidak menuliskan kisah cinta. Itu sudah biasa. Ia bosan. Ia ingin menuliskan sesuatu yang lain, yang menantang imajinasinya sampai taraf tak terlampaui. Tapi, bisakah? Sementara, ketika menatap foto di dalam layar laptopnya itu, ia seperti mendengar deru napas seorang wanita yang berlari: suara sol sepatu si wanita yang bergesekan dengan trotoar yang kering, kibasan jaket warna biru muda yang si wanita kenakan. Bahkan ia serasa bisa mendengar degub jantung si wanita yang dipaksa bekerja lembur. Masih dalam bayangannya, rambut panjang si wanita yang berwarna hitam dikuncir kuda, beberapa helainya menempel pada kening, pipi, yang basah oleh keringat. Sorot mata si wanita sarat akan kecemasan. Dan batin si wanita terus mengulang-ngulang satu kata “Tidak, tidak, tidak!”.
Upi mulai menarikan jemarinya di atas keyboard, mencoba menuliskan yang lain itu. Ia sadar, jika hanya dipikirkan, tulisannya tidak akan pernah rampung. Maka ia putuskan untuk menulis acak, menuliskan apa pun yang pertama kali terlintas. Tentu, selain yang berhubungan dengan cinta. Dan, mulailah ia menulis tentang sebuah kerajaan yang diserang oleh sekawanan lebah raksasa. Pada titik ini dia berhenti, berpikir, kenapa lebah? Kemudian, seolah disadarkan oleh sesuatu di luar kuasanya, ia mengabaikan pertanyaannya sendiri lantas kembali menulis. Belum genap satu halaman, ia merutuk, dan menghapus keseluruhan cerita yang sudah dibuatnya. Entah bagaiamana, tiba-tiba saja cerita tentang penyerangan lebah itu berbelok menjadi kisah cinta. Pasukan lebah raksasa menyerang. Kerajaan memberikan perlawanan. Dan ketika itulah, si komandan lebah yang sebetulnya tengah bertempur sengit dengan salah seorang panglima, tiba-tiba saja melihat sosok putri kerajaan yang jelita. Celaka. Sebuah tombak tiba-tiba menembus tubuhnya. Ia jatuh. Terkapar. Dan sesaat sebelum mati, ia memohon kepada Tuhan Para Lebah untuk dihidupkan lagi sebagai manusia. Dan kemudian itulah yang terjadi.
Upi masih bertahan pada pendapatnya: tidak akan menuliskan kisah cinta. Sudah terlampau banyak kisah cinta yang ia tulis. Sampai ia sendiri lupa, itu kisah dirinya atau kisah tokoh fiksinya. Karena keduanya memang sama banyaknya. Ia pernah menulis tentang hari-hari bersama kekasih yang, saat ketika ia menuliskannya, sebetulnya telah menjadi mantan kekasih. Mulanya ia baik-baik saja. Dan merasa bahagia karena telah menuliskannya. Lama berselang, barulah ia sadar bahwa yang dilakukannya hanyalah menaburkan garam pada luka. Ia berhenti. Kemudian menghapus semua tulisannya sendiri. Menghilangkan jejak. Meski ia sadar, tidak satu kata pun yang hilang dalam pikirannya.
Kemudian cerita lain. Dan cerita lain. Semuanya adalah tentang cinta dan luka. Air mata dan kehilangan. Jarak dan kesetiaan. Ia memang selalu menuliskan kisah cinta, tapi tanpa bebunga atau sandiwara.
Upi masih menatap foto di dalam layar laptopnya. Dan belum juga tahu akan menuliskan apa. Karena satu-satunya hal ia tahu hanyalah kisah cinta. Akan tetapi, kali ini, Upi tidak ingin menuliskannya.
*gambar diambil dari ...  

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak