Secara cepat aku membaca surat-surat yang kuambil dari kotak
surat. Seperti biasa, sebagian besar adalah laporan rekening koran dan
tagihan-tagihan. Beberapa berupa katalog promosi. Rasa lelah membawaku ke sofa.
Tumpukan surat kuletakkan di sampingku. Dengan sebelah tangan kuseka rasa lelah
dari wajahku.
Aku baru hendak beranjak ketika sebuah sampul surat yang
sepertinya tidak biasa tertangkap oleh sudut mataku. Warna hijau dan coklat mendominasi
sampul surat tersebut. Surat yang tidak biasa. Sebuah kartu undangan kutemukan
di dalamnya. Bianca …. Aku mengucap
nama itu dalam hati. Keningku berkerut berusaha memahami nama itu. Seperti
sebuah film berkelebat dalam ingatanku, aku melihat diriku. Diriku sebagai
kanak-kanak.
***
“Bianca. Lihat!” aku mengejar Bianca
melintasi padang rumput yang selalu menjadi area permainan kami. Tanganku
menggenggam dua kuntum bunga yang aku tidak tahu namanya. Bentuknya mirip
seperti bentuk lonceng. Warna merah muda pekat membuatnya begitu cantik. Aku
berusaha mengatur napasku yang terburu. Bianca memandangku. Tidak. Dia
memandang dua kuntum bunga yang kugenggam. “Aku tidak mencabutnya,” kataku di
tengah-tengah napasku. “Mama memberikannya. Ia membelinya di toko bunga.” Bianca
sangat tidak suka kalau aku memetik bunga. Ia sangat suka bunga. Tapi ia
menyukainya jika bunga-bunga itu tertanam di tanah. Tempat mereka tumbuh.
Bianca tetap tidak menyukai hal itu,
sebenarnya. Tapi, melihat warna merah muda yang demikian cantik baginya itu, ia
mengulurkan tangan menyentuh kelopak bunga di tanganku. Aku melihat ia
tersenyum. Kuberikan satu untuknya. Bunga itu menjadi teman bermain kami, sore
itu. Lelah bermain, kami menjatuhkan diri ke atas rerumputan, memandangi langit
yang kian merah. Sore itu merupakan sore terakhir aku bertemu Bianca. Lima hari
setelah itu, ia pergi meninggalkan kota masa kecilnya.
***
Kartu undangan pembukaan galeri
lukisan Bianca ada dalam genggamanku. Mataku mencari-cari. Seperti apakah Bianca saat ini? Bagaimana aku dapat mengenalinya?
“Adrian?” Aku menoleh. Tante Ariadna
berdiri di belakangku. Ia adalah Ibunda Bianca. “Tante bahagia sekali kamu
datang,” katanya sambil memelukku. Aku membalas pelukannya juga sama erat. Tante
Ariadna memandangiku dengan tatapan yang tak bisa kujelskan. Tanpa sadar, mataku kembali mencari-cari. “Bianca
pun pasti bahagia.”
“Di mana Bianca, Tante?” Tak tahan
aku untuk bertanya. Dan pertanyaan itu menggiringku pada suatu kenyataan pahit
yang tak terbayang olehku sebelumnya. Pembukaan galeri ini adalah untuk mengenang
Bianca. Ia meninggal dunia tiga tahun lalu akibat kanker payudara yang ia
derita selama dua tahun sebelumnya. Tante Ariadna menunjukkan sebuah lukisan
padaku. Lukisan yang dibuat Bianca pada satu tahun terakhir hidupnya. Aku tersenyum
memandang lukisan itu. Lukisan dirinya, aku, dan dua kuntum bunga di padang
rumput. Tepat seperti ingatanku yang terakhir tentangnya.
Yola M. Caecenary
Kamisan #11 Session 3 : Lukisan Bianca - Deadline : 18 Juni 2015
Foto tema tulisan
0 comments