Juni. Ketika angin bermain-main menelisik lembaran daun-daun.
Hari-hari ketika kemarau dan penghujan sedang mesra-mesranya. Manusia
menyebutnya pancaroba. Pada masa musim masih memiliki waktu.
Pada masa seperti itulah, hampir setiap petang aku dan teman-temanku
mengarak layangan ke tanah lapang. Hampir semua anak lelaki. Tetapi ada
juga, satu dua anak perempuan yang seperti lelaki. Ikut aku dan
teman-teman lekakiku bermain bola, mengejar layang-layang, memanjat
pohon mangga om Gani. Yang lainnya lebih memilih bermain masak-masakan
di mana yang satu menjadi ibu–yang kerjanya hanya memasak–dan yang
lainnya menjadi tamu atau anak atau siapa saja yang nantinya
akan–berpura-pura–memakan hasil masakan si Ibu. Tetapi jangan mengira tak ada anak lelaki ikut bermain masak-masakan. Itu salah besar.
Sudahlah.
Selain anak-anak yang bermain ini-itu, tanah lapang ini juga ramai
oleh ibu-ibu yang saban sore menyuapi anak batitanya makan. Tawaku
selalu meledak tiap kali melihat kawanan batita-batita itu, bukan
apa-apa, abisan wajah mereka coreng moreng oleh bedak. Tak hanya satu tapi hampir semua anak. Kompak sekali ibu mereka kan?
Ada lagi yang tak pernah absen datang ke tanah lapangan ini ketika
petang. Namanya Alang. Anak perempuan manis berambut panjang. Usianya
tujuh tahun. Lebih muda setahun dari usiaku. Alang tak datang untuk
bermain layang-layang atau pun memasak seperti anak-anak lain. Ia selalu
datang dengan membawa boneka serta sepasang sepatu merah muda dalam
kantung plastik. Lalu ia kan duduk. Di bawah naungan pohon yang aku tak
tahu apa namanya, di atas sebuah tempat duduk berbahan semen. Ia
letakan boneka di sisi kanannya. Memantapkan posisi duduk dan menunggu.
Mula-mula, ketika aku tahu Alang selalu duduk dan menunggu di sana
aku tak pernah ambil pusing. Sejak pindah ke lingkungan perkampungan
ini, tak pernah sekali pun Alang bermain dengan teman sebayanya. Ia juga
tak sekolah seperti kami. Sepertinya juga sekolah di tempat lain. Itu
kuketahui ketika aku pulang cepat dari sekolah karena guru-guru hendak
rapat. Aku sengaja melewati rumah Alang, anak itu ada. Ketika aku lewat
aku lewat ia sedang berdiri di teras rumahnya. Bernaung di bawah kanopi
berwarna merah bata, melihat–entah apa. Aku tak menyapanya. Hanya
menatapnya. Alang seperti tak menyadari kehadiranku. Ia juga tak menyapa
bahkan membalas senyumku ketika aku berlalu pergi.
Sejak saat itulah. Mengejar layang-layang tak lagi menarik minatku.
Sering aku hanya pura-pura ikut mengejar lalu berbalik menghilang dari
arus anak-anak yang berlari. Aku menuju ke tempat Alang biasa menunggu.
Ketika aku sampai ternyata Alanb tak lagi menunggu. Di hadapannya ada
Mang Sadi sedang menjahit sepatunya.
Lain lagi cerita tentang Mang Sadi. Umurnya sekarang tujuh puluh lima
tahun. Mantan tentara. Hanya itu yang warga kampung kami tahu. Perihal
sanak-istrinya tak adalah yang tahu. Atau soal bagaimana ia bisa jatuh
papa. Sebagai pensiunan tentara mang Sadi tak seberuntung rekannya
(ngomong-ngomong, aku tak tahu apakah istilah beruntung tepat atau
tidak) sebab tak sekali pun ia menerima uang pensiun. Untuk menyambung
hidup, mang Sadi menjadi tukang sol, tukang jahit sepatu. Mungkin
keterampilannya itu ia peroleh ketika hidup di barak. Mungkin tentara
harus menjahit sepatu mereka sendiri. Siapa yang tahu?
Kisah mang Sadi bertahan seperti legenda. Bahkan anak-anak seperti
aku pun tahu soal itu. Dulu-dulu ketika harga sepatu masih mahal, orang
kampung selalu lari pada mang Sadi untuk memperbaiki sepatu mereka. Di
masa sekarang ketika sepatu bisa dibeli dengan harga rupa-rupa, jasa
mang Sadi tidak lagi terpakai. Paling-paling hanya dua-tiga orang saja
yang masih menjahit sepatu selebihnya membeli yang baru.
Sampai suatu sore aku terpergok mang Sadi sedang mengintip mereka.
Dengan isyarat tangan aku meminta mang Sadi untuk diam. Ketika Alang
pergi bersama ibunya. Mang Sadi menghampiriku.
“Kamu tahu namanya, Ali?” tanyanya.
Aku mengangguk, “Alang,” kataku.
Aku mengangguk, “Alang,” kataku.
Lalu perkataan mang Sadi selanjutnya membuatku serasa melayang-layang. Apa katanya tadi? Alang, anak manis dengan sepatu merah muda itu, buta.
“… aku tak tahu kenapa anak itu selalu duduk di sini menungguku.
Sepatu merah mudahnya itu, tak ada bagian yang belum pernah kujahit.
Namun ia selalu memaksa. Aku harus berpura-pura menjahitnya hanya agar
dia senang. Saat kuulurkan kembali sepatunya, dia hendak membayar tetapi
kutolak. Kubilang itu hadiah, namun dia tetap menolak. Tetapi, anak
itu, selalu datang lagi dan lagi.”
Sejak saat itulah keinginanku untuk mengenal Alang lebih jauh timbul.
Aku beranikan diri datang ke rumahnya. Mengajaknya berkenalan, bermain
dan berbicara. Ketika aku bertanya tentang mang Sadi dan sepatu merah
muda-nya beginilah jawab Alang
Bahwa ia mendengar cerita tentang mang Sadi dari ibunya. Sang ibu
selalu menceritakan kepada Alang tentang keberuntungan orang-orang
dibalik kesusahan yang mereka alami. keberuntungan seseorang adalah
ketika masih ada orang lain yang peduli pada diri mereka. Dan kitalah,
Alang, kata ibunya, yang bisa memberikan keberuntungan pada orang lain.
Pada orang-orang seperti mang Sadi.
Maka Alang, memberikan hadiah kepada mang Sadi lewat pembayaran yang
tak seberapa setiap kali sepatunya selesai dijahit. Itulah anggapannya.
Sepatu itu tak pernah lagi dijahit mang Sadi karna memang tak ada lagi
tempat untuk itu. Mang Sadi hanya berpura-pura. Berpura-pura untuk
menyenangkan si Gadis Buta.
Itu hadiah, begitulah kata mang Sadi suatu sore kepada
Alang. Mang Sadi mendongak, tersenyum kepadaku yang berdiri beberapa
langkah di belakang Alang dan bonekanya.
Lalu beberapa hari kemudian tersiar kabar mang Sadi berpulang.
∞
Hadiah.
Alang berarti hadiah. Aku ingat betapa aku mengeryit ketika mendengar namanya yang aneh itu.
Kehidupan ini dan Alang adalah hadiah.
“Apa tadi katamu?”
Pemilik suara itu, berjalan perlahan. Satu tangannya memegang cangkir
berisi teh madu. Aku mengambil cangkir itu dari tangannya. Meletakannya
di sisi meja kerjaku. Lalu menggenggam kedua tangan istriku itu,
menuntunnya duduk di sisi tempat tidur yang posisinya persis di samping
meja.
“Kamu, Alang, persis seperti namamu adalah hadiah bagi kehidupan orang-orang.”
Gadis manis yang buta itu tersenyum. Tanganya meraba-raba
wajahku–begitulah caranya membacaku, mengenaliku–lalu ia menggenggam
tangan erat. Erat.

∞
14:05
230515
Ket:
#KBBI 3 alang Mk n hadiah; pemberian;
0 comments