Minggu 9 Olihn

Kamisan S3 #9: Pada Suatu Sore di Tepi Pantai

13.41Unknown

Photo published for Kamisan #9 Session 3 : Menggambarku Baik. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Sangat-amat-keterlaluan. Aku tahu aku ini hanyalah tokoh rekaannya; tetapi bukan seperti ini caranya. Apa dia berpikir dirinya adalah Franz Kafka, sehingga merasa berhak membuat tokoh rekaannya, yang pada malam sebelumnya masih seorang bocah tetapi keesokan paginya telah menjadi seekor kecoa? Tidak, tidak. Dia tidak menjadikanku seekor kecoa, lebih buruk lagi; boneka beruang yang dekilnya minta ampun.

Menurutku kecoa masih lebih baik, karena paling tidak dia bisa terbang. Meski, ya, kautahulah, dalam cerita yang ditulis Kafka, kecoa itu akhirnya mendapat perlakuan tidak adil dan akhirnya mati. Tapi, ya, dia bisa terbang. Sementara menjadi boneka, ampun, berjalan saja sudah sangat susah. Kakiku sangat pendek, belum lagi bunyi decitan tiap kali kaki keparat ini menginjak lantai. Dan kautahu apa yang paling menyebalkan, ekor bulat di atas pantatku yang bergoyang ke kanan-kiri tiap aku berjalan. Sialnya, kedua orangtuaku malah menganggap hal itu lucu.

Ketika aku bangun pagi tadi, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh. Aku melompat turun dari ranjang sebagaimana biasanya, berjalan ke kamar kecil seperti pagi-pagi sebelumnya, tanpa menyadari bahwa ranjangku semakin tinggi sampai aku harus melompat turun dan jarak ranjang ke kamar kecil semakin jauh. Aku pun tidak sadar saat berada di depan wastafel—wastafel itu semakin tinggi, aku sampai secara tidak sadar menarik kursi hanya agar bisa bercermin—dan tetap tidak sadar saat air yang mengucur membasahi tempat yang seharusnya adalah telapak tanganku. Tapi, toh, dengan tangan boneka semacam itu aku masih bisa mencuci muka. Dan di sanalah, saat perlahan-lahan kesadaranku pulih, mataku menangkap sesuatu yang seharusnya adalah tanganku sedang mencengkeram pinggiran wastafel. Secara reflek aku pun mengangkat keduanya, membolak-balikannya, dan menatapnya dengan keingintahuan seekor monyet yang sedang kelaparan. Dan begitu aku mengangkat wajah dan memandang ke dalam cermin … tidak ada hal lain selain berteriak, dan selanjutnya adalah adegan kaget sebagaimana sering kalian di televisi: terjerembab ke belakang.

“Sudahlah, Sayang, jangan terlalu dipikirkan,” Ibuku berkata lembut sambil jari-jari tangan kananya membelai tangan kananku—maksudku, bagian yang seharusnya adalah tangan kananku, “Tidak ada yang salah dengan tiba-tiba menjadi boneka. Kau nampak semakin lucu.”

Aku mendesah. “Tapi, Bu … “ mengangkat wajah dan bersitatap dengan Ibuku, dan seketika itu aku langsung sadar tak ada gunanya berdebat dengannya, “Ibu tidak akan mengerti.”

“Kalau begitu, coba buat Ibu mengerti.”

Aku diam. Sejujurnya aku pun tidak punya jawabannya. Karena setelah dipikir-pikir, kalau boleh jujur, menjadi boneka ternyata tidak buruk-buruk amat. Maksudku, peluangku untuk mendekati para gadis menjadi semakin besar. Aku bosan terus-terusan menjadi—mengutip istilah penulis favorit Tuanku—seorang pria yang memeluk lutunya sendiri. Ya, dengan menjadi boneka, para gadis akan mengelilingiku. Karena ukuran tubuhku yang pendek, mereka akan berjongkok dan bagian yang paling indah akan terlihat semakin indah. Belum lagi jika mereka memelukku, kepalaku berada dia antara … sudahlah, aku tahu kalian sudah paham dan aku pun tidak ingin merusak reputasiku sendiri.

“Kau tiba-tiba terlihat senang. Ada apa?”

Aku terkesiap. Dan dengan segera membuang jauh-jauh apa-apa saja yang baru kubayangkan. “Sudahlah, Bu, aku mau jalan-jalan.”

Decitan kaki bonekaku menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Dan entah bagaimana, saat aku berjalan, aku yakin Ibuku masih terus tersenyum dan memandangku.

***

Dari mata bonekaku, segalanya terlihat berbeda. Bukan hanya karena semuanya terlihat lebih tinggi dan aku harus terus mendongak untuk melihat ke sekeliling, melainkan juga karena segalanya terlihat gegas—barangkali hal ini karena kakiku yang pendek yang membuatku tak bisa berjalan cepat. Semua orang terlihat buru-buru, mereka tak acuh dengan yang lain; berjalan dengan langkah rapat dan cepat dengan kepala yang terus menekuri gawai. Sebelumnya aku tidak pernah memerhatikan hal ini. Raut-raut wajah lelah mereka, pundak-pundak mereka yang melorot. Dan berkali-kali kaki-kaki mereka menendangku seolah aku ini sampah.

Aku membelok ke sebuah gang demi lolos dari kerumunan itu. Dan selama beberapa jenak, aku bisa bernapas lega, sampai tiba-tiba aku mendengar sesuatu dari dalam tong sampah. Seandainya aku mempunyai jakun, aku yakin inilah saat di mana jakunku itu naik dan turun, tetapi tidak ada jakun di sana, dan bahkan aku tidak mempunyai leher.

Aku pernah melihat seekor anjing yang dengan buas mengoyak perut boneka dengan taringnya. Anjing itu terus dan terus menggeram, sambil menggoyang-goyangkan kepala. Dan aku belum pernah melihat seekor kucing melakukan hal yang sama. Akan tetapi, kenyataan itu tidak serta merta membuatku tenang.

Sesuatu, atau seekor entah apa, meloncat dari tong sampah itu dengan sangat cepat. Hitam. Berekor panjang. Berbulu. Dan berbadan besar. Dan terlihat menjadi semakin besar saat hewan itu mengangkat tubuhnya. Moncongya yang runcing bergerak-gerak mengendus entah apa. Tubuhku memang lebih besar dan tinggi daripadanya, tetapi hal itu tidak membuatku merasa tenang. Lebih-lebih saat moncongnya yang menjijikan itu berada sekian centi dari bulu-bulu bonekaku. Mengendus dan mengendus.

Kau barangkali berpikir kenapa aku tidak lari saja? Cobalah kau berada di posisiku, berhadap-hadapan dengan hewan buas yang ketangkasannya, kecepatannya, kekuatannya, melebihi dirimu, apa kau bisa begitu saja berlari, tanpa menarik minatnya untuk memburumu? Tidak, tidak, meskipun aku sungguh-sungguh ingin lari, tetapi aku tidak bisa melakukannya saat ini.

Tikus itu masih terus mengendusiku, kali ini bukan hanya dari depan karena tiba-tiba ia berjalan mengelilingiku, seolah-olah sedang mencari mana bagian tubuhku yang paling enak untuk digigit terlebih dahulu.

Tikus keparat! Lihat saja bila nanti aku sudah menjadi manusia lagi. Akan kubakar kau hidup-hidup!

Itu pun jika tikus keparat itu tidak menggigitku terlebih dahulu. Gigitan tikus, kautahu, mengandung semacam penyakit—aku lupa namanya, tetapi jangan salahkan aku atas kelupaan itu, karena bagaimanapun, pengetahuanku sebatas pengetahuan Tuanku—dan jika sampai kau tergigit, itu akan menjadi sesuatu yang gawat. Kau akan menggelepar seperti ikan yang kehilangan air, mulutmu akan mengeluarkan busa, dan kau merasa sekujur tubuhmu terbakar. Dan lama-kelamaan, tubuhmu akan mengecil, mengecil, dan semakin kecil, sampai seukuran tikus yang menggigitmu, dan kemudian akan tumbuh ekor di bagian belakang tubuhmu, bulu-bulu hitam yang kasar, bentuk tengkorakmu akan berubah dan mulutmu akan menjadi moncong, dan kemudian kau resmi menjadi tikus … baiklah, itu tadi hanya bercanda, aku mengatakannya hanya agar aku lupa di mana aku saat ini.

Tikus itu masih berputar dan berputar. Mengendus dan mengendus. Dan tiba-tiba berhenti. Tepat di posisinya semula: di hadapanku. Moncongnya masih mengendus. Semakin dekat. Semakin dekat … sebuah suara tiba-tiba mengalihkannya, sebuah kaleng yang jatuh entah karena apa. Ia menoleh. Lantas cepat-cepat kabur dari tempat itu. Aku mengembuskan napas lega.

Aku berjalan tak tentu arah. Dan ketika aku sadar, tahu-tahu aku sudah berada di tepi pantai. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat seorang gadis tengah duduk sendirian, menunduk. Mungkin sedang merenungkan entah apa. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Lantas dengan susah payah naik agar bisa duduk di sebelahnya. Otakku mulai mereka-reka adegan demi adegan perkenalan kami. Mula-mula, aku akan berbicara tentang cuaca: “Cuaca yang indah, ya!”, “Oh, iya”, “Omong-omong, di cuaca yang seindah ini, kenapa kau terlihat murung?” barangkali dia tidak akan langsung menjawab, memberi jeda terlebih dahulu, bertingkah seolah-olah tidak peduli dan ingin sendiri, “Tidak apa-apa”, “Oh, Ayolah, ceritakan saja. Jangan kaukira karena aku ini boneka, aku tidak akan mengerti perasaanmu. Oh, iya, namaku …” dan aku akan menyebutkan namaku. Dan tentu setelahnya dia pun akan menyebutkan namanya, dan kemudian, kami akan saling terbuka dan segalanya akan berjalan lebih mudah.

Sempurna!

Aku pun mulai menyiapkan diri, dan sedikit demi sedikit mendekatinya. Pada tahap ini, aku akan memeragakan sesuatu yang biasanya ditulis oleh para penulis: napasku tiba-tiba terasa memburu dan dadaku terasa sesak dan kerongkonganku terasa kering dan waktu seolah merangkak pelan.
Sekarang waktunya.“Hmm … cuaca sore ini indah, ya!” Tanpa menoleh atau menjawab, tiba-tiba gadis itu berdiri, dan dengan keanggunan yang tak terbantahkan, pergi dengan perlahan. Tiba-tiba aku ingin memeluk lututku sendiri.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak