Loteng yang tidak luas ini semakin
terasa sempit dengan kehadiran kami bertiga. Loteng yang menyimpan
banyak benda yang memuat cerita-cerita kenangan. Sebagian mungkin telah
terlupakan. Sebagian masih melekat dalam ingatan.
Sinar matahari
menyerbu masuk melalui jendela yang kami buka lebar. Jemari-jemari
cahayanya memperjelas butir-butir debu yang bebas di udara. Menyakitkan
mata dan hidung. Mama, Papa, dan aku mengunjungi loteng ini bukan untuk
membuka kembali kenangan-kenangan yang berdiam di sini. Kami mencari
peralatan ski yang hampir satu tahun tersimpan. Peralatan yang hanya
berfungsi kala kami berlibur ke dataran tinggi Eropa di akhir tahun,
mengunjungi Oma dan Opa.
Semestinya, mengambil peralatan ini hanya
memerlukan beberapa menit. Loteng ini memang menyimpan beragam cerita.
Tapi, setiap cerita punya tempatnya sendiri, tanpa tumpang tindih. Tidak
ada alasan bagi kami untuk berlama di sini. Namun, sobekan-sobekan
foto yang kutemukan, membuat cerita bergulir lain.
Mama, Papa,
dan aku duduk di lantai loteng, berusaha merangkai setiap kepingan.
Beberapa menit berlalu, kepingan-kepingan foto di hadapan kami telah
terangkai, menyisakan satu tempat untuk keping terakhir yang hilang. Aku
buta dengan foto di hadapanku. Foto yang menghadirkan sosok perempuan
dan lelaki. Tangan mereka bertaut. Sekilas, aku seperti dapat mengenali
sosok perempuan itu. Aku merasa itu adalah Mama. Jauh sebelum ia
memilikiku. Tapi, laki-laki di sampingnya. Aku begitu asing. Aku yakin
sekali lelaki itu bukan Papa. Tinggi lelaki dalam foto hampir sama
dengan Mama. Sementara Papa, lebih tinggi darinya. Aku mendapati Mama
yang hanya diam memaku. Sesaat kemudian aku melihat sebutir air mata
mengalir di pipinya. Papa segera memeluk Mama. Kepingan foto terakhir
yang tidak kami temukan, menguak cerita yang tidak pernah aku ketahui
sebelumnya.
Yola M. Caecenary
Kamisan #10 Session 3 : Kepingan Terakhir - Deadline : 4 Juni 2015
Foto tema tulisan

0 comments