“Di mana?!” pekiknya
tertahan. Ia mengaduk-aduk tasnya. Semua benda di dalam saling bentur.
Tapi, tetap saja ia tidak menemukan apa yang ia cari. Enggan puas dengan
usaha
pencariannya, ia menumpahkan semua atribut ke lantai yang saban hari
dipijak
oleh kawanan kecoak. Dengan berjongkok ia memilah barang-barangnya.
Tapi, ia
tetap tidak menemukan apa yang dicarinya.
Udara berembus
dari luar. Menguarkan semua bau yang menjijikkan dari sebuah toilet kampus. Ia hanya dapat memandangi
benda-benda yang terserak di hadapannya. Dengan lemas ia memasukkan kembali
semuanya ke dalam tas.
Tungkainya
lunglai melangkah. Ia paksakan otaknya berputar mengingat kembali di mana ia
meninggalkan benda kecil berkapasitas enam belas gigabita itu. Ia pun berusaha
menelusuri jalan yang ia lalui sebelum masuk ke dalam toilet. Nihil. Ia tidak menemukannya. Ia juga tidak dapat melacak
jejak ingatannya. Tiba-tiba ia merasakan kecemasan mencekik lehernya.
Membuatnya kesulitan bernapas.
Bagaimana jika hilang dan ada yang menemukan?
Atau bagaimana jika ada yang dengan sengaja mengambil? Bagaimana jika
tertinggal di suatu tempat? Pikirannya dibanjiri dengan begitu banyak
pertanyaan yang menggerogoti otaknya. Tidak!
Tidak boleh sampai ada yang mengetahui isinya! Aku harus menemukannya! Aku
tidak mau hidupku hancur oleh benda kecil itu! Untung baginya ia tidak
memasukkan data pribadi apa pun di dalamnya.
Ia bergegas ke
tempat pengaduan barang hilang. Ia harus segera mengklaim kepemilikan atas apa
yang ia cari. Ia berdiri di depan meja pengaduan. Seorang petugas bersiap
melayaninya ketika segerombolan pemuda melewatinya.
“Kita harus cari
tahu siapa pemiliknya!”
“Kita
harus laporkan ke pimpinan universitas!”
“Pengacau
keamanan!”
“Bibit
terorisme!”
“Penentang
Pancasila tidak layak hidup di negeri ini!”
Ia mendengar
jelas kegeraman mereka. Segala pertanyaan “bagaimana” telah terjawab. Ia berharap
“cekikan” tadi kembali menyerangnya. Mengakhiri hidupnya kali ini. Ia tidak
dapat membayangkan bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan dosa yang ia simpan
dalam benda kecil itu. Ia, yang baru tingkat satu. Masa depannya ia
pertaruhkan. Rasa ingin tahunya membuat ia mengunduh beberapa video dengan isme
garis keras yang bertentangan dengan dasar negara dan konstitusi. Ia telah
terperangkap. Dan eksekusi untuk dirinya hanya tinggal menunggu waktu.
“Ada yang bisa
dibantu, Dik?” kata seorang petugas bertubuh atletis yang berdiri di
hadapannya. Wajahnya cukup ramah dengan kewibawaan yang dibalut safari biru
tua. Ia tidak punya alasan untuk mundur. Sekalipun, ia tidak tahu apa yang
harus ia lakukan.
“Saya mau
membuat laporan kehilangan, Pak,” tuturnya agak tersendat. Petugas tadi memberikan
sebuah formulir untuk ia isi.
“Sebuah dompet
berwarna coklat muda, berbahan kulit. Di dalamnya terdapat KTP dan kartu ATM,
serta uang dua ratus ribu rupiah,” ujar petugas tersebut membaca informasi yang
tadi ia tulis.
“Ya, Pak.”
“Baik. Akan kami
proses dan kami umumkan.”
“Terima kasih,
Pak.” Seraya berucap, tanpa sadar ia meraba bagian belakang celananya di mana
tersimpan dengan aman dompetnya yang berwarna hitam, berbahan kanvas, dengan
hanya ada KTP di dalamnya serta uang tiga puluh ribu rupiah saja.
Ia melangkah
gontai meninggalkan kampus. Sementara sebagian cerita hidupnya masih tersimpan
dalam USB flash drive yang kini telah berada di tangan rektor, menunggu eksekusi.
Yola M. Caecenary
Kamisan #6 Session 3 - Deadline: 9 April 2015
Foto tema tulisan
0 comments