Minggu 3

Kamisan S3 #6: USB Siapa?

16.21Unknown

“Di mana?!” pekiknya tertahan. Ia mengaduk-aduk tasnya. Semua benda di dalam saling bentur. Tapi, tetap saja ia tidak menemukan apa yang ia cari. Enggan puas dengan usaha pencariannya, ia menumpahkan semua atribut ke lantai yang saban hari dipijak oleh kawanan kecoak. Dengan berjongkok ia memilah barang-barangnya. Tapi, ia tetap tidak menemukan apa yang dicarinya.

Udara berembus dari luar. Menguarkan semua bau yang menjijikkan dari sebuah toilet kampus. Ia hanya dapat memandangi benda-benda yang terserak di hadapannya. Dengan lemas ia memasukkan kembali semuanya ke dalam tas.

Tungkainya lunglai melangkah. Ia paksakan otaknya berputar mengingat kembali di mana ia meninggalkan benda kecil berkapasitas enam belas gigabita itu. Ia pun berusaha menelusuri jalan yang ia lalui sebelum masuk ke dalam toilet. Nihil. Ia tidak menemukannya. Ia juga tidak dapat melacak jejak ingatannya. Tiba-tiba ia merasakan kecemasan mencekik lehernya. Membuatnya kesulitan bernapas.

Bagaimana jika hilang dan ada yang menemukan? Atau bagaimana jika ada yang dengan sengaja mengambil? Bagaimana jika tertinggal di suatu tempat? Pikirannya dibanjiri dengan begitu banyak pertanyaan yang menggerogoti otaknya. Tidak! Tidak boleh sampai ada yang mengetahui isinya! Aku harus menemukannya! Aku tidak mau hidupku hancur oleh benda kecil itu! Untung baginya ia tidak memasukkan data pribadi apa pun di dalamnya.

Ia bergegas ke tempat pengaduan barang hilang. Ia harus segera mengklaim kepemilikan atas apa yang ia cari. Ia berdiri di depan meja pengaduan. Seorang petugas bersiap melayaninya ketika segerombolan pemuda melewatinya.

“Kita harus cari tahu siapa pemiliknya!”
“Kita harus laporkan ke pimpinan universitas!”                          
“Pengacau keamanan!”
“Bibit terorisme!”
“Penentang Pancasila tidak layak hidup di negeri ini!”

Ia mendengar jelas kegeraman mereka. Segala pertanyaan “bagaimana” telah terjawab. Ia berharap “cekikan” tadi kembali menyerangnya. Mengakhiri hidupnya kali ini. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana ia akan mempertanggungjawabkan dosa yang ia simpan dalam benda kecil itu. Ia, yang baru tingkat satu. Masa depannya ia pertaruhkan. Rasa ingin tahunya membuat ia mengunduh beberapa video dengan isme garis keras yang bertentangan dengan dasar negara dan konstitusi. Ia telah terperangkap. Dan eksekusi untuk dirinya hanya tinggal menunggu waktu.

“Ada yang bisa dibantu, Dik?” kata seorang petugas bertubuh atletis yang berdiri di hadapannya. Wajahnya cukup ramah dengan kewibawaan yang dibalut safari biru tua. Ia tidak punya alasan untuk mundur. Sekalipun, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Saya mau membuat laporan kehilangan, Pak,” tuturnya agak tersendat. Petugas tadi memberikan sebuah formulir untuk ia isi.

“Sebuah dompet berwarna coklat muda, berbahan kulit. Di dalamnya terdapat KTP dan kartu ATM, serta uang dua ratus ribu rupiah,” ujar petugas tersebut membaca informasi yang tadi ia tulis.

“Ya, Pak.”
“Baik. Akan kami proses dan kami umumkan.”
“Terima kasih, Pak.” Seraya berucap, tanpa sadar ia meraba bagian belakang celananya di mana tersimpan dengan aman dompetnya yang berwarna hitam, berbahan kanvas, dengan hanya ada KTP di dalamnya serta uang tiga puluh ribu rupiah saja.

Ia melangkah gontai meninggalkan kampus. Sementara sebagian cerita hidupnya masih tersimpan dalam USB flash drive yang kini telah berada di tangan rektor, menunggu eksekusi.

***
Yola M. Caecenary
Kamisan #6 Session 3 - Deadline: 9 April 2015
Foto tema tulisan

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak