Aku tidak
tahu apa yang harus kuperbuat sekarang. Semua ini gara-gara Ryan, teman
sekelasku yang gemar sekali mengerjaiku. Dialah penyebab dari
penderitaan psikologis yang sekarang kualami.
Semenjak aku
membuka isi dari Flashdisk yang dia berikan padaku, perasaanku menjadi
tidak tenang. Hatiku sangat gelisah. Isi dari Flashdisk itu terus
menghantui pikiranku. Perasaan antara berdosa dan malu telah
menyelimutiku.
Harusnya aku sudah menduga, bahwa memercayai teman yang resek seperti dia akan menjadi hal terburuk yang pernah kulakukan. Namun oh, betapa bodohnya aku bisa terjebak ke dalam muslihat busuknya.
Harusnya aku sudah menduga, bahwa memercayai teman yang resek seperti dia akan menjadi hal terburuk yang pernah kulakukan. Namun oh, betapa bodohnya aku bisa terjebak ke dalam muslihat busuknya.
Berawal dari
tugas presentasi desain produk yang diberikan oleh Pak Anton, kami para
murid ditugaskan untuk membuat materi presentasi dalam kurun waktu satu
minggu. Namun bagi seorang pemalas sepertiku, waktu satu minggu
tidaklah cukup untuk menyusun semua materi sendirian. Aku membutuhkan
bantuan, dan itu jatuh pada Eka, satu-satunya teman sekelasku yang
paling cerdas.
Selama
seminggu, aku yang dibantu oleh Eka mempersiapkan semua materi bersama.
Eka bahkan sampai harus membuat dua materi presentasi, yang mana satu
untukku dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Terlihat cukup
merepotkan memang, tapi sayangnya Eka adalah orang yang terlalu jenius
untuk tidak direpotkan.
Hingga tiba
hari untuk presentasi, ternyata Eka tidak masuk sekolah. Pagi itu dia
mendadak demam tinggi, hingga dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya.
Batinku, itu gawat. Semua bahan-bahan yang harus kupresentasikan ada
pada Eka. Sementara dia sendiri tidak masuk hari ini. Bagaimana aku harus melakukan presentasi jika bahannya tidak ada padaku?
Aku panik.
Seakan menyalahakan keadaan, aku terus bergumam kesal, kenapa hal
seperti ini harus terjadi. Ini semua gara-gara aku yang terlalu pemalas
dan tidak bisa menggunakan program untuk membuat video presentasi,
sehingga aku meminta bantuan Eka untuk membuatkannya. Dan karena Eka
berkata ada yang harus ditambahkan pada videonya, jadi bahan itu masih
dia bawa.
Aaagh! Aku
benar-benar kebingungan hari itu. Tidak mungkin aku berkata pada Pak
Anton bahwa bahan presentasiku dibawa oleh Eka. Bisa habis aku dimarahi
oleh beliau karena ketahuan tidak membuat presentasi sendiri.
Dan di saat kekhawatiran melandaku, Ryan dengan senyum jahatnya tiba-tiba datang menghampiriku.
¨Nih,¨ tiba-tiba dia menyodorkan sebuah flashdisk padaku.
¨Apa nih?¨ Tanyaku bingung.
¨Loe minta bantuan Eka kan buat ngerjain tugas presentasi. Dia nitip ini ke gue, katanya ini bahan presentasi loe.¨
¨Hah? Serius? Kok bisa dititipin ke loe?¨
¨Ya rumah
gue kan searah ama dia. Kalau ke sekolah mesti lewat depan rumah dia.
Dan pas dia mau ke rumah sakit tadi, kita ketemu, terus dia nitip ini.¨
Seakan tak
percaya, aku sontak bersyukur dan merasa lega sekali mengetahui bahan
presentasiku kini ada di tanganku, seakan-akan Tuhan masih berkenan
mentolerir dan mengampuni kemalasanku ini. Aku merasa begitu senang,
bahkan saking senangnya, aku sampai melupakan fakta bahwa yang
menyerahkan flashdisk ini adalah manusia paling brengsek yang pernah
kukenal.
Hingga
kemudian, tiba saaatnya namaku mulai dipanggil untuk maju presentasi.
Dengan begitu yakinnya aku melangkah menyerahkan flashdisk yang kupegang
pada Pak Anton yang sedang menangani proyektor.
Aku berdiri
di depan kelas dan mulai berbicara. ¨Hari ini saya akan mempresentasikan
produk sabun innovatif saya yang saya beri nama Sabun UFO,¨ aku pun
memberikan aba-aba pada Pak Anton untuk segera membuka file
presentasiku. Click dan pow! Semua tercengang melihat apa yang muncul di
layar.
¨Apa-apaan ini, Agus?¨ Pak Anton kaget dan langsung marah begitu melihat video yang muncul ternyata bukan materi presentaisku.
¨Hah? Kok?¨ Semua teman-teman sekelasku terbahak-bahak menyaksikan video yang tampil tersebut, aku pun terkejut dan malu bukan main. Itu adalah video curhatku yang norak tentang kejombolanku yang dulu sempat kuunggah di Facebook tapi kemudian kuhapus.
Bagaimana
bisa yang muncul adalah video terkutuk tersebut? Tidak mungkin Eka
berbuat itu padaku, tidak akan mungkin. Atau jangan-jangan... aku
menoleh menatap Ryan. Sudah kuduga, Ryaaann! Dia mengacungkan jempol ke
arahku. Kurang ajar! Dia selalu punya sesuatu untuk menjahiliku. Awas
kau setaaann!!!
TAMAT
0 comments