Di negeri ini, jumlah orang-orang dungu
nan malang sungguh sangatlah melimpah. Suhib, adalah satu di antara
banyak orang itu. Dan kalian tahu, kedunguan dan kemalangan Suhib itu
bermula dari sebuah warung internet di samping rumahnya. Warung internet
milik sahabat karibnya, Rusmin—yang juga sama dungunya seperti Suhib.
Percakapan Suhib dan Rusmin seringkali terkesan tolol. Dan pada
akhirnya, percakapan mereka hanya akan berujung pada kemalangan.
“Hib, lihat sini. Ada berita tentang lowongan kerja yang sepertinya cocok untukmu,” Rusmin menunjuk sebuah situs berita dengan cursor, sembari menggerakkan tetikusnya, “industri porno di Jepang sedang sangat membutuhkan pemeran lelaki untuk lawan main si aktris porno. Tawaran keren, Hib! Kau harus mencobanya!”
“Hah? Maksudmu?” Suhib hanya mengerutkan dahi. Ia berusaha memeras semua isi kepalanya, namun ternyata dia masih belum paham maksud dari kawan karibnya ini.
“Kau memang tak pernah berubah, Hib. Kau ini tetap saja lambat dalam berpikir. Bukankah tadi kau bilang butuh pekerjaan? Nah, situs berita yang aku tunjukkan tadi, sedang membuka peluang pekerjaan bagi laki-laki perkasa sepertimu. Kau bisa jadi aktor porno, Hib!”
“Oh, maksudmu aku harus mencoba melamar ke Jepang sana, Min?”
“Ya, aku yakin pekerjaan ini cocok sekali denganmu,” Rusmin berusaha sebisa mungkin meyakinkan temannya yang tolol itu dengan cara tolol, “mimpimu untuk menjadi lawan main Maria Ozawa dan Sora Aoi bakal menjadi kenyataan Hib.”
“Ah, tapi kurasa aku tak bakal sanggup. Untuk pergi ke Jepang, tentu saja aku membutuh modal yang tidak sedikit, Min.”
“Itu soal gampang, Hib. Aku ini kan teman baikmu, jadi aku akan selalu mendukungmu. Untuk ongkos ke Jepang, nanti aku carikan pinjaman uangnya. Dan apabila tak dapat juga, aku bisa menggadaikan beberapa unit komputer di warnetku ini, demi ongkosmu, untuk pergi ke Jepang.”
Suhib terharu, matanya berkaca-kaca. Wajahnya masih terlihat dungu.
“Terima kasih, Min. Tapi… ”
“Tapi apa?”
“Aku masih memikirkan satu masalah lagi.”
“Masalah apa lagi?”
“Aku rasa, tongkat keramatku tak seampuh dulu lagi.”
“Hahahahahahahahahahahahahaha. Pantas saja istrimu meninggalkanmu. Jadi itu alasannya.”
Rusmin
tergelak tawa hingga sudut-sudut matanya mengeluarkan air mata. Suhib
yang sejenak memasang muka melas, sekonyong langsung meninju wajah
Rusmin dengan tangannya yang terkepal. Tak ayal lagi, Rusmin terjungkal
jatuh ke lantai. Pipinya memar, dan ada sedikit darah pada bibirnya.
“Sialan kau! Aku kan cuma bercanda. Aku tak ikut campur lagi soal urusanmu ini. Mulai sekarang, aku bukan temanmu lagi.”
Suhib
dengan wajah kesal, meninggalkan kawannya itu. Ia sebal sekali jika ada
orang yang mengungkit-ungkit masalah kepergian istrinya. Itu masalah
yang sangat sensisitf untuk hatinya. Suhib yakin, ia bisa pergi ke
Jepang tanpa bantuan Rusmin.
Suhib berjalan sembari memegangi tongkat keramatnya.
“Aku pasti bisa.” Katanya dalam hati.
***
Setelah meminjam uang ke beberapa teman, tetangga, dan sanak saudara untuk keperluan administrasi dan ongkos tiket pesawat ke Jepang, satu lagi tugas Suhib yang belum tunai. Ia harus mencari solusi jitu yang cepat untuk membuat tongkat keramatnya menjadi ampuh. Sebab, profesinya di Jepang nanti sangatlah bergantung pada kemampuan tongkat wasiat itu. Dengan tongkat wasiat yang lembek serupa lontong basi, Suhib niscaya akan gagal mendapatkan pekerjaan itu. Ya, pekerjaan yang sangat unik dan menantang: menjadi aktor film porno!
Suhib sudah beberapa
kali menanyakan informasi perihal jasa yang mampu membuat tongkat
wasiatnya ampuh lagi. Ada banyak nasehat dan petunjuk dari
teman-temannya, tapi Suhib tak lekas percaya. Ada kawannya yang
menganjurkannya untuk pergi ke Sukabumi mengungjungi klinik Ma Erot,
tapi Suhib menolak. Sebab, di Sukabumi ada kenangan buruk yang
membuatnya teringat pada mantan istrinya. Ada kawannya yang
menganjurkannya untuk mencoba rutin mengkonsumsi telur bebek, tapi Suhib
hanya berujar: “dulu sewaktu masih pengantin baru, aku pernah
mencobanya. Dan hal itu sia-sia. Telur bebek yang aku konsumsi hanya
membikin kentutku semakin busuk saja.”
***
Setelah
beberapa hari mencari informasi, akhirnya Suhib lelah juga. Padahal di
satu sisi dia harus lekas siap. Sebab, di Jepang, Maria Ozawa dan Sora
Aoi sudah menunggunya. Suhib duduk di warung kopi milik Mang Karman. Ia
duduk sembari memesan kopi hitam dan menikmati beberapa kerat pisang
goreng yang masih hangat. Pada saat-saat memasukkan pisang goreng itu ke
dalam mulutnya, ia teringat bahwa tugasnya belum usai. Tongkat
wasiatnya masih belum ampuh. Seketika pisang goreng itu gagal masuk ke
dalam mulutnya. Ia merasa hampir putus asa. Mang Karman yang melihat air
muka Suhib yang keruh itu, seketika pun bertanya.
“Kau ini kenapa, Hib?”
“Lagi pusing Mang.”
“Pusing kenapa?”
“Ada tawaran bekerja dari Jepang. Tapi, syaratnya aku harus perkasa.”
“Wah, bagus dong.”
“Iya, tapi tongkatku ini harus lekas jadi perkasa.”
“Halah, itu perkara mudah, Hib.”
Mang
Karman tiba-tiba pergi ke dalam rumahnya. Sejurus kemudian, ia datang
dengan sebuah kotak perhiasan yang terlihat cukup mewah. Jika dilihat
dari kulit luarnya, sepertinya kotak itu terbuat dari emas. Lalu, Mang
Karman mengeluarkan beberapa butir batu. Ya, batu. Batu akik.
“Nah, ini solusi untuk masalahmu.”
“Wah,
batu akik, Mang. Rupanya Mang Karman ini pengoleksi batu akik juga.
Lalu, apa hubungannya dengan masalahku dengan batu ini?”
“Kau
ternyata belum tahu ya, batu akik itu digemari oleh sebagian orang
karena khasiatnya. Setiap batu akik punya khasiat masing-masing. Dari
mulai batu akik pirus sampai yang merah delima.”
“Wah, masak?”
“Sungguh, aku tak pernah berbohong.”
“Ya, ya Mang. Kalau Mang Karman yang ngomong, aku yakin.”
“Makanya,
cobalah. Ada satu batu yang memiliki khasiat khusus untuk membuat
tongkat wasiatmu itu perkasa dan tahan lama, namanya batu bacan hijau,”
Mang Suhib menyodorkan sebuah batu berwarna hijau tua, “sungguh, khasiat
batu ini sudah terbukti. Aku berkali-kali mencobanya ketika bertanding
dengan istriku. Dan hasilnya, istriku selalu KO!”
“Wow. Aku mau, Mang!”
Suhib
yang tadi pesimis tiba-tiba beralih optimis. Harapannya mekar lagi.
Namun, harapan itu tak bertahan lama setelah Suhib bertanya kepada Mang
Karman soal harga.
“Berapa Mang harganya?”
“Lima puluh juta saja buat kamu, Hib.”
Suhib hanya tercenung. Mendadak harapannya layu kembali. Tapi, dia tetap harus menentukan pilihannya.
***
Seminggu
setelah membeli sebutir batu bacan dari Mang Karman, Suhib hanya
berdiam di rumah saja. Dia depresi berat karena ternyata ia gagal pergi
ke Jepang. Uang yang tadinya ia niatkan sebagai ongkos pesawat ke
Jepang, ia habiskan semuanya untuk membeli sebutir batu berwarna hijau
tua itu. Ternyata, batu itu tak punya khasiat apa-apa. Tetapi
setidaknya, batu itu menyelamatkan Suhib dari impian tololnya: menjadi
aktor film porno!
Selamat tinggal Sora Aoi. Selamat tinggal Maria Ozawa. Maafkan aku.
Kalimat itu adalah kalimat yang bergema pada benak Suhib setiap saat.
0 comments