Cikiewahab Minggu 5

Kamisan S3 #5: RASA BATU

16.06Unknown




Pada masa kedatangan Han ke rumah keluarga besarnya, Antari duduk di teras. Menyaksikan sekelompok lelaki  yang mengitari meja, tengah membicarakan batu-batuan yang dibawa dari pantai oleh Antari sendiri. Sementara itu ada Mulio, adik lelaki Han yang menyodorkan batu akik dari kotak keramatnya yang usang.

Antari baru tiba di Kota itu setelah menempuh lima jam perjalanan dari pesisir laut. Ia turun dari bis dan menyewa tukang ojek yang cukup membuatnya kesal sebab terus-terusan memandang wajahnya. Antari juga memastikan bahwa Han akan datang ketika ia sudah ada di rumah keluarga besar lelaki yang ia cintai.

“Han dalam perjalanan. Dia bilang kau bisa melakukan apa saja asal tidak membicarakan apapun kepada para tetangga.” Mulio bicara seperti itu, setelah menelpon Han. Mama Han urung melanjutkan rajutannya. Ia resah sebab kedatangan tamu seorang perempuan, tetapi meskipun begitu, Mama terus-terusan tersenyum dan mengajak Antari bicara.

“Kau membawa keberuntungan, Antari. Batuku laku!” Mulio cengengesan. Di pandanginya batu indah yang belum diasah dan dilekatkannya ke salah satu cincin. “Aku minta ini boleh?” Tanya Mulio.

Belum sempat Antari menjawab. Mama melempari Mulio dengan kain rajutannya. Mulio mengelak. “Kalau kujadikan batu-batu ini cincin, pasti laku Mama. Aku akan membayar rajutan Mama ini.”

Antari terkikik. Ia tahu kalau Han pernah membicarakan batu-batuan yang ia senangi. Meskipun Antari tidak mengerti apapun, ia yakin Han pasti akan menyukai apa yang ia bawa.

***
Saat bunyi klakson terdengar di pintu depan. Mulio bergegas membuka pintu dan tersenyum melihat Han datang. Lelaki petualang itu memang jarang pulang. Mulio bersama Mama berdiri di pintu dan memeluk dirinya.

“Akhirnya kau pulang. Kau sehat?” Mama bertanya.

“Mama. Aku akan sehat-sehat saja.” Han mengecup kening Mama dan menikung lengan Mulio. Ketika melihat jemari itu, Han bicara dengan nada heran. “Darimana kau dapat membeli batu akik itu? Kau sudah bekerja?”

Mulio mencibir. “Tentu saja. Lagipula kekasihmu juga membawakan banyak batu. Hei kau tidak pernah bilang apa-apa pada kami tentang dirinya.”

Han terkesiap. Ia lupa perihal kedatangannya kali ini. Di abaikannya panggilan Mulio yang ingin menawari batu akik. Han masuk ke dalam rumah dan melihat Antari tersenyum padanya. Tiba-tiba ia merasa enggan bicara dan melihat batu-batu akik di tangan Antari. Han benar-benar tidak tahu kenapa ia tidak bisa bahagia melihat Antari datang dan sepenuhnya ia juga tidak bisa melupakan gadis di penginapan, itu sebabnya Han semakin tidak ingin membicarakan apapun pada Antari.

Antari tercengang melihat sikap Han. Ia tak sengaja menjatuhkan seluruh batuan akik di tangannya ke lantai dan memeluk Han dari belakang.

Batu-batu itu mengelinding dan berserakan, sementara Han diam mematung dipeluk perasaannya yang bimbang.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak