Minggu 5
Olihn
Kamisan S3 #5: Tokoh-Tokoh Imajiner yang Memperbincangkan Ketidakcakapan Tuannya
16.11Unknown
Mereka bertiga—seorang pria, seorang wanita, dan seorang gadis
kecil—sedang duduk melingkari meja dan bersama-sama memperhatikan
seorang lelaki yang duduk mematung dan memunggungi mereka.
Di hadapan si lelaki, di atas meja, sebuah laptop terbuka dan sebuah garis hitam berkedip-kedip di pojok halaman, yang tak menampilkan apa pun selain garis berkedip itu dan bermacam perintah di atasnya.
Salah satu di antara mereka bertiga—si Pria—mendesah, sembari menjauhkan tubuh dari pinggir meja dan bersandar pada punggung kursi sambil terus menatap si Lelaki.
“Bagaimana menurutmu?”
Si wanita menghela napas lelah. “Entahlah. Sepertinya ini akan berakhir seperti sebelumnya.”
“Se-per-ti-nya?” ulang si pria, menatap lurus si wanita lalu mencodongkan tubuh ke sosok yang duduk menentangnya itu. Ia menggunakan kedua tangan untuk menopang berat tubuhnya. “Dengar! Ini tidak akan se-per-ti-nya. Karena ini me-ma-ng a-kan seperti sebelumnya.”
Si wanita memutar kepalanya dengan kesal. “Ayolah, Jati. Tidakkah kau memiliki sedikit saja kepercayaan kepada Tuan kita?”
Jati diam. Dan untuk beberapa lama, mereka berdua hanya saling menatap. “Tidak.” Jati kembali menjauhkan tubuhnya. “Rasa percayaku untuk si keparat itu sudah habis.”
“Jati!”
“Apa?”
Si wanita tak melanjutkan kata-katanya, karena sebetulnya ia pun tidak memiliki bantahan apa pun untuk membela Tuannya.
“Sadarlah, Kilan. Akui saja bahwa kepercayaanmu terhadap si keparat itu pun sudah habis. Kenapa sih, kau harus pura-pura masih percaya kepadanya?”
Perlahan, Kilan menarik kedua tangannya dari atas meja, menunduk, bersandar pada punggung kursi sebagaimana Jati, lantas kedua jemari tangannya memilin-milin ujung baju.
Jati melengos dan menatap punggung Tuannya. Paha kirinya dinaikkan ke atas paha kanan, sementara tangannya bersedekap di depan dada. “Jika aku bisa keluar, tentu aku akan keluar dari pikiran si keparat ini, dan mencari Tuan yang lain. Tuan yang gemar menulis cerita-cerita tidak masuk di akal dan tidak mudah dipahami pun tak apa. Karena yang terpenting dari sebuah cerita, adalah cerita itu sendiri. Daripada harus terjebak dan disia-siakan seperti ini.”
Dada Jati naik-turun dengan cepat. Dan tiba-tiba saja, ia merasa dadanya kian sesak dan matanya pun kemudian menatap penuh amarah ke punggung Tuannya. “Brengsek! Si keparat itu bahkan tidak menciptakanku dengan benar! Aku tidak tahu seperti apa tanganku, kakiku, bentuk rambutku, wajahku, umurku … ia hanya menciptakanku sebagai sosok lelaki!
“Aku rasa kau pun tahu bagaimana yang kurasakan karena kau pun diciptakan dengan cara yang sama: hanya sebagai wanita! Tidak ada sesuatu yang khusus pada diri kita—selain nama, tentu saja. Peranku bisa digantikan olehmu, pun sebaliknya. Ini benar-benar keterlaluan!
“Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?” tantangnya, “Ayolah, aku tahu kautahu! Kita berada di tempat yang sama dan segala yang kutahu kau pun mengetahuinya. Ayolah, katakan!” Kilan tetap bergeming, semakin dalam menundukkan kepala. “Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya. Biar aku saja yang mengatakannya: ia merasa bisa lebih baik dari siapa pun jika saja ia mau melakukannya.
“Hah! Sebuah kesombongan yang kelewat gila, kan?”
Kursi yang diduduki Jati berderit begitu ia mengempaskan tubuhnya dengan keras. Ia mendesah dengan segenap kekuatan. Dadanya masih naik-turun, meski dengan perlahan, gerakannya semakin lama semakin pelan. Dan tatapan menusuknya pada punggung si Tuan pun kian lama kian lunak. Kedua tangannya kini bertelekan pada pinggang.
Si Lelaki yang menjadi obrolan mereka, tiba-tiba saja mengetikkan beberapa kata di laptopnya. Terdengar bunyi ketukan yang merdu. Mulanya yang muncul hanya beberapa kata, hingga akhirnya menjadi puluhan, kemudian ratusan. Dan mendadak, kedua tanganya menggantung di udara. Entah berapa lama. Barangkali hanya hitungan detik. Kemudian, karena alasan yang mereka semua tahu dengan pasti, ia menghapus lagi semua kata-kata itu. Ia menopangkan kedua sikunya di atas meja, meremas-remas wajahnya dengan kesal, lantas menunduk dengan kedua telapak tangan lunglai di atas kepala. Kemudian, sembari mendesah, menarik mundur secara perlahan kepalanya lewat bawah telapak tangan. Rambutnya, yang sebelumnya memang sudah berantakan, menjadi bertambah berantakan karena tindakan itu.
“Ya,” kata Jati, sembari mengangkat bahu dan sedikit merentangkan kedua tangannya, “aku sudah menduga ia akan melakukan hal itu. Aku tidak kecewa.” Lantas menyilangkan kedua tangannya di atas meja dan membenamkan kepala di atasnya. “Brengsek!”
Kilan mendesah. Ketika si Lelaki memainkan jemarinya, tadi, ia menatap Tuannya itu dengan kesungguhan yang memuncak. Dan sekarang, tatapannya berganti tatapan seorang anak yang dijanjikan akan diajak bermain oleh si Ayah, namun si Ayah kelewat sibuk sampai akhirnya berkata disertai helaan napas lelah, “Lain kali, ya, Sayang. Ayah janji”.
“Menurutmu, apa yang tadi ditulisnya?” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari punggung Tuannya.
Jati tetap membenamkan wajah dan hanya mengangkat tangan kanannya dengan malas, sembari berujar, “Tidak tahu. Paling sesuatu yang ia anggap sesuai dengan tema Kamisan. Atau yang seperti itulah.” Lantas tangan itu terkulai dan kembali jatuh.
“Kau kan sudah tahu, bagaimana cara berpikir Tu-an ki-ta itu,” sambungnya, tanpa mengangkat kepala. “Menulis sesuatu yang berhubungan dengan tema, tetapi sebetulnya yang ditulisnya itu tidak berhubungan sama sekali. Tempelan belaka. Sekadar agar lolos dari denda bayar buku.
“Licik bukan?”
“Ya, mau bagaimana lagi. Ia terlalu malas untuk mengumpulkan informasi, memilahnya, dan membuatnya jadi sesuatu yang berarti. Padahal, tema kali kan, ini sedang hangat-hangatnya. Batu akik. Jika saja ia mau sebentar saja berjalan ke pasar Jatinegara, atau pasar lainnya, atau ke lantai dasar Blok M, pasti ia kan menemukan banyak hal menarik seputar batu akik. Atau ia pun sesungguhnya bisa mendaptkan informasi itu dari internet, atau bertanya kepada teman-temannya yang memang suka sekali dengan batu itu. Atau ia bisa menceritakan kisah temannya yang dikatai banci karena memakai batu yang ukurannya seukuran biji salak. Tetapi, ya, seperti yang kubilang tadi: ia terlalu malas.”
“Begitulah dia.”
Kilan menghela napas lelah, memajukan tubuhnya, dan bertopang dagu di atas meja. “Bila diingat-ingat lagi, tulisannya tidak ada yang benar-benar sesuai dengan tema. Tempelan belaka. Andai ia mau serius sedikit saja ….”
“Ayolah, kau sudah tahu ia tidak pernah benar-benar serius terhadap sesuatu. Ia selalu ragu dengan yang dikerjakannya. Ia bukan tipe pemimpin, bahkan untuk dirinya sendiri.”
Kilan terenyak. Menatap Jati yang masih saja membenamkan wajahnya. “Apa aku tidak salah dengar. Kesan yang kutangkap, kau simpati kepadanya. Bukannya tadi marah-marah?”
“Marah-marah, bukan berarti tidak peduli. Aku hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi terhadap sifat buruknya itu.” Jati mengangkat sedikit kepalanya, menoleh dengan tetap mempertahankan posisinya ke arah Tuannya. “Lagipula ….”
“Apa?”
Jati masih terus menatap punggung si Lelaki yang telah menciptakannya. “Tidak. Tidak apa-apa.” Ia pun kemudian menegakkan tubuh, berdiri sembari mendorong kursi yang didudukinya, meregangkan otot-ototnya. “Aku mau berjalan-jalaan sebentar. Mau ikut? Upi?”
Kilan menggeleng. Dan Upi, gadis kecil yang sejak tadi diam saja dan hanya memeluk boneka beruangnya, sembari terus menatap punggung si Lelaki tidak jauh di hadapannya, berujar pelan, “Aku di sini saja. Masih ingin menemani Kakak. Siapa tahu Kakak nanti memerlukan aku.”
Di hadapan si lelaki, di atas meja, sebuah laptop terbuka dan sebuah garis hitam berkedip-kedip di pojok halaman, yang tak menampilkan apa pun selain garis berkedip itu dan bermacam perintah di atasnya.
Salah satu di antara mereka bertiga—si Pria—mendesah, sembari menjauhkan tubuh dari pinggir meja dan bersandar pada punggung kursi sambil terus menatap si Lelaki.
“Bagaimana menurutmu?”
Si wanita menghela napas lelah. “Entahlah. Sepertinya ini akan berakhir seperti sebelumnya.”
“Se-per-ti-nya?” ulang si pria, menatap lurus si wanita lalu mencodongkan tubuh ke sosok yang duduk menentangnya itu. Ia menggunakan kedua tangan untuk menopang berat tubuhnya. “Dengar! Ini tidak akan se-per-ti-nya. Karena ini me-ma-ng a-kan seperti sebelumnya.”
Si wanita memutar kepalanya dengan kesal. “Ayolah, Jati. Tidakkah kau memiliki sedikit saja kepercayaan kepada Tuan kita?”
Jati diam. Dan untuk beberapa lama, mereka berdua hanya saling menatap. “Tidak.” Jati kembali menjauhkan tubuhnya. “Rasa percayaku untuk si keparat itu sudah habis.”
“Jati!”
“Apa?”
Si wanita tak melanjutkan kata-katanya, karena sebetulnya ia pun tidak memiliki bantahan apa pun untuk membela Tuannya.
“Sadarlah, Kilan. Akui saja bahwa kepercayaanmu terhadap si keparat itu pun sudah habis. Kenapa sih, kau harus pura-pura masih percaya kepadanya?”
Perlahan, Kilan menarik kedua tangannya dari atas meja, menunduk, bersandar pada punggung kursi sebagaimana Jati, lantas kedua jemari tangannya memilin-milin ujung baju.
Jati melengos dan menatap punggung Tuannya. Paha kirinya dinaikkan ke atas paha kanan, sementara tangannya bersedekap di depan dada. “Jika aku bisa keluar, tentu aku akan keluar dari pikiran si keparat ini, dan mencari Tuan yang lain. Tuan yang gemar menulis cerita-cerita tidak masuk di akal dan tidak mudah dipahami pun tak apa. Karena yang terpenting dari sebuah cerita, adalah cerita itu sendiri. Daripada harus terjebak dan disia-siakan seperti ini.”
Dada Jati naik-turun dengan cepat. Dan tiba-tiba saja, ia merasa dadanya kian sesak dan matanya pun kemudian menatap penuh amarah ke punggung Tuannya. “Brengsek! Si keparat itu bahkan tidak menciptakanku dengan benar! Aku tidak tahu seperti apa tanganku, kakiku, bentuk rambutku, wajahku, umurku … ia hanya menciptakanku sebagai sosok lelaki!
“Aku rasa kau pun tahu bagaimana yang kurasakan karena kau pun diciptakan dengan cara yang sama: hanya sebagai wanita! Tidak ada sesuatu yang khusus pada diri kita—selain nama, tentu saja. Peranku bisa digantikan olehmu, pun sebaliknya. Ini benar-benar keterlaluan!
“Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?” tantangnya, “Ayolah, aku tahu kautahu! Kita berada di tempat yang sama dan segala yang kutahu kau pun mengetahuinya. Ayolah, katakan!” Kilan tetap bergeming, semakin dalam menundukkan kepala. “Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya. Biar aku saja yang mengatakannya: ia merasa bisa lebih baik dari siapa pun jika saja ia mau melakukannya.
“Hah! Sebuah kesombongan yang kelewat gila, kan?”
Kursi yang diduduki Jati berderit begitu ia mengempaskan tubuhnya dengan keras. Ia mendesah dengan segenap kekuatan. Dadanya masih naik-turun, meski dengan perlahan, gerakannya semakin lama semakin pelan. Dan tatapan menusuknya pada punggung si Tuan pun kian lama kian lunak. Kedua tangannya kini bertelekan pada pinggang.
Si Lelaki yang menjadi obrolan mereka, tiba-tiba saja mengetikkan beberapa kata di laptopnya. Terdengar bunyi ketukan yang merdu. Mulanya yang muncul hanya beberapa kata, hingga akhirnya menjadi puluhan, kemudian ratusan. Dan mendadak, kedua tanganya menggantung di udara. Entah berapa lama. Barangkali hanya hitungan detik. Kemudian, karena alasan yang mereka semua tahu dengan pasti, ia menghapus lagi semua kata-kata itu. Ia menopangkan kedua sikunya di atas meja, meremas-remas wajahnya dengan kesal, lantas menunduk dengan kedua telapak tangan lunglai di atas kepala. Kemudian, sembari mendesah, menarik mundur secara perlahan kepalanya lewat bawah telapak tangan. Rambutnya, yang sebelumnya memang sudah berantakan, menjadi bertambah berantakan karena tindakan itu.
“Ya,” kata Jati, sembari mengangkat bahu dan sedikit merentangkan kedua tangannya, “aku sudah menduga ia akan melakukan hal itu. Aku tidak kecewa.” Lantas menyilangkan kedua tangannya di atas meja dan membenamkan kepala di atasnya. “Brengsek!”
Kilan mendesah. Ketika si Lelaki memainkan jemarinya, tadi, ia menatap Tuannya itu dengan kesungguhan yang memuncak. Dan sekarang, tatapannya berganti tatapan seorang anak yang dijanjikan akan diajak bermain oleh si Ayah, namun si Ayah kelewat sibuk sampai akhirnya berkata disertai helaan napas lelah, “Lain kali, ya, Sayang. Ayah janji”.
“Menurutmu, apa yang tadi ditulisnya?” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari punggung Tuannya.
Jati tetap membenamkan wajah dan hanya mengangkat tangan kanannya dengan malas, sembari berujar, “Tidak tahu. Paling sesuatu yang ia anggap sesuai dengan tema Kamisan. Atau yang seperti itulah.” Lantas tangan itu terkulai dan kembali jatuh.
“Kau kan sudah tahu, bagaimana cara berpikir Tu-an ki-ta itu,” sambungnya, tanpa mengangkat kepala. “Menulis sesuatu yang berhubungan dengan tema, tetapi sebetulnya yang ditulisnya itu tidak berhubungan sama sekali. Tempelan belaka. Sekadar agar lolos dari denda bayar buku.
“Licik bukan?”
“Ya, mau bagaimana lagi. Ia terlalu malas untuk mengumpulkan informasi, memilahnya, dan membuatnya jadi sesuatu yang berarti. Padahal, tema kali kan, ini sedang hangat-hangatnya. Batu akik. Jika saja ia mau sebentar saja berjalan ke pasar Jatinegara, atau pasar lainnya, atau ke lantai dasar Blok M, pasti ia kan menemukan banyak hal menarik seputar batu akik. Atau ia pun sesungguhnya bisa mendaptkan informasi itu dari internet, atau bertanya kepada teman-temannya yang memang suka sekali dengan batu itu. Atau ia bisa menceritakan kisah temannya yang dikatai banci karena memakai batu yang ukurannya seukuran biji salak. Tetapi, ya, seperti yang kubilang tadi: ia terlalu malas.”
“Begitulah dia.”
Kilan menghela napas lelah, memajukan tubuhnya, dan bertopang dagu di atas meja. “Bila diingat-ingat lagi, tulisannya tidak ada yang benar-benar sesuai dengan tema. Tempelan belaka. Andai ia mau serius sedikit saja ….”
“Ayolah, kau sudah tahu ia tidak pernah benar-benar serius terhadap sesuatu. Ia selalu ragu dengan yang dikerjakannya. Ia bukan tipe pemimpin, bahkan untuk dirinya sendiri.”
Kilan terenyak. Menatap Jati yang masih saja membenamkan wajahnya. “Apa aku tidak salah dengar. Kesan yang kutangkap, kau simpati kepadanya. Bukannya tadi marah-marah?”
“Marah-marah, bukan berarti tidak peduli. Aku hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi terhadap sifat buruknya itu.” Jati mengangkat sedikit kepalanya, menoleh dengan tetap mempertahankan posisinya ke arah Tuannya. “Lagipula ….”
“Apa?”
Jati masih terus menatap punggung si Lelaki yang telah menciptakannya. “Tidak. Tidak apa-apa.” Ia pun kemudian menegakkan tubuh, berdiri sembari mendorong kursi yang didudukinya, meregangkan otot-ototnya. “Aku mau berjalan-jalaan sebentar. Mau ikut? Upi?”
Kilan menggeleng. Dan Upi, gadis kecil yang sejak tadi diam saja dan hanya memeluk boneka beruangnya, sembari terus menatap punggung si Lelaki tidak jauh di hadapannya, berujar pelan, “Aku di sini saja. Masih ingin menemani Kakak. Siapa tahu Kakak nanti memerlukan aku.”

0 comments