Bisahkah kau, sekali saja, benar-benar menjadi seperti seorang kekasih untukku?
∞
Ara mengembuskan nafasnya untuk kesekian
kali. Satu tangannya menekan dada, seolah ingin meredam gemuruh detak
jantungnya, yang seakan, bisa mengalahkan gempita suara kembang api
perayaan tahun baru di luar sana.
Ia menahan desakan air mata yang akan
jatuh. Hari ini ia berulang tahun. Beberapa teman terbaiknya
berinisiatif merayakan hari istimewa untuknya ini alih-alih merayakan
pergantian tahun. Araya mendapat banyak sekali ucapan selamat, beberapa
hadiah serta ruapan doa. Ara merasa bahagia. Ia berterima kasih untuk
itu. Tetapi jauh di dalam hatinya, ada harapan yang enggan ia kubur
meski sudah ia tekan begitu dalam di benaknya. Sudah sejak tiga tahun
belakangan ini, Ara selalu merasa ada yang kurang dari perayaan hari
lahirnya tersebut.
Karenanya, setelah dua jam ia berkumpul
bersama teman-temannya, Ara memilih pulang. Berniat menghabiskan sisa
malam bergelung di dalam selimut. Dengan begitu ia akan punya banyak hal
untuk dipikirkannya sementara matanya belum terpejam. Saat itulah,
sebuah pikiran terlintas di benaknya.
Lelaki itu bernama Pati. Kekasihnya
sampai beberapa bulan lalu. Pria yang selalu jadi orang pertama
memberikannya ucapan selamat. Pati akan menelpon tepat pukul dua belas
malam. Seolah dia memang sengaja menunggu waktu–mungkin dengan sedikit
tidak sabar–untuk segera menelpon dan mengejutkannya. Meski sebenarnya
Ara tak lagi terlalu merasa terkejut, sebab ia tahu, seperti tahun
sebelumnya pria itu pasti akan membangunkannya lagi kali ini. Tetapi
hanya sebatas itu. Pati tak memberikan hadiah atau mengajaknya pergi
kencan esok hari.
Ia tidak pernah.
Pertama, Pati berada di kota yang berbeda
denganya. Kedua, pria itu masih berstatus mahasiswa–tahun ke
delapan–jadi dia tak memiliki pekerjaan yang memungkinkannya memiliki
uang untuk membelikan Ara hadiah atau pun mengajaknya pergi kencan
(Cobalah hitung harga pp tiket pesawatnya). Saat itu Ara sudah cukup
merasa puas, aku tak perlu hadiah atau kencan, yang penting adalah Pati selalu ada. Tak pernah ia sangka, ia akan menggugatnya hari ini.
Mereka bertemu di Festival Seni se-Asia.
Pada waktu itu, Pati adalah salah satu pengisi acara. Ia seniman.
Penyanyi. Seorang teman mengenalkan Ara padanya.
Saat aku sedang menyanyi, seharusnya
orang-oranglah yang terpukau padaku tetapi dari atas panggung tadi, aku
begitu terpesona padamu di depan sana, katanya waktu itu. Ara
tertawa, para seniman memang nomor satu dalam merayu, jawabnya pada si
Seniman. Sejak malam itu, selama Pati di Jakarta, Aralah yang
menemaninya berkeliling. Sampai ketika Pati memintanya menjadi kekasih
karena alasan atas rasa nyaman, ia menerima.
Semestinya Ara tahu, dalam sebuah
hubungan menggunakan kenyamanan sebagai alasan adalah hal yang rapuh.
Nyaman tidak sama dengan cinta. Ketika kenyamanan hilang apakah lantas
cinta juga akan hilang? Atau ketika rasa nyaman masih ada sementara
cinta sudah tidak ada, apa akan bisa tetap menahan kebersamaan? Tidak.
Kenyamanan saja tidak cukup.
Sebab nyatanya kenyamanan saja tak cukup menahan Pati untuk tidak pergi.
∞
Kamu ini aneh, begitu kata teman Ara
kepadanya suatu kali. Ara mengerutkan dahinya, tak mengerti. Kenapa baru
sekarang kamu uring-uringan, merasa cemburu ketika Pati dekat dengan
banyak perempuan, kenapa tidak ketika kamu masih berstatus kekasihnya.
Mendengar itu, Aralah yang ganti tertawa. Temannya, mengerutkan kening
lebih dalam dari Ara tadi.
Kenapa harus cemas? Bagaimanapun, pada
akhirnya Pati akan kembali padanya. Bukankah ia yang sudah Pati pilih
untuk bersamanya. Begitu Ara menjawab. Tercipta hening yang panjang
antara ia dan temannya. Mungkin mereka sama-sama yakin tak ada yang
menjamin perkataan Ara tadi.
∞
Suara Breaking Benjamin menyanyikan Diary
of Jane membawa kembali pikiran Ara yang sempat berkelana. Tangannya
sedikit gemetar ketika menjulur ke samping ke meja tempat ponselnya itu
berada. Itu pasti dia. Ara melirik jam meja sekilas, sebelum mengangkat panggilan masuk tersebut. Pukul 00:29.
Ara merasakan sensasi seperti mabuk
ketika mendengar suara Pati menembus masuk telinganya. Mantan kekasihnya
itu mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, lalu–setelah jeda
sebentar–bertanya apa maksud pesan yang ia kirimkan tadi. Alih-alih
menjawab yang keluar dari bibir Ara adalah kau terlambat. Bunyi statis kekosongan mengisi udara. Lalu Ara mendengar suara berat desah nafas Pati.
Kenapa kamu seperti ini?, katanya. Kita
bukan lagi sepasang kekasih, prioritasku tentu saja berubah. Bukankah
kita setuju untuk tidak membahas masa lalu lagi? Tidurlah, ini sudah
dini hari. Jangan membuat dirimu sendiri terus mengonsumsi obat penambah
darah karena kurang tidur. Aku harus menyelesaikan sebuah lagu. Kututup
ya.
Sudut-sudut mata Ara meremang. Panggilan
masuk tadi hanya menyisakan suara tut-tut tak berkesudahan. Ponsel itu
jatuh terlepas dari tangannya, hempas ke atas tempat tidur. Pukul 00:34.
Suara kembang api hanya tinggal letupan-letupan lemah di luar, tak
semeriah ketika tepat tengah malam.
∞
12:19 120315

0 comments