Minggu 4 Olihn

Kamisan S3 #4: Kembang Api

15.54Unknown

Tawa tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa seseorang bahagia. Karena terkadang, saking kerasnya hidup menonjok hidungmu, maka yang kemudian bisa kaulakukan hanyalah tertawa. Sebelum mengalaminya sendiri, aku berpikir hal itu lucu—sangat lucu. Barangkali kalian pun berpikir demikian: menertawakan sebuah kesialan. Betapa menggelikan! Akan tetapi, saat hidup menonjok persis hidungmu sendiri, percayalah, kalian pasti akan tertawa.

Atau tidak.

Aku masih tergelak ketika mata biru wanita itu memandangku dengan tatapan tidak percaya. Alis sebelah kanan wanita itu terangkat sedikit, dan kerutan-kerutan muncul di dahinya. Mulutnya membuka namun tak ada satu pun kata yang keluar. Barangkali tawaku yang pecah telah membuat kata-kata yang hendak keluar macet di tenggorokan, atau … entahlah. Aku sama sekali tidak memiliki gagasan lain selain itu.

“Maaf,” katanya, setelah tawaku hanya tinggal sisa.

Aku menjawabnya dengan kibasan tangan. Lantas kembali bersandar pada punggung kursi, menatap langit-langit yang dicat cokelat menyerupai kayu, mengalihkan lagi tatapanku ke barista yang sibuk meracik kopi, ke sekumpulan remaja yang duduk sambil tertawa-tawa di bangku luar, ke sepasang pria dan wanita yang baru saja masuk, ke lantai, ke lukisan yang entah karya siapa, ke sekumpulan foto hitam-putih yang dibingkai, ke potongan berita dari koran entah apa, yang juga dibingkai dan diletakkan di dinding, di dekat foto, ke mana pun, selain ke arahnya. Kemudian ia kembali berbicara. Mengatakan alasan, betapa dia sebenarnya tidak menginginkan hal ini terjadi, betapa semua yang terjadi di luar kekuasaannya sendiri. Dan selama ia berbicara, aku sama sekali tak memandangnya.

Ia menyentuh lembut tangan kananku, membelainya. Aku menaraik napas panjang seraya menarik tangan, kemudian menatapnya. Satu detik. Dua detik. Dan sejujurnya, aku teramat sadar bahwa jeda yang tercipta tidaklah seberapa lama. Akan tetapi, sebagaimana kalian tahu bahwa waktu hanyalah ilusi, detik yang singkat itu terasa sangat panjang.

“Kita bicarakan besok saja, ya.”

Lantas aku berdiri dan meninggalkannya. Dia tidak melarang atau bahkan mengejar. Tentu saja.

***

Aku berhenti di taman kota, semata-mata karena tidak tahu mau ke mana lagi. Aku tidak ahli dalam urusan mencari kesenangan. Satu-satunya kesenangan yang kutahu hanyalah duduk berjam-jam sambil bermain Pro Evolution Soccer. Akan tetapi, dengan perasaan seperti ini, aku bisa menjamin bahwa hal itu akan sia-sia belaka.

Taman kota yang kumaksud hanya taman biasa yang biasa kalian lihat di kota-kota kalian. Bangku-bangku panjang, air mancur, lampu-lampu besar, rumput, pohon … ya, seperti yang sudah kukatakan: biasa kalian lihat di kota-kota kalian.

Aku diam dan tidak tahu mau ke mana atau berbuat apa. Tidak seorang pun yang kukenal di sini. Dan aku pun agak malas membaur. Dulu aku sering berpikir, keluar rumah, berjalan-jalan, melihat hal-hal baru, mengajak bicara siapa pun yang mau diajak bicara, tetapi yang terjadi kemudian adalah semua yang kupikirkan itu hanya terjadi dalam pikiran. Aku masih sama dengan satu hari yang lalu. Atau satu bulan. Atau satu tahun. Atau barangkali itu tidak benar juga. Barangkali ada juga yang berubah pada diriku. Hanya saja, karena aku yang berubah, dan perubahan itu terjadi secara perlahan, aku tidak menyadarinya. Orang-orang di sekelilingku yang menyadarinya. Dan biasanya mereka akan berkata, dengan nada yang sama persis yang digaungkan oleh aktor kelas teri, “Kamu berubah,” yang tentu saja kubalas dengan tawa.

Terkadang, didorong oleh perasaan entah apa, kata-kata teman-temanku kupikirkan juga. Namun hanya sampai sebatas itu. Karena tidak lama kemudian, aku pasti lupa.

Aku akan terus diam dan berdiri tanpa tahu harus melakukan apa jika saja pengasong yang kebetulan lewat tidak menawariku kopi. Aku tersenyum dan menyebutkan kopi yang segera saja ia racik dalam gelas plastik. Sebetulnya aku tidak terlalu ingin minum kopi, namun karena aku tidak tahu hal lain lagi, maka kemudian itulah yang kulakukan. Gelas plastik yang kumaksud memiliki ukuran yang sama dengan gelas plastik air mineral di toko-toko. Terlintas dalam pikiranku bahwa gelas plastik itu memang benar-benar gelas plastik air mineral. Gelas plastik yang sudah dibuang, dikumpulkan oleh seseorang dan kemudian dijual kepada para pengasong itu. Untuk beberapa detik aku merasa jijik, dan berniat membuangnya begitu si pengasong pergi. Tapi toh pada akhirnya aku meminumnya juga.

Aku berjalan ke tengah taman dengan perlahan, sambil sesekali meniup-niup kopi yang masih panas lantas menyesapnya. Duduk di salah satu bangku seorang diri. Di sekelilingku, orang-orang tengah bergerombol dan mengobrol, bernyanyi, bermain, melakukan hal-hal yang membuat mereka bisa melupakan betapa letih mereka siang tadi. Aku menoleh ke kanan dan kiri dan menemukan beberapa orang yang agaknya sama sepertiku: duduk sendirian sambil menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Aku tersenyum. Mengetahui bahwa bukan hanya aku yang mengalami hal semacam ini, entah kenapa membuatku senang. Aku tidak yakin bahwa kesenangan semacam itu bisa dibenarkan, tetapi percayalah, tidak ada seorang pun yang mau memikul penderitaan seorang diri.

Aku menyesap kopiku secara cepat dan menjauhkan gelas itu dengan kecepatan dua kali lipat. Kopi itu masih panas dan aku merasakan lidahku melepuh. Aku benci hal ini. Untuk beberapa jam ke depan, atau lebih buruk lagi—beberapa hari, aku tidak akan bisa mencecap secara sempurna.

Aku masih mengutuki kecerobohanku sendiri saat tiba-tiba kudengar sebuah suara kembang api, disusul suara orang-orang yang terperangah. Aku pun lantas mendongak dan benar saja, sebuah kembang api melesat ke udara dan meledak, menciptakan keindahan yang singkat. Aku tidak tahu kembang api itu dilontarkan dari mana dan untuk alasan apa, dan sejujurnya aku tidak ingin mencari tahu. Aku cukup duduk di sini dan menikmatinya saja.

Kembang api itu ditembakkan secara berurutan dan melesat cukup tinggi. Meski beberapa tidak melesat setinggi yang lain, dan tidak meledak secara sempurna, namun hal itu tidak benar-benar menjadi masalah. Karena dengan melihatnya saja aku sudah cukup terhibur. Aku menolehkan kepala ke sekeliling, dan agaknya mereka pun sependapat denganku. Tidak ada yang mempermasakan kegagalan itu; tidak ada yang meributkan kembang api yang melesat rendah dan bahkan hanya meletup. 
 
 Photo published for Kamisan #4 Session 3 : Gemuruh di Langit Pulau Dewata dan New York

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak