Suatu Sore
“Gue benci cincin batu akik.”
“Kenapa?”
“Entahlah … gak suka
aja lihat penampilannya. Terlihat terlalu besar di jari seseorang.
Apalagi kalau di sekitarnya sudah dipenuhi dengan deretan batu lain.
Entah itu berlian asli atau juga imitasi,” tandasnya.
“Belum lagi
kalau gak cukup satu jari yang dilingkari oleh batu cincin itu. Gue
lihatnya bukan tangan lagi. Tapi etalase,” tambah seseorang yang sedang
asyikmemutar-mutar bola basket di tangannya yang bersih dari cincin.
Angin sore membuat
dedaunan berdesir. Menerpa rambut seolah tak tersisir rapi. Riuh rendah suara
mengikuti gerak angin di suatu lapangan.
Sekelompok orang asyik berjongkok mengitari sebuah lapak. Seseorang tampak
terlihat sibuk memamerkan dagangannya. Membakar sebuah cincin berbatu di tangan,
beberapa detik kemudian menempelkan batu tersebut ke kulitnya. Di lain
kesempatan ia menggesekkan sebuah batu ke sebilah kaca dan menunjukkan
permukaan kedua benda tersebut ke seorang calon pembelinya.
Di bagian lain
dari lapangan itu, sekelompok orang, perempuan dan laki-laki, berusia dua
puluhan terkadang memerhatikan kelompok orang yang sedang berjongkok itu sambil
menikmati sore mereka. Sebagian dengan bola basket, dua-tiga orang dengan
sepeda, satu-dua orang dengan skateboard,
beberapa dengan buku.
Yola M. Caecenary
Kamisan #5 Session 3 - Deadline: 26 Maret 2015
Foto tema tulisan
0 comments