Rumia merapikan meja. Ia meletakkan pinggan berisi dua potong red velvet cake yang sangat disukai oleh kekasihnya. Ia juga meletakkan beberapa bunga kesukaannya sebagai penghias meja.
"Sempurna." Rumia mengagumi hasil karyanya. Dekorasi yang baru saja
diselesaikannya sungguh membuatnya begitu bangga dan mulai menerka
bagaimana reaksi kekasihnya kelak ketika melihat langsung. Kekasihnya
begitu mencintai kesempurnaan.
Rumia meraih ponsel yang ia letakkan di atas kursi makan. Seharusnya
satu jam lagi kekasihnya akan sampai. Rumia ingin memastikan bahwa
kekasihnya tidak melupakan janji pertemuan malam ini. Ia sudah tidak
sabar ingin segera bertemu. Mereka sudah terpisah selama dua bulan dan
hanya bisa saling melepas rindu melalui percakapan di beragam aplikasi
media sosial yang dapat mereka gunakan. Dengan satu gerakan ringkas,
Rumia menekan nomor kontak kekasihnya.
"Halo...." Suara di seberang menjawab panggilan dari Rumia begitu dering
pertama selesai berbunyi dan bibir Rumia merekah, tersenyum dengan
gembira, dan senyum Rumia semakin melebar ketika mendengar pernyataan
yang keluar dari suara kekasihnya.
Hubungan telepon terputus dan Rumia segera menyiapkan sesuatu.
***
Pilih salah satu.
Zakia menatap ruangan tempatnya menghabiskan waktu selama 8-15 jam
sehari, untuk bekerja. Ruangan yang begitu dicintainya. Ruangan yang
menjadi simbol eksistensi yang paling ia banggakan, ruangan yang menjadi
tempat pertemuan Zakia dan kekasihnya untuk pertama kali dan menyimpan
jejak-jejak indah mengenai apa saja yang sudah mereka habiskan di
dalamnya sejak dua tahun yang lalu. Ruangan yang sama, yang akan segera
Zakia lepaskan untuk menuju ruangan baru yang lebih besar, di tempat
yang lebih besar dengan kesempatan yang terbuka lebih lebar dibandingkan
yang sudah dimiliki oleh Zakia sekarang; ruangan baru yang menjanjikan
bentuk eksistensi yang lebih solid dan membanggakan bagi Zakia.
Zakia menghela napas.
Pilih salah satu.
Dan Zakia memantapkan pilihannya.
***
Rumia menatap layar ponsel. Kekasihnya baru mengabarkan bahwa ia sudah
menuju ke tempat Rumia. Rumia memperhatikan foto-foto mereka yang
tersimpan di dalam ponsel, hingga sebuah foto terlihat dan mengingatkan
Rumia akan kekasihnya; lebih tepatnya, impian kekasihnya. Sebuah foto
gedung bertingkat yang menjulang tinggi, berdiri tegak dan terkesan
sombong sekaligus penuh percaya diri, dan seolah percaya bahwa dunia
berputar dengan gedung tersebut sebagai porosnya.
Rumia pernah diajak oleh kekasihnya untuk ke sana, ke sebuah tempat di sebuah kota besar di negara yang begitu besar.
"Aku ingin mencapai posisi paling bergengsi yang bisa aku capai melalui
pekerjaanku. Satu-satunya impian yang paling menggairahkan bagiku adalah
bisa menaklukkan gedung ini."
Kekasihnya mengucapkan kalimat tersebut dengan jenis kebanggaan yang
tidak dapat disembunyikan. Rumia tidak pernah bermimpi untuk bisa berada
di tempat tersebut. Bisa selalu berasama kekasihnya merupakan
satu-satunya impian yang ingin Rumia raih. Itupun, Rumia baru memikirkan
tentang mimpi setelah bertemu dan menjalin hubungan bersama
kekasihnya.
Rumia bukan tidak menyadari bahwa kekasihnya merupakan orang yang begitu
ambisius dan selalu membuat perencanaan. Satu-satunya hal yang tidak
pernah direncanakan oleh kekasihnya adalah menjalin hubungan bersama
Rumia dan Rumia merasa sedikit bangga, jika dia diizinkan untuk
membanggakan hal tersebut, bahwa ia berhasil membuat kekasihnya terlepas
dari kebiasaannya membuat rencana dengan menjadikan Rumia sebagai
pasangan.
Tidak ada hal yang lebih membanggakan bagi Rumia kecuali melihat bahwa
kekasihnya sudah mendapatkan banyak kesempatan untuk memperoleh satu per
satu impiannya, termasuk langkah menuju tempat yang sudah diincarnya
sejak masih begitu belia. Dua bulan kemarin adalah langkah awal bagi
kekasihnya untuk merengkuh impiannya dengan erat.
***
Zakia segera membereskan barang-barang pribadi serta sisa-sisa pekerjaan yang harus diselesaikannya. Waktunya tinggal sedikit.
Pilih salah satu.
Tiga kata yang selalu saja terngiang dan membuat Zakia merasa sangat terganggu.
"Cukup sekali. Cukup sekali saja." Zakia terus membatin, cukup sekali
saja dia tidak berpikir matang sebelum mengambil sebuah keputusan, dan
tidak perlu ada salah langkah lagi.
Pekerjaan adalah segalanya bagi Zakia dan ia tidak pernah mengizinkan
penghalang untuk menjegal langkahnya. Cukup satu kali Zakia membiarkan
ada orang lain yang hadir di antara dirinya dan pekerjaan, yang
membuatnya nyaris tidak dapat berpikir jernih untuk fokus menaiki tangga
karir yang berada tepat di depan mata. Itulah saat-saat di mana
pasangannya hadir di dalam kehidupannya dan ruangan kerja menjadi saksi
segala intimasi yang bisa mereka rengkuh dengan kilat. Untung saja,
pasangannya sudah memilih berhenti bekerja, mereka tidak lagi sering
bertemu, dan tidak ada lagi gangguan dalam mencapai nilai paling
prestisius bagi semua ambisi pribadi Zakia.
Zakia menunggu saat paling tepat untuk memastikan rencananya. Malam ini.
Zakia segera memanggil sekretarisnya ke dalam ruangan. Biarkan
sekretarisnya yang mengambil-alih sisa pekerjaannya. Zakia hanya
memiliki waktu sekitar 15 menit untuk segera datang ke tempat pertemuan,
sudah pasti ia akan terlambat. Zakia bergegas, ia ingin bisa secepatnya
memastikan sesuatu dan mengambil keputusan dengan tenang.
***
Lamunan Rumia terhenti ketika ia mendengar pintu pagar terbuka; kekasihnya datang.
"Maaf, aku terlambat..."
Rumia tersenyum, memaklumi. Kesibukan kekasihnya membuat ia sering
terlambat jika harus menepati janji pertemuan dengan Rumia, "Tidak
apa... Masuklah. Aku sudah menyiapkan hidangan kesukaanmu."
Rumia menggamit tangan kekasihnya, ia pegang dengan erat. Mereka
terpisah cukup lama dan Rumia tidak ingin kehilangan satu momen-pun yang
membuatnya kehilangan kesempatan untuk menyentuh kekasih yang sangat
dicintainya tersebut.
"Aku membuat red velvet cake, aku mencoba resep baru dan aku
sangat menjamin bahwa kau akan menyukainya. Cobalah..." Dengan setengah
memaksa, Rumia meminta kekasihnya untuk mencoba makanan, yang
membutuhkan waktu berhari-hari dan percobaan entah berapa puluh kali,
untuk bisa mendapatkan rasa yang sempurna. Kekasih Rumia sangat
mencintai kesempurnaan dan Rumia sangat mengenal tabiatnya. Rumia tidak
akan suka jika kekasihnya tidak mendapatkan kesempurnaan yang menurutnya
sangat pantas diperoleh oleh kekasihnya tersebut -- termasuk soal rasa.
"Enak. Rasanya tepat seperti dugaanku." Dan Rumia tersenyum puas. Sempurna.
"Selesaikan makananmu... Jangan terburu-buru. Aku tahu apa yang kau inginkan dariku."
"Maksudmu?"
"Aku tahu. Aku sangat mengetahui apa yang mungkin sedang kau pikirkan.
Aku akan membantumu untuk mengambil keputusan. Hilangkan wajah penatmu.
Tolong nikmati malam ini bersamaku tanpa memikirkan apapun."
Rumia menyuapi potongan demi potongan red velvet cake ke mulut
kekasihnya sambil terus tersenyum, berusaha meyakinkan dirinya bahwa
keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang tepat. Tidak ada hal yang
lebih dibutuhkan oleh kekasihnya selain hal yang akan segera Rumia
lakukan.
"Bantu aku supaya malam ini berakhir dengan indah, sempurna, sesuai
dengan rencana yang sudah aku persiapkan. Hanya itu keinginanku malam
ini. Selebihnya, kau akan bebas."
"Jelaskan apa maksudmu, Rumia?"
"Sudah satu jam berlalu, seharusnya sebentar lagi reaksinya dimulai.
Tenang saja, tanpa jejak. Dan aku memastikan bahwa kau tidak akan sampai
dilibatkan setelahnya. Kau akan bebas. Percayalah."
"Aku tidak mengerti."
Rumia menatap mata kekasihnya, mata yang begitu dipujanya, "Kau akan segera mengerti."
Tangan Rumia kemudian membelai rambut kekasihnya, "Aku sangat mencintaimu..."
Tidak ada yang bisa menghalangi Rumia untuk mencintai kekasihnya, bahkan
hingga melebihi cinta Rumia terhadap dirinya sendiri. Cinta yang
membuatnya berani meminum racun mematikan demi memberikan kebebasan bagi
kekasihnya untuk mengepakkan sayapnya lebih lebar, terbang lebih
tinggi, dan mencapai angkasa.
"Aku tidak ingin memberikan beban kepadamu. Impianmu adalah hal yang
lebih penting dibandingkan diriku dan aku tidak ingin menjadi penghalang
bagi dirimu untuk mencapai impianmu tersebut. Pergilah dengan tenang,
kejar mimpimu. Kau tidak perlu memilih untuk meneruskan hubunganmu
denganku. Aku melepasmu."
Rumia memegang kedua pipi kekasihnya, "Ingatlah satu hal. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..."
Dan tarikan napas terakhir menghentikan segalanya, untuk selamanya. Rumia sudah tiada.
Zakia menikmati semua momen yang sudah diciptakan Rumia untuknya di
perjamuan terakhir mereka. Zakia tahu bahwa Rumia akan melakukannya,
tanpa Zakia harus meminta Rumia untuk melepasnya.
Satu hubungan yang di luar rencananya, yang berpotensi menghancurkan seluruh image dan karir Zakia, sudah secara resmi berakhir. Kini Zakia bebas melangkah. Tempat baru yang menjadi impiannya sudah menunggu.

0 comments