Minggu 3 Olihn

Kamisan S3 #3: Bayang-Bayang Kala Perang

16.52Unknown

Suara ledakan dari peluru yang ditembakkan oleh tank dari kejauhan di arah depan terdengar jelas. Tanah serta puing-puing bangunan yang remuk terbang berhamburan. Asap putih segera memenuhi udara. Tidak lama berselang dari ledakan pertama, terjadi lagi ledakan kedua, ketiga, dan keempat. Puluhan prajurit yang menjadi sasaran lari lintang-pukang.

Jati, seorang pemuda yang belum genap empat bulan menjadi prajurit, bersembunyi di balik tembok sebuah bangunan yang hampir hancur, alih-alih terus berlari bersama kelompoknya. Kedua tangannya yang memegang senjata di depan dada, gemetar. Napasnya pun kian memburu. Mulutnya tak henti-hentinya berkomat-kamit, mengucapakan doa yang entah apa.

Ia semakin merapatkan tubuhnya ke tembok saat mendengar kendaraan berat itu berderak di jalanan di balik tembok tempatnya bersembunyi. Puluhan langkah kaki prajurit musuh tertangkap oleh telinganya. Langkah-langkah itu terdengar mantap, dan semakin jelas terdengar langkah-langkah kaki itu, makin dalamlah ia merapatkan tubuh.

Ia tidak tahu berapa banyak kawannya yang mati akibat serangan mendadak barusan. Yang ia tahu, ia bahkan belum sekalipun menembakan senapannya sebagai bentuk serangan balasan. Ia dan puluhan prajurit lain terlalu takut sampai-sampai hanya bisa berlari dan bersembunyi. Dalam pemikirannya, dan berdasarkan informasi yang diterimanya, prajurit musuh masih jauh. Dan itu berarti ia bisa bersantai untuk sementara waktu. Sekalipun itu benar, ia seharusnya tidak melakukan itu. Akan tetapi, rasa letih dan juga keyakinan bahwa pemikirannya itu benar, membuat ia melakukan hal yang tidak seharusnya.

Ia dan kawan-kawan lainnya bersantai dan beristirahat di bawah gedung yang—meskipun rusak—tinggi menjulang.

“Apa kau mau rokok?”

Seorang kawan yang lebih muda darinya mengacungkan sebungkus rokok yang isinya hanya tinggal tiga batang kepadanya. Ia tersenyum, dan mengambil sebatang. “Terima kasih,” katanya, lalu menjepitkan batang berisi irisan-irisan tembakau dan bahan-bahan lain itu di mulut, dan mengambil mancis yang tengah disodorkan kawan yang lebih muda itu.

Ia mengembuskan asap putih itu dengan teramat pelan, sambil menegadahkan kepala, menyandarkan diri pada salah satu tiang gedung. Siang begitu terik. Dan debu-debu di jalanan berterbangan tertiup angin. Ia tengah duduk berselonjor, dengan kaki kiri ditekuk sehingga bisa digunakan untuk menopang tangan kiri. Sementara tangan kanannya memegang batang rokok yang masih menempel di mulut. Senjata disandarkan menyilang di dada.

“Bagaimana perasaanmu?” Jati menoleh, dan melihat kawan yang lebih muda itu tengah menatapnya seraya tersenyum simpul. Luka-luka pada wajahnya telah mengering, dan dia terlihat lebih tua dari usianya. Kawan yang lebih muda itu kemudian mengalihkan tatapannya, kembali menyandarkan tubuhnya ke tiang yang sama, bersebelahan dengan Jati. “Kau tahu, aku berharap perang keparat ini cepat selesai. Aku sudah benar-benar muak dengan semua ini.”

“Aku rasa semua yang di sini pun berpikir demikian. Tidak ada seorang pun yang menghendaki perang.”

“Ya. Itu maksudku.”

“Tetapi segala sesuatunya telah terjadi dan di sinilah kita sekarang, berperang atas nama negara.”

Kawan muda itu mendengus. “Ya, aku berharap demikian. Karena sejujurnya, aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kita perjuangkan. Mereka ‘menjemputku’ pagi-pagi sekali dan langsung memerintahkanku ini dan itu—mewajibkanku ikut militer. ‘Kita akan berperang! Setiap warga laki-laki harus ikut berperang! Demi negara kita!’, katanya.

“Bayangkan! Pagi … dan bahkan aku belum meminum kopi pagiku!”

Jati tersenyum dan perlahan ia memejamkan mata. Dan setelahnya, kata-kata yang yang diucapkan kawan mudanya itu terbang tertiup udara. Ingatan telah membawanya terbang ke salah satu hari beberapa bulan yang lampau, saat darah belum tertumpah, dan satu-satunya warna merah yang menusuk matanya tidak lain adalah warna kue kesukaan istrinya yang baru saja dibeli di sebuah toko kue selepas ia berbelanja.

“Cobalah, kau akan menyukainya,” kata si istri, seraya menyodorkan kue di tangannya.

“Tidak. Terima kasih. Aku sudah pernah mencobanya.”

“Ayolah. Bukankah kau cinta padaku?”

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Ada. Semua hal selalu berhubungan. Betapapun tipisnya hubungan itu.”

“Kau sangat pandai bicara.”

“Tentu saja. Seseorang harus pandai bicara agar bisa bersama pemalas sepertimu. Sekarang, buka mulutmu!”

“Tidak.”

“Ayolah … nah, begitu. Rasnanya enak, kan?”

“Rasanya … agak pahit.”

“Ya, memang seperti itu.”

“Kau menggilai rasa yang seperti ini?”

“Haruskah aku menanyakan hal yang sama kepadamu setelah aku mecicipi kopimu?”

“Hei, itu berbeda.”

“Sama saja. Tidak ada hal yang ‘berbeda’, karena pada dasarnya, semua hal adalah sama.”

“Oke. Aku menyerah. Tidak ada gunanya aku berdebat denganmu. Karena bagaimanapun, aku akan kalah.”

“Bagus, jika kau tahu hal itu. Sekarang, buka mulutmu lagi.”

Bayangan masa lalu itu perlahan memudar dan benar-benar hilang saat Jati membuka mata. Kawan muda di sebelahnya tengah menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

“Apa menurutmu aku sedang berdongeng?”

Jati tersenyum malu-malu seraya memperbaiki posisi duduknya. “Oh, maaf. Aku benar-benar lelah.”

“Sudahlah. Sekarang, ceritakan saat ketika kau ‘dijemput’!”

Jati diam, dan tak mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa waktu. Kepalanya mendongak, menatap awan di kejauhan.

“Ayolah, berceritalah. Terkadang hal itu sangat membantu.”

Dan tepat ketika Jati membuka mulutnya, hendak menceritakan segalanya, sebuah ledakan terjadi.


gambar diambil dari sini 

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak