Kalian pernah mendengar tentang seorang monster yang begitu
mencintai panda? Oh, tenang, akan kuceritakan kisah itu. Kisah yang
membuatku cemburu pada panda. Sebab monter lebih memilihnya untuk
dicintai dibandingkan denganku.
Sebentar. Tapi hanya sedikit kisah singkat. Jangan berharap
lebih. Ingat! Latihlah hatimu untuk tidak selalu berharap terlebih
berharap yang terlalu tinggi. Pada hal apa pun, pada siapa pun, dan di
mana pun. Kau tahu kan sebabnya akan seperti apa kalau kau masih
melakukannya?
***
Pada suatu masa, ada seorang monster penuh kegelapan hingga
segala muram dan kelam menyelubungi jiwanya. Namun ada hal yang menarik
dari hidupnya. Perihal mimpi dan ambisi yang tiada akhir, tanpa kata
menyerah dengan satu alasan apa pun. Muntahan caci maki yang keluar dari
bibir gelap itu adalah pendorong bagi hidupnya. Tingkah yang abnormal
dan di luar batas adalah warna indah bagi jiwanya. Kenyataan perasaan
yang jelas meretakkan sendinya ia pendam hingga ke dasar. Tak ada
kesempatan kalian untuk mengintipnya. Jangan berharap untuk tahu.
Ingin mendekap dan berbisik padanya, bahwa gelapnya telah
menarikku terjerembab masuk dalam dunianya yang sebenarnya tak
kupahami, tapi berusaha dan ingin kumengerti. Ingin membelai
pendengarannya dengan sajak-sajak indah bukan raungan murka. Ingin
memberi warna dengan dongeng-dongeng manis, bukan berguling di trotoar.
Ingin menariknya menanam bunga-bunga ranum pada tanah gembur, bukan
bergelut dengan pekatnya crude oil pada pemanas tinggi.
Hai, monster yang kutahu lembut dan baik hati. Nyatanya kau
lebih memilih Panda-makhluk berbulu putih hitam-itu untuk dicintai.
Rupanya Panda lucu itu mampu melumpuhkan segala geram sangar gelapmu.
Apa yang dimilikinya hingga kau begitu menggilainya? Bulunya kah?
Hitam-putih warnanya kah? Atau, kau memiliki kisah masa lalu
menyangkutnya?
Dear, monster. Yang kumiliki hanyalah sebuah ingin dan
harap. Aku memiliki sepotong red velvet yang masih hangat dari
pemanggang. Potongan terakhir. Teksturnya yang lembut dengan cita rasa
manis cheesecream berpadu pahitnya cokelat. Ingin kusuapkan potongan
terakhir ini untukmu. Sudikah kamu menerimanya?
Mungkin tak semanis Pandamu. Hanya sepotong red velvet.
Hanya menginginkanmu merasakannya. Manis yang berpadu dengan pahit namun
lembut untuk dinikmati. Mungkin bisa menegaskan juga perihal hidup.
Ingatlah, bahwa hidup tak akan selalu berjalan manis, tapi
juga pahit. Hidup berjalan seimbang. Pun sebaliknya. Pahit tak akan
selamanya pahit, manis yang kau dapatkan setelah pahit rasanya pasti
akan berkali lipat. Jadi, ingatlah, bahwa gelap, suram, kelam tak akan
selamanya hitam, pada akhirnya akan ada yang memberi warna lain.
Perpaduan seimbang.
Kini, kutahu Pandamu telah memberi warna yang tak hanya gelap, suram, dan kelam untukmu.
Teruslah pada mimpi-mimpimu, taklukkanlah segal ambisimu.
Kisahmu akan tertulis manis pada lembaran kata yang sedang kau susun.
Ingatlah bahwa kita akan abadi, sebab kita menulis.
***
Sepertinya
kali ini bukan kisah yang kutuliskan. Mungkin sebuah surat lebih
tepatnya. Surat yang kutitipkan melalui potongan terakhir red velvet.
0 comments