
Wanita itu masih mendengarkan dengan begitu jeli. Jam dinding di
rumahnya berdetak seakan makin cepat. Ia curiga. Tik tok. Tik tok.
Jangan-jangan kepalanya sendiri yang menghitung tak tepat. Ia salah
mendasarkan perhitungannya pada detak jantungnya sendiri yang ketukannya
makin lama makin kencang. Diiringi gelisah, kepala Sang Wanita dipenuhi
dugaan. Apa kecerobohannya menumpahkan tepung saat mengayak berarti
langkah yang terjerembab di luar sana. Apa lamunannya yang membuat calon
adonan terlalu lama dikocok berarti hati yang tak tenang untuk
seseorang yang dipikirkannya. Apa kealpaannya menentukan suhu yang salah
berarti impian yang hangus di suatu tempat yang lain. Ia sama sekali
tak mengerti. Pada akhirnya, ia memilih untuk menutupi kegelisahannya
dengan mengatakan bahwa semuanya adalah prasangka belaka.
***
Bertahun lalu wanita itu merasa dunianya berubah seketika. Hatinya tak
lagi pada putaran dirinya sendiri. Dunianya selalu penuh dengan
kewajiban menulis kisah orang lain ke dalam artikel singkat majalah
wanita. Matanya menemukan petualangan baru untuk melihat dunia di luar
sana. Dunia yang begitu besar dengan hati yang lapang dan bijaksana
milik Sang Pria.
Pertemuan mereka sama sekali tidak disengaja. Ini terlihat klise.
Tentang wanita yang mewawancara seorang generasi ketiga kebangsaan
Belanda yang kerap mendengar kisah perjuangan sang kakek ketika mesti
menjadi bagian dari Perang Dunia 2. Wanita itu terkesima bagaimana Sang
Lelaki bermata biru redup mengisahkan ulang tentang kekelaman Rotterdam
dan Middelburg yang dihujani bom secara besar-besaran. Berapi-api, ia
seakan menghadirkan kakeknya kembali dengan deskripsi suasana dan
ketegangan antara hidup-mati. Bahkan juga rasa kebangsaan sejati yang
sangat kental, meski Sang Lelaki saat ini memutuskan untuk memilih
tinggal di Amerika. Diam-diam, Sang Wanita merasa kesal. Bisa jadi,
kakek Sang Pria mengesankan di hadapannya adalah salah satu Londo yang
membuat negaranya dijajah selama ratusan tahun. Tapi kali itu ia mampu
menyeimbangkan rasa dan logika. Itu sudah berlalu, dan kini ia mesti
mendasarkan dirinya pada sikap profesional.
Obrolan hangat itu berakhir pada mereka yang saling berbagi cerita hidup
dengan sepotong Red Velvet dan teh hangat untuk masing-masing. Sang
wanita sempat menolak tawaran beberapa buah Poffertjes.
"Maaf, saya tak terlalu suka rasanya,"
"Ah, seleramu sangat Amerika, rupanya."
Sang Wanita agak merasa lucu. Ketika teman laki-lakinya sedang begitu
menggandrungi kopi, bule Belanda di hadapannya justru sangat menggemari
teh. Sang Lelaki bahkan tak goyah sedikitpun dengan promosi membusa Sang
Wanita tentang Kopi Gayo atau Kopi Luwak. Berpendirian. Mengesankan.
Baginya, laki-laki di hadapannya berdiri di dua negara yang bahkan turut
andil dalam pengakuan kedaulatan negerinya. Ia meyakinkan dirinya
sendiri bahwa akan melelahkan untuk menilai segala sesuatunya dari
sejarah. Laki-laki di hadapannya masih membuatnya berhasil menciptakan
kekaguman.
***
Sang Wanita mengabarkan artikel yang telah dimuat. Mereka berjanji untuk
bertemu kembali. Alasannya untuk saling mendiskusikan hasil jadi
artikel yang telah terbit. Meski begitu, keduanya tak mampu menutupi
bahwa justru sebagian besar hati mereka tergerak untuk menemukan
kenyamanan yang sama satu sama lain. Obrolan dan tukar pikiran.
Berdiskusi dalam merasa dan menilai segala sesuatunya.
Red Velvet kedua hari itu berhasil membuat Sang Wanita kesal sekaligus
bahagia. Meski harus merasakan sakit karena gigi yang ngilu, bahagia pun
ia terima ketika tahu bahwa cincin lah yang terkunyah olehnya.
Sementara laki-laki mata biru di hadapannya tak mampu menahan tawa. Sang
Wanita begitu menyesal mengapa ia mengenakan celana cargo dan kaos yang
sangat kasual hari itu.
"Lain kali, jangan letakkan cincin di dalam kue." sang wanita berlagak mengambek
"Tentu tak ada lain kali. Saya tahu tak perlu melamarmu dua kali. Bukankah jawabannya "ya"?" Laki-laki itu mengerling usil.
***
Gelisah Sang Wanita belum juga habis. Justru semakin menjadi. Tak mampu
dihitung lagi berapa kali ia menatap pada jam dinding. Tak
habis-habisnya ia memainkan cincin di jari tangannya. Percobaan keenam
kali membuat Red Velvet tak pernah lepas dari lidah penguji : sang
suami. Pernah terasa enak, meski esoknya keras atau hangus. Ia selalu
membutuhkan komentar lelakinya. Namun kali ini berbeda. Apakah ia masih
boleh berharap? Mulutnya komat-kamit mengucap doa. Hatinya tak pernah
lepas dari ketakutan akan kehilangan sang suami yang pamit menuju
Amerika untuk mengurus keperluan perpindahan, sebelum ia berganti
kewarganegaraan merah putih. Namun berita pesawat yang kehilangan
kendali membuatnya cemas dan berharap itu bukan penerbangan Sang Lelaki.
Ia terus saja menunggu berita...
***
Takdir boleh saja bertindak kejam. Kecemasan Sang Wanita bisa
ditafsirkan apa saja. Siapa sangka Sang Pria telah mengabaikan segala
rasa dan berpura-pura. Di tengah gemerlap New York, ia tengah menikmati
kue berikutnya. Red Velvet yang tak pernah gagal dalam tampilan dan
rasa. Di cake shop itu, ia menggenggam erat tangan wanita. Wanita
kebangsaan Amerika penggemar makanan manis dengan lipstik semerah kue
di hadapannya.
*ditulis untuk Nulis Kamisan 3 #3
0 comments