
Gelisah,
itulah keadaan yang sedang dirasakan oleh seorang wanita cantik bernama
Risa. Sedari pagi hingga malam, lelaki yang dinantinya tak kunjung
muncul di hadapannya juga. Biasanya, setiap hari sabtu seperti ini, pria
yang akrab disapanya Pak Arman itu selalu datang ke toko bunga miliknya
guna membeli beberapa ikat mawar. Namun tampakanya, lelaki yang dinanti
tersebut tidak akan berkunjung untuk hari ini. Meski begitu, Risa tetap
saja optimis menunggu kehadirannya, dan berusaha keras menepis semua
praduganya.
Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, saat di mana toko bernama The Blossom miliknya harus tutup, Pak Arman yang ditunggu nyatanya benar-benar tidak datang. Risa cukup merasa kecewa dengan hal itu. Padahal dia ingin sekali memberi sesuatu kepada pelanggan paling setianya tersebut pada hari ini. Sungguhpun begitu, dia tetap berusaha berpikir positif guna mengalihkan rasa kecewanya. Mungkin saja pria itu sedang sangat sibuk hari ini.
Risa
kemudian bergegas membereskan tokonya. Dia berkemas, dan berjalan keluar
menutup pintu depan tokonya seraya menguncinya. Dia menghela napas lega
telah mengakhiri semua pekerjaannya hari ini. Sembari memijat-mijat
lehernya yang pegal, dia pun berbalik untuk beranjak pulang. Namun,
betapa terkejutnya dia, ketika tiba-tiba mendapati sesosok pria sudah
berdiri menghadang di hadapannya.
¨Sudah tutup, ya?¨ Tanya pria tersebut yang sontak membuat Risa terbengong-bengong.
¨Pak Arman?¨
Risa heran tak menyangka, sosok pria bernama Arman yang dinantinya
sedari tadi, sekonyong-konyong kini muncul di depan matanya.
¨Aku
terlambat. Duh, sayang sekali. Padahal aku mau beli beberapa ikat. Tapi
yah, mungkin lain kali saja, ya. Aku permisi dulu deh kalau begitu.
Selamat malam.¨
¨T-Tunggu,
Pak!¨ Arman yang hampir melenggang pergi, berhenti mendengar seruan
Risa. ¨A-Aku bisa ambilkan kok, Pak. Tenang saja.¨
¨Enggak usah deh, ngerepotin. Lain kali saja aku kemari lagi.¨
¨Enggak kok.
Enggak ngerepotin, Pak. Sebentar, saya buka dulu pintunya.¨ Dengan
tergesa-gesa Risa memasukkan kunci gembok pintu depan tokonya untuk dia
buka. Namun Pak Arman mencegah dengan menahan lengannya. Sontak saja
Risa merasakan debaran yang hebat di dadanya.
¨Nggak usah, Risa. Beneran lain kali saja. Aku juga Enggak terlalu membutuhkan sekarang kok.¨ Ujar Arman dengan lembut.
¨B-Begitu, ya?¨
¨Iya.¨
Risa pun seakan luluh dan menurutinya begitu saja.
¨Ngomong-ngomong, kamu mau pulang, kan? Biar aku antar, bagaimana?¨
¨Eh? Enggak usah, jangan repot-repot, Pak. Rumah saya nggak terlalu jauh kok. Saya naik kendaraan umum saja.¨
¨Sudahlah. Enggak baik kalau wanita sendirian di jalan. Biar aku antar saja, ya. ¨
¨Begitu ya, Pak?¨
¨Iya.¨
¨Iya deh kalau begitu, terima kasih.¨
¨Jangan sungkan-sungkan.¨
Dengan segera Arman menghampiri mobil sedan miliknya, dan lekas membukakan pintu untuk Risa.
Risa sungguh
tak menyangka dirinya akan pulang bersama lelaki pujaannya itu.
Padahal, wanita itu cukup sedih sebelumnya, mengira Arman tidak akan
datang untuk hari ini. Namun rasa sedih itu berubah menjadi gembira
dengan peristiwa di malam yang tak terduga ini.
***
¨A-Apa anda
sibuk sekali hari ini, Pak? Tumben sekali jam segini baru mampir ke toko
saya?¨ Tanya Risa, agak gugup berada di samping Arman.
¨Iya nih,
saya lembur hari ini. Dan saya pikir tokonya masih buka makanya saya
mampir. Ternyata sudah tutup. Tutupnya setiap jam sembilan ya?¨ Balas
Arman sembari menyetir mobilnya.
¨Iya Pak.
Mungkin Anda bisa menelepon saya saja kalau mau pesan bunga. Saya bisa
antarkan ke rumah atau kantor Anda lewat kurir kalau Anda lembur dan
enggak bisa mampir. Buat pelanggan setia kayak Anda sih, saya kasih
gratis ongkos kirim deh.¨
¨Wah, yang
benar? Hehehe, tapi enggak ah. Aku lebih suka mampir ke tokomu, dan bisa
melihat banyak bunga yang cantik lengkap dengan penjualnya yang cantik
pula.¨
Wajah Risa mendadak merah padam mendengar ucapan Arman barusan. ¨Ah, Pak Arman bisa saja.¨
Arman hanya tersenyum menimpalinya.
¨Tapi
ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, Pak. Sebenarnya, untuk siapa
bunga-bunga yang anda beli setiap hari sabtu itu? Apa untuk kekasih
anda?¨ Tanya Risa, penasaran sekaligus merasa khawatir.
¨Oh, bukan.
Aku enggak punya kekasih kok. Alias masih single.¨ Risa merasa lega
begitu mendengar ucapan itu. ¨Kalau bunga-bunga mawar itu sebenarnya
kumakan.¨ Lanjut pria tersebut, yang sontak membuat Risa kaget.
¨Hah? Dimakan, Pak?¨
¨Iya, aku suka sekali makan mawar.¨
¨Se-Serius anda makan? Memangnya itu enak?¨
¨Ya kalau bagiku sih enak. Enggak tahu kalau untuk orang lain. Hehehe.¨ Jawab Arman sembari tersenyum lucu.
¨Lalu. Kenapa setiap hari sabtu anda membelinya?¨
¨Karena... eh tungggu!¨ Arman menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat Risa terkejut bukan main.
¨A-Ada apa, Pak? Kenapa berhenti mendadak? Apa ada kucing menyeberang?¨ tanya Risa, panik.
¨Enggak, bukan. Aku lupa kalau aku belum makan.¨
¨Eh?¨ Risa mengeryitkan dahi mendengar alasan tersebut.
¨Kalau lapar
aku suka enggak bisa tidur, Ris. Nah, kebetulan, di situ ada restoran
favoritku. Restoran bertema mawar. Ada kue yang enak sekali, namanya kue
mawar merah. Kamu mau ya, makan kue itu bareng aku sebentar.¨ Ajak
Arman.
¨Tapi, Pak...¨
¨Sudahlah. Aku traktir kok.¨
Tanpa banyak
bicara lagi, Arman membawa mobilnya berbelok memasuki area parkir
restoran tersebut. Risa tak mampu memrotes ataupun menolak. Dia hanya
bisa menurutinya sembari dalam hati merasa senang, akan makan malam
bersama pujaan hatinya.
Setelah
mobil terparkir, Arman bersama Risa segera masuk ke dalam restoran
tersebut. Risa tampak takjub begitu melihat suasana dan dekorasi
restoran yang dipenuhi oleh bunga-bunga mawar yang beraneka warna.
¨Wah, berkelas sekali.¨ Ucap wanita itu, terpukau.
¨Kamu suka, kan?¨ Tanya Arman.
¨Suka banget, Pak. Keren.¨
Mereka
kemudian menempati salah satu meja di dekat taman kecil yang ditanami
mawar putih. Di tengah meja tersebut terdapat vas kecil dengan beberapa
tangkai mawar merah dan biru disisipkan. Dan di sampingnya, sebuah lilin
berdiri memberikan cahaya temaram, membuat nuansa menjadi romantis.
¨Nah, Ris, kamu mau pesan apa?¨ Tanya Arman, yang kini duduk berhadapan dengan Risa.
¨Katanya anda mau mengajak saya makan kue?¨ Balas Risa.
¨Ya mungkin saja kamu lebih ingin makan yang lain.¨
¨Enggak deh, saya mau mencicipi kue favorit anda itu saja.¨
¨Bagus. Kamu memang harus mencobanya, Ris.¨
Risa hanya tersenyum menimpalinya.
Arman
kemudian memanggil pelayan dan memesan Kue Mawar Merah yang dimaksud
beserta dua cangkir Cappuccino. Sembari menunggu hindangan itu
disajikan, mereka berdua mulai saling berbincang-bincang.
¨Anda sering kemari, pak?¨ Tanya Risa pada Arman.
¨Enggak juga, sih. Kadang-kadang saja. Lebih suka makan masakan sendiri.¨
¨Oh begitu.
Oh iya, saya hampir lupa.¨ Risa merogoh isi tasnya dan mengeluarkan
sesuatu. ¨I-Ini, Pak.¨ Disodorkannya barang yang dia ambil tersebut.
¨Wah, ini coklat?¨
¨Se-selamat hari Valentine, pak.¨
¨Oh iya, sekarang hari Valentine, ya. Aku lupa. Terima kasih ya, Ris.¨
¨Sama-sama, Pak.¨ Risa senang akhirnya bisa menyerahkan coklat yang sedari tadi ingin dia berikan namun tak sempat.
¨Sorry ya aku enggak bisa balas kasih kamu hadiah. Aku enggak pernah merayakan hal seperti ini sih.¨
¨Enggak apa-apa kok, Pak. Diajak makan bersama di restoran seromantis ini saja sudah seperti hadiah untuk saya.¨
¨Eh? Memangnya ini restoran romantis?¨
¨Anda enggak merasa suasana di sini sangat romantis?¨
¨Enggak, buatku nuansanya hanya bagus karena dipenuhi mawar.¨
Risa sontak merasa kesal. Ternyata pria penyuka mawar di hadapannya itu tidak memahami makna dari suasana di sekitarnya.
¨Ngomong-ngomong, Ris. Ada yang mau aku katakan ke kamu.¨ Ucap Arman dengan tatapan serius.
¨Mengatakan apa, Pak?¨
¨Itu, sebenarnya...¨
Risa merasa
deg-degan demi mendengar kalimat yang akan keluar dari bibir Arman. Dia
berharap itu adalah sebuah ungkapan perasaan.
¨Aku akan pindah ke kalimantan.¨
¨Apa?¨ Seketika Risa terkejut mendengar ucapan Arman yang jauh sekali dari harapannya. ¨P-Pindah ke kalimantan, Pak? Kenapa?¨
¨Ada pekerjaan yang harus kukerjakan di sana. Dan aku akan berangkat minggu depan.¨
¨Apa anda harus menetap di sana, Pak?¨
¨Iya, aku akan kerja di sana untuk waktu yang lama. Jadi harus tinggal di sana.¨
Sontak Risa
merasa sedih mengetahui Arman akan pergi. Dia tak pernah berpikir akan
kehilangan pelanggan paling setianya tersebut. Dalam pikirnya, dia
merasa begitu khawatir, bagaimana hari sabtunya tanpa kehadiran lelaki
tersebut. Terlebih, dia belum sempat untuk mengungkapkan perasaannya.
Hal ini tentu cukup menyiksa batin Risa.
¨Permisi.¨ Akhirnya kue yang mereka berdua pesan datang. Sang pelayan segera menyajikannya di atas meja.
¨Nah, Ris, kamu cobain deh kuenya. Gimana pendapatmu.¨ Ujar Arman sembari mulai menyendok kuenya.
Risa sendiri
hanya diam menampakkan air muka yang murung menatap kue di hadapannya
itu. ¨Pak, tolong jangan pergi!¨ Ucapnya, tiba-tiba.
Arman yang hampir melahap kuenya, seketika terdiam mendengar ucapan itu. ¨Maksud kamu?¨ Tanyanya.
¨Jangan pergi, Pak. Jangan tinggalkan saya.¨
Arman
tersenyum mendengar ucapan itu. Dengan lembut dia menggenggam tangan
Risa di atas meja. ¨Kamu gak perlu khawatir, aku akan selalu
menghubungimu, kok. Aku akan tetap menjaga persahabatan ini dan tidak
akan putus meski saling berjauhan.¨
Risa
terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka, ternyata Arman hanya
menganggap dirinya sebagai seorang sahabat. Padahal wanita ini berharap
sekali Arman juga memiliki perasaan yang sama padanya. Namun tampaknya,
sudah tidak ada harapan lagi untuk hal itu. Risa merasa patah hati
sekarang. Dengan kesal dia melepas genggaman lelaki tersebut dan bangkit
dari tempat duduknya.
¨Maaf, Pak.
Saya harus segera pulang. Terima kasih atas ajakannya malam ini. Selamat
malam.¨ Risa lekas beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar dengan
hati perih.
Arman pun
berlari mengejar dan lekas menahan lengannya. ¨Tunggu, Ris! Kamu kenapa?
Apa ada yang salah denganku?¨ Tanya lelaki itu.
¨Aku benci anda, Pak! Aku benci!¨ Risa memaki Arman sembari berusaha melepas lengannya yang digenggam.
¨Kenapa?¨
Risa
berhenti meronta, dan mulai menatap kedua mata pria itu. ¨Anda telah
menghancurkan hati saya, Pak. Anda pasti tidak tahu betapa saya sangat
bahagia setiap kali melihat anda datang ke toko saya. Saya selalu tak
sabar menunggu datangnya hari sabtu tiba. Itu karena saya ingin melihat
anda, bertemu dengan anda. Saya selalu semangat membuka toko. Berharap
anda tidak hanya mampir setiap hari sabtu saja. Saya selalu berdoa agar
anda datang di hari-hari lain. Namun hanya sabtulah hari di mana anda
selalu datang. Sekarang, anda akan pergi. Siapa lagi yang akan saya
nanti kedatangannya? Tidak ada lagi penyemangat saya di hari sabtu,
tidak ada lagi harapan untuk menanti anda.¨
¨Itu terdengar aneh, Ris. Kenapa...¨
¨Aneh?
Astaga. Anda tahu alasan saya seperti itu? Saat anda memberitahukan
rencana kepergian anda, hati saya remuk. Lalu tahukah anda, ketika
mendengar bahwa anda hanya menganggap saya sahabat, hati saya mulai
hancur. Anda tahu kenapa? Karena saya menyukai anda. Dan anda tidak
mengerti itu. Anda tidak sadar telah menghancurkan hati saya. Anda tidak
peka terhadap perasaan saya.¨
Arman
tercengang mendengar ungkapan perasaan Risa tersebut. Dia melepas
genggamannya pada lengan wanita itu, dan terdiam tak mampu
berkata-kata.
Risa sendiri
merasa canggung dengan situasi sekarang. Dia cukup bingung, mengapa dia
mengatakan hal itu. Namun begitu, hatinya kini terasa lebih lega.
Sekarang dia hanya ingin tahu, apa respon Arman setelah mengetahui semua
perasaannya tersebut.
¨Kamu tidak seharusny menyukaiku, Ris.¨
Risa terkejut mendengar ucapan itu dari mulut Arman.
¨A-Apa maksud anda? Kenapa aku tidak boleh menyukai anda? Apa saya tidak pantas untuk anda?¨
¨Bukan kamu. Akulah yang tidak pantas untukmu.¨
¨Kenapa anda berkata begitu?¨
Arman terdiam sejenak. Kemudian mulai melanjutkan ucapannya.
¨Aku gay.¨
TAMAT
0 comments