Apa rugimu kalau saya mencintai cinta?
Apa kamu sebegitu tidak relanya menjadi sekadar kenangan yang akan terlupa dalam kepala saya?
Mengapa sekarang kamu umbar kata ‘aku sayang kamu, maka aku peduli kamu’? Ke mana saja kamu dulu?
Sudahlah kawan, jangan tambahkan sesal di dalam diri saya, rasanya
menyebalkan tahu, menyesal karena pernah jatuh cinta pada seseorang.
Rasanya bodoh, menyesal karena pernah menyayangi seseorang, seseorang
yang sebenarnya tak pantas untuk mendapatkan cinta dan sayang itu.
Sudahlah kawan, biarkan saja saya dan pilihan hidup saya yang sudah
tidak ada sangkut pautnya denganmu lagi. Bukan kewajibanmu mengingatkan
apapun pada saya. Bukan kewajibanmu untuk memedulikan hidup saya.
Masa-masamu itu sudah lama terlewat. Kan kamu sendiri yang membuang
kesempatan itu. Masa kamu lupa?
Saya tidak terima, ketika kamu mulai menyekoki saya dengan
pikir-pikiran konservatifmu. Saya dan kamu berbeda. Dari dulu saja
selalu berbeda. Saya pemilik jiwa bebas. Kamu pemilik jiwa yang taat.
Sudahlah.
Kamu ini, seperti berusaha mengubah warna kue red velvet menjadi
hitam. Kamu tahu, warnanya akan selalu merah karena memang itu
identitasnya. Jangan kamu pinta dia menjadi hitam atau hijau atau kuning
atau kelabu. Hilang nanti identitasnya. Bukan Red Velvet lagi namanya.
Saya seperti kue red velvet itu. Itulah identitas saya. Kamu sudah
tidak lagi perlu membuat saya menjadi seperti yang kamu inginkan. Sudah
lewat masa itu.
Jadi, memang kenapa kalau saya mencintai cinta? Toh, yang akan merasa
sakitnya tercabik-cabik, teriris-iris, pedihnya hati, itu saya, bukan
kamu. Yang akan menangis itu saya, bukan kamu. Kamu bahkan tak pernah
kan saya usik tidurnya hanya untuk mendengarkan isak tangis saya karena
tersakiti cinta (kecuali saat saya masih memohon agar kita bisa kembali
seperti dulu). Bukan kamu yang saya ganggu untuk mendengarkan cerita.
Bukan kamu yang saya butuhkan sekarang. Mengertilah.
Sudahlah kawan, telan sendiri saja pola pikirmu itu. Kenapa harus
kamu usik saya sampai tali silahturahmi ini putus karena pertengkaran.
Kalau saya memutuskan untuk menyeberang ke gereja, memangnya kamu bisa
apa? Mencecoki saya dengan Ayat-ayat AlQuran? Saya punya alasan. Saya
bukan gadis bodoh yang akan begitu saja berpaling dari Tuhan. Tak
pernahkah terlintas dalam otakmu itu kalau saya ini TIDAK GOBLOK?
Menyedihkan.
Saya mencintai cinta. Saya suka jatuh cinta. Saya senang mencintai
orang lain. Itulah saya. Kalau kamu tidak seperti itu, ya sudah, apa
peduli saya? Tak ada untung dan ruginya untuk saya kalau kamu menganggap
cinta manusia itu hanya jebakan atau pembodohan. Sungguh. Percayalah
kawan, tak semua orang akan peduli dengan pendapatmu, termasuk saya.
Jadi, telanlah sendiri.
Seandainya, manusia mau menghargai pilihan manusia lain, dunia ini akan damai.
Selamat Tinggal.

0 comments