Minggu 3 Renee Keefe

Kamisan S3 #3: Apa peduli saya?

16.21Unknown


Apa rugimu kalau saya mencintai cinta?

Apa kamu sebegitu tidak relanya menjadi sekadar kenangan yang akan terlupa dalam kepala saya?

Mengapa sekarang kamu umbar kata ‘aku sayang kamu, maka aku peduli kamu’? Ke mana saja kamu dulu?
Sudahlah kawan, jangan tambahkan sesal di dalam diri saya, rasanya menyebalkan tahu, menyesal karena pernah jatuh cinta pada seseorang. Rasanya bodoh, menyesal karena pernah menyayangi seseorang, seseorang yang sebenarnya tak pantas untuk mendapatkan cinta dan sayang itu.

Sudahlah kawan, biarkan saja saya dan pilihan hidup saya yang sudah tidak ada sangkut pautnya denganmu lagi. Bukan kewajibanmu mengingatkan apapun pada saya. Bukan kewajibanmu untuk memedulikan hidup saya. Masa-masamu itu sudah lama terlewat. Kan kamu sendiri yang membuang kesempatan itu. Masa kamu lupa?

picture aren’t mine. used for a non-profit purpose. all rights belongs to the respectful owner.

Saya tidak terima, ketika kamu mulai menyekoki saya dengan pikir-pikiran konservatifmu. Saya dan kamu berbeda. Dari dulu saja selalu berbeda. Saya pemilik jiwa bebas. Kamu pemilik jiwa yang taat. Sudahlah.

Kamu ini, seperti berusaha mengubah warna kue red velvet menjadi hitam. Kamu tahu, warnanya akan selalu merah karena memang itu identitasnya. Jangan kamu pinta dia menjadi hitam atau hijau atau kuning atau kelabu. Hilang nanti identitasnya. Bukan Red Velvet lagi namanya.

Saya seperti kue red velvet itu. Itulah identitas saya. Kamu sudah tidak lagi perlu membuat saya menjadi seperti yang kamu inginkan. Sudah lewat masa itu.

Jadi, memang kenapa kalau saya mencintai cinta? Toh, yang akan merasa sakitnya tercabik-cabik, teriris-iris, pedihnya hati, itu saya, bukan kamu. Yang akan menangis itu saya, bukan kamu. Kamu bahkan tak pernah kan saya usik tidurnya hanya untuk mendengarkan isak tangis saya karena tersakiti cinta (kecuali saat saya masih memohon agar kita bisa kembali seperti dulu). Bukan kamu yang saya ganggu untuk mendengarkan cerita. Bukan kamu yang saya butuhkan sekarang. Mengertilah.

Sudahlah kawan, telan sendiri saja pola pikirmu itu. Kenapa harus kamu usik saya sampai tali silahturahmi ini putus karena pertengkaran. Kalau saya memutuskan untuk menyeberang ke gereja, memangnya kamu bisa apa? Mencecoki saya dengan Ayat-ayat AlQuran? Saya punya alasan. Saya bukan gadis bodoh yang akan begitu saja berpaling dari Tuhan. Tak pernahkah terlintas dalam otakmu itu kalau saya ini TIDAK GOBLOK? Menyedihkan.

Saya mencintai cinta. Saya suka jatuh cinta. Saya senang mencintai orang lain. Itulah saya. Kalau kamu tidak seperti itu, ya sudah, apa peduli saya? Tak ada untung dan ruginya untuk saya kalau kamu menganggap cinta manusia itu hanya jebakan atau pembodohan. Sungguh. Percayalah kawan, tak semua orang akan peduli dengan pendapatmu, termasuk saya. Jadi, telanlah sendiri.

Seandainya, manusia mau menghargai pilihan manusia lain, dunia ini akan damai.

Selamat Tinggal.


You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak