Cikiewahab Minggu 2

Kamisan S3 #2: Yang Menunggu Gelombang

15.37Unknown

Ada yang lupa untuk pulang. Ada yang tidak juga memberi kabar kedatangan. Pada gelombang yang berkejaran, rindu pun digelar.

Seseorang menatap jauh ke lautan lepas, ke arah ombak yang berkejaran, juga bayang-bayang matahari yang dihalangi gumpalan awan.  Sore itu ia masih duduk di tepi pantai. Melepas lelah, menikmati penantiannya yang tak kunjung tiba. Jika sudah begitu, ia tidak mendengar hal-hal lainnya. Ia tidak akan pulang dan terus memanggil-manggil nama seseorang dari lubuk hatinya yang paling dalam.
***

“Kau mau kemana?” Tanya Antari, suatu malam. Hujan begitu deras di luar dan ia melihat Han tengah menatap ke jendela dan termenung panjang. Di dekatinya lelaki itu dan dipeluknya dari belakang. Tubuhnya menjadi hangat seketika.

“Kau tidak kedinginan, sayang?” Tanya Antari lagi. Han menggeleng dan meletakkan jaring-jaring yang ia susun pada sebuah tiang  ke tepi jendela. Antari melihatnya dan kembali bertanya untuk apa benda tersebut.

“Aku ingin mencari kerang. Tapi hujan sudah keburu datang.” Jawab Han.

“Ya. Hujan begitu deras.”

“Aku akan menunggu hujan reda.”

“Sudah malam. Kau bisa mencarinya besok pagi.” Antari terus memeluk Han. “Jangan pergi. Tetaplah di sampingku, Han.”

Lelaki itu mengangguk. Mencium bibir Antari. Mereka terus berpelukan dalam dingin, dalam pekat malam yang semakin mencekam.

Saat cahaya matahari muncul di celah-celah jendela. Antari bangun. Ia kesiangan dan tidak menemukan Han di sampingnya. Dengan setengah cemas ia bergegas menyusuri rumah dan tidak menemukan lelaki itu. Ia pun menuju pantai bertanya pada orang-orang yang ada di sana. Tapi tak satupun yang melihat Han. Tak ada yang bisa mengabarkan berita keberadaan Han.

Dan Antari hanya melihat jaring-jaring yang dipegang Han semalam terpancang di tepi pantai. Han tidak ada. Apa Han benar-benar mencari kerang ketika hujan semalam. Antari berteriak kesetanan. Ia tidak lagi memperdulikan perkataan orang.

Ia menangis dan terus mencari Han. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Han tidak juga ditemukan oleh orang-orang. Semua penduduk mulai pasrah, mengatakan Han mungkin sudah tiada. Tapi Antari tidak bisa menerimanya.

 Antari terus saja duduk di tiang pancang. Menanti kedatangan Han. Ia  pikir Han benar-benar melaut dan kesulitan untuk pulang. Antari sudah dianggap gila penduduk pantai. Dan keluarganya hanya bisa pasrah. Antari hanya akan kembali ke rumah saat semesta gelap gulita. Tetapi bila pagi hingga sore tiba. Ia akan ke tepi pantai dan menunggu Han di sana dengan segenap rindu di dadanya.

Ah, perempuan itu. Masihkah ia menunggu. Saat waktu terus memburu hidupnya yang lamur bersama rindu?

Entahlah. Barangkali itu hanya rekaanku saja, sebab tak ada yang tahu. Barangkali juga perempuan itu tengah menyeka matanya yang basah sebab tidak ada yang bisa ia lakukan di rumah, atau bisa jadi perempuan itu ingin berjemur dan menghitamkan kulitnya. Atau kalian mengira perempuan itu Cuma reka-rekaan kita? Bisa jadi. Ya bisa jadi. Itu semua terserah pikiran kita.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak