simpan saja laut
yang hendak kau bentangkan padaku
aku tak butuh gelombangnya!
aku cuma butir pasir
sepanjang sore seorang anak perempuan
membangun istana di bibir air
—dinukil dari puisi “Meditasi Laut” karya Jimly Maruly Alfian
Barangkali
kenangan adalah ombak yang senantiasa pasang-surut. Ia terkadang bisa
datang menghempas tiba-tiba, atau surut menghilang sewaktu-waktu.
Tergantung bagaimana kau mengantisipasinya. Kurang lebih, begitulah
kenangan aku tentang kau. Masih ingatkah engkau tentang sebuah pantai
yang tak pernah ditumbuhi bakau itu?
Waktu itu, saat aku dan kau masih kanak-kanak, kita berlarian di bibir pantai sembari menerbangkan layang-layang. Layang-layang itu memiliki bentuk seperti elang. Aku yang membuatnya sendiri, dengan bilah bilah bambu dan kertas koran yang aku pungut dari tong sampah pasar. Tanganku tak cukup terampil memang, sehingga bentuknya jadi kurang seimbang. Tetapi tentu saja masih bisa kita terbangkan setinggi-tingginya di angkasa. Kau yang mengulur benang dan aku yang memegang layang-layang untuk diterbangkan. Layang-layang itu terbang dengan tingginya, seperti halnya mimpi-mimpi kita yang terlampau tinggi.
Kau berlarian menerbangkan layang-layang sembari berteriak memanggil namaku dan tergelak tawa riang. Sedangkan aku hanya mengamati keceriaanmu dari jauh. Bagiku, keceriaanmu cukup membuatku puas dan bahagia. Jadi, aku tak membutuhkan kebahagiaan selain itu.
Setelah puas bermain layang-layang, kita istirah di bawah pokok nyiur. Kita rebahan dengan hanya beralaskan pasir pantai. Butir-butir pasirnya lengket pada kulit tubuhku yang berpeluh, juga pada kulit tubuhmu. Terkadang butir-butir pasir ini juga membuatku aku geli. Kau pun pasti masih ingat, pada waktu lain kita juga sering membuat rumah-rumahan dari pasir. Dan selalu, rumah pasirku jauh lebih buruk dari buatanmu. Oh tapi, maaf, aku salah. Maksudku, rumah pasirmu terlampau bagus untuk bisa kusaingi.
Dan pada saat-saat kita memasuki jam lapar, kita pun berburu santapan untuk kita makan bersama. Kita berburu udang dan kepiting yang berkeliaran di sekitar pantai. Tetapi sesungguhnya akulah yang menangkapi hewan-hewan pantai ini. Kau hanya berdiri di sampingku untuk menyemangati. Dan kau juga tertawa bila aku berkeluh ‘aduh’ ketika capit kepiting melukai jemariku yang tidak lentik.
Layang-layang, pasir pantai, udang dan kepiting inilah yang akan selalu kukenang dalam ceruk ingatanku yang paling dalam. Aku merasa, bau tubuhmu juga sepertinya telah tersimpan abadi dalam pasir-pasir pantai ini. Maka mustahil jika aku dengan mudahnya lalai pada kenangan masa kecil kita. Namun sayangnya, kau tak seperti aku.
Dua puluh tahun berlalu. Dan kau melupakanku.
Kau pergi, setelah dinikahi oleh seorang pria tampan kaya raya yang tinggal di seberang pulau sana. Dan nasibku, hanyalah sebutir pasir yang tak layak untuk dikenang.
Barangkali kau memang tak perlu merasa bersalah. Sebab, perempuan mana yang rela memilih masa depan dengan pria miskin seperti aku? Rumahku hanyalah sebuah gubuk tua berlantai tanah. Aku pun tidak mungkin mampu memberimu senampan roti sandwich dan segelas susu untuk sarapan rutin pagimu.
Lagi pula, aku juga maklum. Waktu kau masih kanak-kanak, tentu saja kau masih begitu polos sehingga belum bisa membedakan mana lelaki berparas tampan dan mana lelaki dengan wajah buruk rupa. Di tambah lagi, waktu itu kulitku tak sehitam sekarang. Aku paham bahwa kau patut mendapatkan kebahagiaan bersama pria itu. Sedangkan aku? Biarlah tetap menjadi butir-butir pasir yang senantiasa dikikis ombak. Hilang dalam lautan. Tiada. [*]
(Untuk O Lihin, Pedagang Buku dengan wajah murung)
0 comments