yang walau tak saling memiliki,
tetap mampu bertahan dalam hati.
Nama panggilan ibu itu, Mila. Maria Karmila nama lengkapnya. Hampir
semua orang di pesisir ini tahu, dia adalah seorang perawan tua yang
menyimpan cintanya dalam hati. Bahkan setelah lelaki yang dicintainya
itu mati dan jasadnya habis dimakan cacing. Cinta dalam hati Ibu Mila
tetap bertahan.
Adalah Pak Dahlan, seorang pemuda tampan (pada masanya) yang tak
tertandingin kesalehannya oleh siapa pun di sana. Banyak pemudi yang
meminta dinikahkan olehnya melalui Guru mengaji. Banyak juga yang
pelan-pelan, dengan kelembutan, dia tolak. Alasannya selalu sama, saya
belum pantas menikahinya, katanya.
Cinta menyentuh kedua hati insan tersebut entah sejak kapan. Pak
Dahlan yang menjalani hari-harinya menangkap ikan di laut sering kali
berada di pantai tempat Ibu Mila menjalani harinya sebagai seorang
penjual jaring di pasar pinggir pantai. Interaksi keduanya tak pernah
berlangsung lama, karena cinta tak perlu kata-kata untuk bisa dirasa.
Dari serobokan tatap mata saja, mereka saling memahami, ada rasa yang
terbalas walau terbatas.
Tak pernah ada janji terucap dari keduanya untuk saling menanti.
Karena penantian sudah jelas harapan yang ditunggunya. Untuk keduanya,
harapan sudah lebih dulu buntu, bahkan sebelum didambakan kedatangannya.
Rasa itu tidak bertepuk sebelah tangan, hanya saja, Tuhan tidak pernah
menjodohkan mereka. Jadi, imanlah yang menghalangi mereka.
Dalam setiap doa yang terucap, keduanya selalu meminta untuk
dipersatukan. Diberikan jalan untuk bisa bersama. Tanpa mengorbankan
jiwa dan kepercayaan. Tanpa menyakiti banyak pihak. Dengan segala restu
dan kemudahan. Hanya saja, doa itu bisa jadi belum sampai kepada Tuhan.
Mungkin, saat memanen doa, Malaikat lupa memetiknya. Permohonan itu
mengambang saja bagai perahu Pak Dahlan di tengah arus air laut yang
tenang.
Kalau cinta diciptakan oleh Tuhan untuk menyatukan, lalu mengapa Dia
menciptakan agama untuk menghalangi kebersamaan kami? begitu pikir Ibu
Mila suatu hari dalam doanya di depan altar. Pertanyaan itu langsung ia
usir jauh dari dalam kepala. Keingintahuan yang dianggapnya kurang ajar
karena berani meragukan kuasa Sang Kudus. Selalu ada jalan, cobanya
meyakinkan diri.
Hari berganti, bulan berlalu, tahun berubah angkanya, begitu terus,
hingga kulit keduanya termakan usia. Namun cinta dalam hati Pak Dahlan
dan Ibu Mila tak pudar barang sedikit pun. Bukan hanya satu dua kali
keluarga mereka meminta, memaksa, menyarankan agar mereka segera menikah
dengan pasangan yang telah disiapkan, disodorkan, ditunjuk. Namun
keduanya selalu menolak dengan alasan tak ingin menyakiti, tak ingin
berbohong, tak ingin menyesal.
Ya. Ibu Mila pun Pak Dahlan tak berani mengambil resiko, jika mereka
menikah dengan orang lain, Tuhan malah tiba-tiba memutuskan untuk
mendengar doa mereka dan mengabulkannya. Walau mereka sadar, seandainya
hal itu terjadi, masalah restu akan mereka hadapi. Serba salah cinta
yang mereka rasakan ini.
Kemudian, penyakit datang menghampiri Pak Dahlan. Ironis memang,
kesucian yang dia jaga malah jadi buah simalakama. Mutasi sel seenaknya
saja menggerogoti buah pelirnya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Dengan
ekonomi pas-pasan—apalagi sejak sakit Pak Dahlan kesulitan mencari
nafkah untuk diri sendiri—dia hanya bisa berobat semampunya saja. Balai
Ksehatan di pesisir juga tak mampu berbuat banyak kecuali memberikan
obat untuk menghilangkan rasa ngilunya.
Kerinduan juga menggerogoti hati Ibu Mila. Tak melihat Pak Dahlan
melaut berminggu-minggu rasanya seperti mengecap napas Neraka. Ia pun
memberanikan diri bertanya kepada teman, tetangga dan sanak saudara Pak
Dahlan yang masih tersisa. Kabar yang didapatnya sungguhlah menyakiti
hati dan jiwa. Baru sekali itu ia merasa tidak rela, tidak sudi, tidak
ikhlas. Didatanginya altar dan dimakinya Sang Kudus di sana. Tersadar
akan tindakannya yang kurang ajar, ia bersujud dan langsung memohon
ampun. Kuasa Kudus tak mungkin sia-sia, segalanya tentu ada hikmahnya,
begitu ia pikir.
Setelah menenangkan hati dengan puluhan doa Bapa Kami, Ibu Mila
memberanikan diri mengunjungi Pak Dahlan di pembaringannya yang
terakhir. Dengan susah payah, dengan segala sisa tenaga yang ada, Pak
Dahlan membuka mata dan memandang Ibu Mila. Sungguh cantik Malaikat yang
Engkau kirimkan padaku ini Gusti Allah, begitu batinnya berucap. Wajah
Ibu Mila mengukir senyum.
Bahagia itu sederhana. Sudah berapa sering kamu mendengar dan membaca
kalimat itu? Pastilah banyak yang tak percaya kebenarannya. Tapi Ibu
Mila dan Pak Dahlan membuktikannya. Hanya dengan serobokan tatap mata,
cinta bertukar dan bahagia membanjiri hati keduanya. Tuhan sungguhlah
baik hati dan maksud tujuannya. Memberikan mereka kesempatan untuk bisa
saling melihat, merasakan, mencintai dan bertemu seperti ini, begitu
keduanya pikir saat bersamaan.
“Mungkin tidak sekarang tapi nanti. Tidak di sini, tapi di sana,”
ucap Pak Dahlan terbata dengan tarikan napas-napas terakhirnya.
“Aku akan menanti sampai mati,” jawab Ibu Mila lembut. Ingin hatinya
memegang tangan Pak Dahlan, tapi urung dilakukan karena ia paham, untuk
Pak Dahlan, adalah dosa bersentuhan dengan seorang wanita yang bukan
pasangan sahnya.
“Aku akan menjemputmu, jika Gusti Allah mengizinkan, dan jika kamu
bersedia.” Ibu Mila menyetujui dengan anggukan kepala. Dengan senyuman
ikhlas di wajah dan seucap kalimat tauhid, Pak Dahlan pun pergi. Tak ada
air mata setetes pun yang jatuh ke pipi Ibu Mila. Tak ada histeria yang
ia jeritkan. Hanya ada harapan. Harapan baru yang dulu tak pernah ada.
Begitulah adanya. Terkadang, cinta yang murni, memang tak perlu
saling mengikat dan memaksa diri untuk saling memiliki. Cinta yang murni
ada di dalam hati. Dan hati yang pasti mencintai, tidak seegois hati
yang hanya meminati.
Siang itu Ibu Mila duduk di bawah terik matahari dan memandang laut. Tubuhnya diam saja. Tak terlihat ada kembang kempis tarikan napas. Tak terlihat ada kerisihan saat angin menerbangkan sejumput rambut ke wajah. Tak ada tanda kehidupan kecuali senyum yang mekar di wajah. Senyumnya yang bahagia.
02:55 AM
Jakarta, 8 Februari 2015
Jakarta, 8 Februari 2015

0 comments