Minggu 2 Renee Keefe

Kamisan S3 #2: Kuldesak

15.34Unknown

Kuldesak
Ada cinta,
yang walau tak saling memiliki,
tetap mampu bertahan dalam hati.
Renee Keefe

Nama panggilan ibu itu, Mila. Maria Karmila nama lengkapnya. Hampir semua orang di pesisir ini tahu, dia adalah seorang perawan tua yang menyimpan cintanya dalam hati. Bahkan setelah lelaki yang dicintainya itu mati dan jasadnya habis dimakan cacing. Cinta dalam hati Ibu Mila tetap bertahan.

Adalah Pak Dahlan, seorang pemuda tampan (pada masanya) yang tak tertandingin kesalehannya oleh siapa pun di sana. Banyak pemudi yang meminta dinikahkan olehnya melalui Guru mengaji. Banyak juga yang pelan-pelan, dengan kelembutan, dia tolak. Alasannya selalu sama, saya belum pantas menikahinya, katanya.
Cinta menyentuh kedua hati insan tersebut entah sejak kapan. Pak Dahlan yang menjalani hari-harinya menangkap ikan di laut sering kali berada di pantai tempat  Ibu Mila menjalani harinya sebagai seorang penjual jaring di pasar pinggir pantai. Interaksi keduanya tak pernah berlangsung lama, karena cinta tak perlu kata-kata untuk bisa dirasa. Dari serobokan tatap mata saja, mereka saling memahami, ada rasa yang terbalas walau terbatas.

Tak pernah ada janji terucap dari keduanya untuk saling menanti. Karena penantian sudah jelas harapan yang ditunggunya. Untuk keduanya, harapan sudah lebih dulu buntu, bahkan sebelum didambakan kedatangannya. Rasa itu tidak bertepuk sebelah tangan, hanya saja, Tuhan tidak pernah menjodohkan mereka. Jadi, imanlah yang menghalangi mereka.

Dalam setiap doa yang terucap, keduanya selalu meminta untuk dipersatukan. Diberikan jalan untuk bisa bersama. Tanpa mengorbankan jiwa dan kepercayaan. Tanpa menyakiti banyak pihak. Dengan segala restu dan kemudahan. Hanya saja, doa itu bisa jadi belum sampai kepada Tuhan. Mungkin, saat memanen doa, Malaikat lupa memetiknya. Permohonan itu mengambang saja bagai perahu Pak Dahlan di tengah arus air laut yang tenang.

Kalau cinta diciptakan oleh Tuhan untuk menyatukan, lalu mengapa Dia menciptakan agama untuk menghalangi kebersamaan kami? begitu pikir Ibu Mila suatu hari dalam doanya di depan altar. Pertanyaan itu langsung ia usir jauh dari dalam kepala. Keingintahuan yang dianggapnya kurang ajar karena berani meragukan kuasa Sang Kudus. Selalu ada jalan, cobanya meyakinkan diri.

Hari berganti, bulan berlalu, tahun berubah angkanya, begitu terus, hingga kulit keduanya termakan usia. Namun cinta dalam hati Pak Dahlan dan Ibu Mila tak pudar barang sedikit pun. Bukan hanya satu dua kali keluarga mereka meminta, memaksa, menyarankan agar mereka segera menikah dengan pasangan yang telah disiapkan, disodorkan, ditunjuk. Namun keduanya selalu menolak dengan alasan tak ingin menyakiti, tak ingin berbohong, tak ingin menyesal.

Ya. Ibu Mila pun Pak Dahlan tak berani mengambil resiko, jika mereka menikah dengan orang lain, Tuhan malah tiba-tiba memutuskan untuk mendengar doa mereka dan mengabulkannya. Walau mereka sadar, seandainya hal itu terjadi, masalah restu akan mereka hadapi. Serba salah cinta yang mereka rasakan ini.

Kemudian, penyakit datang menghampiri Pak Dahlan. Ironis memang, kesucian yang dia jaga malah jadi buah simalakama. Mutasi sel seenaknya saja menggerogoti buah pelirnya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Dengan ekonomi pas-pasan—apalagi sejak sakit Pak Dahlan kesulitan mencari nafkah untuk diri sendiri—dia hanya bisa berobat semampunya saja. Balai Ksehatan di pesisir juga tak mampu berbuat banyak kecuali memberikan obat untuk menghilangkan rasa ngilunya.

Kerinduan juga menggerogoti hati Ibu Mila. Tak melihat Pak Dahlan melaut berminggu-minggu rasanya seperti mengecap napas Neraka. Ia pun memberanikan diri bertanya kepada teman, tetangga dan sanak saudara Pak Dahlan yang masih tersisa. Kabar yang didapatnya sungguhlah menyakiti hati dan jiwa. Baru sekali itu ia merasa tidak rela, tidak sudi, tidak ikhlas. Didatanginya altar dan dimakinya Sang Kudus di sana. Tersadar akan tindakannya yang kurang ajar, ia bersujud dan langsung memohon ampun. Kuasa Kudus tak mungkin sia-sia, segalanya tentu ada hikmahnya, begitu ia pikir.

Setelah menenangkan hati dengan puluhan doa Bapa Kami, Ibu Mila memberanikan diri mengunjungi Pak Dahlan di pembaringannya yang terakhir. Dengan susah payah, dengan segala sisa tenaga yang ada, Pak Dahlan membuka mata dan memandang Ibu Mila. Sungguh cantik Malaikat yang Engkau kirimkan padaku ini Gusti Allah, begitu batinnya berucap. Wajah Ibu Mila mengukir senyum.

Bahagia itu sederhana. Sudah berapa sering kamu mendengar dan membaca kalimat itu? Pastilah banyak yang tak percaya kebenarannya. Tapi Ibu Mila dan Pak Dahlan membuktikannya. Hanya dengan serobokan tatap mata, cinta bertukar dan bahagia membanjiri hati keduanya. Tuhan sungguhlah baik hati dan maksud tujuannya. Memberikan mereka kesempatan untuk bisa saling melihat, merasakan, mencintai dan bertemu seperti ini, begitu keduanya pikir saat bersamaan.

“Mungkin tidak sekarang tapi nanti. Tidak di sini, tapi di sana,” ucap Pak Dahlan terbata dengan tarikan napas-napas terakhirnya.

“Aku akan menanti sampai mati,” jawab Ibu Mila lembut. Ingin hatinya memegang tangan Pak Dahlan, tapi urung dilakukan karena ia paham, untuk Pak Dahlan, adalah dosa bersentuhan dengan seorang wanita yang bukan pasangan sahnya.

“Aku akan menjemputmu, jika Gusti Allah mengizinkan, dan jika kamu bersedia.” Ibu Mila menyetujui dengan anggukan kepala. Dengan senyuman ikhlas di wajah dan seucap kalimat tauhid, Pak Dahlan pun pergi. Tak ada air mata setetes pun yang jatuh ke pipi Ibu Mila. Tak ada histeria yang ia jeritkan. Hanya ada harapan. Harapan baru yang  dulu tak pernah ada.

Begitulah adanya. Terkadang, cinta yang murni, memang tak perlu saling mengikat dan memaksa diri untuk saling memiliki. Cinta yang murni ada di dalam hati. Dan hati yang pasti mencintai, tidak seegois hati yang hanya meminati.

image
Photo Credit to Fahmi Amrullah Shared by Eko

Siang itu Ibu Mila duduk di bawah terik matahari dan memandang laut. Tubuhnya diam saja. Tak terlihat ada kembang kempis tarikan napas. Tak terlihat ada kerisihan saat angin menerbangkan sejumput rambut ke wajah. Tak ada tanda kehidupan kecuali senyum yang mekar di wajah. Senyumnya yang bahagia.

02:55 AM
Jakarta, 8 Februari 2015

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak