Ah … andai saja udara sesegar ini dapat kuhirup di kota tinggalku.
Aku berangan sambil merentangkan kedua tanganku di atas kepala,
kemudian bergerak turun menjauhi tubuhku. Sementara, kedua paru-paruku
mengantongi bulir-bulir gas segar tak kasatmata. Kaki tanpa kasut
tenggelam dalam butir-butir pasir hangat yang memijat lembut. Tapak
kakiku meninggalkan jejak dalam setiap kali kuangkat.
Aku
duduk di sebuah bangku kayu kasar tak bercat yang kutemukan dekat
tempatku berdiri. Menatap semburat oranye yang mulai menggeser biru
langit. Angin sore bermain-main dengan ikal rambutku. Debur ombak dan
bau air asin ikut serta dalam cengkerama sore itu.
Mataku
menangkap sesosok yang sedang duduk di pasir. Mengenakan kemeja biru
laut dan celana panjang hitam, ia duduk menatap lurus ke batas putih
laut di depannya.Ia memeluk kedua lututnya dengan kedua lengannya.
Hangatnya cuaca sore ia halau dengan topi caping berwarna senada dengan
pasir yang melekat erat di kulit danpakaiannya. Tidak banyak gerak tubuh
yang ia lakukan. Sesekali kulihat
kepalanya bergerak mengikuti gerak ombak atau burung yang terbang. Ia
terlihat
demikian santai dan menikmati alam sekitar yang menyentuhnya. Namun,
juga terlihat
seperti seseorang yang sedang menanti.
Tiga
meter dari tempatnya bersantai, aku melihat sebuah tiang kayu yang dipancang di
pasir. Di tiang itu tergantung beberapa jaring kecil untuk menangkap ikan.
Sesaat aku tertegun. Di hamparan laut yang demikian luas, apalah arti sebuah
jaring kecil. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku melihat seorang anak
kecil berlari menghampiri sosok itu. Sosok yang akhirnya aku sadari sebagai
seorang perempuan. Awalnya, aku mengira anak kecil itu adalah anaknya. Perkiraan
itu sungguh memeleset begitu aku melihat ayah anak itu menyusul di belakangnya.
Anak itu ingin sekali membeli jaring yang dijual itu. Selama transaksi jual-beli
itu terjadi, aku dapat lebih memerhatikan sosok perempuan itu. Menurut
pandanganku, perempuan itu sudah paruh baya, namun lebih muda dari ibundaku.
Perempuan
itu kembali ke posisi awalnya setelah transaksi terjadi dan anak kecil serta
ayahnya berlalu. Kembali bersantai … atau menanti.
Ah entahlah. Apa pula alasanku memusingkan
itu semua. Sebuah suara dari salah satu sudut kepalaku menegurku. Sebuah
lingkaran oranye mulai merambat di angkasa. Angin semakin rajin menerpa. Aku
berdiri dari bangku dan kedua tanganku merogoh kantong-kantong baju dan
celanaku. Satu lembar uang dua puluh ribu kutemukan di saku belakang celana. Entah
kekuatan angin atau dorongan kehendak, tungkaiku melangkah. Melangkah mendekati
perempuan itu.
“Permisi,
Ibu, saya mau beli jaringnya.”
“Silakan,
pilih saja,” katanya menyilakan. Tentu saja aku tidak membeli jaring-jaring itu untukku.
Dalam benakku nama Lira dan Rio yang muncul, kedua keponakanku. Ia membungkus
dua buah jaring yang kubeli dengan potongan kertas koran. Saat aku menunggunya
mencari uang kembalian, diam-diam aku memerhatikannya. Guratan di sudut mata
dan bibir yang demikian jelas, garis-garis di wajahnya, membuatnya terlihat
lebih tua dari ibundaku yang mendekati usia tujuh dekade.
Kembali
lagi ia duduk di atas pasir ketika aku berlalu darinya. Kembali memeluk kedua
lututnya. Kembali menatap lurus laut di hadapannya, hampir tanpa gerak.
Ia menanti, batinku. Aku memutar tubuhku
dan melangkah menjauh. Meninggalkan butir-butir pasir di belakangku. Melepaskan
kesegaran dan hangatnya udara. Melupakan deru ombak dan bau air asin. Kembali
ke hiruk pikuk kota tinggalku.
***
Sebuah kapal nelayan tenggelam oleh hantaman
badai pada Senin malam. Seorang nelayan paruh baya beserta dua orang anak
laki-lakinya dilaporkan hilang.
Tulisan yang
tercetak di kertas koran pembungkus jaring-jaring yang kubeli, yang terbit tiga
tahun silam, yang tak pernah kubaca.
***
Kamisan #2 Session 3 - Deadline: 12 Februari 2015
Foto tema tulisan
0 comments