Minggu 2

Kamisan S3 #2: Penantian

15.30Unknown

Ah … andai saja udara sesegar ini dapat kuhirup di kota tinggalku. Aku berangan sambil merentangkan kedua tanganku di atas kepala, kemudian bergerak turun menjauhi tubuhku. Sementara, kedua paru-paruku mengantongi bulir-bulir gas segar tak kasatmata. Kaki tanpa kasut tenggelam dalam butir-butir pasir hangat yang memijat lembut. Tapak kakiku meninggalkan jejak dalam setiap kali kuangkat.

Aku duduk di sebuah bangku kayu kasar tak bercat yang kutemukan dekat tempatku berdiri. Menatap semburat oranye yang mulai menggeser biru langit. Angin sore bermain-main dengan ikal rambutku. Debur ombak dan bau air asin ikut serta dalam cengkerama sore itu.

Mataku menangkap sesosok yang sedang duduk di pasir. Mengenakan kemeja biru laut dan celana panjang hitam, ia duduk menatap lurus ke batas putih laut di depannya.Ia memeluk kedua lututnya dengan kedua lengannya. Hangatnya cuaca sore ia halau dengan topi caping berwarna senada dengan pasir yang melekat erat di kulit danpakaiannya. Tidak banyak gerak tubuh yang ia lakukan. Sesekali kulihat kepalanya bergerak mengikuti gerak ombak atau burung yang terbang. Ia terlihat demikian santai dan menikmati alam sekitar yang menyentuhnya. Namun, juga terlihat seperti seseorang yang sedang menanti.

Tiga meter dari tempatnya bersantai, aku melihat sebuah tiang kayu yang dipancang di pasir. Di tiang itu tergantung beberapa jaring kecil untuk menangkap ikan. Sesaat aku tertegun. Di hamparan laut yang demikian luas, apalah arti sebuah jaring kecil. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku melihat seorang anak kecil berlari menghampiri sosok itu. Sosok yang akhirnya aku sadari sebagai seorang perempuan. Awalnya, aku mengira anak kecil itu adalah anaknya. Perkiraan itu sungguh memeleset begitu aku melihat ayah anak itu menyusul di belakangnya. Anak itu ingin sekali membeli jaring yang dijual itu. Selama transaksi jual-beli itu terjadi, aku dapat lebih memerhatikan sosok perempuan itu. Menurut pandanganku, perempuan itu sudah paruh baya, namun lebih muda dari ibundaku.

Perempuan itu kembali ke posisi awalnya setelah transaksi terjadi dan anak kecil serta ayahnya berlalu. Kembali bersantai … atau menanti.

Ah entahlah. Apa pula alasanku memusingkan itu semua. Sebuah suara dari salah satu sudut kepalaku menegurku. Sebuah lingkaran oranye mulai merambat di angkasa. Angin semakin rajin menerpa. Aku berdiri dari bangku dan kedua tanganku merogoh kantong-kantong baju dan celanaku. Satu lembar uang dua puluh ribu kutemukan di saku belakang celana. Entah kekuatan angin atau dorongan kehendak, tungkaiku melangkah. Melangkah mendekati perempuan itu.

“Permisi, Ibu, saya mau beli jaringnya.”
“Silakan, pilih saja,” katanya menyilakan. Tentu saja aku tidak membeli jaring-jaring itu untukku. Dalam benakku nama Lira dan Rio yang muncul, kedua keponakanku. Ia membungkus dua buah jaring yang kubeli dengan potongan kertas koran. Saat aku menunggunya mencari uang kembalian, diam-diam aku memerhatikannya. Guratan di sudut mata dan bibir yang demikian jelas, garis-garis di wajahnya, membuatnya terlihat lebih tua dari ibundaku yang mendekati usia tujuh dekade.

Kembali lagi ia duduk di atas pasir ketika aku berlalu darinya. Kembali memeluk kedua lututnya. Kembali menatap lurus laut di hadapannya, hampir tanpa gerak.
 
 Ia menanti, batinku. Aku memutar tubuhku dan melangkah menjauh. Meninggalkan butir-butir pasir di belakangku. Melepaskan kesegaran dan hangatnya udara. Melupakan deru ombak dan bau air asin. Kembali ke hiruk pikuk kota tinggalku.

***

Sebuah kapal nelayan tenggelam oleh hantaman badai pada Senin malam. Seorang nelayan paruh baya beserta dua orang anak laki-lakinya dilaporkan hilang.

Tulisan yang tercetak di kertas koran pembungkus jaring-jaring yang kubeli, yang terbit tiga tahun silam, yang tak pernah kubaca.

*** 

Yola M. Caecenary
Kamisan #2 Session 3 - Deadline: 12 Februari 2015

Foto tema tulisan
image
Sumber: foto karya Fahmi Amrullah, shared by Eko Agustanto

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak