Minggu 2 Olihn

Kamisan S3 #2: Perempuan yang Menunggu

16.11Unknown

Photo published for Kamisan #2 Session 3 : Penantian

Seandainya kemarin malam ia tidak datang ke pameran fotografi kawan baiknya, tentu perasaannya tidak akan sekacau sekarang. Padahal kejadiannya kemarin malam; padahal besok merupakan hari yang paling dinantikannya sejak kaki remajanya menginjak tanah ibu kota. Namun, sedetik pun perasaannya tidak bisa tentram setelah melihat foto yang oleh temannya diberi judul “Perempuan yang Menunggu”.

*

Jaka Suratman telah diramalkan akan menjadi pria sukses oleh wali kelas satu Sekolah Dasarnya, sebagaimana ramalan yang juga diterima teman-teman sekelasnya. Bedanya, ketika teman-temannya telah melupakan ramalan tersebut, Jaka Suratman masih tetap mengingatnya dan bahkan ramalan itu bercokol semakin dalam. Dan, sebagaiman cara kerja ramalan; semakin kau mempercayainya, semakin kau mampu mengaitkannya terhadap segala hal, maka itu semakin terasa nyata. Jadi, begitulah. Jaka Suratman semakin yakin bahwa dirinya ditakdirkan untuk menjadi pria sukses. Akan tetapi, ketika ia melihat ke sekeliling tempat tinggalnya, di mana hanya ada tanah tandus, bukit-bukit gundul, dan laut biru di kejauhan, ia tahu hal itu akan sulit tercapai di tempat ini. Ia pun kemudian menunduk dan mendesah lemah.

Ibunya, yang sejak tadi memerhatikan tingkah-laku anaknya, tersenyum lembut sebelum akhirnya berkata, “Pergilah. Ibu ada sedikit tabungan. Dan kau pun bisa tinggal bersama pamanmu di kota. Ibu akan menulis surat yang nantinya kauserahkan kepadanya.”

Jaka Suratman menoleh; sementara sang Ibu kembali tersenyum lembut. “Tempat ini tidak akan menjadikanmu siapa-siapa. Keluarlah dan jadilah apa yang kau mau!”

Sekonyong-konyong, Jaka Suratman pun langsung memeluk kaki ibunya, sambil mulai sesenggukan. Sang Ibu pun kemudian membelai rambut putra semata wayangnya.

Keesokan harinya, Jaka Suratman meluluskan keinginannya. Ditemani sang Ibu dan seorang temannya, Jaka Suratman berjalan menuju tempat pemberangkatan.

“Apa kau akan melupakanku?”

“Tidak akan.”

“Apa kau akan menulis surat untukku?”

“Selalu. Setiap hari, jika kau mau.”

“Janji?”

Jaka Suratman diam dan hanya memandang lekat wajah gadis di depannya. Gadis di depannya tak berani membalas tatapannya secara langsung, hanya menunduk sambil memainkan bagian bawah baju, dan sesekali mengangkat kepala untuk melihat pria di hadapannya. Tidak lama berselang, Jaka Suratman pun tersenyum dan menggangguk disertai suara yang tegas. “Janji.”

*

Jaka Suratman diramalkan sukses. Ia percaya. Dan ia berhasil melakukannya. Kehidupan kota yang keras tidak membuat mentalnya longsor. Memang, lebih dari sekali ia dibuat terpuruk oleh keadaan, tetapi jari-jari lentik dan belaian yang lembut selalu mampu membuatnya kembali berdiri.

Ia pun bisa menyelesaikan kuliahnya dengan gemilang dan kemudian bekerja di perusahaan yang segera saja membuat namanya meroket. Tidak sampai setahun setelah itu, ia menikah dengan anak pemilik perusahaan, yang juga merupakan kekasihnya semenjak kuliah. Sementara ramalan yang ia percaya semakin menjadi kenyataan, surat-surat yang dulu dijanjikan belum satu kali pun ia kirimkan.

*

Jaka Suratman langsung menyambut ibunya dengan pelukan hangat. Semua rindu dan semua perasaan yang tak terkatakan bercampur-baur dalam dirinya. Berkali-kali Jaka Suratman pulang ke kampung halaman dan meminta ibunya tinggal bersamanya, berkali-kali juga ibunya menolak. Hingga akhirnya ibunya pun menyerah dan setuju. Dan karena alasan bisnis yang tak bisa ditinggalkan, ia pun menyuruh salah seorang anak buahnya untuk menjemput ibunya.

Ia rindu ibunya. Ia rindu kampung halamannya. Dan ia pun rindu dengan teman masa kecilnya, yang entah bagaimana tiba-tiba menghilang sehari setelah ia meninggalkan desa, dan baru ditemukan satu minggu kemudian dalam keadaan tak bernyawa, di pesisir pantai.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak