Kemarin, Sustri menampar Budhe yang baru tiba di kampung dari Riau.
Yudha meletakkan gelas teh di tangannya demi mendengar berita itu.
Setahun yang lalu, Budhe menelepon Yudha, mengabarkan bahwa Ira
menghilang. Katanya, Ira hilang karena hasutan seorang lelaki. Saat itu,
Budhe berbicara dengan nada suara orang bersalah. Lunak, tidak seperti
tabiatnya di mana marah sudah seperti hobi. Kemudian Budhe menjelaskan
bahwa ia sudah mengutus Paman untuk mencari ke Padang. Tapi nihil, Ira
menyembunyikan dirinya dengan cerdik. Tak terendus sama sekali, seperti
busa terurai di permukaan air.
Yudha memandang ibunya yang bungkam setelah memberitahukan kejadian
itu. Lelaki itu memperhatikan rambut Ibunya yang mulai beruban;
menggerombol rapat di atas telinga. Apakah Ibunya telah setua itu? pikir Yudha.
Pada hari ketika Ira akhirnya menghubungi rumah, ia sudah menjadi
istri seseorang. Sedang mengandung anak pertamanya. Seminggu kemudian,
di sebuah pesta pernikahan di kampung, Yudha melihat Ibunya menangis
meski tanpa air mata. Lelaki itu menduga Ibunya tengah mengangankan
pernikahan Ira yang tak pernah ia hadiri. Yudha mencoba mengingat
apa-apa yang telah ia lewatkan.
Yudha pernah kehilangan adik perempuannya, satu kali, dan ia tak
berniat kehilangan untuk yang kedua kalinya. Lelaki itu bangkit, pergi
meninggalkan teh buatan Ibunya yang masih setengah, menuju pantai.
Pasir pantai menyerap panas matahari dengan tekun. Terang hari
membuat kening Yudha berkerut. Debur ombak yang berisik mengisi rongga
telinganya. Dengan mengabaikan keluasan yang ditawarkan laut, lelaki itu
menunduk memperhatikan pasir yang ia pijak. Permukaan pasir berantakan
bekas jejak-jejak kaki manusia.
Tanpa mencari tempat bernaung, Yudha berjalan mengikuti puncak
gundukan pasir yang kemudian melandai menuju bibir pantai. Ia lalu duduk
di sebelah perempuan penjaga makhluk yang takkan membuat onar,
jaring-jaring ikan aneka ukuran yang tergantung mati di tiang kayu.
Tiang itu terpancang kuat di pasir; Yudha lah yang dulu menancapkan
tiang itu untuk Sustri.
Caping Sustri bergoyang saat Yudha menyinggung bahu perempuan itu.
Setelah menengok tanpa gairah, Sustri memaksakan seukir senyum untuk
Yudha. Lalu kembali menatap lurus ke depan. Yudha membenturkan bahunya
pelan di bahu Sustri. Lelaki itu tertawa melihat Sustri memonyongkan
bibir.
“Kamu tak pernah memakai jaket yang aku belikan untukmu ya?”
“Ndak muat, mas. Ngeledek banget, deh!”
Lelaki itu kembali tergelak. “Belum, Sus. Kan memang sengaja. Pokoknya, nanti, entah kapan, kamu harus memakai jaket itu!”
“Belum ada niat diet, Mas.”
Yudha ingin mengacak-acak rambut Sustri, tapi terhalang caping.
“Ibu masak apa, Mas?”
“Tumis Lompong. Sama tempe goreng.”
“Huh… Ibu sih curang, tiap Mas pulang kampung, selalu masak lompong.”
“Ya enggak apa-apa dong, biar kamu enggak makan, biar cepet bisa pakai jaket pemberianku.”
“Dih…”
Yudha memandang bungsunya dengan terheran-heran. Telah besar
perempuan itu, luput dari perhatiannya. Empat tahun terasa baru kemarin
sore, tapi Sustri telah sedemikian tumbuh. Yudha menelekan tangannya ke
belakang pada permukaan pasir. Ia masih ingat betul sore ketika
berangkat ke Karawang demi sebuah pekerjaan. Betapa mahal, Ia tak
sanggup membeli waktu yang telah lewat.
“Budhe tak memberiku pilihan, Mas.”
“Hm….” lelaki itu menoleh.
“Aku memang menamparnya. Budhe tidak berhenti menyudutkan Mbak Ira.
Memalukan, sungguh, Menyudutkan orang yang tidak bisa membela diri
seperti itu.”
“Naif sekali. Seolah-olah Pakdhe tak punya andil dalam kepergian Mbak
Ira.” Pada mulanya Yudha memang tak percaya akan berita itu. Cerita
soal Pakdhe yang sudah pergi haji namun mampu berbuat seperti itu.
Menurut kabar, Pakdhe pernah mengajak Ira untuk berhubungan intim.
Tetapi, ketika bibi, adik bungsu Ibu juga bercerita bahwa Pakdhe pernah
mengutarakan permintaan serupa, akhirnya ia percaya. Yang menyedihkan
adalah, beberapa bulan sebelum Ira menghilang, ketika Yudha
berkesempatan menengoknya di Kebon Nanas, Kuantan Singingi, Ira tak
sedikitpun mengatakan soal itu. Jika pada saat itu ia mengetahui
perbuatan Pakdhe, Yudha pasti akan membawa Ira pulang. Dan semua ini tak
perlu terjadi. “Tak mungkin Budhe tidak mengetahui kelakuan Pakdhe.”
Tukas Sustri melanjutkan.
“Apa yang kamu harapkan? Di usia 48, tanpa anak, Budhe hanya
memainkan peran seorang istri. Coba pikir, siapa yang mau meninggalkan
kerajaan kecilnya di Riau sana untuk kembali ke kampung ini dan tak
memiliki apa-apa? Dan melepaskan pengayoman seorang suami?”
“Suami yang ingin memperkosa anak angkatnya?” Yudha tahu ia tak bisa
membela mereka, dan ia tidak sudi. “Menjadi masuk akal sekarang kenapa
Allah tidak memberi mereka anak. Karena Allah tahu bagaimana Pakdhe akan
memperlakukan anak yang seharusnya ia lindungi.”
Pada mulanya, mengambil Ira sebagai anak adalah cara mereka membujuk
agar Tuhan memberi mereka anak kandung. Untuk membuktikan bahwa mereka
sanggup mengurus seorang anak. “Mereka jelas telah membuang kesempatan
itu.”
“Kenapa dulu Ibu memberikan Mbak Ira kepada mereka, Mas?”
“Ibu cuma tak bisa bilang tidak.”
Yudha terbenak ketika Ira berumur 6 tahun. Saat Budhe meminta Ira
pada Ibu untuk ia asuh. Terserah Ira, kalau ia mau, kata Ibu waktu itu.
Kepolosan Ira hanya menyakitkan dada Yudha. Sungguh murah; Ira
mengangguk ketika dibujuk dengan baju putri yang bagian bawahnya
mengembang, penuh rumbai serta manik-manik plastik. Baju itu berwarna
kuning, Yudha tak bakal lupa.
Sustri menangis. Yudha mengusap punggung perempuan itu. “Kamu tahu,
Mas, Budhe terus menerus bicara soal Mbak Ira hamil, entah sudah menikah
atau belum waktu itu. ‘Menolak Pakdhe, tapi hamil dengan orang lain.
Cih!’ Seolah-olah Mbak Ira lebih busuk dari suaminya. Seakan-akan hal
itu membenarkan perbuatan Pakdhe.”
Tangan Yudha panas dipanggang matahari. Lelaki itu ingin mengambil
dosa adiknya. “Aku juga akan menamparnya jika ia berani mengatakan hal
itu di depanku.”
Tangis Sustri perlahan memudar. Ia menyandarkan bahunya di pundak Yudha. “Kapan Mas Yudha mau menikah?” Tanya Sustri tiba-tiba.
“Kapan kamu Lulus?”
“Menikahlah, Mas! Jangan risaukan aku. Ingat umur, Mas!”
“Nanti, setelah kamu lulus!”
“Nanti, setelah menikah, istrinya enggak dibawa ke Karawang kan, Mas?”
Yudha tahu apa yang diinginkan Sustri. Mudah untuk membacanya.
Semudah untuk mengingat apa saja yang telah ia lewatkan. Rambut Ibunya
yang kini memutih. Sustri yang kini mampu menangis. Dan ikan-ikan kecil
di pantai Krakal yang tak sebanyak dahulu. Yudha masih ingat senyum
manis Ira dan Sustri ketika ia berhasil menangkap seekor ikan. Ira akan
menyimpan ikan yang berwarna kuning. Ikan biru dan selain kuning akan
diambil Sustri. Terakhir kali mereka menjaring ikan, Sustri yang
menyimpan semua ikannya. Tak satupun bersisik kuning.
“Mas tidak perlu balik ke Karawang juga setelah menikah nanti.” Sustri membuang pandangannya jauh-jauh dari Yudha.
Yudha berdiri, mengibaskan pasir yang menempel di celananya. Lelaki
itu tersenyum pada laut luas di depannya. “Kamu masih mau ikan biru?” Ia
mengambil satu jaring ikan dari gantungan kayu.
“Menikahlah, Mas! Aku akan berhenti kuliah besok. Jadi, Mas tak perlu membiayai kuliahku lagi.”
Lelaki itu menghentikan langkahnya, menoleh pada Sustri lalu
mengulurkan tangannya “Ayok….” sambil tersenyum ia menambahkan “kamu
tetap harus menyelesaikan kuliahmu.”
Yudha menggenggam erat tangan Sustri seolah takut kalau ia lepaskan,
adik perempuannya itu akan hilang ditelan pasir hisap. Mereka berjalan
di bibir pantai menuju gerombolan karang di sisi timur. Air biru
sesekali menjilati kaki mereka. Tak ada yang tampak oleh mereka.
Lumut-lumut belum lebat. Musim baru menuju kemarau, masih di sisa musim
hujan. Tidak ada cukup banyak makanan untuk didatangi ikan-ikan itu.
Tiga orang lain tak jauh dari mereka terlihat riang bermain air.
Yudha tiba-tiba melompat masuk ke dalam air. Ekor matanya menangkap
seekor ikan kuning yang berenang sendirian. Tersesat di hamparan lumut
muda, sesekali berhenti karena lapar, mematuki lumut. Yudha bertekad
membawanya pulang ke rumah. Untuk Sustri, dan untuk dirinya sendiri. [ ]

0 comments