Namanya Alan.
Banyak yang memanggilnya dengan sebutan Sialan. Nama yang unik kan?
Banyak yang beranggapan bahwa hanya orang tidak waras yang mampu
memberikan nama anaknya seperti itu. Entah apa yang dipikirkan orang
tuanya. Sehingga tercetus keinginan untuk memberikan nama anaknya
Sialan.
Bila
ditelusuri lebih kedalam. Sesungguhnya tidak ada orang tua yang begitu
tega memberikan nama anaknya seperti itu. Termasuk orang tuanya Sialan
ini.
Kala itu,
seorang ibu paruh baya berjalan dengan riang. Menggendong buah hati
tersayang. Menimang-nimang seraya berdendang. Menyanyikan kidung-kidung
yang mendayung.
Anakku-anakku sayang. Meski ayahmu jarang pulang. Ibumu tetaplah sayang, sayang kamu seorang.
Kira-kira seperti itulah cuplikan nyanyian ciptaannya.
"Pagi bu Al, sedang jalan-jalan ya?"
Ibu paruh baya
itu hanya menoleh ke sumber suara itu dan tersenyum begitu lebar. Tanpa
sadar barusan giginya yang tiada lagi putih pun terpamerkan.
Berdiri
seorang laki-laki yang tidak dapat dikatakan muda lagi. Berkumis tipis,
berambut klimis dan beraroma amis. Laki-laki kurus, seperti tidak diurus
itu bertanya.
"Wah anak siapa ini, lucu sekali. Siapa namanya?"
"Anak ini saya
temukan sedang menangis dipojok ruko sebelah sana" wanita paruh baya
itu menunjuk ke arah utara. Menginfokan lokasi yang dia ceritakan.
Sebuah sudut ruko buntu, dimana tidak terdapat jalan akses untuk
menelusuri setapaknya kecuali tembok-tembok tinggi yang warna catnya
coklatnya telah memucat.
Lelaki yang
bertanya itu hanya manggut-manggut. Tidak heran akan cerita wanita itu.
Memang tidak sedikit, ditempat itu ditemukan bayi-bayi tidak bernama.
Tidak diketahui keluarganya. Bayi terbuang. Lelaki itu masih menatap
wanita dihadapannya. Menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Seolah mengerti maksud tatapannya, wanita itu pun membuka suara.
"si Alan, itulah nama anak ini. Seperti nama suamiku Alan. Bukankah....,"
"apa Sialan?" ucapan wanita itu terpotong oleh ucapan lelaki itu penuh kaget.
"iya si Alan, bagus kan?" wanita itu tidak memperdulikan keterkejutan akan pernyataannya.
Lelaki tua itu
hanya manggut-manggut kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Tubuhnya
membelakangi wanita itu, tanpa ucapan salam perpisahan. Berlalu pergi
sambil menggerakkan ibu jari tangan kanannya ke keningnya.
Ibu paruh baya itu hanya melihat lelaki itu dengan tatapan heran. Dan melanjutkan jalan-jalan sore bersama buah hati temuannya.
Namanya adalah
Alan. Entah dia pria ataukah perempuan. Banyak orang yang selalu
mempertanyakan. Dan Alan yang rupawan, akan selalu berkata "bertanyalah
kepada Tuhan".
Ya itulah kisah alan, seseorang yang kini tengah duduk meandangi lautan. Berharap keajaiban. Membawa kembali putri idaman.
Alan kecil pun
telah beranjak dewasa. Alan sudah terbiasa dengan suara-suara yang
memanggilnya dengan Sialan. Meskipun nama sesungguhnya bukanlah seperti
itu. Sempat Alan kecil bersedih, memarahi sang wanita yang dengan kasih
sayang telah menjaganya. Alan bersedih karena nama yang awalnya dia
begitu banggakan ternyata memiliki arti yang begitu menyedihkan.
Setiap kali
Alan bersedih ia akan berlari menuju bibir daratan. Terdiam. Membuang
air matanya. Meredakan amarahnya. Meski ia tahu kekesalan itu tidak
pernah benar-benar hilang.
Memandang air
yang bergejolak. Mendengar air yang berperang dengan angin. Membuatnya
tidak sendiri. Ia merasa telah dipeluk oleh alam. Ia merasa telah
didamaikan oleh Tuhan.
Alan mendengar
sebuah mitos tentang seorang putri khayangan yang terlihat dipantai
ini. Pantai diselatan pulau Jawa. Pantai dimana ia sering duduk dan
menumpahkan segala kesedihannya. Sayangnya selama ini Alan tidak pernah
melihatnya. Mitos itu ceritakan oleh seorang paman penjual jaring ikan.
Sang Putri
hidup di khayangan. Negeri impian para raja-raja bumi. Hari-harinya
terisi oleh hal-hal yang membosankan. Pelayan-pelayan rupawan.
Makanan-makanan yang mengenakkan. Perhiasan-perhiasan yang
bergelimpangan. Sang Putri tidak pernah terlihat kesusahan. Tapi Sang
Putri kesepian.
Sang Putri
tengah berlarian ditaman. Ada tawa riang yang terdengar dari angin yang
berhembus. Ada jaring terlihat diujung cakrawala. Jaring yang membuat
Sang Putri berlari menghampirinya. Jaring yang berkilauan dibawah terikl
mentari. Jaring pelangi. Sang Putri berlari sambil tertawa, tawa yang
menyenangkan. Sayup-sayup tawa riang Sang Putri pun meredup. Sang Putri
menghilang. Para pelayan dan penjaga seluruh khayangan mencarinya.
Dibalik daun, dibalik pintu, dibalik atap, dibalik batu. Sang Putri
tetap tidak ditemukan. Sang Putri benar-benar telah menghilang.
Ada
satu tempat yang belum ditelusuri pencariannya. Lautan tempat para
raksasa bekerja. Lautan yang tidak memperbolehkan para penghuni
khayangan untuk menjamahnya. Lautan kelam, lautan yang menciptakan
nyanyian melengking menyakitkan. Lautan yang kesepian. Lautan yang
akhirnya menjadi tempat bersembunyinya Sang Putri. Lautan yang membuat
sang Putri tidak bisa kembali.
Konon katanya
dengan memasang jaring-jaring berwarna warni pada udara dibawah terik
mentari. Dan duduk dibawah bibir pantai. Diantara suara debur ombak dan
udara bebas. Sayup-sayup akan terdengar suara nyanyian. Nyanyian
kesepian dari Sang Putri.
Alan kini
tengah duduk tepi pantai dan sedang mencoba mempraktekkan apa yang
dikatakan oleh paman itu. Agar terik tidak menyilaukan penglihatannya.
Alan pun memakai camping yang ia curi dari petani di kampungnya.
Alan ingin bertemu Sang Putri dan berkata, "bukan lautan yang membuatmu kesepian, namun kesendirian yang membuatmu tidak merasakan kebahagiaan"
12 Februari 2015
0 comments