Minggu 2 Nona Capung

Kamisan S3 #2: Suatu Hari Ketika Badai

16.18Unknown



image


IBUKU adalah perempuan yang tidak memiliki masalah dengan menunggu. Ketika sebagian perempuan begitu gelisah dalam duduknya ketika menanti kedatangan seseorang, khawatir, bahkan mungkin marah, maka ibuku dengan ketenangan seperti air danau sedia menunggu berapa pun lamanya.

Hari ini, ia telah menunggu selama separuh usiaku.

Sementara aku sudah tahu sejak lama bahwa lelaki yang kupanggil ayah itu tak akan pernah kembali. Kami tidak pernah tahu di mana ia berada. Laut begitu luas untuk mencari keberadaan lelaki jangkung, bermata cokelat, dengan luka parut tipis di wajah akibat tergaruk mata pancing. Ibuku selalu meledek ayah karna itu. Katanya, ayah seorang jago di laut tetapi kalah oleh ikan-ikan sungai. Ayahku, lelaki itu, bernama Dwipa.

Ayah adalah lelaki dari tanah seberang. Perantau tak berayah-ibu. Ia mencari hidup sebagai upah harian di kapal nelayan. Ketika ayah memulai perjalanannya, ia bahkan belum memiliki jakun. Ayah tumbuh dalam dekapan ombak dan sinar matahari di atas kapal. Saat kapal yang ditumpangi ayah berlabuh di desa kami, ia memenuhi takdirnya.

Perempuan yang membuatnya jatuh cinta bernama Mirah. Bibir dan pipinya bersemu merah, seperti namanya. Seperti banyak perempuan lain di desa, Mirah ikut berdesak-desak ke kapal manapun yang baru saja mendarat. Menimbang ikan lalu memburuh ke pasar. Saat itulah, ketika Dwipa melihat ke dalam manik mata Mirah, lelaki itu merasa ia kembali memiliki rumah.

Sebulan setelah pertemuan itu, ibuku Mirah menikah dengan lelaki perantau Dwipa. 

Jika kalian bertanya apakah ayah-ibuku bahagia maka aku bisa menjawabnya untuk kalian. Ayah-ibuku bahagia. Ayah membangun sendiri rumah untuk kami. Ia menebang sendiri pohon-pohon kelapa dan memancangnya sebagai tiang rumah. Memaku papan-papan dengan rekat menjadi dinding. Di usiaku yang ke enam Ayah membuat kotak berisi pasir yang ia taruh di halaman rumah. Isinya adalah cangkang-cangkang kerang beraneka bentuk dan rupa. Ayah menghadiakan kotak itu kepadaku. Aku menyanyagi kotak kerang itu seperti aku menyanyangi ayah.

Kotak kerang itu masih ada. Aku menyimpannya di dalam kamarku sebab tak ingin kotak itu lapuk terkena hujan. Aku sudah kehilangan ayah, aku tidak ingin jika harus kehilangan kotak itu juga. Tetapi ibuku sepertinya tak sedikit pun merasa kehilangan ayah.

Lihatlah dia, duduk beralas pasir di tepian pantai. Bertopi caping dengan baju kantun tipis bermotif kembang biru. Di depannya sebuah tiang tertancap di pasir. Ujung tiang itu berbentuk segitiga terbalik tempat ia menggantung saringan-saringan kecil penangkap ikan. Bagimu, mungkin ibuku terlihat konyol. Itu mungkin karena kalian tidak tahu mitos yang hidup di desa kami.

Masyarakat desa kami hidup dari laut. Rumah dan lautan berdampingan sejak zaman nenek moyang. Entah siapa yang memulai, ketika badai menghantam desa dua malam berturut. Ketika setiap doa larung turun ke laut dari para istri yang mengharap suami mereka pulang dengan selamat, esok paginya, tiang-tiang dengan segitiga terbalik terpancang di sepanjang bibir pantai. Saringan-saringan kecil berwarna-warni terayun dimainkan angin. Pemandangan itu terasa magi. Setiap mata terkesiap lalu keharuan yang pekat mengantungi setiap mata ketika melihat kapal-kapal kembali berlabuh ketepian. Suami-suami mereka pulang. Ayah-ayah kami pulang.

Seperti itulah sebuah mitos berlanjut turun temurun. Mitos yang patah ditangan ibuku.

Ayah telah menjemput takdirnya yang lain. Sebagai pelaut, ia mati di laut. Sementara ibuku, memenuhi takdirnya sebagai perempuan yang tabah dalam menunggu.


10:31
110215
Ket:
Dwipa adalah nama seorang kenalan jauh di Denpasar sana dan Mirah adalah istrinya. Mereka baru menikah beberapa waktu lalu. Meski cerita ini tidak happy end, karna saya menggunakan nama mereka, jadi cerita ini saya berikan untuk keduanya.
Selamat pakde!

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak