∞
IBUKU adalah perempuan yang tidak
memiliki masalah dengan menunggu. Ketika sebagian perempuan begitu
gelisah dalam duduknya ketika menanti kedatangan seseorang, khawatir,
bahkan mungkin marah, maka ibuku dengan ketenangan seperti air danau
sedia menunggu berapa pun lamanya.
Hari ini, ia telah menunggu selama separuh usiaku.
Sementara aku sudah tahu sejak lama bahwa
lelaki yang kupanggil ayah itu tak akan pernah kembali. Kami tidak
pernah tahu di mana ia berada. Laut begitu luas untuk mencari keberadaan
lelaki jangkung, bermata cokelat, dengan luka parut tipis di wajah
akibat tergaruk mata pancing. Ibuku selalu meledek ayah karna itu.
Katanya, ayah seorang jago di laut tetapi kalah oleh ikan-ikan sungai.
Ayahku, lelaki itu, bernama Dwipa.
Ayah adalah lelaki dari tanah seberang.
Perantau tak berayah-ibu. Ia mencari hidup sebagai upah harian di kapal
nelayan. Ketika ayah memulai perjalanannya, ia bahkan belum memiliki
jakun. Ayah tumbuh dalam dekapan ombak dan sinar matahari di atas kapal.
Saat kapal yang ditumpangi ayah berlabuh di desa kami, ia memenuhi
takdirnya.
Perempuan yang membuatnya jatuh cinta
bernama Mirah. Bibir dan pipinya bersemu merah, seperti namanya. Seperti
banyak perempuan lain di desa, Mirah ikut berdesak-desak ke kapal
manapun yang baru saja mendarat. Menimbang ikan lalu memburuh ke pasar.
Saat itulah, ketika Dwipa melihat ke dalam manik mata Mirah, lelaki itu
merasa ia kembali memiliki rumah.
Sebulan setelah pertemuan itu, ibuku Mirah menikah dengan lelaki perantau Dwipa.
Jika kalian bertanya apakah ayah-ibuku
bahagia maka aku bisa menjawabnya untuk kalian. Ayah-ibuku bahagia. Ayah
membangun sendiri rumah untuk kami. Ia menebang sendiri pohon-pohon
kelapa dan memancangnya sebagai tiang rumah. Memaku papan-papan dengan
rekat menjadi dinding. Di usiaku yang ke enam Ayah membuat kotak berisi
pasir yang ia taruh di halaman rumah. Isinya adalah cangkang-cangkang
kerang beraneka bentuk dan rupa. Ayah menghadiakan kotak itu kepadaku.
Aku menyanyagi kotak kerang itu seperti aku menyanyangi ayah.
Kotak kerang itu masih ada. Aku
menyimpannya di dalam kamarku sebab tak ingin kotak itu lapuk terkena
hujan. Aku sudah kehilangan ayah, aku tidak ingin jika harus kehilangan
kotak itu juga. Tetapi ibuku sepertinya tak sedikit pun merasa
kehilangan ayah.
Lihatlah dia, duduk beralas pasir di
tepian pantai. Bertopi caping dengan baju kantun tipis bermotif kembang
biru. Di depannya sebuah tiang tertancap di pasir. Ujung tiang itu
berbentuk segitiga terbalik tempat ia menggantung saringan-saringan
kecil penangkap ikan. Bagimu, mungkin ibuku terlihat konyol. Itu mungkin
karena kalian tidak tahu mitos yang hidup di desa kami.
Masyarakat desa kami hidup dari laut.
Rumah dan lautan berdampingan sejak zaman nenek moyang. Entah siapa yang
memulai, ketika badai menghantam desa dua malam berturut. Ketika setiap
doa larung turun ke laut dari para istri yang mengharap suami mereka
pulang dengan selamat, esok paginya, tiang-tiang dengan segitiga
terbalik terpancang di sepanjang bibir pantai. Saringan-saringan kecil
berwarna-warni terayun dimainkan angin. Pemandangan itu terasa magi.
Setiap mata terkesiap lalu keharuan yang pekat mengantungi setiap mata
ketika melihat kapal-kapal kembali berlabuh ketepian. Suami-suami mereka
pulang. Ayah-ayah kami pulang.
Seperti itulah sebuah mitos berlanjut turun temurun. Mitos yang patah ditangan ibuku.
Ayah telah menjemput takdirnya yang lain.
Sebagai pelaut, ia mati di laut. Sementara ibuku, memenuhi takdirnya
sebagai perempuan yang tabah dalam menunggu.
∞
110215
Ket:
Dwipa adalah nama seorang kenalan jauh di Denpasar sana dan Mirah adalah istrinya. Mereka baru menikah beberapa waktu lalu. Meski cerita ini tidak happy end, karna saya menggunakan nama mereka, jadi cerita ini saya berikan untuk keduanya.
Selamat pakde!

0 comments