Mau berlari sampai ke ujung duniapun, mau bersembunyi di balik benteng raksasa sekalipun, jika kau sudah ditakdirkan bertemu dengannya, kau tak akan bisa lari kemana-mana lagi. Ia akan mendapatimu dimanapun kau berada. Sendiri atau dalam keramaian.
Jumat ini, Lebah ada janji bertemu dengan Susanti. Di daerah
Kuningan, tepatnya Pasar Festival. Cukup jauh dari kantornya di bilangan
Buncit. Tambahan, malam hari pula. Sebenarnya ia tidak terlalu risau
akan hal itu, sekalipun ia harus menaiki kopaja seorang diri dari
kantornya. Ia selalu menikmati perjalanan, sekalipun sendirian. Apalagi,
pertemuannya dengan Susanti bukan pertemuan sekadar melepas rasa galau,
atau gila-gilaan anak muda (apalagi yang ini, sama sekali jauh dari
itu). Lebah sudah berjanji untuk mengikuti sesi bedah naskah novel
Susanti yang belum lama ditolak sebuah penerbit mainstream yang namanya
sedang naik daun, bersama dengan seorang temannya yang sudah lebih
mumpuni di bidang tulis-menulis. Apalagi temannya Susanti, yang namanya
sebut saja Cecil, ini memang pernah bekerja di penerbit. Lebah sangat
menantikan pertemuan dengan kedua orang itu, karena ia tahu pasti akan
jadi pengalaman sharing yang sangat menyenangkan. Tapi hatinya jadi
resah, waktu ia izin pada sang Ayah pagi di hari-h.
“Jangan, enggak boleh ke sana. Kata temen Papa yang kerja di BIN,
nanti bakal ada kerusuhan di daerah Gambir. Tau kan lagi ada ribut-ribut
soal MK.”
“Tapi kan udah janji sama temenku, Pa. Enggak enak kalo tiba-tiba batalin,” balas Lebah, setengah merajuk.
“Kalo mau ketemuannya pindahin aja. Bahaya kalo di sana. Ntar kalo kamu kenapa-kenapa gimana?”
“Tapi itu kan daerah Kuningan. Jauh, kan?”
“Tetep aja, bahaya!”
Lebah menghela napas berat. Memikirkan ide untuk membatalkan ikut
pertemuan Susanti rasanya sangat sulit. Apalagi Lebah sendiri yang ingin
ikut, dan Susanti sudah bela-belain bawa dua helm. Pulangnya memang
rencananya Lebah akan barengan Susanti naik motornya. Dan Lebah juga
sudah beberapa kali mewanti-wanti Susanti agar tidak lupa bawa helm.
Masa sekarang dia sendiri yang membatalkan rencana itu? Dengan alasan
yang sesungguhnya masih ia ragukan juga kebenaran infonya.
Tapi, gimana kalo info itu benar?
***
Jangan pergi ke sana, nanti bahaya, nanti kenapa-kenapa. Jangan makan
ini, nanti sakit. Jangan ini, jangan itu. Dan beragam jangan lainnya
kerap kali kita dengar atau kita ucapkan saat kita dihadapkan dengan
suatu keadaan yang menurut kita mengancam. Semisal sakit, atau
keterancaman akan keamanaan diri, dan masih banyak kasusnya lagi. Belum
lagi media yang sering menampilkan berita-berita, seperti berita
perampokan, kecelakaan, dll. Lalu kita akan semakin menimbun rasa takut,
entah diakui atau tidak. Mengapa kita begitu takut akan hal itu?
Sebenarnya apa yang membuat kita takut? Apakah itu karena kematian?
Karena semua bahaya itu bisa mengancam nyawa kita, dan bisa membuat kita
mati?
Ada satu masa dalam hidup saya, yang saya anggap sebagai salah satu
turning point cukup besar dalam hidup saya. Yaitu Ramadhan tahun 2012.
Pagi itu, saya mendengar kabar kematian yang cukup mengejutkan.
Datangnya dari tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Yang
mengejutkan, karena yang meninggal itu usianya masih muda, lebih muda
daripada saya. Seorang anak cowok yang masih duduk di bangku SMP. Ia
meninggal dalam sebuah kecelakaan motor pada dini hari, dalam perjalanan
mencari makanan untuk sahur bersama anak yatim (kalau tidak salah
ingat). Saya masih ingat suasana rumah duka saat itu. Lutut saya lemas.
Entah kenapa. Padahal itu bukan berita kematian yang pertama saya dengar
bukan? Tapi berita kematian itulah yang benar-benar seperti jadi
pukulan keras di kepala saya. Belum lagi Ramadhan itu entah kenapa
banyak sekali tetangga saya yang berpulang kepada-Nya.
Hey, kamu, kematian itu bisa jadi sangat dekat loh!
Dan jujur sejak saat itu kehidupan saya sesungguhnya berubah. Tidak
banyak yang tahu, tapi orang tua saya tahu bagaimana sikap saya berubah
cukup drastis sejak saat itu. Apalagi waktu saya baca artikel-artikel
soal tanda-tanda kematian, yang ternyata sebenarnya sumbernya juga tidak
jelas. Tapi tetap, yang jelas, mati itu pasti, dan kita tidak tahu
kapan dan dimana. Saya masih menyimpan rasa khawatir itu, dan bayangan
itu masih mengikuti saya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, memang jatah
umur saya di dunia sampai kapan? Dan banyak lagi lainnya. Selama
beberapa tahun sejak 2012 itu, sampai detik ini. Sampai saat saya
mendengar bahwa tema Kamisan itu adalah tema yang sesungguhnya agak saya
hindari untuk membicarakan di depan umum. ya, mungkin karena ketakutan
saya sendiri.
Lantas, saya berpikir. Apakah dengan takut akan menjadi pemecah
masalah saya? Malah takut itu justru membawa masalah dalam hidup saya.
Seperti yang dihadapi Lebah dalam ilustrasi kisah di atas (yang
sebenernya bukan kisah fiktif juga sih haha). Kekhawatiran itu masih
membayangi saya. Bagaimana kalau Ayah saya benar? Bagaimana kalau
begini, begitu? Tapi saya kan harus mengambil kesempatan pelatihan itu
bukan? Apa saya mau lari terus dari ketakutan saya?
Ya, saya harus berani menghadapi ketakutan saya kan. Dan ketakutan
itu bukankah harusnya kita ubah jadi kekuatan untuk menghadapi hidup.
Kita tahu, hidup kita tidaklah untuk selamanya, dan suatu saat kita akan
berpulang pada-Nya. Maka tidakkah kita harus memanfaatkan waktu kita
sebaik-baiknya untuk dunia dan akhirat kita? Mati itu memang harus
diingat, karena katanya Rasulullah orang yang paling pintar (atau cerdas
ya) adalah orang yang paling banyak mengingat mati. Tapi bukan orang
yang jadi parno sama mati.
Yuk, kita sama-sama mengubah rasa khawatir akan masa depan, menjadi
harapan. Jangan sampai ketakutan diri malah menenggelamkan kita pada
keputusasaan, padahal mati itu pasti. Nah, karena itu adalah hal yang
pasti, kita harus mempersiapkannya bukan. Mari bersemangat, dan jangan
menyerah pada ketakutan! Maap yak, kebanyakan curcolnya, daripada kasih
insight mendalam hehe. Tapi semoga ada manfaatnya :)
0 comments