#11 Kematian MInggu 11

Kamisan S2 #11 - Kematian: Tentang Ia yang Selalu Dihindari

15.00Unknown

Mau berlari sampai ke ujung duniapun, mau bersembunyi di balik benteng raksasa sekalipun, jika kau sudah ditakdirkan bertemu dengannya, kau tak akan bisa lari kemana-mana lagi. Ia akan mendapatimu dimanapun kau berada. Sendiri atau dalam keramaian.
Jumat ini, Lebah ada janji bertemu dengan Susanti. Di daerah Kuningan, tepatnya Pasar Festival. Cukup jauh dari kantornya di bilangan Buncit. Tambahan, malam hari pula. Sebenarnya ia tidak terlalu risau akan hal itu, sekalipun ia harus menaiki kopaja seorang diri dari kantornya. Ia selalu menikmati perjalanan, sekalipun sendirian. Apalagi, pertemuannya dengan Susanti bukan pertemuan sekadar melepas rasa galau, atau gila-gilaan anak muda (apalagi yang ini, sama sekali jauh dari itu). Lebah sudah berjanji untuk mengikuti sesi bedah naskah novel Susanti yang belum lama ditolak sebuah penerbit mainstream yang namanya sedang naik daun, bersama dengan seorang temannya yang sudah lebih mumpuni di bidang tulis-menulis. Apalagi temannya Susanti, yang namanya sebut saja Cecil, ini memang pernah bekerja di penerbit. Lebah sangat menantikan pertemuan dengan kedua orang itu, karena ia tahu pasti akan jadi pengalaman sharing yang sangat menyenangkan. Tapi hatinya jadi resah, waktu ia izin pada sang Ayah pagi di hari-h.

“Jangan, enggak boleh ke sana. Kata temen Papa yang kerja di BIN, nanti bakal ada kerusuhan di daerah Gambir. Tau kan lagi ada ribut-ribut soal MK.”

“Tapi kan udah janji sama temenku, Pa. Enggak enak kalo tiba-tiba batalin,” balas Lebah, setengah merajuk.

“Kalo mau ketemuannya pindahin aja. Bahaya kalo di sana. Ntar kalo kamu kenapa-kenapa gimana?”

“Tapi itu kan daerah Kuningan. Jauh, kan?”

“Tetep aja, bahaya!”

Lebah menghela napas berat. Memikirkan ide untuk membatalkan ikut pertemuan Susanti rasanya sangat sulit. Apalagi Lebah sendiri yang ingin ikut, dan Susanti sudah bela-belain bawa dua helm. Pulangnya memang rencananya Lebah akan barengan Susanti naik motornya. Dan Lebah juga sudah beberapa kali mewanti-wanti Susanti agar tidak lupa bawa helm. Masa sekarang dia sendiri yang membatalkan rencana itu? Dengan alasan yang sesungguhnya masih ia ragukan juga kebenaran infonya.

Tapi, gimana kalo info itu benar? 

***

Jangan pergi ke sana, nanti bahaya, nanti kenapa-kenapa. Jangan makan ini, nanti sakit. Jangan ini, jangan itu. Dan beragam jangan lainnya kerap kali kita dengar atau kita ucapkan saat kita dihadapkan dengan suatu keadaan yang menurut kita mengancam. Semisal sakit, atau keterancaman akan keamanaan diri, dan masih banyak kasusnya lagi. Belum lagi media yang sering menampilkan berita-berita, seperti berita perampokan, kecelakaan, dll. Lalu kita akan semakin menimbun rasa takut, entah diakui atau tidak. Mengapa kita begitu takut akan hal itu? Sebenarnya apa yang membuat kita takut? Apakah itu karena kematian? Karena semua bahaya itu bisa mengancam nyawa kita, dan bisa membuat kita mati?

Ada satu masa dalam hidup saya, yang saya anggap sebagai salah satu turning point cukup besar dalam hidup saya. Yaitu Ramadhan tahun 2012. Pagi itu, saya mendengar kabar kematian yang cukup mengejutkan. Datangnya dari tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah saya. Yang mengejutkan, karena yang meninggal itu usianya masih muda, lebih muda daripada saya. Seorang anak cowok yang masih duduk di bangku SMP. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan motor pada dini hari, dalam perjalanan mencari makanan untuk sahur bersama anak yatim (kalau tidak salah ingat). Saya masih ingat suasana rumah duka saat itu. Lutut saya lemas. Entah kenapa. Padahal itu bukan berita kematian yang pertama saya dengar bukan? Tapi berita kematian itulah yang benar-benar seperti jadi pukulan keras di kepala saya. Belum lagi Ramadhan itu entah kenapa banyak sekali tetangga saya yang berpulang kepada-Nya.

Hey, kamu, kematian itu bisa jadi sangat dekat loh!

Dan jujur sejak saat itu kehidupan saya sesungguhnya berubah. Tidak banyak yang tahu, tapi orang tua saya tahu bagaimana sikap saya berubah cukup drastis sejak saat itu. Apalagi waktu saya baca artikel-artikel soal tanda-tanda kematian, yang ternyata sebenarnya sumbernya juga tidak jelas. Tapi tetap, yang jelas, mati itu pasti, dan kita tidak tahu kapan dan dimana. Saya masih menyimpan rasa khawatir itu, dan bayangan itu masih mengikuti saya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, memang jatah umur saya di dunia sampai kapan? Dan banyak lagi lainnya. Selama beberapa tahun sejak 2012 itu, sampai detik ini. Sampai saat saya mendengar bahwa tema Kamisan itu adalah tema yang sesungguhnya agak saya hindari untuk membicarakan di depan umum. ya, mungkin karena ketakutan saya sendiri.

Lantas, saya berpikir. Apakah dengan takut akan menjadi pemecah masalah saya? Malah takut itu justru membawa masalah dalam hidup saya. Seperti yang dihadapi Lebah dalam ilustrasi kisah di atas (yang sebenernya bukan kisah fiktif juga sih haha). Kekhawatiran itu masih membayangi saya. Bagaimana kalau Ayah saya benar? Bagaimana kalau begini, begitu? Tapi saya kan harus mengambil kesempatan pelatihan itu bukan? Apa saya mau lari terus dari ketakutan saya?

Ya, saya harus berani menghadapi ketakutan saya kan. Dan ketakutan itu bukankah harusnya kita ubah jadi kekuatan untuk menghadapi hidup. Kita tahu, hidup kita tidaklah untuk selamanya, dan suatu saat kita akan berpulang pada-Nya. Maka tidakkah kita harus memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya untuk dunia dan akhirat kita? Mati itu memang harus diingat, karena katanya Rasulullah orang yang paling pintar (atau cerdas ya) adalah orang yang paling banyak mengingat mati. Tapi bukan orang yang jadi parno sama mati.

Yuk, kita sama-sama mengubah rasa khawatir akan masa depan, menjadi harapan. Jangan sampai ketakutan diri malah menenggelamkan kita pada keputusasaan, padahal mati itu pasti. Nah, karena itu adalah hal yang pasti, kita harus mempersiapkannya bukan. Mari bersemangat, dan jangan menyerah pada ketakutan! Maap yak, kebanyakan curcolnya, daripada kasih insight mendalam hehe. Tapi semoga ada manfaatnya :)

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak