#11 Kematian MInggu 11

Kamisan S2 #11 - Kematian: Sesuatu yang Asing

16.46Unknown

Aku punya seorang Ibu. Juga seorang Kakak perempuan. Dan selusin lagi orang asing yang harus kupanggil Paman dan juga Bibi. Semua itu terjadi begitu cepat, dan begitu saja. Seolah memang sudah seharusnya seperti itu. Sejarah hidup yang kupercaya tiba-tiba berbalik 180 derajat dalam waktu kurang dari 3 jam. Dan itu dimulai pagi tadi.

Musim hujan selalu menyusahkan. Tak peduli di belahan bumi mana kautinggal. Terlebih bila kau tidak benar-benar tinggal di mana pun. Meski saat ini tidak sedang hujan, namun sisa hujan semalam masih menggenang di jalan-jalan. Aku hidup di jalanan. Seorang diri menjelajahi rerimbun gedung yang tinggi menjulang dan orang-orang kaya yang memandang ke arah gelandangan sepertiku dengan tatapan yang seolah berkata, “Awas, jangan dekat-dekat! Dia banyak kuman!” dan kata-kata itu dipertegas lagi dengan langkah mereka yang menjauh ketika berpapasan. Meski tidak semua seperti itu, tapi kemudian itulah yang kupikirkan tentang mereka. Mereka brengsek!

“Thomas Butterfield?”

Aku berhenti, mendongak. Seorang pria kulit putih, berambut pirang, dan berkemeja putih-panjang dengan lengan kemeja digelung sampai sebatas siku, berdiri dengan senyum merekah di hadapanku. Di belakangnya, seorang pria berkulit hitam dengan kacamata gelap berdiri dengan sikap seorang penjaga. Aku tidak mengenal seorang pun dari mereka.

“Thomas Butterfield?”

Aku diam dan menentang matanya. Tidak ada yang memanggilku dengan nama itu lagi selama sepuluh tahun terakhir ini.

“Kau salah orang,” jawabku tak acuh, lalu kembali berjalan. “Permisi!” Aku sengaja menabrakkan bahuku ke bahu pria itu begitu melewatinya. Si pria kulit hitam bergerak menyamping. Dan sambil tetap berdiri dalam posisi sebelumnya, berdiri menghalangi jalanku.

“Tuan Nick belum selesai bicara dengan Anda.”

Pria kulit hitam ini lebih tinggi bila dilihat dari dekat, dan aku pun yakin, di balik jas hitamnya yang mewah, dia pasti memiliki otot-otot yang kuat, yang bisa saja segera menunjukkan kekuatannya bila aku tidak memulainya lebih dulu.

Aku berbalik dan langsung saja berlari setelah melayangkan tinju ke perutnya, dan mendorong begitu saja si pria kulit putih yang dipanggilnya “Tuan Nick”. Nick tersungkur menghantam aspal. Tapi langkahku segera terhenti. Di depanku telah berdiri satu pria lain. Yang ini berkulit putih. Dan dari caranya menatapku, aku bisa tahu kalau ia teman si Negro.

Aku tentu bisa kabur dari orang itu, jika saja dia tidak lebih dulu menangkapku ketika aku hendak berbelok ke kiri. Aku berontak. Tapi melawan pria berotot bukanlah salah satu jenis keahlian yang kupunya.

“Jangan terlalu keras, J!” Nick berdiri, dibantu si pria Negro.

“Dengar, Thom,” Nick menghela napas, “sepertinya kau salah paham.”

“Sudah kubilang kau salah orang.”

“Baik. Sepertinya kau lebih suka kupanggil ‘Jack’.”

Aku diam.

*

Begitu pintu besar itu dibuka, seorang perempuan yang kutaksir awal 30-an datang menyambutku dengan kedua lengan yang terbuka seolah hendak memeluk. Untuk beberapa detik, itulah yang kupikir akan terjadi. Karena yang terjadi selanjutnya, ia menangkupkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di depan dada. “Mereka tidak terlalu keras kepadamu, kan, Thom?” katanya, lembut, kemudian menoleh dan tersenyum kepada tiga pria yang membawaku ke tempat ini. “Terima kasih. Kalian sangat menolong.” Lalu kembali memandang ke arahku.

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan kaku, menunduk. Ada sesuatu yang terasa akrab dari tatapannya, dan itu membuatku gusar. Ia kemudian menyentuh bahuku. “Aku tahu kau pasti bingung. Tapi aku tak tahu bagaimana cara yang lebih tepat agar bisa membawamu pulang.”

Pulang? Ya, itulah yang mereka katakan kepadaku saat di mobil. Menceritakan bagian-bagian dari hidupku yang tidak pernah kutahu sebelumnya. Dan haruskah kupercaya?

Sebelum aku sempat membalas satu pun kata-katanya, atau bahkan sekadar mendongak dan menatap matanya, pintu besar lain yang terletak di sebelah kiri ruangan ini tiba-tiba membuka. Aku dan si Perempuan serentak menoleh. Seorang perempuan muda berbadan gemuk muncul dari balik pintu dan berseru, “Nona, Nyonya, Nona!”

Tak perlu menunggu penjelasan lebih jauh, perempuan itu kemudian menarik lenganku dan memaksaku setengah berlari mengikutinya menuju ke ruangan kain, melewati si perempuan gemuk. Di belakangku, tiga pria lain berlari mengikuti.

*

Sekerumunan orang yang sedang berdiri mengelilingi sebuah ranjang besar membuka, membiarkan kami lewat dan berjalan mendekati ranjang. Aku bisa merasakan kalau semua orang di tempat itu sedang menatapku. Seorang perempuan muda lain, yang sedang terisak sambil duduk di tepian ranjang berdiri, dan membiarkan si perempuan yang menyambutku tadi duduk menggantikan tempatnya. Perempuan muda lain itu tersenyum ramah kepadaku, dan bisa kulihat lelehan air mata masih membekas di pipinya, sesaat sebelum ia menunduk dan menutupkan sapu tangan ke wajahnya sambil tersedu. Aku berdiri diam dan tak tahu harus berbuat apa.

“Thom—Thomas? Kaukah itu?” Suara serak dan lirih itu menyadarkanku. Seorang perempuan renta, dengan rambut putih yang terhampar di bawah kepalanya, menggapai-gapai, seolah hendak membelai wajahku. Dan dia benar-benar membelaiku.

“Iya, Ibu. Itu dia … Thomas,” kata si perempuan, kemudian menoleh kepadaku, tersenyum. Aku terus menatap mata si perempuan renta yang berkali-kali memanggil nama yang telah lama kutanggalkan. Si perempuan menyentuh lembut lenganku, menariknya ke bawah. “Duduklah, Thomas!”

Aku pun duduk. Si perempuan renta itu terus saja membelai pipiku. “Berapa lama kita tidak bertemu, Sayang? Kau sudah tumbuh besar sekarang. Dan tampan.”

Ia mencoba tertawa, meski yang muncul kemudian adalah sesuatu yang lain. Ia terbatuk-batuk. Dan segera saja, dua orang perawat perempuan yang berdiri di sebelah kiri mencoba membantunya. Namun, ia mengibaskan tangan kirinya, yang kemudian diletakan di atas dadanya yang naik-turun dengan begitu jelas. Sesuatu yang bening mengalir turun dari ujung matanya saat ia memejamkan mata.

Aku bisa mendengar semua orang dalam ruangan ini terisak. Dan aku pun bisa mendengar perempuan yang sedang duduk di belakangku menarik napasanya kuat-kuat sambil, sekali lagi, meremas bahu kiriku. Remasan tangannya lebih kuat daripada yang pertama.

“Pasti kau bingung, ya? Aku Ibumu. Ibu yang sudah tega membuangmu di depan pintu panti asuhan. Tidakkah James menjelaskan semuanya kepadamu saat kalian dalam perjalanan ke mari? Kenapa kau diam saja, Thomas? Apa kau marah padaku, Sayang? Ah, tentu saja kau marah.”

Ia berbicara terus dan terus, meski setiap kata yang diutarakannya membuat ia semakin terlihat lemah dan lemah. Seolah ia takut tidak memiliki lagi waktu untuk bicara. Dan saat ia kembali mencoba tertawa, yang muncul kemudian adalah seperti yang pertama. Ia terlihat begitu menderita ketika sedang terbatuk-batuk. Dan aku seolah bisa merasakan napasnya juga semakin berat dari waktu ke waktu. Tapi aku tetap bingung harus berbuat apa.

“Thomas, ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, tapi aku merasa—“

“Ibu,” perempuan di belakangku memotong, mencondongkan tubuhnya melewatiku. “Ibu akan sembuh.” Dan yang dipanggil ibu tersenyum kepadanya, kemudian menoleh lagi kepadaku. “Kenalkan, Thomas, kakakmu, Katerine. Kalian sudah bertemu? Dia yang akan menjagamu.”

Aku masih diam dan belum tahu harus menjawab apa. Bagaimana pun, semua ini begitu asing. Akan tetapi, perempuan renta yang terus-terus menerus memanggil namaku dengan penuh kelembutan ini, yang setelah semuanya mengaku ibu … entah bagaimana, terasa sungguh-sungguh akrab; sungguh-sungguh hangat. Aku belum pernah melihatnya. Tapi tatapan matanya itu seolah telah lama kurindukan; seperti sesuatu yang telah kita lupa dan tiba-tiba saja menghampiri kita. Bagaimana mungkin aku bisa merindukan sesuatu yang belum pernah kumiliki?

“Thomas, kenapa kau diam saja?” Ia tersenyum. Terbata-bata, aku mencari kata-kata. Dan dari sekian banyak kata yang kupunya, hanya satu kata itu yang muncul berulang-ulang. “A-aku—” kemudian hilang. Lenyap. Aku menunduk. Dan tiba-tiba saja aku merasa sesak. Dan juga bodoh.

“Tidak apa-apa.” Ia mengarahkan tangan kanannya, menggenggam tangan kananku yang diam saja di sampingnya. “Aku paham. Aku tidak memaksamu untuk bisa langsung menerima semua ini. Tapi, kuharap—kuharap kau mau memaafkanku.” Dia menangis. “Oh, Thomas, maafkan aku. Maafkan Ibumu ini.”

Meski ragu-ragu, aku menangkupkan kedua telapak tanganku ke tangan kanannya dan sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. “Nyonya,” entah bagaimana, itulah yang kemudian kukatakan, alih-alih “Ibu”, “sejujurnya, aku bingung harus bersikap bagaimana dengan semua ini. Ini terlalu … tiba-tiba.” Aku tidak tahu apakah itu merupakan kata-kata yang tepat di depan orang sedang sekarat, tapi kemudian kulihat perempuan renta itu tersenyum, maka aku kembali meneruskan. “Anda mengatakan bahwa Anda adalah ibuku. Terima kasih. Itu sungguh-sungguh berarti. Anda meminta maaf, tapi aku bingung harus memaafkan apa? Kita bahkan belum pernah bertemu.” Kulihat air matanya kembali menggenang, dan aku merasa telah mengatakan sesuatu yang salah. “Beristirahatlah. Kita akan bicara lagi setelah Anda sehat.”

Kemudian aku melepaskan genggaman tanganku. Berdiri. Dan kulihat ia masih tersenyum. Juga kurasakan semua orang dalam ruangan ini menjadi gusar.

“Baiklah, Thomas. Jika itu maumu. Aku pun tidak memaksa agar kau mau menerimaku sebagai ibumu. Hanya saja—”

“Aku sudah memaafkan Anda, Nyonya,” potongku, cepat, tanpa melepaskan pandang dari matanya. Kerut-kerutan pada pinggiran matanya semakin jelas terlihat begitu ia memejamkan mata sambil tersenyum.

“Terima kasih. Nah, Katerine,” katanya, menoleh kepada perempuan di belakangku, “antarkan Thomas ke kamarnya. Dan siapkan segala sesuatu yang diperlukan. Sekarang Ibu mau beristirahat.”

Katerine berdiri, merapikan selimut ibunya. “B-baik, Ibu.” Mengecup keningnya. “Ibu beristirahatlah yang tenang. Thomas sudah berkumpul lagi dengan kita. Mari, Thom!”

Aku berbalik, dan belum genap dua langkah, perempuan yang mengaku ibuku kembali bersuara. “Oh, iya, Thom.” Aku membalikan badan. “Aku tahu ini sudah terlambat tiga hari, tapi … selamat ulang tahun!” Aku tersenyum canggung, dan berbalik, kemudian berjalan.

Bagaimanapun, ini terlalu asing. Aku tak pernah membayangkan semua ini. Ibu? Aku memang selalu memimpikan sosok hangat itu, dan selalu membayangkan bisa memanggil seorang perempuan dengan sebutan itu. Tapi itu sudah sangat lama. Sepuluh tahun lalu. Saat aku belum memutuskan kabur dari panti asuhan dan menjadi gelandangan. Dan sekarang, ketika aku memiliki kesempatan itu, aku bahkan tak mampu mengatakan kata-kata itu. Juga besok, atau seterusnya. Karena perempuan renta yang mengaku ibuku ditemukan meninggal pada esok paginya. Ia meninggal sambil tersenyum. Melewati waktu-waktu terakhirnya seorang diri. Namun raut mukanya mengatakan itu bukan masalah.

Seisi ruangan dipenuhi dengan isakan,juga tangisan. Tapi aku tetap tak bisa menangis. Dan saat melihat, untuk kali terakhir, sosok perempuan renta yang telah terbaring nyaman dalam peti mati itu, tanpa kusadari mulutku membuka dan menutup, dan membentuk jalinan kata yang terangkai menjadi “Ibu” tanpa suara, yang hanya disambut kekosongan udara.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak