Tanpa berpikir panjang Hinu mengizinkan
apartemennya digunakan sebagai tempat jamuan makan malam yang akan
diadakan oleh Pengakuan Dosa. Toh ia tak selalu menginap di
sana, letaknya yang di Barat terlalu jauh untuk selalu pergi-pulang dari
kantornya di bilangan Selatan.
Hinu senang-senang saja. Pengakuan Dosa
adalah rumah kedua baginya. Di sana ia bisa menceritakan apa saja. Mulai
dari kejahilan kecil sampai sesuatu yang layak disebut kejahatan. Tak
akan ada yang menghakiminya di sana sebab semua member pun
memiliki dosa yang sama dan dengan terang-terangan mengatakannya.
Setelah itu, seolah semua dosa mereka telah termaafkan. Ia merasa tenang
setiap kali habis bercerita. Mereka bertujuh telah seperti saudara.
——–
Rona merah masih menghiasi wajah Araya
ketika gadis itu memutus sambungan telepon. Lelaki yang selama ini
disukainya diam-diam, mengundangnya makan malam. Meski tak hanya berdua,
tetap saja rona bahagia itu muncul di wajahnya. Dari sekian banyak member di forum Pengakuan Dosa siapa yang menyangka Araya dipilihnya untuk ikut hadir?
Gadis dengan rambut panjang bergelombang itu lalu telah sibuk memilah baju yang akan dipakainya ke jamuan makan malam itu.
——
“Bukan makan malam yang serius kan?” Suara Freya yang serak pecah di udara. Ia baru saja make, menyuntik nadinya sendiri dengan cairan yang–ia sendiri telah berjanji akan menjauhinya.
“Bukan, Frey. Cuma makan lalu mengobrol. Anak-anak yang lain juga datang kok.” Suara dari dalam telepon. Freya mengangguk lalu beberapa saat kemudian ia menutup telepon.
“Bukan, Frey. Cuma makan lalu mengobrol. Anak-anak yang lain juga datang kok.” Suara dari dalam telepon. Freya mengangguk lalu beberapa saat kemudian ia menutup telepon.
Padahal dalam setiap sesi pengakuan dosa,
Freya selalu mengatakan dia menyesal dan akan menjauhi semua
barang-barang haram tersebut.
Tentu saja itu omong kosong sebab Freya
sendiri tidak sanggup lagi mengatasi kecanduannya. Sampai-sampai ia
harus, ah! Freya enggan mengingat semua kejadian buruk itu. Ia kembali
membesarkan suara radio yang sempat ia kecilkan karena menerima telepon.
Di tengah kebisingan itu, ia meraung sekuat-kuatnya.
——–
Demian memainkan rokok di tangan
kanannya. Abu tipis dari sisa rokok yang terbakar itu terbang ke segala
arah. Menempel di sofa, sedikit ke atas meja dan lebih banyak ke atas
sepatu yang ia kenakan. Tangan kirinya masih menggenggam telepon.
“Ya, di apartemen Latumenten lantai 9 ruang 47c,” katanya. “Kita akan bersenang-senang kan? Tentu, tentu aku akan datang,” katanya lagi.
Pesta. Mana pernah Demian menolaknya.
Tanyakan pada semua orang. Di mana ada pesta di situ pasti ada Demian.
Tempat di mana ia menjadi pangeran dan dipuja banyak wanita. Namun kali
ini ia sudah memilih satu.
——–
“Jadwal gue udah lo susun?” Vivian bertanya pada managernya.
“Udah gue email barusan. Cek aja.” ujar Sang Manajer.
“Udah gue email barusan. Cek aja.” ujar Sang Manajer.
Vivian mengambil ponsel miliknya.
Langsung mengklik aplikasi email. Ada dua email baru yang masuk. Satu
dari manajernya satu lagi dari Pengakuan Dosa. Vivian mengernyitkan
dahi. Rasanya belum pernah forum Pengakuan Dosa yang diikutinya itu
mengirim email. Ada apa ya?
Ternyata email itu berisi ajakan makan malam untuk seluruh anggota. Bukan sesuatu yang aneh, katanya dalam hati.
Jamuan makan malam pukul 20:00 pada hari Selasa. Baiklah. Bersedia, Vivian membalas email tersebut.
Sebentar, untuk semua anggota? Kenapa
tidak mengirimnya di forum saja? Vivian bertanya ragu, hanya sebentar
tapi lalu ia melupakannya begitu saja sebab satu sesi pemotretan lagi
telah menuggunya.
——–
Di rumahnya yang megah, Nola asik
bersantai di pinggir kolam renang. Dua wanita muda berdiri di kedua
sisinya, siap melakukan apa saja yang diminta nyonya baru mereka.
Dani, satpam rumah besar itu tergopoh-gopoh membawa selembar kartu pos yang baru saja tiba,
“Maaf, Bu,” katanya. “Ini ada kartu pos.” Dani menyodorkan kartu pos yang dipegangnya kepada Nola. Setelah menganguk, mengedipkan mata genit kepada salah satu gadis, satpam itu menjauh. Kembali ke tempanya bertugas.
“Maaf, Bu,” katanya. “Ini ada kartu pos.” Dani menyodorkan kartu pos yang dipegangnya kepada Nola. Setelah menganguk, mengedipkan mata genit kepada salah satu gadis, satpam itu menjauh. Kembali ke tempanya bertugas.
Tanpa melepas kaca mata hitam yang sedang ia kenakan, Nola membaca tulisan di kartu.
“Manis sekali Pengakuan Dosa ini, mengundang makan malam dengan selembar kartu. Ini pasti kerjaannya Araya,” batin Nola.
“Manis sekali Pengakuan Dosa ini, mengundang makan malam dengan selembar kartu. Ini pasti kerjaannya Araya,” batin Nola.
Ia mengulum senyum, “Bilang pak Ujang untuk menyiapkan mobil, saya mau ke salon.” ujarnya kepada salah satu gadis.
Nola beranjak dari kolam renang diikuti satu gadis yang tersisa.
——–
Sial! Sial! Sial!
Petra mondar-mandir di dalam ruangan
kerjanya. Ia baru saja dipanggil oleh pengawas sekolah dasar terkait
dengan adanya isu penyelewengan dana sekolah. Padahal ia kira tak ada
yang tahu kasus itu lagi sebab hal itu sudah lama berlalu. Lalu kenapa sekarang? , erangnya.
Kepalanya masih panas ketika pintunya diketuk dan penjaga sekolahnya muncul, “Ada apa?!” dampratnya.
“Anu, Pak, tadi sewaktu bapak pergi ada, anu, telepon. Katanya dari anu, teman baik bapak, katanya dia mengundang bapak makan malam. Selasa, di anu, Apartemen Latumenten lantai 9 kamar 47c.”
Petra mendengus, “Kamu itu emang nggak bisa ngomong nggak pake anu-anu?”
“Iya, anu, Pak. Eh!”
“Sudah, sudah. Pergi sana. Bisa tambah setres saya dengar kamu ngomong!”
“Anu, Pak, tadi sewaktu bapak pergi ada, anu, telepon. Katanya dari anu, teman baik bapak, katanya dia mengundang bapak makan malam. Selasa, di anu, Apartemen Latumenten lantai 9 kamar 47c.”
Petra mendengus, “Kamu itu emang nggak bisa ngomong nggak pake anu-anu?”
“Iya, anu, Pak. Eh!”
“Sudah, sudah. Pergi sana. Bisa tambah setres saya dengar kamu ngomong!”
Belum sampai di ambang pintu, pak Suar kembali, “Apa lagi, Suuaaaaar?” Petra meradang.
“Anu, Pak, kata teman bapak tadi, bapak jangan sampai tidak datang. Karna ini jamuan makan malam khusus katanya.” Petra mengangguk hanya agar Suar cepat menghilang dari hadapannya.
“Anu, Pak, kata teman bapak tadi, bapak jangan sampai tidak datang. Karna ini jamuan makan malam khusus katanya.” Petra mengangguk hanya agar Suar cepat menghilang dari hadapannya.
Jamuan makan malam khusus? Teman-teman baik?
——–
Selasa pukul 18.00. Ruang makan kamar 47c
Apartemen Latumenten sudah tertata rapi. Tujuh kursi bersandaran tinggi
di susun melingkari sebuah meja persegi panjang.
Di atas meja, piring, serbet, sendok,
pisau dan garpu, gelas-gelas panjang berisi air putih dan gelas cembung
berkaki satu berisi gin tertata rapi. Menu makan malam telah di pesan
dari restoran di bawah, tinggal di hangatkan saja sebelum disajikan
kepada enam tamu undangan.
——–
18:50
Setelah memarkir sepeda motor yang dikendarainya, Freya berjalan santai menuju lobi apartemen. Tangannya asik memutar-mutar kunci, suara gemerincing mengirinya berjalan.
Setelah memarkir sepeda motor yang dikendarainya, Freya berjalan santai menuju lobi apartemen. Tangannya asik memutar-mutar kunci, suara gemerincing mengirinya berjalan.
“Freya!”
Sebuah suara menyapanya. Suara yang tak asing tetapi tidak mungkin suara itu bisa muncul di sini.
“Kak Frey, kita main yuk!”
Wajah Freya kini pucat pasi. Ia berlari
ke setiap sudut tempat parkir, memeriksa dari mana suara Flora berasal.
Suara adik kembarnya yang telah meninggal dua tahun lalu.
“Kak Freyaaaa.”
Tiba-tiba suara Flora menggema. Bersiung
di kupingnya. Freya menutup telinganya rapat-rapat, ia berlari mencari
pintu keluar menuju lobi. Suara Flora yang menanggilnya terus
berdengung. Seolah-olah seluruh dinding di ruangan itu memantulkan
suaranya.
Dalam ketakutannya Freya berlari tak
tentu arah. Ketika, sebuah avanza melaju turun ke tempat parkir dan
menghantam tubuhnya. Ia terpelanting menubruk tembok. Ia merasakan
kepalanya pecah akibat benturan keras tadi.
“Flora,” katanya lemah.
Seluruh tubuhnya terasa kaku. Darah mulai
merembas keluar dari tubuhnya ketika ia memejamkan mata. Keadaanya
persisc sama ketika Flora mengalami kecelakaan karna berusaha kabur
sebab Freya telah menjual adiknya itu pada pengedar narkotik
langganannya dan menukar Flora dengan benda-benda terlarang itu.
——–
19:20
Hinu telah berada di dalam lift menuju lantai sembilan ketika tepat di lantai bernomor tiga masuk seorang perempuan muda. Penghuni apartemen ini, sudah pasti. Sebab ia menggunakan gaun tidur berwarna merah yang agak tembus pandang. Hinu bersiul dalam hati, sementara ia memamerkan senyum terbaiknya pada perempuan tadi.
Hinu telah berada di dalam lift menuju lantai sembilan ketika tepat di lantai bernomor tiga masuk seorang perempuan muda. Penghuni apartemen ini, sudah pasti. Sebab ia menggunakan gaun tidur berwarna merah yang agak tembus pandang. Hinu bersiul dalam hati, sementara ia memamerkan senyum terbaiknya pada perempuan tadi.
“Tinggal di sini juga? Kok nggak pernah
keliatan ya?” Perempuan bergaun merah itu memulai. Ia berdiri sejajar
dengan Hinu setelah memencet angkat 7.
“Iya, cuma jarang menginap di sini. Terlalu jauh.” ujarnya
“Iya, cuma jarang menginap di sini. Terlalu jauh.” ujarnya
Saat denting lift berbunyi pada angka 7,
perempuan itu beranjak. Perlahan. Seolah ia memberi kesan enggan
berpisah dari Hinu. Sesaat sebelum pintu tertutup, perempuan itu
berbalik, mengedipkan matanya pada Hinu dan memanggilnya datang dengan
lambaian tangan.
Sial! Apa itu tadi undangan?
Persetan dengan jamuan makan malam. Hinu menahan pintu lift lalu keluar menyusul perempuan bergaun merah.
Hanya ujung gaunnya yang tertinggal di
kelokan sempat terlihat Hinu. Buru-buru ia mengikuti. Saat Hinu
berbelok, satu pintu kamar tertutup perlahan. Tanpa malu, Hinu menyusul
masuk.
Cahaya temaram menyambutnya. Setelah
matanya terbiasa dengan cahaya minim, Hinu melihat perempuan tadi
berdiri di pinggir beranda. Gaun tidur merah tadi entah ditanggalkannya
di mana.
“Berani sekali kau,” ujar Hinu sembari
mendekat. Tak ada jawaban, selain tubuh si Gadis yang seolah menggeliat
menggoda Hinu. Tak tahan, Hinu menyergap tubuhnya dari belakang.
Ternyata, bayangan tubuh yang ia lihat
tadi hanya boneka. Kendati bingung, Hinu masih sempat mengumpat. Saat ia
ingin berbalik, sebuah tangan mendorongnya ke luar beranda. Tangan
yangg cukup besar untuk seorang perempuan.
Sebuah kliping kertas koran melayang
turun dari lantai 7 apartemen Latumenten. Koran bertanggal 2 Maret 2013
berisi tentang seorang perempuan yang melompat dari lantai teratas pusat
perbelanjaan. Diduga depresi akibat masalah asmara.
——–
19: 40
Vivian baru saja didrop manajernya ketika mobil suami Nola memasuki halaman depan apartemen. Vivian buru-buru menghampiri lalu menyapa Bara. Nola mendengus tidak senang. Ia tahu dalam setiap kesempatan Vivian mencoba menggoda Bara. Nola menarik tangan Vivian agar segera memasuki lobi.
Vivian baru saja didrop manajernya ketika mobil suami Nola memasuki halaman depan apartemen. Vivian buru-buru menghampiri lalu menyapa Bara. Nola mendengus tidak senang. Ia tahu dalam setiap kesempatan Vivian mencoba menggoda Bara. Nola menarik tangan Vivian agar segera memasuki lobi.
“Berhenti mengejar suamiku,” ujar Nola.
“Bukanya Bara itu barang lelang?”
“Maksudmu?” sambar Nola, mereka berhenti tepat di depan lift. Vivian memencet tombol ke lantai atas.
“Ayolah, Nola. Kami semua tahu kamu membunuh istri pertama Bara dan berpura-pura baik di depannya,” ujar Vivian. Wajah Nola memerah mendengarnya. Lift berdenting terbuka, Vivian melangkah masuk di susul Nola.
“Kamu juga sama busuknya denganku. Bukankah kamu juga merusak wajah Dara, model cantik sainganmu itu hingga membuatnya bunuh diri karna depresi. Ingat?”
Ganti Vivian yang terkejut. Sesaat emosi itu hilang, “Tetapi aku tidak menyuruhnya untuk mati bukan? Aku bukan pembunuh, kau iya.” ujarnya enteng.
“Tutup mulutmu!” Nola menerjang Vivian. Keduanya saling menjambak rambut atau apa saja dari tubuh rival mereka. Hingga Nola melihat ada botol-botol di sudut lift yang sempit, yang tadi tidak ia perhatikan. Nola menyambar satu botol, memukul Vivian sekali tepat di belakang kepalanya. Vivian jatuh terhuyung. Ia menyambar satu botol tersisa. Menahan pukulan Nola dengan botol tadi. Botol beradu dengan botol. Pecah berhamburan di lantai. Malang bagi Vivian botol yang diambilnya berisi air keras. Air-air itu kuyup menimpa tubuh. Vivian meraung. Nola panik. Ia melempar sisa pecahan botol begitu saja. Saat lift berdenting terbuka di lantai 9, entah dari mana, seseorang menyulut api dan melemparkannya ke dalam lift.
“Bukanya Bara itu barang lelang?”
“Maksudmu?” sambar Nola, mereka berhenti tepat di depan lift. Vivian memencet tombol ke lantai atas.
“Ayolah, Nola. Kami semua tahu kamu membunuh istri pertama Bara dan berpura-pura baik di depannya,” ujar Vivian. Wajah Nola memerah mendengarnya. Lift berdenting terbuka, Vivian melangkah masuk di susul Nola.
“Kamu juga sama busuknya denganku. Bukankah kamu juga merusak wajah Dara, model cantik sainganmu itu hingga membuatnya bunuh diri karna depresi. Ingat?”
Ganti Vivian yang terkejut. Sesaat emosi itu hilang, “Tetapi aku tidak menyuruhnya untuk mati bukan? Aku bukan pembunuh, kau iya.” ujarnya enteng.
“Tutup mulutmu!” Nola menerjang Vivian. Keduanya saling menjambak rambut atau apa saja dari tubuh rival mereka. Hingga Nola melihat ada botol-botol di sudut lift yang sempit, yang tadi tidak ia perhatikan. Nola menyambar satu botol, memukul Vivian sekali tepat di belakang kepalanya. Vivian jatuh terhuyung. Ia menyambar satu botol tersisa. Menahan pukulan Nola dengan botol tadi. Botol beradu dengan botol. Pecah berhamburan di lantai. Malang bagi Vivian botol yang diambilnya berisi air keras. Air-air itu kuyup menimpa tubuh. Vivian meraung. Nola panik. Ia melempar sisa pecahan botol begitu saja. Saat lift berdenting terbuka di lantai 9, entah dari mana, seseorang menyulut api dan melemparkannya ke dalam lift.
Botol kedua ternyata berisi bensin. Lift berjalan lagi ke lantai atas dengan dua tubuh perempuan terbakar di dalamnya.
——–
19:50
Petra melangkah memasuki lobi apartemen. Mengangguk kepada dua penjaga keamanan. Tersenyum kepada penjaga meja resepsionis, ia langsung menuju lift.
Petra melangkah memasuki lobi apartemen. Mengangguk kepada dua penjaga keamanan. Tersenyum kepada penjaga meja resepsionis, ia langsung menuju lift.
“Apartemen sebagus ini kok lift yang
jalan cuma satu,” gerutunya. Ia lalu berpindah di muka pintu lift
sebelah kiri, menunggu di sana.
Karna sepertinya masih lama, Petra
memutuskan ke toilet terlebih dulu. Tak ada siapa-siapa di dalam sana.
Hening. Sampai-sampai Suara pantofelnya bergaung mememuhi ruang. Petra
menyelesaikan urusannya. Tepat ketika ia mencuci tangan di westafel.
Seseorang menyentuh pundaknya.
“Pak Petra kan?” ujar suara itu. Petra berbalik. Bingung. Ia tak mengenali pria muda di depannya.
“Saya Bagas, murid bapak dulu. Bapak masih jadi kepala sekolah kan?”
Jantung Petra berpacu. Dari semua orang
yang ada di dunia ini, kenapa ia harus bertemu pacar dari siswi yang
hampir memberinya masalah besar.
“Bapak ingat saya kan?” pemuda di
depannya meracau. “Ah, mungkin bapak lupa. Tapi saya masih ingat kok,
bagaimana bapak menghancurkan masa depan Siena.”
Sialan.
“Saya tidak ingat. Mungkin kamu salah orang. Wajah saya memang pasaran.” Petra mencoba melucu sekaligus menjauh dari topik soal Siena. “Saya permisi, saya punya urusan lain di sini.” katanya, berlalu melewati pemuda tadi.
“Tapi saya juga punya urusan sama, Bapak,”
Tak sempat menghindar. Sebuah tembakan meletus dari belakangnya dan menembus kepala. Petra jatuh menggelosor di lantai.
——–
20:05
Ketika pintu lift terbuka di lantai sembilan, Araya berlari kecil mencari kamar 47c. Ia terlambat dan ia benci jadi perusak suasana karna teman-temannya akan menunggunya sebelum memulai makan malam.
Ketika pintu lift terbuka di lantai sembilan, Araya berlari kecil mencari kamar 47c. Ia terlambat dan ia benci jadi perusak suasana karna teman-temannya akan menunggunya sebelum memulai makan malam.
Apa boleh buat, sampai hari ini datang
Araya masih bingung menentukan gaun mana yang akan dia pakai. Gaun yang
akan ia perlihatkan pada Demian. Rona merah bersemu di wajahnya setiap
memikirkan pria itu.
“Dengan tinggi hak kayak gitu, kamu nggak takut jatuh, Ray?”
Araya berhenti. Menyiapkan dirinya sebelum berbalik. Ia hapal betul suara Demian.
“Kamu ngapain di sana?” Araya bertanya.
“Menunggumu.” Jawaban Demian membuat wajah Araya memanas. Ah, andai saja makan malam ini hanya untuk mereka berdua. “Berapa sih nomornya kemarin, kamu ingat?” katanya lagi.
“47c, Dem. Kamu selalu pelupa.” Araya tertawa. Suaranya renyah.
“Menunggumu.” Jawaban Demian membuat wajah Araya memanas. Ah, andai saja makan malam ini hanya untuk mereka berdua. “Berapa sih nomornya kemarin, kamu ingat?” katanya lagi.
“47c, Dem. Kamu selalu pelupa.” Araya tertawa. Suaranya renyah.
Saat mereka menemukan kamar yang dimaksud dan masuk tak ada sambutan dari dalam. Bahkam tak ada siapa-siapa di dalam.
“Mereka makan tanpa menunggu kita,” ujar
Araya sedih. Di meja makan, di lima piring masih tersisa remah-remah
makanan. Isi gelas-gelas tinggal separuh. Hanya dua gelas yang masih
utuh dan piring yang masih menelungkup.
“Aku lapar, kita makan sajalah,” usul
Demian. Ia memaksa Araya duduk dan makan bersama. Benar-benar hanya
mereka berdua. “Makanan ini enak, pantas saja mereka enggan menunggu
kita padahal kita hanya terlambat sedikit,” Demian mengangkat bahu.
“Ini salahku,” ujar Araya.
“Kenapa?” Demian tertarik membahasnya. Araya gelagapan, ia tidak ingin mengatakan bahwa ia terlambat karna bingung menentukan gaun yang akan dikenakannya untuk diperlihatkan pada Demian. Sekarang, Demian bahkan tidak melontarkan pujian apapun tentang penampilannya. Araya kecewa dua kali malam ini.
“Kenapa?” Demian tertarik membahasnya. Araya gelagapan, ia tidak ingin mengatakan bahwa ia terlambat karna bingung menentukan gaun yang akan dikenakannya untuk diperlihatkan pada Demian. Sekarang, Demian bahkan tidak melontarkan pujian apapun tentang penampilannya. Araya kecewa dua kali malam ini.
Selesai makan, keduanya pindah ke ruang
tamu. Araya sedang menyusun bantal-batal sofa ketika Demian muncul
dengan dua cangkir teh hijau hangat. Menyodorkan satu padanya, dan satu
lagi ia sesap sambil berdiri.
Demian tahu, Araya sangat menyukai teh
hijau dan teh hijau hanya enak jika diminum selagi hangat. Demian
memerhatikan gadis itu menyesap tehnya berkali-kali.
“Kamu tahu,” ujar Demian duduk di samping Araya. Gadis itu menoleh, “kesalahanmu cuma satu malam ini.”
Araya mengernyitkan dahi, “Apa?” katanya.
“Jatuh cinta pada iblis.”
Araya mengernyitkan dahi, “Apa?” katanya.
“Jatuh cinta pada iblis.”
Araya merasakan perutnya mual. Mual yang tidak tertahan. Kepalanya pun terasa pening.
“Ternyata benar, kalium sianida akan lebih cepat bereaksi jika dicampur ke dalam air hangat. Tidur yang nyenyak, Araya.”
Demian beranjak. Menutup pintu apartemen perlahan ketika Araya menarik nafas susah payah untuk terakhir kali.
——
Aria
10:29
10:29
Terinspirasi dari cerita 10 anak Negro-nya Agatha Christie (bukan judul bukunya kok itu)
0 comments