#11 Kematian MInggu 11

Kamisan S2 #11 - Kematian: Jamuan Makan Malam

16.53Unknown

Tanpa berpikir panjang Hinu mengizinkan apartemennya digunakan sebagai tempat jamuan makan malam yang akan diadakan oleh Pengakuan Dosa. Toh ia tak selalu menginap di sana, letaknya yang di Barat terlalu jauh untuk selalu pergi-pulang dari kantornya di bilangan Selatan.

Hinu senang-senang saja. Pengakuan Dosa adalah rumah kedua baginya. Di sana ia bisa menceritakan apa saja. Mulai dari kejahilan kecil sampai sesuatu yang layak disebut kejahatan. Tak akan ada yang menghakiminya di sana sebab semua member pun memiliki dosa yang sama dan dengan terang-terangan mengatakannya. Setelah itu, seolah semua dosa mereka telah termaafkan. Ia merasa tenang setiap kali habis bercerita. Mereka bertujuh telah seperti saudara.

——–

Rona merah masih menghiasi wajah Araya ketika gadis itu memutus sambungan telepon. Lelaki yang selama ini disukainya diam-diam, mengundangnya makan malam. Meski tak hanya berdua, tetap saja rona bahagia itu muncul di wajahnya. Dari sekian banyak member di forum Pengakuan Dosa siapa yang menyangka Araya dipilihnya untuk ikut hadir?

Gadis dengan rambut panjang bergelombang itu lalu telah sibuk memilah baju yang akan dipakainya ke jamuan makan malam itu.

——

“Bukan makan malam yang serius kan?” Suara Freya yang serak pecah di udara. Ia baru saja make, menyuntik nadinya sendiri dengan cairan yang–ia sendiri telah berjanji akan menjauhinya.
“Bukan, Frey. Cuma makan lalu mengobrol. Anak-anak yang lain juga datang kok.” Suara dari dalam telepon. Freya mengangguk lalu beberapa saat kemudian ia menutup telepon.

Padahal dalam setiap sesi pengakuan dosa, Freya selalu mengatakan dia menyesal dan akan menjauhi semua barang-barang haram tersebut.

Tentu saja itu omong kosong sebab Freya sendiri tidak sanggup lagi mengatasi kecanduannya. Sampai-sampai ia harus, ah! Freya enggan mengingat semua kejadian buruk itu. Ia kembali membesarkan suara radio yang sempat ia kecilkan karena menerima telepon. Di tengah kebisingan itu, ia meraung sekuat-kuatnya.

——–

Demian memainkan rokok di tangan kanannya. Abu tipis dari sisa rokok yang terbakar itu terbang ke segala arah. Menempel di sofa, sedikit ke atas meja dan lebih banyak ke atas sepatu yang ia kenakan. Tangan kirinya masih menggenggam telepon.

“Ya, di apartemen Latumenten lantai 9 ruang 47c,” katanya. “Kita akan bersenang-senang kan? Tentu, tentu aku akan datang,” katanya lagi.

Pesta. Mana pernah Demian menolaknya. Tanyakan pada semua orang. Di mana ada pesta di situ pasti ada Demian. Tempat di mana ia menjadi pangeran dan dipuja banyak wanita. Namun kali ini ia sudah memilih satu.

——–

“Jadwal gue udah lo susun?” Vivian bertanya pada managernya.
“Udah gue email barusan. Cek aja.” ujar Sang Manajer.

Vivian mengambil ponsel miliknya. Langsung mengklik aplikasi email. Ada dua email baru yang masuk. Satu dari manajernya satu lagi dari Pengakuan Dosa. Vivian mengernyitkan dahi. Rasanya belum pernah forum Pengakuan Dosa yang diikutinya itu mengirim email. Ada apa ya?

Ternyata email itu berisi ajakan makan malam untuk seluruh anggota. Bukan sesuatu yang aneh, katanya dalam hati.

Jamuan makan malam pukul 20:00 pada hari Selasa. Baiklah. Bersedia, Vivian membalas email tersebut.

Sebentar, untuk semua anggota? Kenapa tidak mengirimnya di forum saja? Vivian bertanya ragu, hanya sebentar tapi lalu ia melupakannya begitu saja sebab satu sesi pemotretan lagi telah menuggunya.

——–

Di rumahnya yang megah, Nola asik bersantai di pinggir kolam renang. Dua wanita muda berdiri di kedua sisinya, siap melakukan apa saja yang diminta nyonya baru mereka.

Dani, satpam rumah besar itu tergopoh-gopoh membawa selembar kartu pos yang baru saja tiba,
“Maaf, Bu,” katanya. “Ini ada kartu pos.” Dani menyodorkan kartu pos yang dipegangnya kepada Nola. Setelah menganguk, mengedipkan mata genit kepada salah satu gadis, satpam itu menjauh. Kembali ke tempanya bertugas.

Tanpa melepas kaca mata hitam yang sedang ia kenakan, Nola membaca tulisan di kartu.
“Manis sekali Pengakuan Dosa ini, mengundang makan malam dengan selembar kartu. Ini pasti kerjaannya Araya,” batin Nola.

Ia mengulum senyum, “Bilang pak Ujang untuk menyiapkan mobil, saya mau ke salon.” ujarnya kepada salah satu gadis.

Nola beranjak dari kolam renang diikuti satu gadis yang tersisa.

——–

Sial! Sial! Sial!

Petra mondar-mandir di dalam ruangan kerjanya. Ia baru saja dipanggil oleh pengawas sekolah dasar terkait dengan adanya isu penyelewengan dana sekolah. Padahal ia kira tak ada yang tahu kasus itu lagi sebab hal itu sudah lama berlalu. Lalu kenapa sekarang? , erangnya.

Kepalanya masih panas ketika pintunya diketuk dan penjaga sekolahnya muncul, “Ada apa?!” dampratnya.
“Anu, Pak, tadi sewaktu bapak pergi ada, anu, telepon. Katanya dari anu, teman baik bapak, katanya dia mengundang bapak makan malam. Selasa, di anu, Apartemen Latumenten lantai 9 kamar 47c.”
Petra mendengus, “Kamu itu emang nggak bisa ngomong nggak pake anu-anu?”
“Iya, anu, Pak. Eh!”
“Sudah, sudah. Pergi sana. Bisa tambah setres saya dengar kamu ngomong!”

Belum sampai di ambang pintu, pak Suar kembali, “Apa lagi, Suuaaaaar?” Petra meradang.
“Anu, Pak, kata teman bapak tadi, bapak jangan sampai tidak datang. Karna ini jamuan makan malam khusus katanya.” Petra mengangguk hanya agar Suar cepat menghilang dari hadapannya.

Jamuan makan malam khusus? Teman-teman baik?

——–

Selasa pukul 18.00. Ruang makan kamar 47c Apartemen Latumenten sudah tertata rapi. Tujuh kursi bersandaran tinggi di susun melingkari sebuah meja persegi panjang.

Di atas meja, piring, serbet, sendok, pisau dan garpu, gelas-gelas panjang berisi air putih dan gelas cembung berkaki satu berisi gin tertata rapi. Menu makan malam telah di pesan dari restoran di bawah, tinggal di hangatkan saja sebelum disajikan kepada enam tamu undangan.

——–

18:50
Setelah memarkir sepeda motor yang dikendarainya, Freya berjalan santai menuju lobi apartemen. Tangannya asik memutar-mutar kunci, suara gemerincing mengirinya berjalan.

“Freya!”

Sebuah suara menyapanya. Suara yang tak asing tetapi tidak mungkin suara itu bisa muncul di sini.

“Kak Frey, kita main yuk!”

Wajah Freya kini pucat pasi. Ia berlari ke setiap sudut tempat parkir, memeriksa dari mana suara Flora berasal. Suara adik kembarnya yang telah meninggal dua tahun lalu.

“Kak Freyaaaa.”

Tiba-tiba suara Flora menggema. Bersiung di kupingnya. Freya menutup telinganya rapat-rapat, ia berlari mencari pintu keluar menuju lobi. Suara Flora yang menanggilnya terus berdengung. Seolah-olah seluruh dinding di ruangan itu memantulkan suaranya.

Dalam ketakutannya Freya berlari tak tentu arah. Ketika, sebuah avanza melaju turun ke tempat parkir dan menghantam tubuhnya. Ia terpelanting menubruk tembok. Ia merasakan kepalanya pecah akibat benturan keras tadi.

“Flora,” katanya lemah.

Seluruh tubuhnya terasa kaku. Darah mulai merembas keluar dari tubuhnya ketika ia memejamkan mata. Keadaanya persisc sama ketika Flora mengalami kecelakaan karna berusaha kabur sebab Freya telah menjual adiknya itu pada pengedar narkotik langganannya dan menukar Flora dengan benda-benda terlarang itu.

——–

19:20
Hinu telah berada di dalam lift menuju lantai sembilan ketika tepat di lantai bernomor tiga masuk seorang perempuan muda. Penghuni apartemen ini, sudah pasti. Sebab ia menggunakan gaun tidur berwarna merah yang agak tembus pandang. Hinu bersiul dalam hati, sementara ia memamerkan senyum terbaiknya pada perempuan tadi.

“Tinggal di sini juga? Kok nggak pernah keliatan ya?” Perempuan bergaun merah itu memulai. Ia berdiri sejajar dengan Hinu setelah memencet angkat 7.
“Iya, cuma jarang menginap di sini. Terlalu jauh.” ujarnya

Saat denting lift berbunyi pada angka 7, perempuan itu beranjak. Perlahan. Seolah ia memberi kesan enggan berpisah dari Hinu. Sesaat sebelum pintu tertutup, perempuan itu berbalik, mengedipkan matanya pada Hinu dan memanggilnya datang dengan lambaian tangan.

Sial! Apa itu tadi undangan?

Persetan dengan jamuan makan malam. Hinu menahan pintu lift lalu keluar menyusul perempuan bergaun merah.

Hanya ujung gaunnya yang tertinggal di kelokan sempat terlihat Hinu. Buru-buru ia mengikuti. Saat Hinu berbelok, satu pintu kamar tertutup perlahan. Tanpa malu, Hinu menyusul masuk.

Cahaya temaram menyambutnya. Setelah matanya terbiasa dengan cahaya minim, Hinu melihat perempuan tadi berdiri di pinggir beranda. Gaun tidur merah tadi entah ditanggalkannya di mana.

“Berani sekali kau,” ujar Hinu sembari mendekat. Tak ada jawaban, selain tubuh si Gadis yang seolah menggeliat menggoda Hinu. Tak tahan, Hinu menyergap tubuhnya dari belakang.

Ternyata, bayangan tubuh yang ia lihat tadi hanya boneka. Kendati bingung, Hinu masih sempat mengumpat. Saat ia ingin berbalik, sebuah tangan mendorongnya ke luar beranda. Tangan yangg cukup besar untuk seorang perempuan.

Sebuah kliping kertas koran melayang turun dari lantai 7 apartemen Latumenten. Koran bertanggal 2 Maret 2013 berisi tentang seorang perempuan yang melompat dari lantai teratas pusat perbelanjaan. Diduga depresi akibat masalah asmara.

——–

19: 40
Vivian baru saja didrop manajernya ketika mobil suami Nola memasuki halaman depan apartemen. Vivian buru-buru menghampiri lalu menyapa Bara. Nola mendengus tidak senang. Ia tahu dalam setiap kesempatan Vivian mencoba menggoda Bara. Nola menarik tangan Vivian agar segera memasuki lobi.

“Berhenti mengejar suamiku,” ujar Nola.
“Bukanya Bara itu barang lelang?”
“Maksudmu?” sambar Nola, mereka berhenti tepat di depan lift. Vivian memencet tombol ke lantai atas.
“Ayolah, Nola. Kami semua tahu kamu membunuh istri pertama Bara dan berpura-pura baik di depannya,” ujar Vivian. Wajah Nola memerah mendengarnya. Lift berdenting terbuka, Vivian melangkah masuk di susul Nola.
“Kamu juga sama busuknya denganku. Bukankah kamu juga merusak wajah Dara, model cantik sainganmu itu hingga membuatnya bunuh diri karna depresi. Ingat?”
Ganti Vivian yang terkejut. Sesaat emosi itu hilang, “Tetapi aku tidak menyuruhnya untuk mati bukan? Aku bukan pembunuh, kau iya.” ujarnya enteng.
“Tutup mulutmu!” Nola menerjang Vivian. Keduanya saling menjambak rambut atau apa saja dari tubuh rival mereka. Hingga Nola melihat ada botol-botol di sudut lift yang sempit, yang tadi tidak ia perhatikan. Nola menyambar satu botol, memukul Vivian sekali tepat di belakang kepalanya. Vivian jatuh terhuyung. Ia menyambar satu botol tersisa. Menahan pukulan Nola dengan botol tadi. Botol beradu dengan botol. Pecah berhamburan di lantai. Malang bagi Vivian botol yang diambilnya berisi air keras. Air-air itu kuyup menimpa tubuh. Vivian meraung. Nola panik. Ia melempar sisa pecahan botol begitu saja. Saat lift berdenting terbuka di lantai 9, entah dari mana, seseorang menyulut api dan melemparkannya ke dalam lift.

Botol kedua ternyata berisi bensin. Lift berjalan lagi ke lantai atas dengan dua tubuh perempuan terbakar di dalamnya.

——–

19:50
Petra melangkah memasuki lobi apartemen. Mengangguk kepada dua penjaga keamanan. Tersenyum kepada penjaga meja resepsionis, ia langsung menuju lift.

“Apartemen sebagus ini kok lift yang jalan cuma satu,” gerutunya. Ia lalu berpindah di muka pintu lift sebelah kiri, menunggu di sana.

Karna sepertinya masih lama, Petra memutuskan ke toilet terlebih dulu. Tak ada siapa-siapa di dalam sana. Hening. Sampai-sampai Suara pantofelnya bergaung mememuhi ruang. Petra menyelesaikan urusannya. Tepat ketika ia mencuci tangan di westafel. Seseorang menyentuh pundaknya.

“Pak Petra kan?” ujar suara itu. Petra berbalik. Bingung. Ia tak mengenali pria muda di depannya.
“Saya Bagas, murid bapak dulu. Bapak masih jadi kepala sekolah kan?”

Jantung Petra berpacu. Dari semua orang yang ada di dunia ini, kenapa ia harus bertemu pacar dari siswi yang hampir memberinya masalah besar.

“Bapak ingat saya kan?” pemuda di depannya meracau. “Ah, mungkin bapak lupa. Tapi saya masih ingat kok, bagaimana bapak menghancurkan masa depan Siena.”

Sialan.

“Saya tidak ingat. Mungkin kamu salah orang. Wajah saya memang pasaran.” Petra mencoba melucu sekaligus menjauh dari topik soal Siena. “Saya permisi, saya punya urusan lain di sini.” katanya, berlalu melewati pemuda tadi.

“Tapi saya juga punya urusan sama, Bapak,”

Tak sempat menghindar. Sebuah tembakan meletus dari belakangnya dan menembus kepala. Petra jatuh menggelosor di lantai.

——–

20:05
Ketika pintu lift terbuka di lantai sembilan, Araya berlari kecil mencari kamar 47c. Ia terlambat dan ia benci jadi perusak suasana karna teman-temannya akan menunggunya sebelum memulai makan malam.

Apa boleh buat, sampai hari ini datang Araya masih bingung menentukan gaun mana yang akan dia pakai. Gaun yang akan ia perlihatkan pada Demian. Rona merah bersemu di wajahnya setiap memikirkan pria itu.

“Dengan tinggi hak kayak gitu, kamu nggak takut jatuh, Ray?”

Araya berhenti. Menyiapkan dirinya sebelum berbalik. Ia hapal betul suara Demian.

“Kamu ngapain di sana?” Araya bertanya.
“Menunggumu.” Jawaban Demian membuat wajah Araya memanas. Ah, andai saja makan malam ini hanya untuk mereka berdua. “Berapa sih nomornya kemarin, kamu ingat?” katanya lagi.
“47c, Dem. Kamu selalu pelupa.” Araya tertawa. Suaranya renyah.
Saat mereka menemukan kamar yang dimaksud dan masuk tak ada sambutan dari dalam. Bahkam tak ada siapa-siapa di dalam.
“Mereka makan tanpa menunggu kita,” ujar Araya sedih. Di meja makan, di lima piring masih tersisa remah-remah makanan. Isi gelas-gelas tinggal separuh. Hanya dua gelas yang masih utuh dan piring yang masih menelungkup.
“Aku lapar, kita makan sajalah,” usul Demian. Ia memaksa Araya duduk dan makan bersama. Benar-benar hanya mereka berdua. “Makanan ini enak, pantas saja mereka enggan menunggu kita padahal kita hanya terlambat sedikit,” Demian mengangkat bahu.
“Ini salahku,” ujar Araya.
“Kenapa?” Demian tertarik membahasnya. Araya gelagapan, ia tidak ingin mengatakan bahwa ia terlambat karna bingung menentukan gaun yang akan dikenakannya untuk diperlihatkan pada Demian. Sekarang, Demian bahkan tidak melontarkan pujian apapun tentang penampilannya. Araya kecewa dua kali malam ini.
Selesai makan, keduanya pindah ke ruang tamu. Araya sedang menyusun bantal-batal sofa ketika Demian muncul dengan dua cangkir teh hijau hangat. Menyodorkan satu padanya, dan satu lagi ia sesap sambil berdiri.

Demian tahu, Araya sangat menyukai teh hijau dan teh hijau hanya enak jika diminum selagi hangat. Demian memerhatikan gadis itu menyesap tehnya berkali-kali.

“Kamu tahu,” ujar Demian duduk di samping Araya. Gadis itu menoleh, “kesalahanmu cuma satu malam ini.”
Araya mengernyitkan dahi, “Apa?” katanya.
“Jatuh cinta pada iblis.”
Araya merasakan perutnya mual. Mual yang tidak tertahan. Kepalanya pun terasa pening.
“Ternyata benar, kalium sianida akan lebih cepat bereaksi jika dicampur ke dalam air hangat. Tidur yang nyenyak, Araya.”

Demian beranjak. Menutup pintu apartemen perlahan ketika Araya menarik nafas susah payah untuk terakhir kali.

——

Aria
10:29
Terinspirasi dari cerita 10 anak Negro-nya Agatha Christie (bukan judul bukunya kok itu)

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak