#11 Kematian Davidhukom

Kamisan S2 #11 - Kematian: Lumpur-Lumpur Kampung

16.28Unknown


66

Mereka telah lama tak bertemu, tanpa bertemu muka, atau sekedar sapa di media sosial, yang sedang benar-benar ramai digunakan orang-orang. Tidak di facebook, twitter, path, instagram atau semacamnya. Jangankan itu, bahkan ponsel saja Marto tak akan memilikinya jika bukan istrinya yang membelikan. Jadi Marto benar-benar hilang kontak dengan teman-temannya ketika mereka memutuskan untuk pergi dari kampung kelahirannya menuju kota-kota besar dan penuh pohon besi pencakar langit.

Kini salah satu sahabatnya itu pulang, namanya Jamal. Entah untuk apa, mungkin sekedar pulang untuk melihat makam ibunya yang meninggal malam beberapa hari lalu lantaran sakit yang diderita. Mereka bertemu di pemakaman. Dua sahabat yang sedari kecil saling berbagi bersama, suka maupun sakit. Mencuri mangga pak haji Sulaiman, tawuran antar sekolah, demo massal membela para petani dari cukong tanah juga demo membela bu Sulastri yang pada waktu itu tak mendapat jaminan kesehatan dari kelurahan setempat hanya karena kuran “pelicin”, padahal ia sudah tidak punya apa-apa lagi dan anaknya sedang sakit keras membutuhkan perawatan rumah sakit segera.

Mereka juga bersama berdua saat melamar kerja menjadi buruh di pabrik plastik milik Koh Aceng, “Jam kerjanya tak manusiawi” kata Marto pada waktu itu, datang jam tujuh, pulang jam lima, lalu lanjut lagi jam tujuh malam hingga jam duabelas atau jam satu dan diulang lagi keesokan harinya. Agar dapat gaji serta lemburan yang banyak, memenuhi keinginan belanja seperti hidup orang-orang di kota, berjalan-jalan berkeliling mall, pusat perbelanjaan, berpakaian model terbaru, memiliki gadget mahal, bersenang-senang ketika gajian dan dapat uang lemburan, kemudian kembali menjadi sapi yang hanya diperah susunya keesokan harinya.

“Permintaan pasar sedang naik,” Kata koh Aceng suatu hari, para buruh bekerja keras tanpa istirahat dan hari libur, sampai kemudian Parjo meninggal karena sakit paru-paru, petinggi pabrik datang ke pemakaman, hanya ucapan bela sungkawa yang diterima anak dan istri Parjo. Marto memimpin demo tanpa Jamal, menuntut agar jam kerja dikurangi, upah dinaikkan, namun malah ditangkap aparat. Tak lama pabrik itu tutup, mereka pindah ke kota tempat Jamal disekolahkan, tanpa membayar upah buruh selama dua bulan terakhir. Semua sudah direncanakan, semua sudah disetel, dan berjalan mulus, lancar.

Jamal ikut menghilang ke kota, menikah dengan janda paruh baya, yang usiannya lebih tua beberapa tahun darinya, janda itu adalah anak satu-satunya dari koh Aceng. Dari situ Marto mengaggap Jamal telah “mati”, ia menganggap Jamal sudah bertentangan dengannya, tak lagi sejalan, tak lagi sepemikiran. Sejak itu mereka tidak ada kabar sama sekali, sampai kematian ibundanya membuat Jamal kembali menginjakkan sepatu mahalnya di dataran tanah becek kampung halamannya.

“Berapa tahun?” Marto menyapa kawan di depannya, teman seperjuangan di masa lalu.
“Sudah hampir 10 tahun” Jamal tersenyum, membersikan sepatu pantofel mengkilap miliknya yang sedikit kotor terkena tanah kuburan. Ia kembali memakai kacamatanya, “Ayo kita lanjut di rumah” katanya kemudian.

Mereka berjalan beriringan bersama warga kampung, tak ada suara, tak ada percakapan, hanya suara angin berhembus diselingi dialog-dialog para warga yang mengeluh karena naiknya harga-harga barang. Juga tentang gosip beberapa warga yang sudah meninggalkan kampung, merelakan tanah dan sawah mereka dibeli pengusaha kaya dari kota.

“Kopi hitam? Kental dan tanpa gula?” Jamal tersenyum melihat kawannya itu. Perbedaan mereka benar-benar jauh, Jamal pulang dengan setelan glamour khas orang-orang kota, dengan jas, dan celana pantalon juga mobil mentereng yang diparkir di depan rumah.

Marto menatap sedih kawannya itu, lalu tersenyum hambar, “Boleh, tak kusangka kau masih ingat kesukaan kawanmu ini”

“Tentu saja aku ingat, kau sahabatku, Marto, sampai kapanpun. Sebentar aku buatkan kopimu”

Marto kembali menatap nanar mobil sahabatnya yang ada di halaman rumah, “Kemana kau Jamal? Pergi terlalu jauh hingga mematikan dirimu sendiri? Kemana perginya anarkismu? Bersatu dengan musuh kita semua? Kapitalis? Menjilat pantat pemerintah? Cih!” gumam Marto dalam hatinya.

“Ini, minumlah!” Jamal datang membawa secangkir kopi, membuyarkan lamunan Marto. “Hei Mar aku ingin mengajakmu ke kota” lanjutnya kemudian sambil menyalakan sebatang rokok putih miliknya.

“Wow, kemana kretek kesukaanmu dulu?” Marto tersenyum, miris. “Ke kota? Apa yang akan kulakukan di sana?” lanjutnya sambil ikut membakar rokok putih milik Jamal.

Jamal membuang asap dari dalam paru-parunya mendongakkan kepalanya lalu bersandar santai pada bale-bale rumahnya, “Kretek” katanya lalu tertawa kecil, “Masih Sex Pistols? RATM? AC/DC? Kiss? Misfits? Chumbawamba?” lanjut Jamal, “I’ll Said the sunlight dragged me here!!” ia kemudian bernyanyi menyanyikan salah satu lagu dari band itu, lalu tertawa, “Kenangan yang hebat, Mar, itu masa-masa indah kita, aku tak mungkin lupa” ia tertawa begitu senang, ia kembali menghisap marlboro di tangannya.

Marto tersenyum getir memandang sahabatnya, “Masih, dan sampai mati, Mal” katanya lalu ikut tertawa.

“Sebentar Mar, biar kutebak, jangan bilang kalau bendera Jamaica, lalu poster-poster Che, Castro, Mao, dll masih lengkap di kamarmu!?”

“Masih, Mal, Masih lengkap semua, juga buku-buku komunis, marhaen, sejarah soviet atau siapalah itu masih lengkap semua, harta karun kita, Mal”

Jamal hanya tersenyum pahit, “Itu masa lalu, Mar. Aku kemari hendak menawarimu pekerjaan, bergabung denganku, ada perusahaan yang akan segera berdiri sekitar sini”

“Maksudmu dengan sekitar sini?” Marto terlihat gusar, tak nyaman dengan kata-kata temannya itu. Dahinya berkerut. Menampakkan ketidaksukaannya pada ucapan yang keluar dari mulut yang selama ini dikenalnya sebagai seorang sahabat.

“Ya, aku membeli tanah milik Pak Hamid, Pak Rustam, Pak Malik, dan sawahnya” Jamal kembali menyalakan rokoknya, yang menurut Marto lebih cocok disebut gulungan kertas NCR* ketimbang tembakau, “Aku akan membangun apartemen di sini, berikut pusat perbelanjaan, taman bermain dan hiburan, kalau kau mau, aku bisa menjadikanmu manajer kelak, dan pembagian…”

“Cukup Mal, aku tak ingin mencampur peluh sahabatku dengan darah para petani miskin yang semakin terpojok ke hutan-hutan dan mungkin akan mati berkalang tanah sebelum fajar datang kesekian kali dalam hidupnya” Marto merasakan getir di setiap ucapannya, kalimat yang ia tahan-tahan ia muntahkan dalam beberapa kata sederhana. Ia sudah mencurigai itu semua sejak lama, sejak ada beberapa orang asing yang berpakaian necis, lengkap jas dan kemeja, masuk ke rumah-rumah warga yang dianggap mentereng dan pemilik sawah yg luas. “Aku tak perlu berceramah soal Marx, mengkuliahimu soal Yasraf, Ian Mackeye, atau soal nihilisme Nietszhe, kau sudah paham, semuanya, kau tahu soal filsafat proudhon, atau bagaimana Rage Againts ‘menjual’ El Che, tidak perlu, kau sudah hafal, kita sudah pernah memperbincangkannya bertahun lalu.” Ia meminum kopinya sedikit, lalu membakar rokok kreteknya sendiri, “Kau dan rokok putihmu, juga mercedes dan pantofelmu, seandainya masih juga ingin uangmu menjadi karpet penutup lumpur desa ini, maka aku, Mal. Aku sendiri yang akan pertama kali mengepalkan tangan melawanmu,”

Jamal terdiam cukup lama, memahami kalimat sahabatnya itu, “Mar, aku hanya ingin realistis, kalau kita ingin harapan kita dulu soal mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, terkadang kita juga harus terjun pada lumpur kotor itu bukan?” ia hanya berharap sahabatnya mengerti itu, ia ingin menatap masa depan, bukan masa lalu, sesuatu yang ingin dilupakannya.

Marto tersenyum, ia menatap nanar sahabatnya, “Kukira kau sudah benar-benar mati beberapa tahun lalu, Mal. Saat melihatmu kembali kukira aku salah, ternyata aku benar, kau sudah mati bertahun lalu. Tapi tenanglah Mal, kau tetap sahabatku, seperti juga yang lain, kalian tetap sahabatku. Meski pada akhirnya kita akan bertemu lagi dengan situasi yang berbeda, kau di seberang dan aku tetap di sini. Pukulanku yang bercampur keringat para penentang kapitalis ini bukanlah pukulan kebencian.” Marto beranjak, “Terima kasih kopinya, Mal, kau selalu tahu seleraku. Mungkin kalau kita bertemu lagi kelak, kuharap kita bisa berbincang seperti ini, bukan saling menodongkan senapan” Ia segera berjalan ke pelataran rumah Jamal. “Oh iya” Marto berbalik merogoh sakunya, “Ini untukmu, kau tahu, rokokmu benar-benar seperti sampah” katanya seraya menyodorkan sebungkus kretek yang tersisa miliknya, lalu pergi menemui anak istrinya di rumah.

Jamal terdiam, digenggamnya rokok pemberian sahabatnya. Tangisnya sedikit tertahan, “Mungkin ini yang terakhir kita bertemu, Mar” pikirnya. Sementara ponselnya berdering, telepon dari sekompi aparat yang siap mengusir sekelompok warga dari lahannya. Penggusuran atas nama penertiban. Mungkin ia bisa sedikit lega, atau tak perlu kesal lantaran pantofelnya kotor terkena tanah lumpur di kampungnya akan segera berganti karpet dan porselen murah yang diambil dari luar kota.

*NCR : Kertas tipis yang biasa dipakai untuk nota

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak