
Mereka telah lama tak bertemu, tanpa bertemu muka, atau sekedar sapa
di media sosial, yang sedang benar-benar ramai digunakan orang-orang.
Tidak di facebook, twitter, path, instagram atau semacamnya. Jangankan
itu, bahkan ponsel saja Marto tak akan memilikinya jika bukan istrinya
yang membelikan. Jadi Marto benar-benar hilang kontak dengan
teman-temannya ketika mereka memutuskan untuk pergi dari kampung
kelahirannya menuju kota-kota besar dan penuh pohon besi pencakar
langit.
Kini salah satu sahabatnya itu pulang, namanya Jamal. Entah untuk
apa, mungkin sekedar pulang untuk melihat makam ibunya yang meninggal
malam beberapa hari lalu lantaran sakit yang diderita. Mereka bertemu di
pemakaman. Dua sahabat yang sedari kecil saling berbagi bersama, suka
maupun sakit. Mencuri mangga pak haji Sulaiman, tawuran antar sekolah,
demo massal membela para petani dari cukong tanah juga demo membela bu
Sulastri yang pada waktu itu tak mendapat jaminan kesehatan dari
kelurahan setempat hanya karena kuran “pelicin”, padahal ia sudah tidak
punya apa-apa lagi dan anaknya sedang sakit keras membutuhkan perawatan
rumah sakit segera.
Mereka juga bersama berdua saat melamar kerja menjadi buruh di pabrik
plastik milik Koh Aceng, “Jam kerjanya tak manusiawi” kata Marto pada
waktu itu, datang jam tujuh, pulang jam lima, lalu lanjut lagi jam tujuh
malam hingga jam duabelas atau jam satu dan diulang lagi keesokan
harinya. Agar dapat gaji serta lemburan yang banyak, memenuhi keinginan
belanja seperti hidup orang-orang di kota, berjalan-jalan berkeliling
mall, pusat perbelanjaan, berpakaian model terbaru, memiliki gadget
mahal, bersenang-senang ketika gajian dan dapat uang lemburan, kemudian
kembali menjadi sapi yang hanya diperah susunya keesokan harinya.
“Permintaan pasar sedang naik,” Kata koh Aceng suatu hari, para buruh
bekerja keras tanpa istirahat dan hari libur, sampai kemudian Parjo
meninggal karena sakit paru-paru, petinggi pabrik datang ke pemakaman,
hanya ucapan bela sungkawa yang diterima anak dan istri Parjo. Marto
memimpin demo tanpa Jamal, menuntut agar jam kerja dikurangi, upah
dinaikkan, namun malah ditangkap aparat. Tak lama pabrik itu tutup,
mereka pindah ke kota tempat Jamal disekolahkan, tanpa membayar upah
buruh selama dua bulan terakhir. Semua sudah direncanakan, semua sudah
disetel, dan berjalan mulus, lancar.
Jamal ikut menghilang ke kota, menikah dengan janda paruh baya, yang
usiannya lebih tua beberapa tahun darinya, janda itu adalah anak
satu-satunya dari koh Aceng. Dari situ Marto mengaggap Jamal telah
“mati”, ia menganggap Jamal sudah bertentangan dengannya, tak lagi
sejalan, tak lagi sepemikiran. Sejak itu mereka tidak ada kabar sama
sekali, sampai kematian ibundanya membuat Jamal kembali menginjakkan
sepatu mahalnya di dataran tanah becek kampung halamannya.
“Berapa tahun?” Marto menyapa kawan di depannya, teman seperjuangan di masa lalu.
“Sudah hampir 10 tahun” Jamal tersenyum, membersikan sepatu pantofel
mengkilap miliknya yang sedikit kotor terkena tanah kuburan. Ia kembali
memakai kacamatanya, “Ayo kita lanjut di rumah” katanya kemudian.
Mereka berjalan beriringan bersama warga kampung, tak ada suara, tak
ada percakapan, hanya suara angin berhembus diselingi dialog-dialog para
warga yang mengeluh karena naiknya harga-harga barang. Juga tentang
gosip beberapa warga yang sudah meninggalkan kampung, merelakan tanah
dan sawah mereka dibeli pengusaha kaya dari kota.
“Kopi hitam? Kental dan tanpa gula?” Jamal tersenyum melihat kawannya
itu. Perbedaan mereka benar-benar jauh, Jamal pulang dengan setelan
glamour khas orang-orang kota, dengan jas, dan celana pantalon juga
mobil mentereng yang diparkir di depan rumah.
Marto menatap sedih kawannya itu, lalu tersenyum hambar, “Boleh, tak kusangka kau masih ingat kesukaan kawanmu ini”
“Tentu saja aku ingat, kau sahabatku, Marto, sampai kapanpun. Sebentar aku buatkan kopimu”
Marto kembali menatap nanar mobil sahabatnya yang ada di halaman rumah, “Kemana
kau Jamal? Pergi terlalu jauh hingga mematikan dirimu sendiri? Kemana
perginya anarkismu? Bersatu dengan musuh kita semua? Kapitalis? Menjilat
pantat pemerintah? Cih!” gumam Marto dalam hatinya.
“Ini, minumlah!” Jamal datang membawa secangkir kopi, membuyarkan
lamunan Marto. “Hei Mar aku ingin mengajakmu ke kota” lanjutnya kemudian
sambil menyalakan sebatang rokok putih miliknya.
“Wow, kemana kretek kesukaanmu dulu?” Marto tersenyum, miris. “Ke
kota? Apa yang akan kulakukan di sana?” lanjutnya sambil ikut membakar
rokok putih milik Jamal.
Jamal membuang asap dari dalam paru-parunya mendongakkan kepalanya
lalu bersandar santai pada bale-bale rumahnya, “Kretek” katanya lalu
tertawa kecil, “Masih Sex Pistols? RATM? AC/DC? Kiss? Misfits?
Chumbawamba?” lanjut Jamal, “I’ll Said the sunlight dragged me here!!”
ia kemudian bernyanyi menyanyikan salah satu lagu dari band itu, lalu
tertawa, “Kenangan yang hebat, Mar, itu masa-masa indah kita, aku tak
mungkin lupa” ia tertawa begitu senang, ia kembali menghisap marlboro di
tangannya.
Marto tersenyum getir memandang sahabatnya, “Masih, dan sampai mati, Mal” katanya lalu ikut tertawa.
“Sebentar Mar, biar kutebak, jangan bilang kalau bendera Jamaica,
lalu poster-poster Che, Castro, Mao, dll masih lengkap di kamarmu!?”
“Masih, Mal, Masih lengkap semua, juga buku-buku komunis, marhaen,
sejarah soviet atau siapalah itu masih lengkap semua, harta karun kita,
Mal”
Jamal hanya tersenyum pahit, “Itu masa lalu, Mar. Aku kemari hendak
menawarimu pekerjaan, bergabung denganku, ada perusahaan yang akan
segera berdiri sekitar sini”
“Maksudmu dengan sekitar sini?” Marto terlihat gusar, tak nyaman
dengan kata-kata temannya itu. Dahinya berkerut. Menampakkan
ketidaksukaannya pada ucapan yang keluar dari mulut yang selama ini
dikenalnya sebagai seorang sahabat.
“Ya, aku membeli tanah milik Pak Hamid, Pak Rustam, Pak Malik, dan
sawahnya” Jamal kembali menyalakan rokoknya, yang menurut Marto lebih
cocok disebut gulungan kertas NCR* ketimbang tembakau, “Aku akan
membangun apartemen di sini, berikut pusat perbelanjaan, taman bermain
dan hiburan, kalau kau mau, aku bisa menjadikanmu manajer kelak, dan
pembagian…”
“Cukup Mal, aku tak ingin mencampur peluh sahabatku dengan darah para
petani miskin yang semakin terpojok ke hutan-hutan dan mungkin akan
mati berkalang tanah sebelum fajar datang kesekian kali dalam hidupnya”
Marto merasakan getir di setiap ucapannya, kalimat yang ia tahan-tahan
ia muntahkan dalam beberapa kata sederhana. Ia sudah mencurigai itu
semua sejak lama, sejak ada beberapa orang asing yang berpakaian necis,
lengkap jas dan kemeja, masuk ke rumah-rumah warga yang dianggap
mentereng dan pemilik sawah yg luas. “Aku tak perlu berceramah soal
Marx, mengkuliahimu soal Yasraf, Ian Mackeye, atau soal nihilisme
Nietszhe, kau sudah paham, semuanya, kau tahu soal filsafat proudhon,
atau bagaimana Rage Againts ‘menjual’ El Che, tidak perlu, kau sudah
hafal, kita sudah pernah memperbincangkannya bertahun lalu.” Ia meminum
kopinya sedikit, lalu membakar rokok kreteknya sendiri, “Kau dan rokok
putihmu, juga mercedes dan pantofelmu, seandainya masih juga ingin
uangmu menjadi karpet penutup lumpur desa ini, maka aku, Mal. Aku
sendiri yang akan pertama kali mengepalkan tangan melawanmu,”
Jamal terdiam cukup lama, memahami kalimat sahabatnya itu, “Mar, aku
hanya ingin realistis, kalau kita ingin harapan kita dulu soal mengubah
dunia menjadi tempat yang lebih baik, terkadang kita juga harus terjun
pada lumpur kotor itu bukan?” ia hanya berharap sahabatnya mengerti itu,
ia ingin menatap masa depan, bukan masa lalu, sesuatu yang ingin
dilupakannya.
Marto tersenyum, ia menatap nanar sahabatnya, “Kukira kau sudah
benar-benar mati beberapa tahun lalu, Mal. Saat melihatmu kembali kukira
aku salah, ternyata aku benar, kau sudah mati bertahun lalu. Tapi
tenanglah Mal, kau tetap sahabatku, seperti juga yang lain, kalian tetap
sahabatku. Meski pada akhirnya kita akan bertemu lagi dengan situasi
yang berbeda, kau di seberang dan aku tetap di sini. Pukulanku yang
bercampur keringat para penentang kapitalis ini bukanlah pukulan
kebencian.” Marto beranjak, “Terima kasih kopinya, Mal, kau selalu tahu
seleraku. Mungkin kalau kita bertemu lagi kelak, kuharap kita bisa
berbincang seperti ini, bukan saling menodongkan senapan” Ia segera
berjalan ke pelataran rumah Jamal. “Oh iya” Marto berbalik merogoh
sakunya, “Ini untukmu, kau tahu, rokokmu benar-benar seperti sampah”
katanya seraya menyodorkan sebungkus kretek yang tersisa miliknya, lalu
pergi menemui anak istrinya di rumah.
Jamal terdiam, digenggamnya rokok pemberian sahabatnya. Tangisnya
sedikit tertahan, “Mungkin ini yang terakhir kita bertemu, Mar”
pikirnya. Sementara ponselnya berdering, telepon dari sekompi aparat
yang siap mengusir sekelompok warga dari lahannya. Penggusuran atas nama
penertiban. Mungkin ia bisa sedikit lega, atau tak perlu kesal lantaran
pantofelnya kotor terkena tanah lumpur di kampungnya akan segera
berganti karpet dan porselen murah yang diambil dari luar kota.
*NCR : Kertas tipis yang biasa dipakai untuk nota
0 comments