“Katanya mau mati aja?” tanyanya padaku. Aku diam saja. “Katanya udah
nggak kuat? Udah nggak sanggup lagi tinggal di dunia,” ujarnya dengan
nada sarkatis yang sangat aku hafal. Lagi-lagi aku diam saja. “Katanya
udah nggak rela napas, udah nggak mau lagi lihat hari esok,” lanjutnya
dengan volume suara makin tinggi. Aku tetap diam saja. “Kenapa masih ada
di sini?”
Kupandangi matanya yang menatapku tajam. Tatapan yang membuatku
merasa ditelanjangi. Ditembus sampai dasar tergelap jiwa. Seolah tak ada
celah lagi di kegelapan dimana aku bisa sembunyi dari tatapannya. Dan
aku masih diam.
“Kenapa? Enggak jadi mau mati?” tanyanya. “Berubah pikiran? Ngerasa
enggak siap mati karena dosa kebanyakan? Takut sama neraka? Enggak
berani ngadepin konfrontasi Tuhan?” cerocosnya tanpa berhenti. Aku terus
diam.
“Dasar pengecut! Udah, buruan telan! Cepat telan! Jangan sia-siain
lagi kesempatannya. Kapan lagi kamu dapat alasan tepat buat mati? Kapan
lagi ada waktu yang pas buat mati? Buruan telan!” Dijejalkannya segelas
air putih yang sudah dicampurkan dengan racun itu ke dalam mulutku. Satu
tangan menutup hidung agar aku tak bisa napas dan terpaksa menelan
habis airnya.
“Kamu emang pengecut ya Na! Apapun keputusan yang kamu buat selama
ini, tetep aja harus saya juga yang ngejalanin!” ucapnya setelah air
dalam gelas itu berpindah ke dalam perutku. Aku menunduk.
“Sekarang udah nggak ada lagi alasan buat kamu berubah pikiran.” Mata
kami kembali tabrakan ketika kuangkat kepala. Bibirnya menarik senyum
melihatku seperti ini.
Mulut ini kelu ketika aku ingin membalas ucapannya. Rahangku terasa
kaku. Rasa pusing dan mual mulai ganggu kesadaran. Dan ketika tubuhku
tumbang ke belakang, kulihat tubuhnya juga tumbang ke belakang.
Lalu segalanya mulai hitam.
Dan … hilang.
muf·radAr a tunggal (lawan jamak)(^karena memang, melawan diri sendiri lebih sulit daripada melawan orang lain.)
#kbbi
0 comments