Apalah artinya sebuah derita, bila kau yakin itu pasti akan berlalu…
Suara lembut Utha masih mengalun pelan
dari radio rusak di sudut warung Bu Prapti. malam itu, warung nampak
sepi, hanya beberapa kuli ruko depan tadi yang mampir untuk sekadar
membatalkan puasa. Belakangan ini Bu Prapti memutuskan membuka warungnya
sedari pagi mengingat di proyek pembangunan ruko seberang jalan samping
sekolah itu ada pekerja-pekerja yang suatu sore minta dibuatkan sahur
sekalian, Bu Prapti memutuskan daripada cuma membuatkan sahur sekalian
buka saja, toh masjid untuk sholat subuh lokasinya tak terlalu jauh dari
warung, lagipula anaknya bisa berangkat sekolah bareng bapaknya.
Beberapa menit lalu radio itu masih memutar lagu-lagu keroncong lawas
dari stasiun siar KDS 8 fm. Ketika Bu Prapti sedang berleha-leha
menikmati suara syahdu Sundari Soekotjo, tiba-tiba dikejutkan dengan
lagu dari Utha Likumahuwa tadi. ia terbangun melihat siapa yang
berani-beraninya mengganti frekuensi siaran radio favoritnya.
“Oalah kamu toh Her, sudah itu ngapain
diganti! Lagu enak-enak kok,” Bu Prapti terbangun, sambil mengomel, lalu
merapikan rambutnya sejenak sembari berjalan menuju penyimpanan gelas,
kopi hitam kental tak terlalu manis, ia sudah hafal mati minuman
kesukaan Heru.
Heru cengengesan melihat Bu Prapti mengomel, “Bosen Bu, tiap siang kok ya campursari keroncong terus, hambok sekali-sekali lagu pop gini,biar gaul.” tangannya mencomot pisang goreng di depannya.
“Oalah Her, baru mau leyeh-leyeh sebentar
kamu itu rusuh saja,” Bu Prapti meletakkan secangkir kopi panas di
meja, “Kamu itu ndak tarawih opo Her? Jam segini kok sudah di warung.”
Bu Prapti masih tidak terima acara radio favoritnya diganti oleh Heru,
lagipula Heru biasa datang selepas maghrib atau isya.
“Sudah pulang, Bu. Lagi libur,” Heru
meminum kopi di depannya, lalu menyalakan rokok yang daritadi diapit
dengan kedua jari, “Nggak libur sih, sebenarnya, cuma karena nggak
imamnya lagi ngebut, ya tak tinggal pulang.”
“Ohh cah pekok, eh gimana Endang? Dia
pulang nggak lebaran ini?” Bu Prapti duduk di samping Heru, sejenak
kemudian dua orang pengunjung datang memesan kopi dan teh hangat.
Heru terdiam, dihembuskannya asap rokok
yang ditahannya, pelan dan panjang, seolah masalah hidupnya tak kalah
panjang dengan asap yang baru memenuhi paru-parunya, sama sesaknya, tapi
beda perihnya, “Buk, bukannya dulu bapak itu jarang banget pulang ya?”
Matanya tak memandang Bu Prapti.
“Bapak itu dulu pulangnya paling cepat
setahun sekali, paling lama bisa tiga sampai lima tahun sekali,” Bu
Prapti kembali duduk, ia meminum teh yang sudah mendingin. “Bapak dulu
merantau kemana-mana, 15 tahun lebih, pulang jarang-jarang tapi kirim
uang rutin tiap bulan ya biarpun seringnya masih kurang.”
“Kok betah sih, Buk? Ditinggal jauh
gitu?” Heru memandang wajah tua di depannya, pemilik wajah itu yang dulu
pernah menggendongnya, merawatnya, meredakan tangisnya waktu ibunya
sakit keras lalu berpulang pada Gusti Allah saat dia masih umur tujuh
tahun. Saat itu bulan ramadhan seperti sekarang. Sosok tua di depannya
itu pula yang beberapa tahun sebelumnya adalah yang menenangkan ibunya
dulu saat Hendro ayahnya pulang tinggal jasadnya saja yang diantar oleh
Pakdhe Jarwo, Ayahnya meninggal dengan dada dan kaki tertembus tiga
peluru lantaran membela petani-petani miskin yang tanahnya mau digusur
oleh buldozer kiriman pengusaha-pengusaha yang mengatasnamakan
kesejahteraan mendirikan bank desa yang bunganya mencekik warga. Saat
itu juga bulan ramadhan. Kini wajah itu tampak keriput-keriputnya,
rambut putih juga sudah mulai nampak di sela-sela rambut hitam yang
mulai memudar karena sering tersengat sinar matahari. Sorot matanya
sudah nampak begitu menggambarkan lelahnya mengecap pahit manisnya
hidup.
“Lha gimana, kalau tak bilang cinta, kamu bilang sinetron” Bu Prapti tertawa.
“Hahahaha, ya nggak buk, maksud saya itu, biarpun cinta, tapi kok mau-maunya itu lho”
Bu Prapti tersenyum mendengar pertanyaan Heru.
***
“Saya itu cinta kamu, sudah, itu saja” lelaki itu kemudian tertunduk,
entah malu-malu, atau aura wanita di depannya terlallu kuat. Yang jelas,
lelaki itu sudah benar-benar nekat melamar anak demang satu-satunya
ini.
“Kamu bilang ke bapakku” Gadis itu
memainkan rambutnya dan tersenyum, senyum yang nampak begitu manis,
senyum yang membuat malam-malam si lelaki di depannya itu kelabakan dan
tak bisa tidur malam hari.
“Nanti malam Prap, Saya yang datang sama
Jarwo sama Paklik Dasuki ke rumahmu,” Lelaki itu memegang tangan si
gadis, matanya berbinar-binar, kalimat yang keluar dari mulutnya
terdengar tegas dan penuh keyakinan. “Saya akan melamar kamu, menikahi
kamu,” katanya mantap, lalu tersenyum.
Malam itu bertiga mereka datang ke rumah
pak Demang, di sana keyakinan lelaki itu didera cobaan yang datang
bertubi-tubi, cinta mereka tak direstui, Prapti sudah dijdohkan, Ruslan
panas hatinya, nasehat dari Jarwo dan Pak Dasuki tak lagi didengarnya.
Mereka berdua lari ke Kalimantan, menikah di sana. Sampai saat itu restu
belum juga datang dari orang tua Prapti. Hidup susah senang mereka
alami berdua, mulai masalah Ruslan digoda perempuan di tempat kerjanya,
Prapti yang didekati oleh pengusaha tambang samping kontrakan, keuangan
yang sering berbelit, hingga hampir diusir karena telat bayar kontrakan.
Selang beberapa tahun mereka dikaruniai seorang anak akhirnya orang tua
Prapti mengalah, ia memberikan restunya.
***
Hai nona manis, biarkanlah bumi berputar, menurut kehendak yang kuasa…
Terlihat bening air hampir menetes di
mata Bu Prapti, ia buru-buru mengusapnya, “Sudah begitu mosok ya saya
ndak sayang gimana toh Her” ia tersenyum memandang Heru.
“Iya ya, Bu” Heru menjawab pendek, matanya berkabut.
Ada sesuatu yang sangat mengganjal di
hatinya. Berita dari Endang beberapa hari yang lalu sebelum berangkat
bersama keluarganya ke Jawa Tengah. Kabar yang sampai-sampai membuat
Heru ingin berangkat menyusul mereka.
Sejenak kemudian datang Pakdhe Jarwo, Bu
Prapti langsung saja bergerak membuatkan kopi, sembari melayani beberapa
pembeli yang pulang dan baru saja datang.
“Lho Her, kamu di sini, tak cari-cari
tadi buka puasa di mesjid tak kira masih tidur,” Pakdhe Jarwo merogoh
sakunya mengeluarkan sebungkus kretek, mengambilnya sebatang lalu
meletakkan sisanya di meja. “Kok mukamu ditekuk gitu ada masalah apa?”
Tanya pakdhe jarwo seraya meminum kopi yang dihidangkan Bu Prapti.
“Ndak tahu itu Pakdhe daritadi kayak orang owah gitu” sahut Bu Prapti tersenyum geli
“Endang dijodohkan pakdhe…” Heru menjawab pelan, singkat, ia kembali menghembuskan asap rokoknya.
“Hee?” Pakdhe Jarwo kaget, ia seperti tak percaya telinganya, mencoba meyakinkannya lagi.
Sudah sebulan Endang pergi ke Jawa
Tengah, semua baik-baik saja, Heru sendiri mengira pasti sedang
berkunjung ke saudaranya yang di sana, karena mereka pergi sekeluarga.
Hingga akhirnya seminggu terakhir, Endang menelponnya, dengan terisak ia
menceritakan peristiwa perjodohan itu, ia dijodohkan dengan pengusaha
meubel di sana. Heru marah, ia sakit, kesal, sedih, bercampur menjadi
satu di hatinya, pikirannya berkecamuk tak tahu yang bakal dilakukan
selanjutnya. Hampir saja ia menyusul ke sana, kalau tidak ditahan teman
sekamarnya.
“Maaf mas, bukannya ndak mau memperjuangkan kita, tapi…” kata Endang saat itu di telepon sembari terisak, menangis.
“Iya, Ndang, iya, aku ngerti, aku paham
keinginan bapakmu, bahagialah Ndang doaku menyertaimu” Jawab Heru,
datar, menyembunyikan kegundahan dan getir dalam hatinya.
Pakdhe Jarwo mendengarkannya dengan
khidmat, begitu pula Bu Prapti. Ada duka mendalam di setiap kata-kata
yang terlontar dari mulut Heru, ada amis luka yang masih sangat baru,
belum mengering. Pakdhe Jarwo mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami
yang dirasakan oleh Heru.
“Gini Her, memang susah memahami orang
tua, mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, padahal
kebahagiaan itu sifatnya subyektif, yang membahagiakan buat si Kusno
misalnya belum tentu juga membahagiakan buat Karjo, demikian pula
sebaliknya. Bisa saja Kusno bisa berbahagia meski dengan secangkir kopi
dan kretek juga gorengan, tapi Karjo yang seorang hedonis sejati
berpendapat esensi kebahagiaan itu hanya bisa didapat dengan memenuhi
keinginan-keinginan dan kesenangan seperti harta yang melimpah, mobil,
wanita dan lain-lain, nah begitu juga deng,,,”
“Jauh banget toh pakdhe, saya saja ndak
ngerti..” Bu Prapti memotong begitu saja ucapan Pakdhe Jarwo yang sukar
dicernanya, dahinya berkerut.
“Iya Pakdhe, kejauhan. Saya malah pusing” Wajah Heru berkerut kebingungan.
“Hahahaha, gini, maksudku. Seringkali
orang tua memaksakan apa yang dianggapnya membawa kebahagiaan bagi si
anak, tanpa kompromi atau dialog terlebih dahulu dengan yang
bersangkutan, seperti pak Darsono yang tiba-tiba menjodohkan Endang.
Jika nanti andai Endang tidak berbahagia atau malah menderita maka yang
merasakan ya Endang bukan Pak Darsono.”
“Ah Pakdhe ini makin bikin galau je”
“Bagusnya kamu bilang sama Endang,
dipikir-pikir dulu yang matang jangan ditelan mentah-mentah perintah
bapaknya. Diajak dialog dulu, ngobrol, ini bukan jaman dulu yang apa-apa
biar orang tua yang mencarikan. Bu Prapti saja dulu berani melawan arus
kok, Iya toh Bu?”
Ditanya begitu Bu Prapti hanya tersenyum
mengangguk. Bukan keinginannya untuk melawan orang tua, tapi memang
benar yang diucapkan Pakdhe Jarwo bahwa bahagia itu kita sendiri yang
menentukan. Meski harus luka berdarah-darah mencarinya, atau bahkan mati
dalam pencarian itu masih lebih baik ketimbang memendam lukanya dalam
dendam dan amarah yang tak sudah-sudah dan berujung pada penyesalan.
“Lha terus saya harus gimana Pakdhe?”
“Ya kamu koreksi diri juga, apapun
keputusan yang diambil Endang, yang berhubungan dengan kamu atau saranmu
itu berarti kamu turut bertanggung jawab, dan menerima apapun
resikonya, misalnya kalau Endang memutuskan untuk lari menemui kamu atau
memilih menerima saja semuanya, kamu pahami resikonya masing-masing
untuk mengambil langkah selanjutnya.”
“Endang sudah memutuskan untuk menuruti orang tuanya kok, Dhe”
“Berarti kamu yang legowo, yang sabar,
menerima itu memang tidak mudah, tapi kamu yakin saja, kalau memang ini
jalannya dari Gusti Allah, itu pasti yang terbaik, untuk kamu, Endang,
Pak Darsono, juga calonnya itu. Memang klise Her, bahwa cinta itu ndak
harus memiliki, itu omong kosong seperti itu. Mangkanya untuk menerima
yang seperti itu, kamu harus mengikis cintamu itu perlahan, meski sakit.
Seseorang itu bisa karena terbiasa ko Her, lama kelamaan kamu pasti
mengerti maksud Gusti Allah itu apa, memang kalau ndak sama Endang
hidupmu berhenti opo? Masih lanjut kan? Terus kayak Erna, Lastri, dan
teman-temannya itu kamu kira bukan cewek? Yang kuat Her, kamu laki-laki,
harus yang kuat.”
Nasehat Pakdhe Jarwo yang panjang lebar
itu sedikit mendinginkan hari Heru, “Iya Pakdhe, sudah agak lega ini” ia
menghela nafas panjang, lalu tersenyum.
Pakdhe Jarwo dan Bu Prapti ikut
tersenyum, “Memang susah Her memaafkan dan berdamai dengan keadaan yang
seringkali tak sesuai dengan keinginan kita, susah. Pakdhe sudah sering
merasakannya,” kali ini ada getir yang ikut keluar dari kalimat Pakdhe
Jarwo, “Tapi ya piye” ia tersenyum, “Yang tidak bisa kita paksa ubah ya
terima saja toh? Lagipula Gusti Allah sendiri yang bilang hidup itu
hanya senda gurau. Kita saja yang seringkali bergerak, berputar, lari
menjalani hidup ini seakan-akan hal yang sangat, harus, kita pertahankan
mati-matian. Terkadang ya Her, yang kita lakukan cuma perlu duduk,
merenung, menenggelamkan diri dalam sunyi. Agar kita bisa lihat yang
mana yang jernih, mana yang suram, kayak mukamu ini, hahahaha”
“Halah, pakdhe ini orang patah hati masih dibercandain lho” Heru melengos saja menanggapi kalimat terakhir Pakdhe Jarwo.
Pakdhe Jarwo lalu mengambil sesuatu dari
bawah meja, “Sudah, ayo sini, roko sebungkus lah” katanya sambil menata
papan catur di atas bangku.
“Lho masih berani toh Pakdhe?” Tanya Heru sambil mengejek.
“Daripada kamu galau gak jelas cuma habis-habisin kopi sama rokoknya Bu Prapti mending sini taruhan sama Pakdhe”
Bu Prapti hanya menahan tawa melihat
kelakuan mereka, ia lega, paling tidak Pakdhe Jarwo sudah sedikit
mendinginkan hati Heru, ia juga lega, keputusannya dulu ternyata tidak
hanya diamini oleh mereka berdua saja tapi juga sahabat-sahabatnya.
“Pakdhe, kalau memang hidup itu senda gurau, terus ngapain kita hidup?” Heru kembali membuka percakapan.
“Hehehehe, untuk ‘Pulang’ Her, kita pergi sejatinya cuma untuk kembali. Skak!” Jawab Pakdhe singkat saja.
“Halah hasemm, curang! Maksudnya gimana Dhe?”
“Kapan-kapan kita bahas, sekarang kamu ambilkan dulu rokoknya, sudah skak ster ini, hahahaha”
“Prek! Curang!” kata Heru tak terima kekalahannya sendiri.
Sementara malam makin larut, dan radio
tua itu kembali memutar lagu yang sama seperti tadi, Bu Prapti diam-diam
mulai menikmati lagu yang didengarnya.
Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat tapi takdirpun tak mungkin selalu sama…
Coba-cobalah tinggalkan sejenak anganmu, esokkan masih ada…
0 comments