#09 Pulang Davidhukom

kamisan S2 #9 - Pulang: Tentang Kabar Luka dan Cerita Kepulangan

13.13Unknown


Perjalanan

Apalah artinya sebuah derita, bila kau yakin itu pasti akan berlalu…

Suara lembut Utha masih mengalun pelan dari radio rusak di sudut warung Bu Prapti. malam itu, warung nampak sepi, hanya beberapa kuli ruko depan tadi yang mampir untuk sekadar membatalkan puasa. Belakangan ini Bu Prapti memutuskan membuka warungnya sedari pagi mengingat di proyek pembangunan ruko seberang jalan samping sekolah itu ada pekerja-pekerja yang suatu sore minta dibuatkan sahur sekalian, Bu Prapti memutuskan daripada cuma membuatkan sahur sekalian buka saja, toh masjid untuk sholat subuh lokasinya tak terlalu jauh dari warung, lagipula anaknya bisa berangkat sekolah bareng bapaknya. Beberapa menit lalu radio itu masih memutar lagu-lagu keroncong lawas dari stasiun siar KDS 8 fm. Ketika Bu Prapti sedang berleha-leha menikmati suara syahdu Sundari Soekotjo, tiba-tiba dikejutkan dengan lagu dari Utha Likumahuwa tadi. ia terbangun melihat siapa yang berani-beraninya mengganti frekuensi siaran radio favoritnya.

“Oalah kamu toh Her, sudah itu ngapain diganti! Lagu enak-enak kok,” Bu Prapti terbangun, sambil mengomel, lalu merapikan rambutnya sejenak sembari berjalan menuju penyimpanan gelas, kopi hitam kental tak terlalu manis, ia sudah hafal mati minuman kesukaan Heru.

Heru cengengesan melihat Bu Prapti mengomel, “Bosen Bu, tiap siang kok ya campursari keroncong terus, hambok sekali-sekali lagu pop gini,biar gaul.” tangannya mencomot pisang goreng di depannya.

“Oalah Her, baru mau leyeh-leyeh sebentar kamu itu rusuh saja,” Bu Prapti meletakkan secangkir kopi panas di meja, “Kamu itu ndak tarawih opo Her? Jam segini kok sudah di warung.” Bu Prapti masih tidak terima acara radio favoritnya diganti oleh Heru, lagipula Heru biasa datang selepas maghrib atau isya.

“Sudah pulang, Bu. Lagi libur,” Heru meminum kopi di depannya, lalu menyalakan rokok yang daritadi diapit dengan kedua jari, “Nggak libur sih, sebenarnya, cuma karena nggak imamnya lagi ngebut, ya tak tinggal pulang.”

“Ohh cah pekok, eh gimana Endang? Dia pulang nggak lebaran ini?” Bu Prapti duduk di samping Heru, sejenak kemudian dua orang pengunjung datang memesan kopi dan teh hangat.

Heru terdiam, dihembuskannya asap rokok yang ditahannya, pelan dan panjang, seolah masalah hidupnya tak kalah panjang dengan asap yang baru memenuhi paru-parunya, sama sesaknya, tapi beda perihnya, “Buk, bukannya dulu bapak itu jarang banget pulang ya?” Matanya tak memandang Bu Prapti.

“Bapak itu dulu pulangnya paling cepat setahun sekali, paling lama bisa tiga sampai lima tahun sekali,” Bu Prapti kembali duduk, ia meminum teh yang sudah mendingin. “Bapak dulu merantau kemana-mana, 15 tahun lebih, pulang jarang-jarang tapi kirim uang rutin tiap bulan ya biarpun seringnya masih kurang.”

“Kok betah sih, Buk? Ditinggal jauh gitu?” Heru memandang wajah tua di depannya, pemilik wajah itu yang dulu pernah menggendongnya, merawatnya, meredakan tangisnya waktu ibunya sakit keras lalu berpulang pada Gusti Allah saat dia masih umur tujuh tahun. Saat itu bulan ramadhan seperti sekarang. Sosok tua di depannya itu pula yang beberapa tahun sebelumnya adalah yang menenangkan ibunya dulu saat Hendro ayahnya pulang tinggal jasadnya saja yang diantar oleh Pakdhe Jarwo, Ayahnya meninggal dengan dada dan kaki tertembus tiga peluru lantaran membela petani-petani miskin yang tanahnya mau digusur oleh buldozer kiriman pengusaha-pengusaha yang mengatasnamakan kesejahteraan mendirikan bank desa yang bunganya mencekik warga. Saat itu juga bulan ramadhan. Kini wajah itu tampak keriput-keriputnya, rambut putih juga sudah mulai nampak di sela-sela rambut hitam yang mulai memudar karena sering tersengat sinar matahari. Sorot matanya sudah nampak begitu menggambarkan lelahnya mengecap pahit manisnya hidup.

“Lha gimana, kalau tak bilang cinta, kamu bilang sinetron” Bu Prapti tertawa.

“Hahahaha, ya nggak buk, maksud saya itu, biarpun cinta, tapi kok mau-maunya itu lho”

Bu Prapti tersenyum mendengar pertanyaan Heru.

***
“Saya itu cinta kamu, sudah, itu saja” lelaki itu kemudian tertunduk, entah malu-malu, atau aura wanita di depannya terlallu kuat. Yang jelas, lelaki itu sudah benar-benar nekat melamar anak demang satu-satunya ini.

“Kamu bilang ke bapakku” Gadis itu memainkan rambutnya dan tersenyum, senyum yang nampak begitu manis, senyum yang membuat malam-malam si lelaki di depannya itu kelabakan dan tak bisa tidur malam hari.

“Nanti malam Prap, Saya yang datang sama Jarwo sama Paklik Dasuki ke rumahmu,” Lelaki itu memegang tangan si gadis, matanya berbinar-binar, kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar tegas dan penuh keyakinan. “Saya akan melamar kamu, menikahi kamu,” katanya mantap, lalu tersenyum.

Malam itu bertiga mereka datang ke rumah pak Demang, di sana keyakinan lelaki itu didera cobaan yang datang bertubi-tubi, cinta mereka tak direstui, Prapti sudah dijdohkan, Ruslan panas hatinya, nasehat dari Jarwo dan Pak Dasuki tak lagi didengarnya. Mereka berdua lari ke Kalimantan, menikah di sana. Sampai saat itu restu belum juga datang dari orang tua Prapti. Hidup susah senang mereka alami berdua, mulai masalah Ruslan digoda perempuan di tempat kerjanya, Prapti yang didekati oleh pengusaha tambang samping kontrakan, keuangan yang sering berbelit, hingga hampir diusir karena telat bayar kontrakan. Selang beberapa tahun mereka dikaruniai seorang anak akhirnya orang tua Prapti mengalah, ia memberikan restunya.

***

Hai nona manis, biarkanlah bumi berputar, menurut kehendak yang kuasa…

Terlihat bening air hampir menetes di mata Bu Prapti, ia buru-buru mengusapnya, “Sudah begitu mosok ya saya ndak sayang gimana toh Her” ia tersenyum memandang Heru.

“Iya ya, Bu” Heru menjawab pendek, matanya berkabut.

Ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya. Berita dari Endang beberapa hari yang lalu sebelum berangkat bersama keluarganya ke Jawa Tengah. Kabar yang sampai-sampai membuat Heru ingin berangkat menyusul mereka.

Sejenak kemudian datang Pakdhe Jarwo, Bu Prapti langsung saja bergerak membuatkan kopi, sembari melayani beberapa pembeli yang pulang dan baru saja datang.

“Lho Her, kamu di sini, tak cari-cari tadi buka puasa di mesjid tak kira masih tidur,” Pakdhe Jarwo merogoh sakunya mengeluarkan sebungkus kretek, mengambilnya sebatang lalu meletakkan sisanya di meja. “Kok mukamu ditekuk gitu ada masalah apa?” Tanya pakdhe jarwo seraya meminum kopi yang dihidangkan Bu Prapti.

“Ndak tahu itu Pakdhe daritadi kayak orang owah gitu” sahut Bu Prapti tersenyum geli

“Endang dijodohkan pakdhe…” Heru menjawab pelan, singkat, ia kembali menghembuskan asap rokoknya.

“Hee?” Pakdhe Jarwo kaget, ia seperti tak percaya telinganya, mencoba meyakinkannya lagi.

Sudah sebulan Endang pergi ke Jawa Tengah, semua baik-baik saja, Heru sendiri mengira pasti sedang berkunjung ke saudaranya yang di sana, karena mereka pergi sekeluarga. Hingga akhirnya seminggu terakhir, Endang menelponnya, dengan terisak ia menceritakan peristiwa perjodohan itu, ia dijodohkan dengan pengusaha meubel di sana. Heru marah, ia sakit, kesal, sedih, bercampur menjadi satu di hatinya, pikirannya berkecamuk tak tahu yang bakal dilakukan selanjutnya. Hampir saja ia menyusul ke sana, kalau tidak ditahan teman sekamarnya.

“Maaf mas, bukannya ndak mau memperjuangkan kita, tapi…” kata Endang saat itu di telepon sembari terisak, menangis.

“Iya, Ndang, iya, aku ngerti, aku paham keinginan bapakmu, bahagialah Ndang doaku menyertaimu” Jawab Heru, datar, menyembunyikan kegundahan dan getir dalam hatinya.

Pakdhe Jarwo mendengarkannya dengan khidmat, begitu pula Bu Prapti. Ada duka mendalam di setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Heru, ada amis luka yang masih sangat baru, belum mengering. Pakdhe Jarwo mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami yang dirasakan oleh Heru.

“Gini Her, memang susah memahami orang tua, mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, padahal kebahagiaan itu sifatnya subyektif, yang membahagiakan buat si Kusno misalnya belum tentu juga membahagiakan buat Karjo, demikian pula sebaliknya. Bisa saja Kusno bisa berbahagia meski dengan secangkir kopi dan kretek juga gorengan, tapi Karjo yang seorang hedonis sejati berpendapat esensi kebahagiaan itu hanya bisa didapat dengan memenuhi keinginan-keinginan dan kesenangan seperti harta yang melimpah, mobil, wanita dan lain-lain, nah begitu juga deng,,,”

“Jauh banget toh pakdhe, saya saja ndak ngerti..” Bu Prapti memotong begitu saja ucapan Pakdhe Jarwo yang sukar dicernanya, dahinya berkerut.

“Iya Pakdhe, kejauhan. Saya malah pusing” Wajah Heru berkerut kebingungan.

“Hahahaha, gini, maksudku. Seringkali orang tua memaksakan apa yang dianggapnya membawa kebahagiaan bagi si anak, tanpa kompromi atau dialog terlebih dahulu dengan yang bersangkutan, seperti pak Darsono yang tiba-tiba menjodohkan Endang. Jika nanti andai Endang tidak berbahagia atau malah menderita maka yang merasakan ya Endang bukan Pak Darsono.”

“Ah Pakdhe ini makin bikin galau je”

“Bagusnya kamu bilang sama Endang, dipikir-pikir dulu yang matang jangan ditelan mentah-mentah perintah bapaknya. Diajak dialog dulu, ngobrol, ini bukan jaman dulu yang apa-apa biar orang tua yang mencarikan. Bu Prapti saja dulu berani melawan arus kok, Iya toh Bu?”

Ditanya begitu Bu Prapti hanya tersenyum mengangguk. Bukan keinginannya untuk melawan orang tua, tapi memang benar yang diucapkan Pakdhe Jarwo bahwa bahagia itu kita sendiri yang menentukan. Meski harus luka berdarah-darah mencarinya, atau bahkan mati dalam pencarian itu masih lebih baik ketimbang memendam lukanya dalam dendam dan amarah yang tak sudah-sudah dan berujung pada penyesalan.

“Lha terus saya harus gimana Pakdhe?”

“Ya kamu koreksi diri juga, apapun keputusan yang diambil Endang, yang berhubungan dengan kamu atau saranmu itu berarti kamu turut bertanggung jawab, dan menerima apapun resikonya, misalnya kalau Endang memutuskan untuk lari menemui kamu atau memilih menerima saja semuanya, kamu pahami resikonya masing-masing untuk mengambil langkah selanjutnya.”

“Endang sudah memutuskan untuk menuruti orang tuanya kok, Dhe”

“Berarti kamu yang legowo, yang sabar, menerima itu memang tidak mudah, tapi kamu yakin saja, kalau memang ini jalannya dari Gusti Allah, itu pasti yang terbaik, untuk kamu, Endang, Pak Darsono, juga calonnya itu. Memang klise Her, bahwa cinta itu ndak harus memiliki, itu omong kosong seperti itu. Mangkanya untuk menerima yang seperti itu, kamu harus mengikis cintamu itu perlahan, meski sakit. Seseorang itu bisa karena terbiasa ko Her, lama kelamaan kamu pasti mengerti maksud Gusti Allah itu apa, memang kalau ndak sama Endang hidupmu berhenti opo? Masih lanjut kan? Terus kayak Erna, Lastri, dan teman-temannya itu kamu kira bukan cewek? Yang kuat Her, kamu laki-laki, harus yang kuat.”

Nasehat Pakdhe Jarwo yang panjang lebar itu sedikit mendinginkan hari Heru, “Iya Pakdhe, sudah agak lega ini” ia menghela nafas panjang, lalu tersenyum.

Pakdhe Jarwo dan Bu Prapti ikut tersenyum, “Memang susah Her memaafkan dan berdamai dengan keadaan yang seringkali tak sesuai dengan keinginan kita, susah. Pakdhe sudah sering merasakannya,” kali ini ada getir yang ikut keluar dari kalimat Pakdhe Jarwo, “Tapi ya piye” ia tersenyum, “Yang tidak bisa kita paksa ubah ya terima saja toh? Lagipula Gusti Allah sendiri yang bilang hidup itu hanya senda gurau. Kita saja yang seringkali bergerak, berputar, lari menjalani hidup ini seakan-akan hal yang sangat, harus, kita pertahankan mati-matian. Terkadang ya Her, yang kita lakukan cuma perlu duduk, merenung, menenggelamkan diri dalam sunyi. Agar kita bisa lihat yang mana yang jernih, mana yang suram, kayak mukamu ini, hahahaha”

“Halah, pakdhe ini orang patah hati masih dibercandain lho” Heru melengos saja menanggapi kalimat terakhir Pakdhe Jarwo.

Pakdhe Jarwo lalu mengambil sesuatu dari bawah meja, “Sudah, ayo sini, roko sebungkus lah” katanya sambil menata papan catur di atas bangku.

“Lho masih berani toh Pakdhe?” Tanya Heru sambil mengejek.

“Daripada kamu galau gak jelas cuma habis-habisin kopi sama rokoknya Bu Prapti mending sini taruhan sama Pakdhe”

Bu Prapti hanya menahan tawa melihat kelakuan mereka, ia lega, paling tidak Pakdhe Jarwo sudah sedikit mendinginkan hati Heru, ia juga lega, keputusannya dulu ternyata tidak hanya diamini oleh mereka berdua saja tapi juga sahabat-sahabatnya.

“Pakdhe, kalau memang hidup itu senda gurau, terus ngapain kita hidup?” Heru kembali membuka percakapan.

“Hehehehe, untuk ‘Pulang’ Her, kita pergi sejatinya cuma untuk kembali. Skak!” Jawab Pakdhe singkat saja.

“Halah hasemm, curang! Maksudnya gimana Dhe?”

“Kapan-kapan kita bahas, sekarang kamu ambilkan dulu rokoknya, sudah skak ster ini, hahahaha”

“Prek! Curang!” kata Heru tak terima kekalahannya sendiri.

Sementara malam makin larut, dan radio tua itu kembali memutar lagu yang sama seperti tadi, Bu Prapti diam-diam mulai menikmati lagu yang didengarnya.

Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat tapi takdirpun tak mungkin selalu sama…
Coba-cobalah tinggalkan sejenak anganmu, esokkan masih ada…

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak