#08 Perlina Davidhukom

Kamisan S2 #8 - Perlina: Dua Babak

12.27Unknown


source : http://www.paintingsilove.com/image/show/281600/loneliness
source : paintingsilove

Ada yang tahu cara mengembalikan waktu? Atau ada yang tahu cara membalik harapan?

Ah iya, sebentar, aku ingin menceritakan sesuatu terebih dahulu pada kalian dan aku harap setelah membaca kisahku nanti kalian dapat menjawab pertanyaan di atas itu. Aku hanyalah seorang pegawai kantor rendahan dengan gaji yang pas-pasan yang memiliki seorang istri dan kehidupan rumah tangga yang sedang berantakan. Ceritaku ini dimulai ketika aku berumur 27tahun, kini aku sudah berumur 72tahun, dan tahukah kalian tentang kutukan (atau mitos?) tentang umur 27? Nanti kusinggung sedikit. Sebelum kalian membaca ceritaku, biarkan aku mengingatkan kalian, jangan memohon sesuatu yang kalian tidak sanggup memikul tanggung jawabnya. Atau kalian akan menyesal nantinya.

***

Hidup di kota metropolitan itu sesungguhnya menyebalkan. Gaya hidupnya, kebisingan kendaraan pribadi beradu dengan kendaraan umum, emosi dan ego setiap orangnya, kemacetan, polusi, kemiskinan, dan masih banyak lainnya. Apalagi di kota besar yang populasinya makin tahun makin bertambah, semakin membuat sesak. Entah harus bagaimana lagi aku menggambarkannya. Mungkin karena semua itu orang kota yang sedang sakit, atau stres lebih memilih melarikan diri ke desa-desa yang masih asri, udaranya masih sejuk, dan damai.

Seperti yang kualami sore itu, jam pulang kerja diakhir pekan kadangkala menyebalkan juga, macet itu sudah pasti, ditambah lagi saat itu hujan, dan juga manusia-manusia bar-bar yang terus-terusan membunyikan klaksonnya seakan-akan hanya mereka yang memiliki itu dan bisa menyelesaikan masalah bila terus-terusan membunyikannya. Ada setidaknya tiga orang yang kulihat sedang beradu mulut di pinggir jalan, iya, maksudku bertengkar, bukan berciuman. Di ujung belokan jalan ada pengamen yang terus-terusan membunyikan saksofonnya di tengah gerimis, sementara di dalam kafe kulihat ada sepasang muda-mudi sedang asyik bercengkerama, di sisi lainnya sedang mesra bercumbu berharap tak ada yang melihat mereka. Sore yang benar-benar absurd.

Pekerjaan di kantor sedang sangat memuakkan, bos yang semena-mena, gaji yang sudah menunggak dua bulan ini. Di rumah istriku juga sedang sangat menyebalkan, entah aku harus bagaimana menceritakannya, berawal dari seringnya dia lembur kerja dengan alasan makan malam bersama rekan bisnis, sampai kudapati wangi parfum yang berbeda dari yang biasa dipakainya. Aku diam saja, kupikir ada saatnya nanti aku akan membalasnya sendiri. menghadapi semua ini seringkali aku berpikir, “Andai aku bisa bertukar atau berganti kehidupan, sejak dulu mungkin aku lebih memilih yang berbeda dari hidupku yang sekarang.” Se-membosankan itulah hidupku, belum lagi soal, tagihan hipotek, kredit elektronik, gaji yang tak kunjung naik, tetangga yang suka ikut campur urusan orang, mertua yang ingin segera menggendong cucu, dan banyak lagi. Jujur saja aku mulai jengah dengan semuanya.

Tadi sore, kebetulan aku membaca majalah yang ada di pantry kantor, ada satu artikel yang menceritakan bahwa usia 27 adalah usia yang mengadung unsur magis, di usia itu banyak tokoh besar yang meninggal dunia, sebut saja Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Amy Winehouse, Jim Morrison, Janis Joplin, banyak sekali. Menariknya, kata artikel tersebut, selain fakta tentang orang yang meninggal tadi, di situ juga dituliskan, bahwa jika seseorang berulang tahun yang ke duapuluh tujuh dan saat itu sedang bulan purnama, apapun harapannya bisa terkabul. Satu harapan yang sedikit “aneh” terbesit di pikiranku. Satu harapan yang nantinya akan kusesali seumur hidup.

***

“Mau kemana malam-malam begini?” istriku bertanya, ia sedang menghapus make up yang menempel pada wajahnya seharian tadi, “Jangan pulang terlalu pagi, aku tak mau menjaga pintu, kuncinya ada di pot biasa” lanjutnya sambil merebahkan diri di kasur, “Astaga hari ini melelahkan sekali, hoaahmm, matikan lampunya saat kau keluar nanti” katanya lagi lalu menutupkan selimut ke tubuhnya berbalik tidur membelakangiku. Aku hanya diam tak menanggapinya.

Setelah kumatikan lampu di seluruh ruangan, memastikan istriku tertidur dengan mendengar dengkuran halusnya, aku segera menuju garasi dan menyalakan mobil, menuju ke taman dekat perumahan. Jalanan sangat lengang malam itu, bulan membulat penuh bersinar begitu terang, rasa-rasanya jika lampu taman dan lampu jalanan dimatikan mungkin tidak akan terlalu gelap. Langit juga begitu cerah, gugusan bintang hampir-hampir terlihat, kalau di daerah yang minim polusi mungkin akan terlihat sangat indah.

Kuparkir mobilku di pelataran taman, aku berjalan kaki menuju tanah lapang yang biasa dipakai anak-anak komplek perumahan untuk bermain bola. Lapangannya tak terlalu luas, mungkin sekitar duapuluh kali duapuluh meter saja, sisanya di sebelah timur penuh dengan permainan anak-anak seperti ayunan, prosotan, tempat duduk bak pasir, sebelah barat adalah tempat parkir, sementara di sisi lainnya hanyalah pepohonan yang menurut mereka untuk menyegarkan udara. Dari tengah lapangan itu aku bisa melihat jelas bulan yang menggantung di atas langit. Kulihat jam tanganku, pukul 23:50 sebentar lagi, aku akan memulai ritual konyol yang diceritakan majalah tadi sore. Entah pikiran gila macam apa yang merasuki otakku, hingga memercayai klenik macam itu. Beberapa menit berselang, aku menarik nafas dalam-dalam, udara segar memenuhi ruang dadaku, dengan sepenuh hati dan niat kuucapkan harapanku di ulang tahun yang ke-27 ini.

Kuhembuskannafasku, kupandang bulan yang masih menggantung di atas sana. lalu kutertawakan sendiri kekonyolanku, mungkin aku yang sudah gila, pikirku. Aku duduk di bangku taman, memandangi sekitar, dan memikirkan lagi hal bodoh yang baru saja kulakukan, lagi-lagi aku tertawa mengingatnya, menggelikan. Kuputuskan untuk pulang, karena angin yang tiba-tiba bertiup kencang, dan mendung yang entah mengapa tiba-tiba menutupi langit yang sedari tadi cerah. Cuaca akhir-akhir ini memang sedikit aneh. Mungkin karena alam yang sudah tak lagi bersahabat dengan manusia, alam yang berusaha menyeimbangkan siklusnya sendiri.

Malam itu, tanpa kusadari, aku sedang mengubah takdir.

*

KRIIINGG!!!

Untuk kesekian kalinya jam weker itu berdering, astaga!! Aku kesiangan! Kemana istriku sampai tega tak membangunkanku?!! Aku bergegas mencuci muka, gosok gigi lalu berganti baju aku turun ke bawah, tak kulihat siapa-siapa, sarapan sudah ada, sepertinya istriku pergi entah kemana. Di jam dinding kulihat sudah menunjukkan pukul sembilan, astaga ini benar-benar kesiangan. Jam masuk kantor jam tujuh, dan aku baru keluar dari rumah jam sembilan! Yang benar saja! aku segera menuju garasi, menyalakan mobil, dan berangkat menuju kantor.

Jalanan terlihat lengang, tak terlihat mobil lalu lalang, syukurlah. Tak macet, segera kuparkir mobilku, tak kulihat tukang parkir yang biasa mangkal dan juga satpam penjaga di sana. aku bergegas menuju ruangan, melewati ruangan demi ruangan yang sangat sepi, “Apa ada jadwal rapat hari ini? Kenapa aku tak tahu?” pikirku, bergegas aku menuju ruanganku sendiri mencari Santi sekretarisku dan ingin memastikan apakah ada rapat hari ini.

Tiga jam berlalu, perasaanku mulai tak enak. Tak kulihat seorangpun di gedung ini, seakan ditinggalkan begitu saja oleh penduduknya. Aku yakin ini bukan hari libur. Kunyalakan televisi, tak ada siaran, ah sepertinya teknisi yang bertugas membetulkan pemancar TV kabel belum datang dari kemarin. Kulihat di sosial media tak ada update apapun dari semalam. Portal berita juga tak ada update dari pagi tadi, apa internet juga gangguan? Kuputuskan untuk keluar kantor, mencari makan siang. Sepanjang jalanan tak kulihat ada toko yang buka, foodcourt 24jam pun terlihat sangat sepi, ini gila! Aku kembali ke rumah berharap bertemu istriku dan menceritakan semuanya.

Sampai di rumah, istriku belum juga pulang. Aku memakan sedikit sisa sarapan tadi, lumayan. Sambil menikmati aku mengingat dan mencoba menalar apa yang terjadi seharian ini, sampai ingatanku berputar pada kejadian semalam. “Aku ingin sendirian saja di sisa umurku.” Itu harapanku semalam, keringat dingin mulai menetes menuruni keningku, tidak! Ini tidak mungkin! Itu ritual bodoh dan tidak mungkin terjadi! Tak mungkin harapan bodoh macam itu dikabulkan begitu saja! itu cuma mitos! Iya, itu cuma mitos! Tidak mungkin terjadi!

Tak percaya begitu saja, aku menuju mobilku dan kubawa berputar-putar keliling kota. Benar-benar tak ada satu orang pun yang muncul. Ini benar-benar sudah gila, “AARRGGGHHHH!!!” aku berteriak menjadi-jadi, kupacu mobilku sampai sekencang-kencangnya membelok di tikungan lalu hampir menabrak mobil yang terparkir di sana. kubanting stirnya, kurem skuat-kuatnya. Mobilku terpelanting ke kiri lalu berhenti saat menabrak tempat sampah. Sampai kepalaku membentur kaca pintu mobil.

Aku terbangun dengan menggigil ternyata sudah petang, kepalaku sangat pusing, kaca pintu mobilku pecah, aku terhuyung keluar dari mobil, ah sial ini benar-benar nyata, aku masih sedikit berharap ini cuma mimpi. Aku menyusuri jalanan, benar-benar sepi, tak ada satu manusiapun di sini. Aku melangkah memasuki supermarket, mengambil beberapa roti, lalu duduk dan memakannya di situ. Kepalaku masih berputar-putar, aku benar-benar tak habis pikir, ini seperti kiamat, aku benar-benar sendirian di sini. Hingga larut malam, kuputuskan untuk pulang. Entah pulang kemana, semua tempat adalah rumahku sekarang.

Pagi itu aku terbangun dengan perasaan gamang, seperti kehampaan yang entah. Aku juga tak ingat ini hari apa, hari keberapa setelah dikabulkannya permintaan anehku itu. Aku memutuskan untuk mandi, berganti baju lalu mencari makan. Aku terduduk di dalam mobil, dengan menyetir aku masih berusaha mencerna ini semua. Aku bisa menggunakan dan mengambil apapun yang aku mau. Mungkin ini memang kiamat, dan seharusnya aku menikmati ini semua. Astaga ini adalah kejutan yang seharusnya menyenangkan, mobil baru, rumah baru, bahkan semua gadget terbaru bisa kudapatkan dengan gratis, hahahaha ini menyenangkan! Pikirku, iya benar tak seharusnya aku bersedih!.

Malam berikutnya entah sudah bulan ke berapa aku terus-terusan begini saja, sendirian di dalam kota ini, sampai terpikirkan olehku, bagaimana kalau aku berkeliling dunia? Wow itu akan sangat menyenangkan! Lagipula siapa tahu hanya kota ini saja yang penduduknya lenyap, barangkali kota lain masih normal. Atau mungkin juga penduduk kota ini mendengar berita tentang wabah penyakit sehingga mereka bertransmigrasi besar-besaran dalam semalam, oke itu sudah ngawur. Malam itu aku memacu mobilku, maksudku mobil yang baru saja kuambil dari jalanan. Bensin penuh dan dengan perbekalan melimpah aku mulai menyisiri pinggiran kota, menjauh, menuju kota lain bahkan negara lain kalau bisa.

***

Sudah berbulan-bulan mungkin bertahun-tahun aku melakukan perjalanan, berkeliling dari satu kota ke kota lainnya, mengendarai pesawat mengitari bumi. Ada waktu-waktu dimana aku merasa begitu bosan, ini sudah gila, aku benar-benar menjadi gila, dan berpikir mengakhiri hidupku saja, tapi seolah ada tangan gaib yang selalu saja mencegahnya, seperti misalnya suatu kali aku sengaja menjatuhkan pesawatku ke laut, pesawatku benar-benar terjatuh, aku tenggelam, mungkin ini akhirnya, pikirku. Tapi ketika bangun aku sudah di pesisir pantai entah di kota mana, negara mana. Sudah berulang kali aku melakukan berbagai hal untuk membunuh diriku mulai dari hal yang sepele sampai yang kompleks, tapi selalu saja ada yang mengembalikan lagi, dan lagi. Menjatuhkan diri dari menara eiffel? Sudah kulakukan, dari patung liberty? Sudah kulakukan, memanjat grand canyon lalu sengaja jatuh? Sudah juga, menabrakkan kendaraanku? Itu juga sudah, mengiris pergelangan nadiku? Sudah juga. Semuanya percuma saja. aku masih hidup sampai sekarang, dan benar-benar sendirian.

Ini sudah sampai taraf menyedihkan, memuakkan, mengerikan, dan entah kata apalagi yang bisa kugunakan untuk menggambarkan ini semua, menangis? Sudah kerapkali kulakukan, berteriak menantangNya lagi? Sudah di manapun aku melakukannya, tiap kota yang kudatangi, tiap tempat ibadah yang manusia percayai sebagai rumahNya. Aku sudah sangat putus asa, menyesali semuanya, karena itu aku menulis cerita ini dan menyebarkannya ke seluruh komputer di dunia melalui internet, juga kucetak beratus-ratus lembar untuk kusebar-sebarkan entah pada siapa. Aku sudah benar-benar putus asa, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Kau tahu rasanya sendirian? Ini mengerikan, kau tak menemukan siapa ahhh sudahlah, jangan sampai kalian mengalaminya, aku serius. Karena itu, andai kalian sudah ada dan membaca cerita ini, tolong beritahu aku, bagaimana caranya mengakhiri semua ini, membalik harapan ini, atau kalau bisa memutar waktu, bagaimana caranya? Akan kulakukan segala cara agar semuanya bisa kembali normal, seperti sedia kala.

Sampai tadi siang saat aku sedang menikmati makan siangku di India, sekelebat cahaya putih terang sangat menyilaukan muncul di depanku, aku tak mampu melihat apapun dan mulai kehilangan kesadaran.

***

BIIP… BIIP… BIIP…

September 29th 2432 report: installing program code 005478XFB9RM has been complete, please remove subject from the device.

“Hai Selamat ulang tahun, nyenyak sekali tidurmu sampai aku tak berani membangunkan” Wanita itu tersenyum sambil memeluk pria di depannya, ia mengusap rambut dan pipi suaminya itu, “Mau sarapan?”

“Ehh, iya, mau,” Pria itu tersenyum lega, sangat lega, ia benar-benar mencintai istrinya kali ini, akan berusaha menjadi lebih baik untuk orang-orang di sekitarnya. Perlahan ia menatap istrinya berjalan ke arah pintu dan menghilang menuju dapur untuk mengambil sarapan. Ia menghela nafas panjang. “Cuma mimpi, cuma mimpi” katanya berulang-ulang meyakinkan dirinya sendiri.

“Sayang kau mau kopi atau teh?” teriak istrinya dari dapur.

“Kopi saja, sebentar aku menuju ke sana,” Ia bergegas, bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah pintu, dilihatnya dari jendela matahari tampak begitu terang sinarnya, begitu terang hangat, dan menyilaukan sekaligus menenangkan ia sampai harus memicingkan matanya, dan semuanya nampak begitu silau kemudian menghilang.

BIIP… BIIP… BIIP…

September 29th 2432 report: installing program code 005478XFB9RM has been complete, plese remove subject from the device.

* Selesai *

Catatan :

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak