Ada yang tahu cara mengembalikan waktu? Atau ada yang tahu cara membalik harapan?
Ah iya, sebentar, aku ingin menceritakan
sesuatu terebih dahulu pada kalian dan aku harap setelah membaca kisahku
nanti kalian dapat menjawab pertanyaan di atas itu. Aku hanyalah
seorang pegawai kantor rendahan dengan gaji yang pas-pasan yang memiliki
seorang istri dan kehidupan rumah tangga yang sedang berantakan.
Ceritaku ini dimulai ketika aku berumur 27tahun, kini aku sudah berumur
72tahun, dan tahukah kalian tentang kutukan (atau mitos?) tentang umur
27? Nanti kusinggung sedikit. Sebelum kalian membaca ceritaku, biarkan
aku mengingatkan kalian, jangan memohon sesuatu yang kalian tidak
sanggup memikul tanggung jawabnya. Atau kalian akan menyesal nantinya.
***
Hidup di kota metropolitan itu
sesungguhnya menyebalkan. Gaya hidupnya, kebisingan kendaraan pribadi
beradu dengan kendaraan umum, emosi dan ego setiap orangnya, kemacetan,
polusi, kemiskinan, dan masih banyak lainnya. Apalagi di kota besar yang
populasinya makin tahun makin bertambah, semakin membuat sesak. Entah
harus bagaimana lagi aku menggambarkannya. Mungkin karena semua itu
orang kota yang sedang sakit, atau stres lebih memilih melarikan diri ke
desa-desa yang masih asri, udaranya masih sejuk, dan damai.
Seperti yang kualami sore itu, jam pulang
kerja diakhir pekan kadangkala menyebalkan juga, macet itu sudah pasti,
ditambah lagi saat itu hujan, dan juga manusia-manusia bar-bar yang
terus-terusan membunyikan klaksonnya seakan-akan hanya mereka yang
memiliki itu dan bisa menyelesaikan masalah bila terus-terusan
membunyikannya. Ada setidaknya tiga orang yang kulihat sedang beradu
mulut di pinggir jalan, iya, maksudku bertengkar, bukan berciuman. Di
ujung belokan jalan ada pengamen yang terus-terusan membunyikan
saksofonnya di tengah gerimis, sementara di dalam kafe kulihat ada
sepasang muda-mudi sedang asyik bercengkerama, di sisi lainnya sedang
mesra bercumbu berharap tak ada yang melihat mereka. Sore yang
benar-benar absurd.
Pekerjaan di kantor sedang sangat
memuakkan, bos yang semena-mena, gaji yang sudah menunggak dua bulan
ini. Di rumah istriku juga sedang sangat menyebalkan, entah aku harus
bagaimana menceritakannya, berawal dari seringnya dia lembur kerja
dengan alasan makan malam bersama rekan bisnis, sampai kudapati wangi
parfum yang berbeda dari yang biasa dipakainya. Aku diam saja, kupikir
ada saatnya nanti aku akan membalasnya sendiri. menghadapi semua ini
seringkali aku berpikir, “Andai aku bisa bertukar atau berganti kehidupan, sejak dulu mungkin aku lebih memilih yang berbeda dari hidupku yang sekarang.”
Se-membosankan itulah hidupku, belum lagi soal, tagihan hipotek, kredit
elektronik, gaji yang tak kunjung naik, tetangga yang suka ikut campur
urusan orang, mertua yang ingin segera menggendong cucu, dan banyak
lagi. Jujur saja aku mulai jengah dengan semuanya.
Tadi sore, kebetulan aku membaca majalah
yang ada di pantry kantor, ada satu artikel yang menceritakan bahwa usia
27 adalah usia yang mengadung unsur magis, di usia itu banyak tokoh
besar yang meninggal dunia, sebut saja Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Amy
Winehouse, Jim Morrison, Janis Joplin, banyak sekali. Menariknya, kata
artikel tersebut, selain fakta tentang orang yang meninggal tadi, di
situ juga dituliskan, bahwa jika seseorang berulang tahun yang ke
duapuluh tujuh dan saat itu sedang bulan purnama, apapun harapannya bisa
terkabul. Satu harapan yang sedikit “aneh” terbesit di pikiranku. Satu
harapan yang nantinya akan kusesali seumur hidup.
***
“Mau kemana malam-malam begini?” istriku
bertanya, ia sedang menghapus make up yang menempel pada wajahnya
seharian tadi, “Jangan pulang terlalu pagi, aku tak mau menjaga pintu,
kuncinya ada di pot biasa” lanjutnya sambil merebahkan diri di kasur,
“Astaga hari ini melelahkan sekali, hoaahmm, matikan lampunya saat kau
keluar nanti” katanya lagi lalu menutupkan selimut ke tubuhnya berbalik
tidur membelakangiku. Aku hanya diam tak menanggapinya.
Setelah kumatikan lampu di seluruh
ruangan, memastikan istriku tertidur dengan mendengar dengkuran
halusnya, aku segera menuju garasi dan menyalakan mobil, menuju ke taman
dekat perumahan. Jalanan sangat lengang malam itu, bulan membulat penuh
bersinar begitu terang, rasa-rasanya jika lampu taman dan lampu jalanan
dimatikan mungkin tidak akan terlalu gelap. Langit juga begitu cerah,
gugusan bintang hampir-hampir terlihat, kalau di daerah yang minim
polusi mungkin akan terlihat sangat indah.
Kuparkir mobilku di pelataran taman, aku
berjalan kaki menuju tanah lapang yang biasa dipakai anak-anak komplek
perumahan untuk bermain bola. Lapangannya tak terlalu luas, mungkin
sekitar duapuluh kali duapuluh meter saja, sisanya di sebelah timur
penuh dengan permainan anak-anak seperti ayunan, prosotan, tempat duduk
bak pasir, sebelah barat adalah tempat parkir, sementara di sisi lainnya
hanyalah pepohonan yang menurut mereka untuk menyegarkan udara. Dari
tengah lapangan itu aku bisa melihat jelas bulan yang menggantung di
atas langit. Kulihat jam tanganku, pukul 23:50 sebentar lagi, aku akan
memulai ritual konyol yang diceritakan majalah tadi sore. Entah pikiran
gila macam apa yang merasuki otakku, hingga memercayai klenik macam itu.
Beberapa menit berselang, aku menarik nafas dalam-dalam, udara segar
memenuhi ruang dadaku, dengan sepenuh hati dan niat kuucapkan harapanku
di ulang tahun yang ke-27 ini.
Kuhembuskannafasku, kupandang bulan yang masih menggantung di atas sana. lalu kutertawakan sendiri kekonyolanku, mungkin aku yang sudah gila,
pikirku. Aku duduk di bangku taman, memandangi sekitar, dan memikirkan
lagi hal bodoh yang baru saja kulakukan, lagi-lagi aku tertawa
mengingatnya, menggelikan. Kuputuskan untuk pulang, karena angin yang
tiba-tiba bertiup kencang, dan mendung yang entah mengapa tiba-tiba
menutupi langit yang sedari tadi cerah. Cuaca akhir-akhir ini memang
sedikit aneh. Mungkin karena alam yang sudah tak lagi bersahabat dengan
manusia, alam yang berusaha menyeimbangkan siklusnya sendiri.
Malam itu, tanpa kusadari, aku sedang mengubah takdir.
*
KRIIINGG!!!
Untuk kesekian kalinya jam weker itu
berdering, astaga!! Aku kesiangan! Kemana istriku sampai tega tak
membangunkanku?!! Aku bergegas mencuci muka, gosok gigi lalu berganti
baju aku turun ke bawah, tak kulihat siapa-siapa, sarapan sudah ada,
sepertinya istriku pergi entah kemana. Di jam dinding kulihat sudah
menunjukkan pukul sembilan, astaga ini benar-benar kesiangan. Jam masuk
kantor jam tujuh, dan aku baru keluar dari rumah jam sembilan! Yang
benar saja! aku segera menuju garasi, menyalakan mobil, dan berangkat
menuju kantor.
Jalanan terlihat lengang, tak terlihat
mobil lalu lalang, syukurlah. Tak macet, segera kuparkir mobilku, tak
kulihat tukang parkir yang biasa mangkal dan juga satpam penjaga di
sana. aku bergegas menuju ruangan, melewati ruangan demi ruangan yang
sangat sepi, “Apa ada jadwal rapat hari ini? Kenapa aku tak tahu?” pikirku, bergegas aku menuju ruanganku sendiri mencari Santi sekretarisku dan ingin memastikan apakah ada rapat hari ini.
Tiga jam berlalu, perasaanku mulai tak
enak. Tak kulihat seorangpun di gedung ini, seakan ditinggalkan begitu
saja oleh penduduknya. Aku yakin ini bukan hari libur. Kunyalakan
televisi, tak ada siaran, ah sepertinya teknisi yang bertugas
membetulkan pemancar TV kabel belum datang dari kemarin. Kulihat di
sosial media tak ada update apapun dari semalam. Portal berita juga tak
ada update dari pagi tadi, apa internet juga gangguan? Kuputuskan untuk
keluar kantor, mencari makan siang. Sepanjang jalanan tak kulihat ada
toko yang buka, foodcourt 24jam pun terlihat sangat sepi, ini gila! Aku
kembali ke rumah berharap bertemu istriku dan menceritakan semuanya.
Sampai di rumah, istriku belum juga
pulang. Aku memakan sedikit sisa sarapan tadi, lumayan. Sambil menikmati
aku mengingat dan mencoba menalar apa yang terjadi seharian ini, sampai
ingatanku berputar pada kejadian semalam. “Aku ingin sendirian saja di sisa umurku.” Itu
harapanku semalam, keringat dingin mulai menetes menuruni keningku,
tidak! Ini tidak mungkin! Itu ritual bodoh dan tidak mungkin terjadi!
Tak mungkin harapan bodoh macam itu dikabulkan begitu saja! itu cuma
mitos! Iya, itu cuma mitos! Tidak mungkin terjadi!
Tak percaya begitu saja, aku menuju
mobilku dan kubawa berputar-putar keliling kota. Benar-benar tak ada
satu orang pun yang muncul. Ini benar-benar sudah gila, “AARRGGGHHHH!!!”
aku berteriak menjadi-jadi, kupacu mobilku sampai sekencang-kencangnya
membelok di tikungan lalu hampir menabrak mobil yang terparkir di sana.
kubanting stirnya, kurem skuat-kuatnya. Mobilku terpelanting ke kiri
lalu berhenti saat menabrak tempat sampah. Sampai kepalaku membentur
kaca pintu mobil.
Aku terbangun dengan menggigil ternyata
sudah petang, kepalaku sangat pusing, kaca pintu mobilku pecah, aku
terhuyung keluar dari mobil, ah sial ini benar-benar nyata, aku masih
sedikit berharap ini cuma mimpi. Aku menyusuri jalanan, benar-benar
sepi, tak ada satu manusiapun di sini. Aku melangkah memasuki
supermarket, mengambil beberapa roti, lalu duduk dan memakannya di situ.
Kepalaku masih berputar-putar, aku benar-benar tak habis pikir, ini
seperti kiamat, aku benar-benar sendirian di sini. Hingga larut malam,
kuputuskan untuk pulang. Entah pulang kemana, semua tempat adalah
rumahku sekarang.
Pagi itu aku terbangun dengan perasaan
gamang, seperti kehampaan yang entah. Aku juga tak ingat ini hari apa,
hari keberapa setelah dikabulkannya permintaan anehku itu. Aku
memutuskan untuk mandi, berganti baju lalu mencari makan. Aku terduduk
di dalam mobil, dengan menyetir aku masih berusaha mencerna ini semua.
Aku bisa menggunakan dan mengambil apapun yang aku mau. Mungkin ini
memang kiamat, dan seharusnya aku menikmati ini semua. Astaga ini
adalah kejutan yang seharusnya menyenangkan, mobil baru, rumah baru,
bahkan semua gadget terbaru bisa kudapatkan dengan gratis, hahahaha ini
menyenangkan! Pikirku, iya benar tak seharusnya aku bersedih!.
Malam berikutnya entah sudah bulan ke
berapa aku terus-terusan begini saja, sendirian di dalam kota ini,
sampai terpikirkan olehku, bagaimana kalau aku berkeliling dunia? Wow
itu akan sangat menyenangkan! Lagipula siapa tahu hanya kota ini saja
yang penduduknya lenyap, barangkali kota lain masih normal. Atau mungkin
juga penduduk kota ini mendengar berita tentang wabah penyakit sehingga
mereka bertransmigrasi besar-besaran dalam semalam, oke itu sudah
ngawur. Malam itu aku memacu mobilku, maksudku mobil yang baru saja
kuambil dari jalanan. Bensin penuh dan dengan perbekalan melimpah aku
mulai menyisiri pinggiran kota, menjauh, menuju kota lain bahkan negara
lain kalau bisa.
***
Sudah berbulan-bulan mungkin
bertahun-tahun aku melakukan perjalanan, berkeliling dari satu kota ke
kota lainnya, mengendarai pesawat mengitari bumi. Ada waktu-waktu dimana
aku merasa begitu bosan, ini sudah gila, aku benar-benar menjadi gila,
dan berpikir mengakhiri hidupku saja, tapi seolah ada tangan gaib yang
selalu saja mencegahnya, seperti misalnya suatu kali aku sengaja
menjatuhkan pesawatku ke laut, pesawatku benar-benar terjatuh, aku
tenggelam, mungkin ini akhirnya, pikirku. Tapi ketika bangun aku sudah
di pesisir pantai entah di kota mana, negara mana. Sudah berulang kali
aku melakukan berbagai hal untuk membunuh diriku mulai dari hal yang
sepele sampai yang kompleks, tapi selalu saja ada yang mengembalikan
lagi, dan lagi. Menjatuhkan diri dari menara eiffel? Sudah kulakukan,
dari patung liberty? Sudah kulakukan, memanjat grand canyon lalu sengaja
jatuh? Sudah juga, menabrakkan kendaraanku? Itu juga sudah, mengiris
pergelangan nadiku? Sudah juga. Semuanya percuma saja. aku masih hidup
sampai sekarang, dan benar-benar sendirian.
Ini sudah sampai taraf menyedihkan,
memuakkan, mengerikan, dan entah kata apalagi yang bisa kugunakan untuk
menggambarkan ini semua, menangis? Sudah kerapkali kulakukan, berteriak
menantangNya lagi? Sudah di manapun aku melakukannya, tiap kota yang
kudatangi, tiap tempat ibadah yang manusia percayai sebagai rumahNya.
Aku sudah sangat putus asa, menyesali semuanya, karena itu aku menulis
cerita ini dan menyebarkannya ke seluruh komputer di dunia melalui
internet, juga kucetak beratus-ratus lembar untuk kusebar-sebarkan entah
pada siapa. Aku sudah benar-benar putus asa, tak tahu lagi apa yang
harus kulakukan. Kau tahu rasanya sendirian? Ini mengerikan, kau tak
menemukan siapa ahhh sudahlah, jangan sampai kalian mengalaminya, aku
serius. Karena itu, andai kalian sudah ada dan membaca cerita ini,
tolong beritahu aku, bagaimana caranya mengakhiri semua ini, membalik
harapan ini, atau kalau bisa memutar waktu, bagaimana caranya? Akan
kulakukan segala cara agar semuanya bisa kembali normal, seperti sedia
kala.
Sampai tadi siang saat aku sedang
menikmati makan siangku di India, sekelebat cahaya putih terang sangat
menyilaukan muncul di depanku, aku tak mampu melihat apapun dan mulai
kehilangan kesadaran.
***
BIIP… BIIP… BIIP…
September 29th 2432 report: installing program code 005478XFB9RM has been complete, please remove subject from the device.
“Hai Selamat ulang tahun, nyenyak sekali tidurmu sampai aku tak
berani membangunkan” Wanita itu tersenyum sambil memeluk pria di
depannya, ia mengusap rambut dan pipi suaminya itu, “Mau sarapan?”
“Ehh, iya, mau,” Pria itu tersenyum lega, sangat lega, ia benar-benar
mencintai istrinya kali ini, akan berusaha menjadi lebih baik untuk
orang-orang di sekitarnya. Perlahan ia menatap istrinya berjalan ke arah
pintu dan menghilang menuju dapur untuk mengambil sarapan. Ia menghela
nafas panjang. “Cuma mimpi, cuma mimpi” katanya berulang-ulang
meyakinkan dirinya sendiri.
“Sayang kau mau kopi atau teh?” teriak istrinya dari dapur.
“Kopi saja, sebentar aku menuju ke sana,” Ia bergegas, bangkit dari
tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah pintu, dilihatnya dari jendela
matahari tampak begitu terang sinarnya, begitu terang hangat, dan
menyilaukan sekaligus menenangkan ia sampai harus memicingkan matanya,
dan semuanya nampak begitu silau kemudian menghilang.
BIIP… BIIP… BIIP…
September 29th 2432 report: installing program code 005478XFB9RM has been complete, plese remove subject from the device.
* Selesai *
Catatan :
Cerita ini terinspiresyen dari : http://donysaur.wordpress.com/2013/04/26/fragmented/
0 comments