Rindu ini belum selesai, atau bisa jadi rindu ini tak akan
pernah selesai. Entah sudah hujan keberapa rindu ini mengais. Pada senja
yang juga tak pernah bosan menampilkan kembali kenangan, ada
rindu-rindu yang semakin membuncah. Desir angin menemani tawa getir di
tiap rindu yang hanya akan selalu tersimpan rapi pada tempatnya. Sendiri
ia belajar mandiri, merawat luka yang inginkan temu. Memupuk angan yang
menanti gamang.
***
Setelah hujan menguap dan tanah basah kemarin menjadi
kering, pria itu benar-benar pergi, menghilang, dan entah apakah ia akan
kembali atau tidak. Langit cerah, berwarna biru dengan awan putih
bersih yang bergumul. Tak ada mendung apalagi pekat muram. Tak ada
sedikit pun pertanda bahwa akan turun hujan. Apalagi pertanda bahwa pria
itu akan (segera) kembali.
Sedangkan gadis itu, gadis itu masih terus selalu kembali.
Berdiri di depan sebuah gedung kesenian. Kadang ia duduk di bawah
rindangnya pohon mahoni. Dan terkadang ia berdiri di depan sebuah warung
sederhana beratap usang. Dengan tatapan yang tak pernah lepas dari
langit. Melekat, lalu menyatu. Keduanya terletak di depan gedung
kesenian itu. Dan keduanya pula adalah tempat ia dan pria itu
menghabiskan senja ketika hujan turun. Tempat berbagi cerita melalui
diam dan dekap dalam hujan yang tumpah.
Gadis itu tak pernah lelah untuk kembali ke tempat itu.
Entah apa yang ia pikirkan. Entah apa yang ia tunggu. Pria itu? Pria
hujannya? Ternyata cinta telah membuatnya bertahan sebegitu keras. Tak
peduli sudah hujan keberapa ia berdiri kokoh menanti, pria hujannya tak
kunjung kembali. Entah pada senja yang keberapa gadis itu akan mulai
lelah dan berhenti. Berhenti bertahan untuk cinta yang tak kembali.
Cinta adalah kuatmu dalam bertahan. Tetapi jika bertahanmu tidak dihargai, lepaskanlah.
Namun gadis itu belum berhenti. Gadis itu belum menganggap
bahwa bertahannya tidak dihargai. Ia yakin, hati kecilnya berkata bahwa
pria hujannya akan kembali pulang. Ia percaya bahwa pria hujannya butuh
tempat untuk pulang.
Seperti apa pun keadaannya, setiap orang pasti ingin
pulang. Ingin kembali pada suatu keadaan yang membuatnya seperti tanpa
beban. Dan, gadis itu yakin, selalu yakin, bahwa prianya pun butuh
pulang. Kembali pada keadaan yang bisa disebut sebagai tempat untuk
pulang. Meletakkan beban dan melepas segala peluh.
Gadis itu yakin bahwa prianya akan kembali. Pulang ke dalam
hatinya. Entah ia akan menunggu sampai kapan. Mungkin sampai langit
senja tak akan pernah lagi menampakkan jingganya. Atau bahkan sampai
senja selesai dan tak akan pernah hadir lagi.
"Entah, aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu
hebat memupuk rasa cintaku yang setiap detik semakin rindang. Hanya
untukmu."
"Aku biarkan kamu pergi hingga senja datang, berharap kamu
tak lupa tempatmu pulang. Aku." Gadis itu berucap pada langit yang mulai
menyiratkan jingga berbalut abu-abu.
0 comments