(gambar suasana perjalanan mudik tahun lalu)
Salah satu kekhasan dari mudik yang saya sukai adalah saat harus
beristirahat ketika melakukan perjalanan darat. Saya dan keluarga biasa
mudik ke kampung halaman kami di daerah Jawa Tengah dengan menggunakan
kendaraan pribadi. Menempuh perjalanan ratusan kilometer dan berjam-jam
di jalan, tentunya tidak mungkin dilakukan dalam sekali jalan. Ada
kalanya ketika kantuk, lelah, dan lapar melanda, serta saat harus
menunaikan salat, kami berhenti sejenak di tempat peristirahatan yang
lazim dikunjungi pemudik, yaitu: mesjid, pom bensin, dan rumah makan.
Di antara tiga hal itu masing-masing memiliki keunikannya sendiri.
Beristirahat di masjid misalnya, biasa dilakukan ketika kami hendak
menunaikan salat. Ciri khas lain dari perjalanan mudik tentunya adanya
keringanan bagi para musafir seperti pemudik untuk dapat melakukan
jamak/qasar. Pernah ada satu masjid yang saya kunjungi di daerah Jawa
Tengah—saya lupa di mana—memiliki tempat yang sangat indah dan
menyejukkan. Berada di tepi kali yang terlihat masih cukup
jernih—terutama kalau dibandingkan dengan kali-kali yang ada di Jakarta.
Pemandangan sawah yang menghampar pun memanjakan mata, membuat
peristirahatan untuk salat terasa lebih istimewa. Belum lagi udara sejuk
di pagi hari yang membuat hati lebih tenang. Namun, ada kalanya masjid
yang dikunjungi kurang begitu nyaman tempatnya. Misalnya saja tempat
berwudhu antara pria dan wanita yang tidak terpisah, atau bangunan yang
sudah tua dan terkadang tercium bau apak. Bahkan jika salat di daerah
Pantura, terkadang—atau seringnya—akan bertemu dengan masjid yang airnya
terasa sekali campuran air laut.
Tempat peristirahatan lain yang memiliki keunikan di kala mudik
adalah pom bensin. Jika biasanya di Jakarta kita hanya melihat pom
bensin sebagai tempat mengisi bahan bakar (sering juga sih ada mini
market), tapi tetap berbeda dengan pom bensin yang ada di daerah-daerah
tujuan pemudik. Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah suasana dari
pom bensin itu sendiri. Saat melihat sebuah pom bensin yang dipadati
pemudik yang beristirahat, entah untuk mencari makan di rumah makan yang
ada atau untuk menunaikan salat, merupakan hal yang seru bagi saya, dan
menarik. Beberapa pom bensin seperti yang ada di tol Cikampek bahkan
benar-benar menjelma menjadi tempat peristirahatan yang dipenuh restoran
cepat saji dan ruko-ruko tempat membeli makanan lain yang berderet di
dalamnya. Hal yang tidak lazim kita jumpai di pom bensin yang ada di
Jakarta bukan?
Yang terakhir, kisah mengenai restoran-restoran yang ada di sepanjang
wilayah yang dilalui pemudik. Untuk hal ini saya punya pengalaman
menarik lain. Rumah makan menjadi satu tempat yang wajib dikunjungi saat
dalam perjalanan mudik; setidaknya sekali dalam perjalanan. Rumah makan
pun jumlahnya menjamur di sepanjang daerah yang dilalui pemudik
tersebut, entah itu di daerah Pantura maupun di daerah selatan (Nagrek
menuju Bandung). Ada hal-hal unik yang dapat ditemui berkaitan dengan
restoran ini. Misalnya saja ada sebuah restoran yang cukup besar dan
terkenal, yang sering sekali menebar spanduk dan baliho maupun
umbul-umbul di sepanjang jalan. Pada alat publikasi tersebut sering kali
tertera berapa kilometer lagi yang akan dicapai untuk dapat menemui
restoran tersebut—yang bagi saya hal tersebut lucu adanya. Ada lagi
pengalaman lain yang saya temui berkaitan dengan rumah makan ini, bahwa
ternyata don’t judge book by its cover berlaku di sini. Saya
pernah menemui sebuah rumah makan dua lantai yang cukup besar di daerah
Nagrek. Kala itu kami sekeluarga agak was-was, mengira bahwa harga
makanan bakal membuat kami terpaksa merogoh kocek cukup dalam. Belum
lagi saat kami melihat interior di dalamnya yang cukup bagus dengan
taman di dalamnya. Namun saat kami melihat menu makanan, Alhamdulillah
harganya tidak jauh berbeda dengan makanan di kantin kampus. Dan rasanya
pun cukup enak. Pokoknya sama sekali tidak menyesal makan di tempat
itu. Namun, ketika kami melewati jalur Pantura dan berkunjung di sebuah
rumah makan kecil di pinggir jalan, harganya cukup membuat kami
terkejut, karena mereka mematok harga sampai dua kali lipat lebih dari
harga yang normal kami temui. Misalnya saja, untuk seporsi ayam bakar
dikenai harga sekitar 20 ribu, padahal ketika kami makan di restoran di
daerah Nagrek yang notabene lebih besar dari rumah makan itu, harganya
bahkan hanya sekitar belasan ribu rupiah.
Entah pengalaman menyenangkan dan kurang menyenangkan yang saya temui
selama perjalanan mudik di tempat-tempat peristirahatan tadi, mudik ke
kampung halaman akan tetap selalu menjadi hal yang unik, seru, dan
dinanti-nanti.
0 comments