#09 Pulang Minggu 9

Kamisan S2 #9 - Pulang: Asyiknya Tempat Peristirahatan Mudik

08.39Unknown


 mudik
(gambar suasana perjalanan mudik tahun lalu)

Salah satu kekhasan dari mudik yang saya sukai adalah saat harus beristirahat ketika melakukan perjalanan darat. Saya dan keluarga biasa mudik ke kampung halaman kami di daerah Jawa Tengah dengan menggunakan kendaraan pribadi. Menempuh perjalanan ratusan kilometer dan berjam-jam di jalan, tentunya tidak mungkin dilakukan dalam sekali jalan. Ada kalanya ketika kantuk, lelah, dan lapar melanda, serta saat harus menunaikan salat, kami berhenti sejenak di tempat peristirahatan yang lazim dikunjungi pemudik, yaitu: mesjid, pom bensin, dan rumah makan.

Di antara tiga hal itu masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Beristirahat di masjid misalnya, biasa dilakukan ketika kami hendak menunaikan salat. Ciri khas lain dari perjalanan mudik tentunya adanya keringanan bagi para musafir seperti pemudik untuk dapat melakukan jamak/qasar. Pernah ada satu masjid yang saya kunjungi di daerah Jawa Tengah—saya lupa di mana—memiliki tempat yang sangat indah dan menyejukkan. Berada di tepi kali yang terlihat masih cukup jernih—terutama kalau dibandingkan dengan kali-kali yang ada di Jakarta. Pemandangan sawah yang menghampar pun memanjakan mata, membuat peristirahatan untuk salat terasa lebih istimewa. Belum lagi udara sejuk di pagi hari yang membuat hati lebih tenang. Namun, ada kalanya masjid yang dikunjungi kurang begitu nyaman tempatnya. Misalnya saja tempat berwudhu antara pria dan wanita yang tidak terpisah, atau bangunan yang sudah tua dan terkadang tercium bau apak. Bahkan jika salat di daerah Pantura, terkadang—atau seringnya—akan bertemu dengan masjid yang airnya terasa sekali campuran air laut.

Tempat peristirahatan lain yang memiliki keunikan di kala mudik adalah pom bensin. Jika biasanya di Jakarta kita hanya melihat pom bensin sebagai tempat mengisi bahan bakar (sering juga sih ada mini market), tapi tetap berbeda dengan pom bensin yang ada di daerah-daerah tujuan pemudik. Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah suasana dari pom bensin itu sendiri. Saat melihat sebuah pom bensin yang dipadati pemudik yang beristirahat, entah untuk mencari makan di rumah makan yang ada atau untuk menunaikan salat, merupakan hal yang seru bagi saya, dan menarik. Beberapa pom bensin seperti yang ada di tol Cikampek bahkan benar-benar menjelma menjadi tempat peristirahatan yang dipenuh restoran cepat saji dan ruko-ruko tempat membeli makanan lain yang berderet di dalamnya. Hal yang tidak lazim kita jumpai di pom bensin yang ada di Jakarta bukan?

Yang terakhir, kisah mengenai restoran-restoran yang ada di sepanjang wilayah yang dilalui pemudik. Untuk hal ini saya punya pengalaman menarik lain. Rumah makan menjadi satu tempat yang wajib dikunjungi saat dalam perjalanan mudik; setidaknya sekali dalam perjalanan. Rumah makan pun jumlahnya menjamur di sepanjang daerah yang dilalui pemudik tersebut, entah itu di daerah Pantura maupun di daerah selatan (Nagrek menuju Bandung). Ada hal-hal unik yang dapat ditemui berkaitan dengan restoran ini. Misalnya saja ada sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal, yang sering sekali menebar spanduk dan baliho maupun umbul-umbul di sepanjang jalan. Pada alat publikasi tersebut sering kali tertera berapa kilometer lagi yang akan dicapai untuk dapat menemui restoran tersebut—yang bagi saya hal tersebut lucu adanya. Ada lagi pengalaman lain yang saya temui berkaitan dengan rumah makan ini, bahwa ternyata don’t judge book by its cover berlaku di sini. Saya pernah menemui sebuah rumah makan dua lantai yang cukup besar di daerah Nagrek. Kala itu kami sekeluarga agak was-was, mengira bahwa harga makanan bakal membuat kami terpaksa merogoh kocek cukup dalam. Belum lagi saat kami melihat interior di dalamnya yang cukup bagus dengan taman di dalamnya. Namun saat kami melihat menu makanan, Alhamdulillah harganya tidak jauh berbeda dengan makanan di kantin kampus. Dan rasanya pun cukup enak. Pokoknya sama sekali tidak menyesal makan di tempat itu. Namun, ketika kami melewati jalur Pantura dan berkunjung di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, harganya cukup membuat kami terkejut, karena mereka mematok harga sampai dua kali lipat lebih dari harga yang normal kami temui. Misalnya saja, untuk seporsi ayam bakar dikenai harga sekitar 20 ribu, padahal ketika kami makan di restoran di daerah Nagrek yang notabene lebih besar dari rumah makan itu, harganya bahkan hanya sekitar belasan ribu rupiah.

Entah pengalaman menyenangkan dan kurang menyenangkan yang saya temui selama perjalanan mudik di tempat-tempat peristirahatan tadi, mudik ke kampung halaman akan tetap selalu menjadi hal yang unik, seru, dan dinanti-nanti.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak