#10 Semadi Minggu 10

Kamisan S2 #10 - Semadi: Patung

09.00Unknown

Seandainya saya tidak mendapat mention menyoal #kamisan oleh Adji, tentunya saya tidak akan ingat tentang hal tersebut. Dalam anggapan saya,  minggu ini libur, namun ternyata baru akan libur minggu depan. Dan, tema #kamisan ke 10, yang dilempar oleh Oom Adham, seorang penulis yang baru saja menerbitkan buku terbarunya dengan judul Rahasia Hujan, adalah Semadi. #Promosi #BantuTemen #eeh

Bicara tentang semadi--atau mungkin telinga kita lebih akrab dengan semedi?--yaitu pemusatan pikirani dan perasaan; meditasi, menurut KBBI, saya teringat dengan salah satu tokoh walisanga: Sunan Kalijaga.

Dikisahkan, sebelum menjadi murid Sunan Bonang, dan kemudian menjadi wali, beliau diperintahkan untuk menjaga tongkat Sang (calon) Guru yang ditancapkan di tepi sungai, atau kali. Begitu khusyuknya menjaga tongkat tersebut, sampai-sampai beliau tertidur dan dibangunkan 3 tahun kemudian oleh sang Guru.

Juga tentang para tokoh pewayangan, yang karena begitu khusyuk ketika melakukan semadi, sampai-sampai membuat para dewa di langit sana meneteskan air mata, dan kemudian mengabulkan saja apa yang menjadi hajat si petapa (terkadang, dewa tak mau berpikir panjang ketika mengabulkan hajat si pertapa, yang kemudian malah menimbulkan bencana di dunia. Setelah itu, mereka akan tetap dipanggil dewa).

Juga kisah lain, yang tentu bisa kalian ingat-ingat sendiri.

Dan yang akan kukisahkan, mungkin sesuatu yang belum pernah kalian dengar.

*

Jati, seoarang biasa yang tiba-tiba terkenal karena menemukan sebuah arca seukuran manusia di halaman rumahnya, berdiri dengan pongah di samping patung yang terlihat seperti seorang yang sedang duduk itu. Bagaimana muasal patung itu bisa sampai di halaman rumahnya, dia pun tidak tahu. Yang dia tahu, begitu ia membuka pintu pada pukul 5 pagi, patung orang duduk itu sedang duduk dalam posisi bersemadi di rerumputan, di halaman rumahnya.

Itu tidak akan terlalu menggemparkan, seandainya, satu Minggu yang lalu, seorang tua yang terlihat bijak mengatakan bahwa malapetaka akan ditimpakan kepada seluruh warga kampung. Warga terlalu malas untuk bekerja, atau sekadar berinteraksi antar sesama. Itulah yang membuat Tuhan murka. Dan, lewat bibir si orang bijak, Tuhan mengatakan bahwa tidak lama lagi semua warga akan diubah menjadi patung.

"Lalu kami harus bagaimana, Guru?" 

Seorang pemuda kurus dengan wajah penuh jerawat langsung saja mengangkat diri sebagai murid.

Si Guru tidak langsung menjawab. Dengan gaya seorang bijak, ia tertawa sambil mengelus jenggotnya yang berwarna putih. "Tidak ada yang harus kalian lakukan."

"Maksud Guru, kami harus diam saja, begitu?"

Si Guru kembali tertawa. "Memangnya, kalian bisa melawan kehendak Tuhan?"

"Ampun, Guru. Bantu kami!" Seorang wanita empatpuluhan tiba-tiba bersujud sambil tersedu di bawah kaki orang bijak. Tindakan dramatisnya itu kemudian diikuti oleh semua warga yang hadir di tempat itu.

Melihat warga kampung bersujud di bawah kakinya, si orang bijak menghela napas. "Baiklah. Aku akan bantu sebisaku. Aku akan bersemadi, memohon kepada Tuhan agar kalian semua dijauhkan dari azab."

Dan penampakan patung si orang duduk sangat mirip dengan si orang bijak. Itulah yang membuat warga berduyun-duyun datang melihat.

"Guru!" Si pemuda yang mengangkat diri sebagai murid berlari histeris, dan bersujud sambil menangis hebat di hadapan si patung. "Mengapa guru menjadi seperti ini? Apakah berarti Tuhan tidak mau mengabulkan permohonan Guru? Apakah berarti Tuhan akan tetap mengazab warga kampung? Guru!"

Tak ada seorang pun warga, terutama Jati, yang berpikir seperti itu. Dalam pemikiran mereka, si orang bijak telah menanggung azab semua warga seorang diri. Itulah kenapa, alih-alih semua warga menjadi patung, ia menjadi patung. Tapi benarkah itu yang terjadi? Sekarang mereka mulai ragu.

"Hei, kamu jangan ngawur kalau ngomong!" Jati berteriak sambil mengacung-acungkan telunjuknya ke arah si murid. "Orang bijak ini telah dengan sukarela mengambil semua jatah azab kita. Itulah kenapa ia menjadi patung. Dan aku, sebagai warga terpandai dan teralim di kampung ini, dipilih olehnya untuk menyampaikan kebenaran ini. Itulah kenapa ia tiba-tiba ada di halaman rumahku."

Si murid nampak acuh. Dia tetap sesenggukan di hadapan patung Gurunya. "Aku tidak percaya! Beliau orang bijak. Tidak mungkin Tuhan menimpakan semua azab kita kepada dirinya. Tuhan tidak mungkin tega. Biarpun guru sendiri yang meminta demikian, aku yakin Tuhan akan dengan sangat bijak menolak, dan memilih meluluskan keinginannya.

"Ini berarti, Tuhan telah benar-benar marah sampai membuat seorang bijak menjadi batu!"

Para warga yang ketakutan mulai berbisik-bisik. Sebagian besar setuju dengan pendapat si pemuda, sebagian yang lain tidak memiliki pendapat apa-apa.

"Kalau begitu, menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" Salah seorang pria dengan codet di pipi bertanya pada si pemuda.

Si pemuda itu diam, dan hanya melihat patung sang guru--tentu dengan sesengggukan.
"Kita harus melakukan apa yang guru lakukan. Bersemadi!"

"Kalau kita menjadi batu?"

"Maka itu yang memang harus terjadi."

Setelah berkata begitu, si pemuda segera mengambil posisi sama persis dengan guru, yang kemudian diikuti oleh semua warga tanpa terkecuali.

Mereka begitu khusyuk saat bersemadi. Sampai-sampai, Tuhan tak perlu menurunkan azab karena mereka telah menjadi patung.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak