Seandainya saya tidak mendapat mention menyoal #kamisan oleh Adji,
tentunya saya tidak akan ingat tentang hal tersebut. Dalam anggapan
saya, minggu ini libur, namun ternyata baru akan libur minggu depan.
Dan, tema #kamisan ke 10, yang dilempar oleh Oom Adham, seorang penulis
yang baru saja menerbitkan buku terbarunya dengan judul Rahasia Hujan,
adalah Semadi. #Promosi #BantuTemen #eeh
Bicara tentang semadi--atau mungkin telinga kita lebih akrab dengan
semedi?--yaitu pemusatan pikirani dan perasaan; meditasi, menurut KBBI,
saya teringat dengan salah satu tokoh walisanga: Sunan Kalijaga.
Dikisahkan, sebelum menjadi murid Sunan Bonang, dan kemudian menjadi
wali, beliau diperintahkan untuk menjaga tongkat Sang (calon) Guru yang
ditancapkan di tepi sungai, atau kali. Begitu khusyuknya menjaga tongkat
tersebut, sampai-sampai beliau tertidur dan dibangunkan 3 tahun
kemudian oleh sang Guru.
Juga tentang para tokoh pewayangan, yang karena begitu khusyuk ketika
melakukan semadi, sampai-sampai membuat para dewa di langit sana
meneteskan air mata, dan kemudian mengabulkan saja apa yang menjadi
hajat si petapa (terkadang, dewa tak mau berpikir panjang ketika
mengabulkan hajat si pertapa, yang kemudian malah menimbulkan bencana di
dunia. Setelah itu, mereka akan tetap dipanggil dewa).
Juga kisah lain, yang tentu bisa kalian ingat-ingat sendiri.
Dan yang akan kukisahkan, mungkin sesuatu yang belum pernah kalian dengar.
*
Jati, seoarang biasa yang tiba-tiba terkenal karena menemukan sebuah
arca seukuran manusia di halaman rumahnya, berdiri dengan pongah di
samping patung yang terlihat seperti seorang yang sedang duduk itu.
Bagaimana muasal patung itu bisa sampai di halaman rumahnya, dia pun
tidak tahu. Yang dia tahu, begitu ia membuka pintu pada pukul 5 pagi,
patung orang duduk itu sedang duduk dalam posisi bersemadi di
rerumputan, di halaman rumahnya.
Itu tidak akan terlalu menggemparkan, seandainya, satu Minggu yang
lalu, seorang tua yang terlihat bijak mengatakan bahwa malapetaka akan
ditimpakan kepada seluruh warga kampung. Warga terlalu malas untuk
bekerja, atau sekadar berinteraksi antar sesama. Itulah yang membuat
Tuhan murka. Dan, lewat bibir si orang bijak, Tuhan mengatakan bahwa
tidak lama lagi semua warga akan diubah menjadi patung.
"Lalu kami harus bagaimana, Guru?"
Seorang pemuda kurus dengan wajah penuh jerawat langsung saja mengangkat diri sebagai murid.
Si Guru tidak langsung menjawab. Dengan gaya seorang bijak, ia
tertawa sambil mengelus jenggotnya yang berwarna putih. "Tidak ada yang
harus kalian lakukan."
"Maksud Guru, kami harus diam saja, begitu?"
Si Guru kembali tertawa. "Memangnya, kalian bisa melawan kehendak Tuhan?"
"Ampun, Guru. Bantu kami!" Seorang wanita empatpuluhan tiba-tiba
bersujud sambil tersedu di bawah kaki orang bijak. Tindakan dramatisnya
itu kemudian diikuti oleh semua warga yang hadir di tempat itu.
Melihat warga kampung bersujud di bawah kakinya, si orang bijak
menghela napas. "Baiklah. Aku akan bantu sebisaku. Aku akan bersemadi,
memohon kepada Tuhan agar kalian semua dijauhkan dari azab."
Dan penampakan patung si orang duduk sangat mirip dengan si orang
bijak. Itulah yang membuat warga berduyun-duyun datang melihat.
"Guru!" Si pemuda yang mengangkat diri sebagai murid berlari
histeris, dan bersujud sambil menangis hebat di hadapan si patung.
"Mengapa guru menjadi seperti ini? Apakah berarti Tuhan tidak mau
mengabulkan permohonan Guru? Apakah berarti Tuhan akan tetap mengazab
warga kampung? Guru!"
Tak ada seorang pun warga, terutama Jati, yang berpikir seperti itu.
Dalam pemikiran mereka, si orang bijak telah menanggung azab semua warga
seorang diri. Itulah kenapa, alih-alih semua warga menjadi patung, ia
menjadi patung. Tapi benarkah itu yang terjadi? Sekarang mereka mulai
ragu.
"Hei, kamu jangan ngawur kalau ngomong!" Jati berteriak sambil
mengacung-acungkan telunjuknya ke arah si murid. "Orang bijak ini telah
dengan sukarela mengambil semua jatah azab kita. Itulah kenapa ia
menjadi patung. Dan aku, sebagai warga terpandai dan teralim di kampung
ini, dipilih olehnya untuk menyampaikan kebenaran ini. Itulah kenapa ia
tiba-tiba ada di halaman rumahku."
Si murid nampak acuh. Dia tetap sesenggukan di hadapan patung
Gurunya. "Aku tidak percaya! Beliau orang bijak. Tidak mungkin Tuhan
menimpakan semua azab kita kepada dirinya. Tuhan tidak mungkin tega.
Biarpun guru sendiri yang meminta demikian, aku yakin Tuhan akan dengan
sangat bijak menolak, dan memilih meluluskan keinginannya.
"Ini berarti, Tuhan telah benar-benar marah sampai membuat seorang bijak menjadi batu!"
Para warga yang ketakutan mulai berbisik-bisik. Sebagian besar setuju
dengan pendapat si pemuda, sebagian yang lain tidak memiliki pendapat
apa-apa.
"Kalau begitu, menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" Salah seorang pria dengan codet di pipi bertanya pada si pemuda.
Si pemuda itu diam, dan hanya melihat patung sang guru--tentu dengan sesengggukan.
"Kita harus melakukan apa yang guru lakukan. Bersemadi!"
"Kalau kita menjadi batu?"
"Maka itu yang memang harus terjadi."
Setelah berkata begitu, si pemuda segera mengambil posisi sama persis dengan guru, yang kemudian diikuti oleh semua warga tanpa terkecuali.
Mereka begitu khusyuk saat bersemadi. Sampai-sampai, Tuhan tak perlu menurunkan azab karena mereka telah menjadi patung.
0 comments