Kita adalah dua orang paling “labil” yang pernah kuketahui, Vy.
Kenapa? Coba lihat dirimu! Dan coba lihat diriku! Lalu masih haruskah ada
keraguan di antara kita tentang masa depan yang harusnya sudah bisa kita
bayangkan?
Aku mencintaimu, Vy, seperti kau mencintaiku. Aku sudah
berniat untuk mengucap janji suci di altar putih penuh bunga lily seperti yang
kau mau. Aku sudah mempersiapkan cincin emas putih bertahtakan darah beku kita
di dalam kotak beludru. Aku sudah mempersiapkan segalanya, Vy. Segalanya. Dan dengan
tenangnya kau bilang kita harus menunda semuanya?
“Kurasa ada banyak hal yang harus kita pikirkan kembali,
Lex. “ begitu katamu saat kita bertemu di restoran Jepang favorit kita,
seminggu yang lalu. Sebulan sebelum pernikahan kita.
“Aku ingin memikirkan semuanya kembali. Mungkin aku ingin
pergi untuk sementara, memantapkan hatiku.” Kalimat kedua yang kau ucapkan
setelah keheningan panjang kita. Aku belum mampu membantahmu, atapun menuntut
penjelasan darimu.
“Kau mau ke mana, Vy?”
“Ke Gereja Cathedral, Lex. Tempat Ayah dan Ibuku bertemu
pertama kali.”
“Untuk apa?”
“Mungkin, berkontemplasi, atau bersemadi, atau mungkin….”
“Vy, katakana padaku, kau tidak ingin menjadi biarawati,
bukan? Seperti apa yang kau impikan sewaktu berumur 5 tahun?”
Tanganmu menyentuhku setelah aku melontarkan pertanyaan itu.
Aku tak tahu harus membalasnya atau tidak. Semua terasa begitu dingin sekarang.
Lalu perlahan kedua tangan lembut itu menggenggam jemari-jemariku. Hangat pun
segera menjalar dan mengisi penuh nadiku.
“Lex, please, wait me for a little longer. Setelah sebelas
tahun, tak bisakah kamu menungguku bersemadi sejenak saja? Sejenak lebih lama?”
Aku hanya mampu diam. Namun senyumku tak bisa hilang. Aku mempercayaimu,
Vy, setelah sebelas tahun penantian kita. Aku masih memercayaimu. Selalu
memercayaimu.
0 comments