“Apa yang bisa dilakukan orang yang memiliki laut di depannya?”
Pertanyaan itu menggelitik kepala Heru pagi tadi, “Menganggap masalah
hidup tak lebih dari ombak yang berusaha memecah batu karang, mungkin”
jawabnya kemudian.
“Berarti bisa saja masalah itu sebegitu kecilnya dan tak
berpengaruh apa-apa pada karang, atau sebegitu besarnya hingga mampu
menggeser, memecah atau bahkan mungkin menghancurkan karang di depannya
kan? Tergantung besar kecilnya karang, kuat tidaknya angin yang
berhembus, juga kapasitas air laut sedang surut atau pasang, begitu?”
“Hmm ya bisa jadi” Heru merogoh sakunya mengambil sebatang rokok yang
tersisa, lalu membakarnya, matanya masih menerawang, membayangkan semua
kejadian yang baru dibicarakannya itu berputar di kepalanya,
seolah-olah benar-benar terjadi di hadapannya.
“Lalu bagaimana seandainya ada orang di seberang pulau yang membutuhkan pertolongan?”
Heru menghisap lintingan tembakau itu dalam-dalam, matanya masih
kosong, nanar menatap pulau yang tiba-tiba muncul di depannya dengan
seseorang yang melambaikan tangan meminta pertolongan. “Apa dia
perempuan? Atau laki-laki?”
“Apa pengaruhnya? Bukankah sama saja?”
“Tidak, kalau laki-laki bisa saja kami berkenalan, berteman akrab
bertahun-tahun kemudian, hingga sisa makanan di pulau kami berdua habis
dan secara logika kami akan mulai saling mengorbankan anggota tubuh kami
untuk bertahan hidup, atau bisa saja dia hanya berpura-pura meminta
pertolongan hanya untuk memancingku ke sana dan kemudian dengan mudah ia
membunuhku”
“Sepicik itu?”
“Tidak, ada juga kemungkinan lainnya, bisa jadi ketika makanan habis
kami akan bekerja sama membuat perahu atau semacamnya untuk meninggalkan
pulau-pulau kami, mencari penghidupan dan kehidupan lain di luar sana”
“Kalau perempuan?”
“Bisa saja aku menolongnya, kemudian kami berkenalan, akrab, saling
jatuh cinta, dan begitu saja menjalani hidup berdua, punya anak, mencoba
mencari penghidupan lain di luar pulau-pulau kami”
“Bukankah masalahnya kau mau menolongnya atau tidak, itu saja?”
“Ya, benar, kalau aku bisa melihatnya membutuhkan pertolongan,
berarti jarak antara pulau kami tak begitu jauh, sehingga aku mestinya
bisa memperhitungkan jaraknya berapa, berapa lama waktuku untuk mencapai
ke sana, bagaimana aku bisa sampai sana dengan selamat, bagaimana aku
bisa memberikan pertolongan yang tepat dan benar-benar sesuai dengan
yang ia butuhkan, dan yang paling penting kenapa aku harus ke sana?
Bukankah seperti itu?”
“Hmmm, iya, tapi bukankah setiap manusia memang harus saling menolong?”
“Menolong sebisanya, semampunya, dan sekuatnya”
“Sisanya?”
“Serahkan pada yang lebih berhak”
“Hmm, jadi kira-kira kau akan menolongnya atau tidak?”
“Mungkin, mungkin aku akan menolongnya”
“Pertolongan macam apa yang bisa kauberikan?”
“Ada dua kemungkinan, yang pertama seperti yang aku katakan tadi,
pertama mencoba menyeberang ke sana memberikan pertolongan semampunya,
sekuatnya dan sebisanya”
“Lalu yang kedua?”
“Kemungkinan kedua adalah jika aku tak bisa pergi ke sana ke tempat
orang yang membutuhkan pertolongan itu, maka yang kulakukan adalah
menemaninya, mungkin semacam memberinya pesan atau tanda bahwa ia tak
sendirian, ada seseorang yang mencoba mengerti perasaannya meski tak
bisa membantunya, paling tidak aku bisa menolongnya dengan cara ikut
merasakan penderitaannya, kesakitannya, memberitahunya ada aku di sini
yang menemanimu, meskipun pasti sangat sakit rasanya tak bisa membantu
secara langsung”
“Ada kemungkinan lainnya?”
“Ya, selalu ada”
“Apa itu?”
“Lupakan semua imajinasinya dan kembali ke kehidupan nyata” Heru
membuang puntung rokok yang telah hampir terbakar habis, lalu meminum
kopinya yang tersisa setengah.
“Sesederhana dan sekompleks itu?”
“Iya, semudah dan serumit itu. Ada Rokok?” Heru menolehkan kepalanya sambil meletakkan dua jarinya depan mulut.
“Ada”
“Oke, terima kasih, selamat pagi”
“Pagi” jawab suara di kepalanya, lalu pergi menjauh dan menghilang.
***
Entah yang ada di kepala mas Eko itu apa, sepagi ini sudah membuat
orang berpikir absurd, tapi llumayan bisa jadi bahan menulis kamisan…
X)))
Saya coba jawab, dari sudut gelap kepala saya, Mas. X))
0 comments