#08 Perlina Minggu 8

Kamisan S2 #8 - Perlina: Hiperbola Rasa

16.42Unknown

Kekasihku,

kicau burung gereja pagi itu terlantun begitu merdu. Bagai nyanyian para malaikat yang mengumandang pujian harmoni kepada sang Pencipta. Begitu indah dan menggugah jiwa yang telah terpanah oleh asmara. Termabuk akan buaian cinta.

Mentari bersinar cerah menerangi birunya langit. Awan-awan putih lembut bergelantung tanpa beban. Hijaunya dedaunan dan cokelatnya batang pohon terlihat begitu segar dan kokoh. Bahkan para bunga dengan sukacita memekarkan kelopak mereka. Untukku. Untuk jiwa ini yang termabuk buaian cinta.
Tawamu …. Ingatkah kau ketika kukatakan bahwa kau tak pantas tersenyum karena tawamu lebih indah dari senyum? Saat itu, kau tak setuju, namun kau tetap tertawa untukku. Sipu malumu …. Setiap kau ucapkan kata cinta padaku. Setiap tatapan teduh dan belaian lembut darimu selalu bersamaan dengan rona merah di pipi itu.

Denganmu, kutemukan cinta yang lebih indah dari kenyataan. Doa yang lebih murni dari pengharapan. Hari-hari yang kita lalui terasa seperti mimpi yang terlalu sureal untuk menjadi nyata. Segala tawa dan gelak canda. Segala obrolan dan rayuan. Segala ungkapan dan janji untuk saling mencinta, selamanya.
Semuanya itu perlina sudah.

Ketika tanpa kata, kau putuskan untuk pergi.
Waktu seakan berhenti. Siang tak lagi berganti malam, matahari tak mampu menyinari bulan. Para burung pun tak lagi berkicau. Dedaunan di pohon tak lagi bergemerusuk. Air tak lagi beriak. Bumiku tandus terabaikan. Tak berarti. Tanpa dirimu.

Terlalu berat rasa yang kau tinggalkan di dada ini. Dalam perlindungan rusuk, jantungku tak ingin lagi berdegup. Detaknya tak lagi berarti. Ketika kau tak ada, setiap udara yang kuhirup menjadi racun menyesakkan, dan seluruh darah dalam tubuhku mengalir membawa serpihan beling-beling kaca yang menyayat pembuluhnya.

Tapi mengapa tidak begitu untuk dirimu? Mengapa kau pergi? Begitu saja.

Kekasih,
surat ini kutuliskan untukmu. Demi para pertanyaan yang tak pernah terjawab. Demi para janji yang terabai dan tak terbayarkan. Demi para rasa yang terkhianati. Mungkin, suatu hari nanti keajaiban terjadi dan kau ingin kembali.

Aku akan menanti.

Bumiku yang tandus terabai untuk kembali mekar. Demi cintamu yang hilang untuk kembali bertunas. Padaku. Pada kita. Pada janji yang pernah terucap. Saling mencinta, selamanya.

——-
(^ saya ngerasa jijay nulis ini, entah kenapa.)

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak