Kekasihku,
kicau burung gereja pagi itu terlantun begitu merdu. Bagai nyanyian
para malaikat yang mengumandang pujian harmoni kepada sang Pencipta.
Begitu indah dan menggugah jiwa yang telah terpanah oleh asmara.
Termabuk akan buaian cinta.
Mentari bersinar cerah menerangi birunya langit. Awan-awan putih
lembut bergelantung tanpa beban. Hijaunya dedaunan dan cokelatnya batang
pohon terlihat begitu segar dan kokoh. Bahkan para bunga dengan
sukacita memekarkan kelopak mereka. Untukku. Untuk jiwa ini yang
termabuk buaian cinta.
Tawamu …. Ingatkah kau ketika kukatakan bahwa kau tak pantas
tersenyum karena tawamu lebih indah dari senyum? Saat itu, kau tak
setuju, namun kau tetap tertawa untukku. Sipu malumu …. Setiap kau
ucapkan kata cinta padaku. Setiap tatapan teduh dan belaian lembut
darimu selalu bersamaan dengan rona merah di pipi itu.
Denganmu, kutemukan cinta yang lebih indah dari kenyataan. Doa yang
lebih murni dari pengharapan. Hari-hari yang kita lalui terasa seperti
mimpi yang terlalu sureal untuk menjadi nyata. Segala tawa dan gelak
canda. Segala obrolan dan rayuan. Segala ungkapan dan janji untuk saling
mencinta, selamanya.
Semuanya itu perlina sudah.
Ketika tanpa kata, kau putuskan untuk pergi.
Waktu seakan berhenti. Siang tak lagi berganti malam, matahari tak
mampu menyinari bulan. Para burung pun tak lagi berkicau. Dedaunan di
pohon tak lagi bergemerusuk. Air tak lagi beriak. Bumiku tandus
terabaikan. Tak berarti. Tanpa dirimu.
Terlalu berat rasa yang kau tinggalkan di dada ini. Dalam
perlindungan rusuk, jantungku tak ingin lagi berdegup. Detaknya tak lagi
berarti. Ketika kau tak ada, setiap udara yang kuhirup menjadi racun
menyesakkan, dan seluruh darah dalam tubuhku mengalir membawa serpihan
beling-beling kaca yang menyayat pembuluhnya.
Tapi mengapa tidak begitu untuk dirimu? Mengapa kau pergi? Begitu saja.
Kekasih,
surat ini kutuliskan untukmu. Demi para pertanyaan yang tak pernah
terjawab. Demi para janji yang terabai dan tak terbayarkan. Demi para
rasa yang terkhianati. Mungkin, suatu hari nanti keajaiban terjadi dan
kau ingin kembali.
Aku akan menanti.
Bumiku yang tandus terabai untuk kembali mekar. Demi cintamu yang
hilang untuk kembali bertunas. Padaku. Pada kita. Pada janji yang pernah
terucap. Saling mencinta, selamanya.
——-
(^ saya ngerasa jijay nulis ini, entah kenapa.)
0 comments