#07 Game of Love Minggu 7

Kamisan S2 #7 - The Game of Love: Segala yang Memudar di Masa Depan

16.20Unknown

Kita tahu, dunia ini dipenuhi kisah cinta. Baik yang berakhir bahagia atau bahkan yang tragis seperti banyak kisah yang lahir pada masa keemasan Shakesper. Yang akan saya ceritakan kali ini, terserah kalian akan menyebutnya seperti apa. Kisah cinta yang dungu. Pelarian. Permainan takdir atau permainan cinta itu sendiri, terserah kalian saja. Dan agar kisah ini tak menyinggung siapapun, saya akan menggunakan diri saya sendiri sebagai tokoh.
——–
Aku berkedip sekali, memastikan notifikasi dari kotak pesan akun facebook-ku yang baru saja masuk. Sebuah pesan dari seorang yang nggak pernah kusangka. Kami adalah rival selama ini. Perempuan yang menggoda pria yang sedang bersamaku. Lalu membawanya pergi jauh dari kotaku.
Ngapain ni bocah?
Aku merasai jantung berdetak tiga kali. Selalu. Ketika ada hal-hal yang mungkin akan menjadi tidak baik akan terjadi. Setelah menunggu beberapa saat barulah aku membuka pesan tersebut.
Ada yang ingin kutanyakan. Dan aku nggak tahu bisa bertanya dengan siapa lagi. Kamu rasanya orang yang tepat. Kamu lebih mengenalnya daripada aku.
Sebelumnya, aku minta maaf kalau kamu berpikir aku merebutnya darimu.
Secara harafiah, sebetulnya, bocah ini tak merebut pria itu dariku. Kami bukan lagi siapa-siapa meski masih bersama. Tetapi kebersamaan kami tak bisa dibilang bukan siapa-siapa. Ini jelas ada apa-apa. Ketergantungan, mungkin? Aku menahan dada dengan satu tangan. Menekan nyeri yang tiba-tiba muncul di sana.
[]
Ingatanku kembali pada tahun di mana kami pertama kali bertemu.
Aku gegas menyusuri Taman Ismail Marzuki. Hari itu beberapa teman dari komunitas yang kuikuti mengadakan kopi darat. Dan pria itu, entah untuk urusan apa, datang dari jauh ke kota ini.
Tak ada yang menarik darinya. Dia terlihat payah waktu itu. Dengan jaket coklat. Rambut yg berantakan dan asap rokok yang tak henti ia embuskan dari mulutnya. Bagiku, pria yang (sedang) merokok tak ada bagus-bagusnya. Pertemuan pertama kami bukanlah awal aku tertarik padanya.
Aku lupa. Apa dan bagaimana kami bisa sekarib itu. Mengingat, selama di komunitas aku tak begitu suka dengan tingkahnya. Ah ya, lewat interaksi di grup, kalau aku tidak salah ingat. Dia menawariku mendengarkan lagu yang ia ciptakan. Lagu yang ia buat untuk kekasihnya.
Ya. Dia adalah pria dengan kekasih. Aku tak tahu fakta itu karna memang tak terlihat sama sekali interaksi mereka di laman facebook pria itu. Aku baru tahu ketika dia bercerita. Bahwa kekasihnya selalu cemburu melihat interaksinya dengan banyak perempuan. Hingga memutuskan memblok akun pria itu.
Tentu saja, kupikir, kalau aku kekasihnya aku pasti juga akan merasa begitu. Pria ini terlalu supel. (Tetapi ketika aku sudah menjadi kekasihnya, aku tidak terlalu peduli. Pria itu milikku. Dia benar, cemburu hanya akan merendahkanku sebab dia yang memilihku).
Mungkin, aku adalah tempat singgah yang menyediakan full fasilitas dari panjang perjalanannya. Atau aku perempuan yang terlalu peduli. Terlalu mudah mengkhawatirkan orang lain. Terlalu naif sebab berpikir, ia akan mati karena sedih ketika kekasihnya memutuskan hubungan mereka dan memilih bersama orang lain.
Aku pastilah terlalu naif. Tapi tak cukup naif untuk mengatakan padanya, agar tak menjadikanku daun. Sebulan setelah ditinggal kekasihnya, ia memintaku menjadi kekasihnya. Persis empat bulan setelah itu ia berubah menjadi angin.
[]
“Kamu masih berhubungan sama dia, Ar?”
“Emang mau sesakit apa lagi sieh rasanya baru kamu mau lepas dari dia? Dia nggak ngasih kamu apa-apa selain rasa sakit, Ay!”
Di bulan ke empat. Ketika ia akhirnya kembali ke kampung halamannya dari kotaku. Tak pernah terpikir olehku kalau pria itu akan kembali mengejar mantan kekasihnya itu. Tak terpikirkan juga olehku waktu itu, bagaimana aku bisa begitu tabah dinafikan kekasih sendiri.
Sulit melepaskan orang yang kaubiarkan masuk ke dalam hatimu. Mungkin alasan kenapa aku rela masih menjadi tempat singgah ketika ia butuh peristirahatan. Kami kembali bersama meski tanpa ikatan apa-apa. Hanya ada ketergantungan dan kebutuhan. Yang kehadirannya pelan-pelan merangsek masuk ke kehidupanku. Membuatku seutuhnya mengikat diri.
Sampai bocah ini hadir di kehidupan kami. Sepertinya takdir masih ingin bermain-main dengan hatiku.
Sampai akhirnya pria itu tak pernah lagi pulang. Ia punya tujuan dan tempat singgah baru. Ia hanya sesekali hadir. Menjenguk dan sekadar memastikan aku baik-baik saja. Tapi ia tak pernah melihat lebih jauh, hanya sebatas pintu, ia tak melihat aku meringkuk di sudut. Berusaha hidup dengan lebam-biru di hati.
[]
Mau tanya apa?

Aku membalas pesan bocah tadi. Aku nyaris ingin tertawa. Tuhan, ini lucu sekali. Dua perempuan yang dicampakkan pria yang sama lalu sekarang akan saling curhat?
Biar kujelaskan situasinya. Kami, aku dan pria itu meski tak memiliki hubungan apa-apa. Hanya teman. (Aku muak dengan istilah ini. Ayolah. Dua orang teman tidak berciuman kan?) tetapi selama ini kami masih bersama. Hubungan pria itu dengan bocah ini pun ternyata tak bertahan lama. Tahu-tahu saja, si Pria sudah bersama perempuan lain (lagi).
Bukan apa-apa kok, Ar. Ini cuma taruhan. Semacam ingin membuktikan kalau dia bisa kutaklukan.
Aku menekan pelipis kiriku yang berdenyut. Bagaimana aku bisa setengah mati mencintai pria ini? Dan dengan sadar, aku merasa senang mendengarnya. Biarlah status pria itu bersama orang lain. Tetapi kami masih bisa bersama. Aku menjadi setengah iblis sekarang.
Bagaimana aku bisa yakin bahwa apa yang pria ini katakan benar. Bahwa ia mencintaiku, sementara ia masih bersamamu dan berstatus pacar orang.
Balasan bocah itu membuatku tertegun. Ini informasi baru buatku. Kupikir, pria itu mencintaiku. Kupikir alasan kami benar-benar tak bisa bersama adalah masalah agama yang berbeda. Kupikir aku, ah! Berhentilah berpikir. Lihat dirimu. Kaukacau!
[]
Sampai hari terakhir kami bertemu, pria itu masih memamerkan perannya yang luar biasa.
Pagi hari, ia bertemu bocah itu di bandara. Lalu menemuiku pada siang harinya. Pria itu, tanpa rasa bersalah sedikit pun, berkata setelah menyerahkan barang yang ia pinjam ke padaku; apa sebaiknya aku jemput dia di tempat kerjanya aja ya?
Demi Tuhan. Selama ini aku benar-benar ada dalam sebuah permainan.
Tubuhku menegang untuk sesaat. Ucapannya sulit untuk dipercaya. Aku menguat-nguatkan diri. Gegas berdiri dan berlalu dari hadapannya. Hari ini aku merasa sangat menyesal tak mendaratkan tanganku ke wajahnya waktu itu.
——–
07:13
Aria
Catatan :
Tulisan ini hadir sebab Waktu yang Tepat untuk Berpisah, Terima Kasih Bijaksana, Tunggu Aku di Jakarta. Aku benci mendengar SO7!

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak