#06 Martabak Telur Minggu 6

Kamisan S2 #6 - Martabak Telur: Mantra Delapan, Endorfin dan Sedikit Keberuntungan

16.18Unknown

Mara masih menutup matanya. Hitungannya baru sampai ke angka empat. Ia terus merapal nama-nama angka sambil–di sela-selanya–Mara mengembuskan nafas lamat-lamat. Cara itu diajarkan Dana padanya. Kalau perasaanmu sedang tertekan. Dadamu himpit oleh tangis. Cobalah menghitung sampai delapan, embuskan nafas pelan-pelan. Setelahnya, kauakan baik-baik saja. Mara menurut. Setiap kali dadanya seakan mau pecah, lesak karna menahan tangis. Ia akan merapal mantra delapan ciptaan Dana itu.
Mara tidak tahu bahwa dirinya masih selemah ini. Sudah cukup lama ketika Mara memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan mantan pacarnya, menjauh dari segala hal yang akan mengingatkan dirinya pada kenangan akan mereka. Ia kira dirinya sudah cukup berhasil. Ia nyaris tidak punya waktu untuk memikirkannya lagi. Pekerjaan dan Dana selalu menyita perhatiannya.
Namun, karna telepon yang tidak sampai dua menit itu, tembok yang telah susah payah ia bangun rubuh. Ingatannya bertubi diserang kenangan yang masih saja ranum.
Berapa lama lagi ketika waktu akan terasa cukup menyembuhkan luka?
Ah, Mara! Dasar bodoh! Waktu tidak menyembuhkan luka. Kaulah yang harus lebih dulu berdamai. Dan kenapa susah sekali berdamai dengan masa lalu. Mara kesal karna dirinya tidak berdaya. Baiklah, memangnya siapa yang tidak akan menaruh dendam ditinggalkan dengan cara seperti itu?
“Ini tidak berhasil!” Mara nyaris berteriak di dalam kubikelnya. Meja kerjanya bergetar samar karna dirinya menahan geram di kepalan tangan. Mara menyambar ponselnya yang tergeletak di sudut. Ia hanya perlu memencet angka 1 untuk menghubungkannya dengan Dana.
Aku perlu endorfin. Bicara pada Dana memberiku banyak endorfin, batin Mara.
“Aku perlu endorfin,” katanya setelah bunyi statis digantikan suara Dana di seberang.
Temannya itu menyela sebelum Mara sempat bicara banyak.
Bersiaplah. Aku akan sampai di kantormu dalam 30 menit. Kamu perlu endorfin kan? Akan kuberikan nanti, ujar Dana. Lalu lekaki itu mematikan sambungan telepon sebelum Mara sempat memprotes atau bertanya.
——–
Sebenarnya, Mara belum lama berkenalan dengan Dana. Sepuluh bulan yang lalu mereka bertemu di pernikahan Alea. Alea adalah teman angkatan Dana. Sementara Mara adalah orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan resepsi pernikahan Alea. Sebagai perwakilan dari wedding organizer tempatnya bekerja, Mara harus memastikan segalanya berjalan baik. Itu sebab ia cukup sibuk mondar-mandir hingga pertemuan ala sinetron ftv mempertemukanya dengan Dana. Itu awal mula mereka berteman.
Elmara sudah turun ke lobi, menunggu Dana yang katanya sudah hampir sampai. Benar saja, tidak lama setelah Mara sampai di lobi, Dana membunyikan klakson mobilnya.
“Mobil kantor?” katanya setelah duduk di dalam jip taft tahun 90an yang dikendarai Dana. Pria itu nyegir, memamerkan barisan giginya yang rapi. Dagu pria itu licin, putih-kebiruan karna habis bercukur. Sejujurnya, Dana memang punya senyum yang memikat, “Memangnya boleh menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi?”
“Maraaaaaa. Tolonglah, jangan cerewet untuk hal-hal kayak gini.” Dana melotot pada Mara. Gadis itu terkekeh.
Jip meluncur ke jalanan ibu kota. Masih lengang sebab belum waktunya jam pulang kantor.
“Kita mau ke mana, Dan?”
“Menemukan endorfinmu.”
“Hah?” Mara menanti penjelasan lebih tetapi pria di sebelahnya hanya bersiul.
Kalau dipikir-pikir, belakangan ini Dana lebih sering mengucapkan endorfin dibanding dirinya. Sama seperti ketika Dana jatuh tertidur di rumahnya seminggu lalu. Padahal, Maralah yang memperkenalkan kata itu pada Dana. Aneh sekali.
Ternyata, Dana mengajaknya ke kios Martabak Pak Har. Sudah lama sekali sejak mereka terakhir kali ke sini, bersama Alea dan suaminya, Adri, merayakan kelancaran acara pernikahan mereka.
Dana sudah menelpon lebih dulu. Jadi begitu sampai mereka langsung diarahkan menuju meja delapan. Tidak lama setelah itu pun, pesanan datang ke meja mereka. Satu porsi martabak telur dengan ekstra daun bawang.
Martabak telur adalah hal yang membuat Mara dan Dana terlihat kompak sekaligus rival. Keduanya sama-sama tidak suka makanan manis atau dalam hal ini martabak manis. Keduanya sama-sama suka tambahan ekstra daun bawang di martabak mereka. Dan keduanya, sama-sama tidak mau mengalah jika berebut sisa satu potong martabak. Mereka akan membaginya rata. Tepat di tengah.
Seperti yang akan terjadi sekarang.
“Ambilah buatmu,” gerakan Mara terhenti, padahal ia sudah bersiap jika harus berebut dengan Dana kali ini.
“Buatku?” pria itu mengangguk. Tanpa pikir panjang Mara melahap potongan martabak terakhir itu. Menggigitnya sedikit demi sedikit, berniat menggoda Dana. Tetapi pria itu bergeming. Mara mendorong gigitan martabak di mulutnya dengan air putih. “Ada apa?”
“Kausudah baca Target edisi minggu ini? Sudah kukirimkan kepadamu.”
Target? Ah ya! Majalah itu sudah ada di mejanya. Tetapi Mara sama sekali belum menyetuh apalagi membacanya.
“Jarang sekali terjadi headline dari desk kesehatan. Semuanya berkat kamu dan oplah Target tetap stabil meski headline-nya tak biasa,” Dana memamerkan senyum.
“Aku?”
“Iya. Kausudah baca belum sih?”
“Belum. Aku sudah lihat majalah itu di mejaku. Tetapi aku belum sempat membacanya. Maaf,” Mara menangkup tangannya.
Pria di hadapannya itu mengembuskan nafas. “Gagal lagi,” katanya. Matanya lekat memandang Mara. Memastikan gadis itu tak kekurangan pasokan endorfin sepertinya.
Elmara merasa tak enak hati. Ingatkan aku untuk membaca Target besok, batinnya.
——–
23:05
Aria.
Cat:
Kisah tentang Dana dan Mara sebelumnya di :
Kamisan #3 Endorfin : Cinta untuk Perempuan Pengantong Petrichor http://wp.me/p1ljQs-gT

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak