“Kak, kenapa kamu bisa tobat kayak sekarang.”
“Hah? Tobat apa?” aku yang sedang asik mengaduk hot chocolate di depanku langsung menatap mata Citra.
“Ng, tobat apa ya.. Aku juga bingung sih ngomongnya gimana.”
“Atuhlah kamu gimana sih?”
“Oh, gini. Kamu dulu sering jalan berduaan sama cewek ga peduli dia itu siapa kan?”
“Iya. Terus?”
“Nah beberapa minggu lalu kita pernah mau
nonton film terus batal gara-gara aku nonton sama temenku. Terus
beberapa hari lalu juga kita pernah janjian mau ngopi-ngopi tapi ga
jadi. Nah pas itu, kenapa kamu ga ngajak cewek lain aja? Kenapa pas itu
kamu malah lebih milih nonton apa ngopi sendirian?”
Aku menatap
coklat yang menetes dari ujung sendok di atas cangkirku. “Ceritanya
panjang.” aku bergumam. “Tapi semua itu berawal dari..”
——————————————————
Aku melihat nama Karina tertera di layar
handphone milikku. Pada getar ketiga, aku mengangkat telepon itu.
“Ya,
Kar. Ada apa?” aku bertanya tanpa basa-basi.
“Kak.. hiks..” aku kaget mendengar suara yang biasanya ceria itu saat ini terisak.
“Kar? Kamu kenapa?” aku mulai panik.
Setelah beberapa saat aku hanya mendengar
isak tangis Karina, dia mulai berbicara. “Kak, kamu bisa ke rumahku?
Aku.. Aku putus sama Aldi..”
Aku terkejut. Bayang-bayang pembicaraan
kami tadi malam mulai bermunculan di kepalaku. Pembicaraan kami tentang
hubungannya dengan Aldi yang memang tidak sehat. Pembicaraan yang
berujung ke sebuah saran ‘putus’ yang meluncur begitu saja dari mulutku.
“Oke. Aku ke rumah kamu sekarang.” Selesai berkata seperti itu, aku langsung menutup telepon dan beranjak ke kamar mandi.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Karina,
pikiranku tidak bisa fokus. Beberapa kali aku nyaris menabrak atau
menyerempet sesuatu atau seseorang. Ada penyesalan yang menyelinap ke
dalam hatiku. Entah kenapa aku bisa dengan mudahnya menyarankan mereka
untuk putus.
Satu jam kemudian, aku sampai di depan
rumah Karina. Aku mengirimkan sebuah pesan pendek yang memberi tahu
bahwa aku sudah berada di depan rumahnya. Selesai memencet tombol send,
aku menyalakan sebatang rokok untuk menemaniku menunggu. Sengaja aku
tidak memencet bel atau mengetuk pintu karena aku tahu bahwa Karina
tinggal sendirian di rumahnya yang berada di bilangan Jakarta Selatan
ini. Jadi aku mengenyahkan basa-basi sopan santun ketika bertamu ke
rumah seseorang.
Sedang asik melihat twitter di layar
handphoneku, aku mendengar suara pagar pintu rumah dibuka. Ketika
menoleh, aku melihat Karina berdiri di depan pagar, dengan mengenakan
short dress dan wedges. Aku terpana. Beberapa tahun aku mengenal dia dan
ikut acara keluarganya, tidak pernah sekalipun aku melihat dia
menggunakan short dress seperti ini. Tapi beruntungnya akal sehatku
cepat menguasai keadaan. Aku membuang rokok yang masih tersisa setengah
batang, dan berjalan menghampirinya.
“Kar, aku minta maaf. Tapi aku mau kamu ganti baju yang lebih santai. Gpp, aku tunggu.” Aku berkata sambil tersenyum.
“Tapi Kak?” dia langsung memprotes.
“Kar, aku naik motor. Dengan pakaian
seperti itu aku yakin kamu ga bakal nyaman aku bonceng di belakang.
Jadi, kamu ganti baju ya? Kaos sama jeans oke kok.”
Dia menatap mataku. Masih ada sisa rasa
protes di kedua matanya. Tapi sesaat kemudian dia menghela nafas.
“Yaudah, yuk kamu masuk dulu. Temenin aku ganti baju.” Katanya sambil
menarik tanganku.
“Jangan. Aku tunggu di luar aja.” Kataku sambil tersenyum dan menarik tanganku dari genggaman tangannya.
Dia menoleh dan menatap mataku lagi
sebelum akhirnya menyerah dan masuk ke dalam rumah untuk berganti baju.
Begitu dia masuk ke dalam rumah, aku duduk di bangku yang berada di
depan pagar rumahnya. Tuhan, apa yang telah aku lakukan tadi malam? Aku
berkata di dalam hati sambil menghela nafas.
——————————————————
“Kenapa kamu ga ikut masuk aja, Kak?” Citra bertanya iseng sambil tertawa.
“Ga mau. Wanita kalau lagi patah hati gitu bahaya. Yang aslinya ga bisa ditebak, bakal jadi lebih susah ditebak lagi.”
“Mm.. Bener juga sih. Terus gimana kelanjutannya?”
“Ng.. Gimana lagi ya.. Udah sih abis itu aku jalan-jalan, makan, terus nonton doang. Ga kemana-mana lagi.”
“Loh gitu doang? Masak iya kamu tobat cuma gara-gara itu?”
“Waktu itu dia cerita kenapa dia putus
sama Aldi. Dia kebawa omonganku yang nyaranin dia buat putus. Malam
sewaktu dia lagi texting sama aku itu dia lagi berantem juga sama si
Aldi. Dan itu berlanjut sampe paginya. Akhirnya karena dia udah capek,
dia minta putus sama Aldi.”
“Capek kenapa memang? Bukannya dia yang memilih Aldi?”
“Iya, emang benar dia yang memilih Aldi.
Tapi pas jadian, mereka juga agak ga serius sih. Si Aldi cuma ngomong
‘gue sayang lu nih. Mau jadi pacar gue ga?’ gitu doang. Dan dia tanpa
mikir panjang juga langsung mau. Abis itu baru deh kelihatan si Aldi itu
gimana. Sering bentak-bentak ga jelas, ga bisa ngontrol emosi, egois,
dan lain-lain. Padahal mereka belum ada dua bulan.”
“Oh, gitu. Pantes aja. Tapi itu ga menjawab kenapa kamu bisa jadi tobat kayak sekarang loh, Kak.” Citra mulai cemberut.
“Pas Karina pacaran sama Aldi, aku masih
sering ketemu sama dia. Meski cuma sekedar nonton apa makan berdua.
Suatu waktu, si Aldi tahu aku sama Karina lagi nonton berdua. Dia
nyamperin ke mall tempat kami nonton dan nyuruh Karina keluar meski
filmnya belum selesai. Yaudah aku sama Karina keluar. Waktu ketemu Aldi,
ya aku biasa aja. Tapi aku tahu kalau Aldi ga suka. Aku melihat rasa
suka itu ada di matanya. Dan tidak lama kemudian, mereka putus.”
“Tapi Karina bukan perempuan pertama yang kayak gitu kan, Kak? Yang pacarnya ga seneng gara-gara kamu deket sama dia?”
“Pertama sih bukan. Tapi yang sampai
bikin aku ikut campur secara langsung di hubungan dia sama pacarnya itu
baru Karina. Biasanya aku ga pernah ikut campur urusan internal sebuah
pasangan. Aku jalan sama cewek yang udah punya pacar itu juga random.
Aku ngajak, dia mau, ya oke kami jalan. Ga peduli dia punya pacar apa
ga. Kalau suatu saat dia ada masalah sama pacarnya, ya itu urusan
mereka. Aku ga mau ikut campur. Salah sendiri mau aja waktu aku ngajak
jalan.”
“Kok agak gimana ya..”
“Aku brengsek, ya?” aku tertawa. “Aku
dulu memang seperti itu, Cit. Sampai aku pernah jatuh cinta ke
seseorang, dan dia pergi karena sifatku yang seperti itu. Setelah
kepergiannya, saat itu aku belum bisa menemukan lagi sosok wanita yang
sanggup membuatku jatuh cinta seperti itu. Tetapi waktu itu, aku
berjanji. Ketika aku menemukan wanita itu, aku tidak akan mengulangi
kesalahan yang sama dengan yang dulu pernah aku lakukan.”
“Kemudian?”
“Kemudian, aku mengenalmu.” Aku tersenyum.
0 comments