#08 Perlina Minggu 8

Kamisan S2 #8 - Perlina: Di Suatu Pagi, di Sebuah Desa yang Terletak di Salah Satu Ujung Dunia

18.28Unknown

Warga di desa itu bangun sebagaimana biasanya; lalu beraktifitas sebagaimana sebelum-sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Selepas bangun , mereka akan duduk di sisi ranjang selama satu menit, hanya diam dan tak berpikir tentang apa pun. Lalu, seperti telah diatur dalam kepala mereka, mereka akan bangun dan membuka jendela.

“Selamat pagi dunia!”

Mereka akan mandi, lalu sarapan roti dan minum segelas teh hangat, sambil membaca koran pagi. Entah siapa yang meletakan koran pagi di atas meja itu, tidak ada satu pun yang peduli. Yang mereka tahu, koran itu telah ada di sana begitu saja. Demikian juga dengan roti dan segelas teh hangat. Selepas itu, mereka akan berdiri, mengambil tas kerja, dan berjalan ke arah pintu. Kemudian, seolah telah dikomando, pintu pada masing-masing rumah akan membuka secara bersamaan, lalu menutup juga secara bersama-sama.

Mereka, para warga di desa itu, yang kesemuanya adalah laki-laki dan perempuan dewasa yang tinggal sendiri-sendiri, memakai pakaian yang sama, dengan warna yang juga senada: putih. Mereka berjalan beriringan dengan langkah-langkah terayun mantap. Meski begitu, tidak seorang pun dari mereka yang bercengkrama, atau bahkan bercanda. Kepala mereka terus menatap ke depan, tanpa sekali pun menoleh.

Begitu mereka sampai di gerbang desa, para warga langsung terbagi dalam beberapa kelompok. Dan kelompok-kelompok itu akan masuk ke dalam bus masing-masing , yang akan membawa mereka pergi ke tempat-tempat yang seharusnya. Mereka akan kembali pukul 5 sore dan langsung pulang ke rumah-rumah mereka. Dan keesokan paginya, hal yang sama terulang kembali.

Begitulah kehidupan di desa itu berlangsung selama bertahun-tahun. Sayangnya, tak ada bukti sejarah untuk menegaskan bahwa desa itu benar-benar ada. Meski begitu, saya tetap percaya bahwa desa itu benar-benar ada. Semata-mata, karena Jati yang menceritakan hal itu kepada saya.

“Jadi, di mana letak sesungguhnya desa itu?”

Jati menghisap dalam-dalam kreteknya, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan saya. “Beberapa puluh kilometer sebelum ujung Barat pulau ini.”

“Apa kau akan ke sana?”

“Tentu.”

“Kapan?”

“Besok. Tapi, maaf, aku tak bisa mengajakmu.”

“Kenapa begitu?”

Jati diam, matanya yang coklat menatap lurus ke mata saya. Kemudian dia tersenyum. “Harus ada yang menceritakan tentang desa itu kepada orang-orang selanjutnya.”

Keesoka paginya, ketika pagi masih perawan, Jati pergi dari rumahnya untuk menuntaskan keinginannya. Tak satu pun dari anggota keluarganya yang peduli. Mereka tetap beraktifitas sebagaimana biasa. Pun demikian dengan warga kampung. Ada, atau tidaknya Jati, bagi mereka, tidak ada bedanya.

Namun, tidak bagi saya. Dan karena alasan itulah, saya menceritakan ini kepada kalian. Mungkin kalian terkejut, mengetahui bahwa ada orang yang mau pergi ke desa seperti itu. Tapi percayalah, orang itu benar-benar ada. Dan dia belum kembali sampai saat ini.

Sebagai tambahan, semalam Jati masuk ke dalam mimpi saya. Dia mengenakan pakaian putih seperti seorang mantri, dan dia terlihat bahagia—sesuatu yang baru kali itu saya lihat pada dirinya. Dia memberitahukan letak desa itu secara rinci—lengkap dengan berapa jauh saya harus berjalan, berbelok, naik dan turun gunung. Dan sebelum dia pergi dari mimpi saya, dia meminta saya agar menyusulnya. Tentu saya menyanggupinya. Dia sama dengan saya; ada-tidaknya saya, tidak berpengaruh pada kehidupan kampung ini.

Saya akan berangkat besok. Tapi, maaf, saya tidak bisa mengajak satu pun dari kalian.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak