#08 Perlina Cikiewahab

Kamisan S2 #8 - Perlina: Gaun dan Sepatu

18.33Unknown

Malika tersenyum melihat Mas Roji menunggu dirinya di parkiran. Dua jam lalu mereka memang bersepakat akan pergi ke suatu tempat berdua saja. Tidak ada teman yang tahu. Bahkan Nadia. Malika naik ke dalam mobil dan mendesah.
“Mas yakin ini tidak apa-apa?” tanya Malika dengan raut wajah menyesal.
“Tentu saja. Aku ingin kau membantuku memilihkan gaun untuk seseorang.”
“Tapi…”
“Kenapa lagi.”
“Sudahlah. Ayo kita pergi.”
Mobil melaju dan Malika termenung. Sebelum keluar ruangan, Nadia sudah mengatakan padanya untuk segera pulang lebih dulu. Nadia tidak bisa pulang bersama karena lembur dan Malika malah berbuat sesuatu yang pastinya menyakiti Nadia. Tapi Mas Roji sendiri telah mempunyai seseorang yang ia sukai. Malika harus memberitahu sahabatnya itu untuk segera menghapus perasaannya agar perlina.
Ah Malika ingat kata itu. Kata yang ditulis Nadia di atas kertas dengan tinta merah. Perlina yang artinya pupus. Barangkali Nadia ingin menghapus kekagumannya. Malika tambah bersedih mengingat itu semua.
“Kita sudah sampai.” Mas Roji membuka pintu mobil dan menuntun Malika masuk ke sebuah toko pakaian yang sangat besar.
“Serius, Mas? Jika aku ngebantuin Mas mau membelikanku sepatu? Ah, Mas aku tidak maksa loh.” Malika menggodanya. Mas Roji mengangguk dan sebuah senyuman membuat Malika kegirangan. Dalam pikirannya sekarang ia akan punya sepatu boots yang paling keren.
Setelah hampir satu jam memilah-milih pakaian. Malika menunjuk satu gaun malam berwarna coklat panjang. Malika berkata perempuan yang akan dihadiahi gaun itu pasti akan senang. Mas Roji mendengarkan Malika dengan antusias. Malika juga senang tatkala janji membelikan ia sepatu bakal kesampaian.
Namun saat keluar dari toko itu dan mencari sepatu yang ia inginkan, Malika tidak menemukan apa yang ia lihat beberapa hari lalu di pajangan sepatu. Malika sedih dan tidak bersemangat lagi.
“Kita bisa cari di tempat lain.” Mas Roji mencoba menenangkannnya.
“Tapi mas, itu cuma edisi spesial. Tidak ada di tempat lain. Rasanya ini sama seperti perasaan Nadia kepada Mas. Arghh… Perlina ! hilang sudah semangatku.” Malika kesal dan melempar tubuhnya ke dalam mobil.
“Ya sudah. Ini untukmu.” Mas Roji menyerahkan tas berisi pakaian itu ke pangkuan Malika. Perempuan itu terperanjat. Ia langsung menolak.
“Harga gaun ini tidak sebanding dengan sepatu itu, Mas. Lagipula ini untuk perempuan itu.”
“Kalau aku mau kasih ke kamu ya terima saja. Jangan pikirkan hal lain.”
“Tapi Mas.”
“Kamu jangan nolak. Aku sudah memberikannya.”
“Serius? Mas tidak akan memotong gajiku, kan?”
“Tidak. aku serius. Kamu mau apa tidak?”
“I…iya. Kumohon jangan sampai Nadia…”
“Hm Baiklah. Kalau itu permintaanmu. Perlina…perlina…”
“Mas tahu kata itu juga? Mas memperhatikan Nadia juga rupanya.” Malika terpana
“Bagaimana aku tidak memperhatikan tulisan di mejanya dengan ukuran sangat besar itu. Sudahlah. Ayo pulang.”
Malika menahan senyumnya. Gaun itu telah jadi miliknya tetapi sepatu yang ia idamkan hilang. Tepatnya telah dibeli orang lain. Malika hanya tak bisa membayangkan raut wajah Nadia jika tahu gaun itu pemberian dari Mas Roji.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak