#07 Game of Love
Feti Habsari
Kamisan S2 #7 - Game of Love: Mantan Kekasih dan (Mantan) Sahabat
15.58Unknown
Tepat pukul 16.00 Waktu Indonesia
Barat, pesawat yang membawaku terbang dari Paris kini telah mendarat
dengan cantik di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Perasaan
bahagia memenuhi ruang di jiwaku. Entah berapa lama sudah lengkungan
senyum mengembang di wajahku. Dan aku tak merasa lelah memamerkan senyum
bahagiaku ini.
Pintu pesawat telah terbuka. Aku
berjalan menuruni anak tangga satu demi satu. Masih dengan senyuman yang
semakin mengembang dan sumringah kurasa. Aku melangkah dengan anggun
menikmati tiap senti jarak yang kulalui bagai putri kerajaan yang telah
dinanti.
Tiba di bawah aku berhenti
sejenak. Menghirup dalam-dalam aroma senja kemudian menghembuskannya
perlahan. Nikmat! Aaahh sungguh nikmat aroma senja Indonesiaku!
Pandanganku sontak menatap hamparan langit biru beserta awan putih yang
saling bergumul satu sama lain. Ada semburat jingga yang terlukis,
menambah keindahan karya Tuhan sore ini.
Langsung saja aku memanggil taksi
bandara. Setelah semua barang dan koperku masuk bagasi, aku langsung
memberitahu alamat tujuanku pada sang supir taksi tersebut. Tanpa banyak
bertanya sang supir pun langsung tancap gas membelah jalanan ibukota
yang telah lama kutinggalkan.
Macet! Ya ibukota ini semakin
lelah kurasa. Terlihat ia tak mampu lagi menampung ribuan kendaraan yang
memenuhi jalanan ini. Ibukota telah sesak oleh gedung-sedung pencakar
langit yang terlihat tak ramah lingkungan. Miris kulihat ibukota ini.
Sengaja aku tidak memberitahukan berita kepulanganku kepada siapapun termasuk kedua orangtuaku. Aku ingin memberikan surprise untuk mereka.
Genap empat tahun sudah aku meninggalkan Indonesia dan hijrah ke
Paris. Paris kota romantis yang selalu aku impikan. Empat tahun yang
lalu akhirnya aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di
Paris. Bahagia! Itu pasti. Aku terpaksa menitipkan cintaku pada langit
Indonesia dan menjemput impian di kota romantis itu.
Cinta Rey yang aku titipkan pada
langit. Rey adalah kekasihku sejak kami duduk di bangku SMA. Hingga
suatu ketika saat pengumuman kelulusan dan ternyata aku berhasil
mendapatkan beasiswa ke Paris. Aku dihadapkan pada dua pilihan antara cinta dan mimpi. Antara Rey dan Paris.
Aku beruntung memiliki Rey. Ia mendukungku untuk mengejar mimpi ke Paris. Dan akhirnya kita sepakat untuk menjalani hubungan long distance relationship antara Indonesia dan Paris. Rey begitu mencintaiku begitu pula aku yang sangat mencintainya.
Selama aku dan Rey menjalani hubungan long distance relationship, kami hanya dapat melepas rindu melalui kecanggihan teknologi saat ini. Seperti skype, twitter, webcam, video call, dan kecanggihan lainnya yang dapat mempertemukan kami meski terhalang oleh ribuan kilometer.
Teramat sering rindu menelusuk
masuk dan menggedor relung hatiku, meronta-ronta untuk keluar bebas
bertemu dengan sang pemilik rindu. Terkadang sering aku memaki keadaan.
Menyalahkan jarak dan waktu yang telah memisahkan dua hati yang sedang
dilanda rindu. Tak pernahkan jarak mengerti bagaimana sesaknya kala
ditimpa sebuah rindu?
Aku hanya bisa mengungkapkannya melalui rangkaian kata yang selalu kukirimkan untuk Rey melalui e-mail.
“Aku ingin menggenggam tanganmu, meski jemari ini belum sanggup untuk bertemu. Aku ingin mendekapmu, meski raga ini belum kembali dipertemukan. Untuk Rey-ku tersayang.”
Dan Rey selalu membalas dengan kata-kata yang membuatku akhirnya luluh oleh keadaan.
“Meski kini jarak dan waktu sedang memisahkan kita. Meski setiap detik perlahan mulai menghapus kenangan indah, namun bagiku setiap detik menambah ingatanku untuk selalu mengingat segalanya tentang kamu. Kita
akan tetap bertahan di bawah teriknya mentari yang mengganas, di bawah
sinar senja yang indah, di bawah langit bertabur bintang yang akan menjadi saksi atas kisah indah ini. Untuk Rara-ku Tersayang.”
Oohh Tuhan begitu indahnya dunia
kurasa. Tak sabar aku untuk kembali menatap wajah itu dalam nyata.
Kembali menggenggam jari jemari itu. Saling bergandeng tangan menyusuri
taman kota menikmati senja bersama.
Kini aku kembali untuk menebus
semua rasa rindu yang selama ini hanya mampu tersimpan dalam relung
jiwa, berdesak-desakan karena saking penuhnya dan tak ada tempat lagi
untuk menampungnya. Itulah rindu yang tertahan.
Dan kini rindu itu telah tiba pada
gerbang kebebasan. Rindu ini telah bersiap membuka pintu dan keluar
bebas bertemu dengan sang pemiliknya, Rey! Tak terasa taksi yang ku
tumpangi telah berhenti tepat di tempat yang kutuju.
Tiba di depan kompleks rumah Rey, aku turun dari taksi. Sengaja aku tidak turun di depan rumahnya agar lebih surprise.
Aku berjalan memasuki kompleks itu dengan menyeret sebuah koper dan
menenteng sebuah lukisan senja yang tergambar di atas menara Eiffel.
Anggun dan indah! Aku sangat menyukainya dan kurasa Rey pasti juga
sangat menyukainya.
Aku baru saja melewati gerbang
kompleks yang terasa lebih ramai dan riuh dibanding empat tahun yang
lalu ketika terakhir kalinya aku ke tempat ini. Aahh untuk apa pula
kupikirkan. Aku melangkah perlahan menanti detik-detik menyaksikan wajah
terkejut Rey.
Tiba di depan rumah Rey aku hanya
bisa menatap heran. Banyak sekali karangan bunga yang bertuliskan “Turut
Berbahagia”. Di dalam rumah juga begitu ramai seperti sedang ada pesta.
Pandanganku tertuju pada satu
karangan bunga yang bertuliskan “Selamat Berbahagia Untuk Rey &
Astrid”. Aku langsung membeku di tempatku berdiri saat ini. Tanganku
kaku mencengkram erat koper dan lukisan yang kubawa.
Rey? Astrid? Apa maksud semua ini?
Siapakah Rey yang dimaksud ini? Ribuan pertanyaan memasuki otakku. Hati
dan perasaanku bergemuruh liar meminta penjelasan akan semua ini.
“Rara?!” Seseorang menepuk pundakku.
Sontak aku tersadar dari gemuruh perang yang ada dalam hatiku. Pandanganku teralih pada seseorang yang menyapaku itu.
“Nadia!” Aku langsung mengenali
sahabatku yang satu ini. Aku langsung memeluknya karena sadar bahwa
sepertinya saat ini aku memang butuh pelukan untuk menenangkan gemuruh
perang di hatiku.
“Kamu baru pulang dari Paris dan langsung ke sini?” tanyanya heran melihat pakaian dan koper yang aku bawa.
Aku hanya bisa mengangguk lesu. “Ada apa ini, Nad?” tanyaku kemudian.
“Kamu belum tahu, Ra?” kalimat
Nadia terputus dan ekspresi wajahnya menyiratkan penyesalan harus
melanjutkan kata-katanya “hari ini Rey menikah dengan Astrid, sahabat
kita juga.”
Petir bagaikan langsung menyambar tubuhku yang kuyu ini. Rasanya
aku bagaikan dilempar dari ketinggian berkilo-kilometer dan tiba di
dasar bumi yang hitam gelap pekat tertimbun oleh ribuan lapisan bumi.
Tuhan, apa maksud semua ini? Apa
salahku Tuhan? Kenapa rindu yang seharusnya tersampaikan dan berakhir
bahagia, kini harus meleleh tak tersisa bagaikan mentega yang dipanaskan
di atas wajan.
Rey, tahukah kamu betapa
merindunya diriku di negeri asing tanpa dirimu. Pernahkah kamu berfikir
bahwa betapa sulitnya selama ini aku berusaha menata hati untuk
meletakkan rindu ini pada tempat yang tepat sampai bertemu dengan
pemiliknya, yaitu kamu Rey! Kenapa kamu setega ini.
“Ra, lo nggak kenapa-kenapa?” tanya Nadia menyadarkanku.
Aku mengacuhkan pertanyaan Nadia.
Aku menguatkan hati. Meninggalkan koperku di depan halaman, berjalan
menuju tempat kedua mempelai menyambut tamu. Aku hiraukan setiap mata
yang memandang kearahku. Aneh! Itu pasti yang ada di pikiran mereka.
Jelas aku pasti terlihat paling aneh. Datang ke sebuah pesta pernikahan dengan t-shirt, celana jins, dan syal yang
menggantung di leher. Dengan wajah yang memerah entah raut marah atau
sedih. Lenyap sudah lengkungan senyumku yang selama ini telah
kupertahankan.
Tiba di atas pelaminan, aku
menghampiri Rey dan Astrid. Mereka terkejut dengan kedatanganku sebagai
tamu yang tak diundang. Aku menjabat tangan Rey, bahkan aku memeluk
Astrid entah datang dari mana kekuatan hatiku ini. Kulepaskan pelukanku
pada Astrid. Sejenak hening, hanya jabatan tangan dengan tatapan tajamku
terarah pada mata Rey. Tangan mereka dingin, beku seperti es.
“Selamat, ya!” ucapku singkat seraya memberikan lukisan yang kubawa
Tanpa menunggu kedua mempelai
mengeluarkan kata-kata basa-basi, aku langsung melangkah pergi
meninggalkan singgasana kedua mempelai. Aku mempercepat langkahku keluar
ruangan. Menarik kembali koperku dan segera pergi dari tempat ini.
Semakin aku menjauhi tempat
memuakkan itu semakin deras pula airmata keluar dari tempatnya.
Perasaanku bagaikan di tenggelamkan dalam arus yang mematikan. Hatiku
bagai direndam dalam air keras yang menyakitkan bahkan dapat membunuh
raga ini.
Aku berusaha menahan aliran air mata
ini agar tidak terus menerus keluar. Berkali-kali menghapusnya namun
mengalir lagi. Apakah masih pantas semua ini untuk ditangisi ??
Mungkin hati ini selalu risau kala
memendam rindu yang tak tersampaikan, namun semuanya akan segera
meredup terkubur oleh waktu. Kini anganku telah sirna tenggelam oleh
keadaan yang memisahkan, saatnya aku melupakan rasa dan mengubur angan.
Rindu dan harapan kini telah
sirna, tenggelam dalam pekat yang meninggalkan semburat luka memerah.
Yang tertinggal kini hanyalah luka berbalut kenangan yang lebih kelam
dibanding pekatnya malam tanpa cahaya.
Jiwa ini telah hilang entah
kemana, terjatuh dalam lingkaran kelam terbenam rasa dan harapan yang
kau campakkan begitu saja. Rey, tidak mudah memang semua ini untuk
dilupakan. Namun tak seharusnya juga aku terus menerus tenggelam dalam
luka yang kau buat.
Terimakasih atas kisah yang pernah kau toreh dalam hidupku, Rey.
Kini saatnya aku melupakanmu dan menuliskanmu sebagai sang mantan dalam
lembaran kisahku. Dan kamu Astrid, sahabat baikku. Haruskah aku juga
menuliskanmu sebagai (mantan) sahabat dalam lembaran kisahku?
Permainan ini telah selesai untukku.
0 comments