#07 Game of Love Minggu 7

Kamisan S2 #7 - Game of Love: Liana

16.03Unknown

Liana masih duduk tercenung ketika, dari balik kaca, dan dengan terkejut, pria itu melihat sosoknya yang tengah duduk seorang diri di kursi paling tepi, dalam kafe di sebuah mal. Dan seperti ada daya tarik tersendiri, Liana tiba-tiba menoleh ke arah pria itu; mata mereka beradu untuk beberapa waktu. Dan kemudian, pria itu menarik pandangannya, menunduk, berjalan cepat sambil merunduk-runduk, seolah-olah tatapan Liana tengah menelanjangi dirinya. Liana berdecah sembari memalingkan muka.

Saat ini, ia merasa dirinya adalah orang paling bodoh di dunia—atau naïf? Sudah teramat banyak bukti di depan matanya, yang ditunjukkan oleh teman-teman baiknya, dan ia memilih abai terhadap itu semua. Semata-mata, karena pria itu begitu baik terhadapnya, dan juga ramah. Ramah, ya, pikir Liana, itu dia: ramah! Belum ada seorangpun pria yang begitu ramah kepadanya. Keramahtamahan yang membuatnya merasa dihargai, dihormati. Bukan bentuk keramahtamahan yang pada akhirnya hanya akan berujung pada permintaan tolong. Liana, bisakah kau …? Liana, maukah kau …? Terlalu banyak banyak kepalsuan demi kepalsuan yang bisa tersembunyi di segurat tipis senyuman.

Liana mendengus. Senyuman. Ia ingat, pada pertemuan pertama mereka di gedung perpustakaan kampus, setelah pria itu membantunya untuk mengambil buku di tumpukan rak yang tak terjangkau oleh tubuhnya yang pendek, pria itu tersenyum teramat manis. Lesung pipit pada permukaan pipinya yang mulus dan terlihat lembut, dan tatapan matanya, dan senyumannya, kemudian selalu membayangi kemana pun ia pergi; ke dalam kelas, lorong-lorong kampus, halte busway, rumahnya, dan bahkan bayangan itu semakin tampak jelas ketika ia memejamkan mata. Hal itu membuatnya terus tersenyum sepanjang malam itu. Keesokan harinya, Liana kembali datang ke gedung perpustakaan sambil menduga-duga, apakah ia ada di sana?

Dan ternyata pria itu ada di sana. Duduk seorang diri di meja panjang perpustakaan yang masih sepi, dan terlihat sedang ... menunggu? Menungguku kah? Pikir Liana. Seketika, ia merasa semua organ dalam dirinya berkhianat.

Dia melihat ke arahku. Dia melihatku! Ya, Tuhan. Senyumannya! Oh, tidak, tidak. Dia melambaikan tangannya. Haruskah aku mendatanginya, atau cukup tersenyum dan berjalan seolah-olah tak terjadi apa-apa? Oh, Tuhan.

Dan Liana memilih untuk mendatanginya.

“Aku Jati. Kamu Liana, kan?”

Liana tidak terkejut saat mengetahui bahwa pria di depannya tahu namanya. Siapa tidak mengenalku? Pikirnya. Seorang penulis muda berbakat.

Beberapa minggu setelah itu, Liana dan Jati resmi berpacaran.

Pacaran? Pikir Liana saat ini. Dan entah bagaimana, dengan hanya memikirkan soal itu, tiba-tiba Liana merasa amarahnya meledak. Sebelum itu benar-benar terjadi, Liana segera mengambil ice lemon-tea-nya, menandaskannya dalam sekali gerakan.

Pacaran? Ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa begitu bodoh. Sehari sebelum itu terjadi, teman-teman baiknya telah mengatakan bahwa ada yang tidak benar dengan semua ini.

“Jati sudah punya pacar”, kata salah satu dari mereka, diikuti anggukan serentak oleh dua teman di belakangnya.

“Itu bukan pacarnya, itu adiknya. Kami pernah dikenalin,” sanggah Liana, tenang.

“Sejak kapan anak tunggal punya adik?”

Liana mengernyit.

Betapapun, perkataan teman-temannya itu kemudian mengganggunya. Liana putuskan untuk bertanya langsung.

“Dan kamu percaya?” Liana diam. “Dengar, Li, jikapun ada wanita yang aku jadikan pacar, itu sudah pasti kamu. Aku sayang sama kamu, Li.”

Dan terempaslah segala perkataan teman-teman baiknya itu dari benaknya.

Semudah itu? Ya, semudah itu, dan aku telah terperdaya? Oh! Liana mengumpat dalam hati. Betapa sering ia jatuh dalam lubang yang sama. Semudah membalikan telapak tangan. Tapi Jati … pria sepolos itu …?

Polos? Ya, Tuhan. Bagaimana mungkin dia polos. Dia seorang ahli. Satu-satunya hal polos yang dimilikinya adalah tatapan matanya yang seolah tanpa dosa. Ia pasti sudah sering melakukannya, sampai ia bisa menatap seperti itu.

Polos? Liana menunduk, meremas kepalanya dengan kedua tangan.

***

“Klise. Tak ada pemahaman baru dari cerita ini. Buang-buang waktuku saja,” katanya, lalu mengarahkan panah pada layar laptopnya menuju tanda silang.

Seseorang di sampingnya menoleh, tersenyum. “Terus, kenapa kau tidak menulis saja sesuatu yang menurutmu bisa mendatangkan hal baru?”

“Enggak punya waktu.” Lalu ia berdiri.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak