#07 Game of Love Minggu 7

Kamisan S2 #7 - Game of Love: Semoga Adisty Enggak Patah Hati Lagi

16.05Unknown


gambar dipinjam dari sini

Adisty membuka pintu dengan perlahan. Wajahnya terlihat bagai dipayungi awan gelap yang coba ia tutupi sedari tadi dengan senyuman. Senyuman palsu. Tak lama setelah pintu kamarnya tertutup perlahan, dan ia kunci pintunya, tangisnya meledak tanpa ampun. Awalnya ia hanya mengulum bibir tipisnya, diiringi tarikan napas. Satu detik. Dua detik. Berikutnya, tangisannya pun pecah juga. Sebulir dua bulir air mata awalnya mengalir dalam hening, lembut. Hingga derasnya tak terbendung lagi, dan isak pun melesak dari bibirnya. Bahunya turun naik tak terkendali, wajahnya memerah, dan lama-lama basah oleh air mata. Sementara itu gadis itu yang sedari tadi hanya duduk di tempat tidur, memandanginya tajam, tanpa kata.
“Patah hati lagi?” tanya gadis itu. Ia duduk di kasur Adis, melipat kakinya, dan menyilangkan tangannya di dada.
Adisty mengangguk lemah, masih sambil mengeluarkan sedu sedan pilu. Kepala dan bahunya tertunduk. Lantas ia terhuyung berjalan menuju tempat tidur, dan menghempaskan badannya. Senggukannya masih terdengar seperti sebuah sirene ambulans. Semenit, dua menit, tangisannya tak kunjung mereda. Gadis itu hanya duduk di sisi Adisty, memandanginya dengan tangan yang kini menopang dagunya.
“Makanya, kan udah gue bilang, kalo suka sama orang itu jangan cuma satu, tapi yang banyak! Biar enggak usah mendalam, jadinya enggak sakit deh,” nasihat Gadis itu, prihatin. Adisty meraih bantal kaki anjing berukuran besar berwarna biru yang ada di dekatnya, lantas mendekapnya. Tangisnya perlahan mereda, meski bulir-bulir air mata perlahan masih turun.
”Kenapa ya, gue patah hati terus? Kenapa? Kenapa gue enggak pernah ngerasaain perasaan gue berbalas barang sekaliii aja,” keluh Adisty, matanya menerawang memandangi langit-langit kamar. Sinar matahari senja yang menembus ventilasi jendela menyinari kamarnya. Seperti sebuah proyektor, sinar itu seolah mampu menyajikan kilas balik kisah cinta pilunya selama ini. Sejak SMP hingga ia duduk di bangku kuliah semester lima.
Patah hati bukan barang baru bagi Adisty, malah sudah mirip anting emas mungil yang nempel di telinganya, setia, sejak ia masih SD hingga saat ini. Dulu sekali, waktu ia kelas enam SD, ia pernah menyukai seorang anak cowok pindahan dari luar kota. Anak cowok itu bernama Dirga. Wajahnya tampan, dengan kacamata membingkai kedua mata tajamnya. Tubuhnya tinggi, dan kulitnya putih. Cewek-cewek satu kelas langsung silau begitu melihat sosok Dirga. Ketampanannya semakin memikat dengan sikap diam dan cool cowok itu, yang memaksa Adisty meruntuhkan gengsi demi bisa berkenalan dengan bocah lelaki itu.
Setelah pendekatan yang cukup intens selama beberapa lamanya, hingga akhirnya dinding itu runtuh perlahan, Dirga akhirnya berteman dengan Adisty. Waktu ulang tahun Adisty, ada satu kejadian yang membuat hati gadis itu menari, membuatnya ingin lompat-lompat kegirangan. Dirga mengucapkan selamat ulang tahun pagi sekali ketika Adisty baru turun dari mobil jemputannya. Lalu tidak cukup dengan kartu ucapan kecil berwarna pink berhias pita, ia pun memberikan Adisty sekotak coklat lengkap dengan bunga mawar merah bohong-bohongan. Tapi sayangnya, waktu perpisahan kelas, Adisty malah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Dirga memberikan coklat yang persis sama lengkap dengan mawar merah bohong-bohongan yang juga sama, pada Tiara, sahabat Adisty sendiri. Terguncanglah jiwa bocah perempuan itu saat melihat pemandangan yang begitu tak terduga.
“Kukira cewek spesialnya cuma aku doang!” sergah Adisty kecil pada Dirga yang cuma gelagapan sambil menggaruk kepala botaknya. ”Sebenernya kamu suka siapaa, Dirga?” sentak Adisty dramatis, sambil melipat tangan plus bibir manyun-manyun, dan pipi chubby menggembung.
“Eh, aku suka … kamu … sama Tiara,” jawab Dirga gugup, apalagi waktu melihat Tiara yang tahu-tahu saja nongol di dekatnya. Statement itu ditutup dengan cengiran grogi, masih sambil garuk-garuk kepalanya yang botak.
Beranjak SMP, kisah patah hati pun berulang. Kali ini Adisty naksir kakak kelasnya. Cowok yang tampan, lagi. Namanya Dhimas. Ia berbadan tinggi dan putih, dengan badan dan pipi yang sedikit chubby, tapi mata dan alisnya tajam. Bibir tebal cowok itu senantiasa menyunggingkan senyuman ramah kepada siapa saja. Dia benar-benar tipikal boy nextdoor yang nyaris sempurna. Dan Adisty masih dengar kabar kalau cowok itu sekarang sudah sangat mapan. Meski baru saja lulus, ia sudah memiliki usahanya sendiri yang telah ia jalani sejak kuliah. Sayangnya, sudah mau married sama cewek yang dipacarinya sejak SMP. Ya, waktu dulu Adisty naksir Dhimas, cowok itu sudah punya kekasih sedari kecil. Halah. Kisah cinta macam apa itu. Kenapa mereka tidak sekalian nikah saja waktu SMA. Maka, meski Dhimas baiknya minta ampun sama Adisty yang notabene adik junior di ekskul paskibra, tetap saja senyum dan sayang setulus hati Dhimas cuma buat Intan, sang kekasih sejak masa kecil. Adisty patah hati lagi.
Sebenarnya perasaan Adisty pernah bersambut sekali, dua kali. Tapi ya tetap saja berakhir dengan tidak jelas, meski akhirnya Adisty insyaf dan bersyukur kisahnya berakhir tidak jelas dengan orang-orang tidak jelas seperti mereka. Waktu ia SMA, ia bertemu seorang pemuda yang dikenalnya dari Facebook. Tepatnya dari sebuah grup pembaca sebuah penerbit. Cowok itu rajin memposting blognya ke grup itu.
Cowok itu bernama Rangga. Saat Adisty SMA, Rangga sudah kuliah semester akhir. Cowok itu berkuliah di Surabaya. Ia benar-benar misterius. Ia tidak sekalipun memajang fotonya, jadi sampai detik ini Adisty tidak tahu seperti apa rupa Rangga sesungguhnya. Tapi bagi Adisty itu jadi tidak begitu penting setelah ia membaca puisi-puisi romantis yang Rangga posting di blognya. Adisty bagaikan Cinta yang bertemu dengan Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta. Rangga menyukai Rumi, Kahlil Gibran, Sapardi Djoko Damono, Shakespear, dan penyair-penyair lain yang tidak Adisty kenali.
Mereka rajin bertukar sapa via wall atau chat Facebook. Mereka juga beberapa kali ngobrol di telepon. Sempurna sudah hati Adisty tercuri sikap dewasa Rangga dan perhatian yang ia tunjukkan meski hanya lewat tulisan atau telepon. Belum lagi Rangga juga cukup humoris (yah, cewek jatuh cinta memang entah kenapa jadi gampang tertawa bahkan untuk hal yang tidak begitu lucu). Sebulan, dua bulan berjalan, sosok Rangga makin terpatri di hati Adisty. Dan hari yang ditunggu Adisty pun tiba, ketika Rangga akhirnya membalas ungkapan rasa dari Adisty. Ia bilang, ia juga menyukai Adisty seperti halnya Adisty menyukai dirinya. Akhirnya, perasaan Adisty berbalas juga tanpa keraguan. Maka, ketika Rangga bercerita bahwa saat ini ia ada di kota Adisty, tanpa pikir panjang Adisty meminta untuk bertemu. Namun, Rangga menolak, mengatakan bahwa ia belum sempat bertemu. Bahwa ia hanya tinggal dua hari di rumah bibinya di kota Adisty, dan besoknya harus kembali ke Surabaya. Adisty menahan rasa kecewa, namun ia merasa cukup hanya dengan mendengar suara Rangga di telepon. Hingga akhirnya, tiba-tiba saja Rangga menghilang entah kemana, lenyap begitu saja.
Awalnya telepon Adisty tidak pernah diangkat, begitu juga dengan pesan-pesan yang Adisty tinggalkan dimana-mana. Adisty sabar menunggu selama berhari-hari, sambil terus bertanya dalam hati, kemana Rangga? Dan suatu hari, ketika Adisty kembali mencoba menelepon Rangga, suara Bapak-Bapak lah yang terdengar di ujung sana. “Maaf ya, handphone-nya sudah dijual,”beritahu Bapak itu pada Adisty. Runtuhlah seketika dunia Adisty, kala itu. Ia menangis berhari-hari, merasa tertipu. Butuh waktu bagi gadis itu untuk memulihkan hatinya. Dan apakah Adisty kemudian kapok untuk jatuh hati setelah di-PHP-in cowok tidak jelas? Sayangnya tidak.
Kutukan bertepuk sebelah tangan kembali menghantui hari gadis itu. Baik itu teman sekelas, adik kelas, kakak kelas, semua sama saja. Tidak ada seorang pun yang mau bertepuk tangan bersama Adisty, ia selalu bertepuk tangan (atau ehem perasaan), seorang diri. Menyanyikan lagu cinta seorang diri, mengagumi dari kejauhan, atau berpura-pura biasa saja di samping pujaan hati. Kisah itu terus berulang. Herannya, Adisty tidak kapok-kapok juga sama yang namanya memendam cinta dalam hati alias cidaha.
“Kali ini kenapa patah hatinya? Si Rino udah punya cewek? Atau apa? Dia suka cewek lain?”
Gadis itu baru sadar, Adisty rupanya sudah berhenti terisak semenjak dirinya tenggelam dalam lamunan kisah masa lalu yang pedih. Adisty menggumam tidak jelas.
“Hmmm … gimana ya…. Enggak jadian siiih, tapi … kenapa sih kayaknya kalo ngomong sama gue, enggak bisa seseru kalo dia lagi diskusi sama cewek-cewek lainnya. Gue juga pengen bisa ngobrol banyak hal sama Rino. Mau diskusi ini itu. Mau ketawa bareng…,” sebut Adisty dengan mata menerawang, menyebut segala keinginan dari hati terdalam pada sosok teman satu kampus. Rino. Cowok itu memang tidak setampan Dirga atau Dhimas. Tapi yang jelas lebih nyata daripada Rangga yang tidak jelas. Dan lebih prospektif sebagai teman seumur hidup tinimbang semua lelaki yang pernah hadir dalam hidup Adisty. Makanya, harap gadis itu sudah membumbung sampai galaksi tetangga.
“Halaaah gitu doang udah pesimis. Udah yakin nih, maunya sama Rino? Yakin, entar enggak jatuh hati sama yang lain lagi?” ledek Gadis itu sambil meringis. Adisty langsung menegakkan badannya, duduk menghadap gadis itu.
“Ish, ya-yakin! Mau tahu kemajuannya sampe mana? Gue sering doa semoga dia jadi suami gue loh. SU-A-MI! Baru kali ini loh gue sengarep ini. Yah, separah-parahnya, mau yang KW-annya dia deh,” ucap Adisty memelan, kembali murung begitu memikirkan betapa kerennya Rino dibanding dirinya. Dan bukan sekedar keren fisik seperti halnya yang biasa ia lihat dulu pada sosok gebetannya. Rino memang tidak begitu tampan, tapi cukup manis di mata Adisty. Yang jelas, Adisty ingin rasanya menikahi isi pikiran dan hati pemuda itu. Ia begitu dewasa dan positif, namun tetap membumi. Sosok yang Adisty kagumi spiritually not just physically.
“Ya udah, kalo udah enggak pengen yang main-main lagi, lo lamar aja sana sekalian, HAHAHAH!” tembak Gadis itu, ngakak geli sampai memegang perutnya dan memukul-mukul kasur. Adisty melongo. “HA? LAMAR? Maksud lo?!”
“Maksud gue, yang konkret aja lah, kali aja rejeki lo. Biar lo kagak usah kelamaan galau mulu,” lanjut Gadis itu, nyengir.
“Tapi … kalo ditolak gimana!? Lagian gimana cara coba gue yang cewek ngelamar dia gitu? Becanda aja deh lo,” sungut Adisty saat memikirkan betapa mustahil dan menggelikannya pemikiran kawannya itu. Ia kembali merebahkan badannya di kasur. Menyusun rencana pendekatan berikutnya.
“Ha? Enggak kapok kalo ntar dikacangin lagi message WA lo?” celetuk Gadis itu tiba-tiba.
“Heh! Nggak sopan lo baca pikiran gue aja!”sorak Adisty, menimpuk Gadis itu dengan bantal kaki anjing yang ia peluk sedari tadi.
“HAHAHAH apa sih yang gue enggak tau dari jalan pikiran lo yang bocah itu? Udah nikah aja sanaa biar enggak capek bermain-main dalam angan tak pasti itu. Atau enggak, lo belajar aja tuh yang bener! Kemaren dapet C kan UTS-nya? Jadi cewek yang lebih dewasa, kali aja Rino emang jodoh lo, jadi entar kalo lo jadi istrinya enggak timpang deh, hihi,” Gadis itu menasihati meski kembali sambil menertawakan Adisty yang cuma bisa manyun sampe lima senti.
“Huuh! Harusnya lo tuh bantu gue pake doa, semoga perasaan gue kali ini berbalas, gituh!” semprot Adisty sebal.
“Gimana lah ceritanya gue bisa ngedoain lo gitu? Lo aja gih doa yang rajin biar cepet-cepet dapet jodoh,hihi!”
“Ish, nyebelin lo!”
“Ye, dibilanginnya juga!”
Pintu terbuka lebar tiba-tiba, dan Mama Adisty berdiri di ambang pintu. Rupanya sedari tadi Mama mengetuk pintu, memanggil Adisty, namun yang dipanggil sibuk sendiri.
“Adisty, tuh ada telepon dari temenmu. Namanya Rino kalo enggak salah. Katanya ada urusan penting,” beritahu Mama.
“Apa!? Rino!? Yeaaaaay!! Akhirnya untuk pertama kalinya ditelepon Rino! Catet dulu ah di agenda sama lingkarin di kalender, hihiyy!”sorak Adisty kegirangan, sampai lompat-lompat dan joget-joget di kasur segala.
“Haduh, anak Mama ini,” gumam Mama sambil geleng-geleng kepala, ”sudah sana terima teleponnya dulu. Nari-narinya ntar aja,” Mama mengingatkan kembali, bersiap menutup pintu kamar dan meninggalkan anak gadisnya.
Namun langkah kaki Mama berhenti tiba-tiba, persis saat Adisty sudah bersiap menyambut suara hangat Rino.
“Adisty, kamu … ngomong sama siapa sih dari tadi?”
***

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak