#07 Game of Love Davidhukom

Kamisan S2 #7 - Game of Love: Belum Ada Judul

15.54Unknown


source : google
source : google
“Pulanglah besok pagi saja” Dewi menggeliat, tangannya memeluk Fahmi yang terbaring di sampingnya, “Aku masih kangen kamu” bisiknya manja.
“Dia pasti curiga belakangan aku pulang pagi tanpa pernah memberi kabar sebelumnya” Fahmi membetulkan duduknya lalu mengecup kening Dewi.
Dewi malah makin mengeratkan pelukannya, “Aku tak mau tahu,” ciumannya mendarat di dada dan bibir Fahmi, “Aku benar-benar ingin kamu milikku seutuhnya malam ini” bisiknya pelan.
Jalanan Samarinda terlihat lengang malam itu meski malam minggu, nampaknya hawa dingin membuat orang-orang memilih bersantai di rumah masing-masing. Tak terkecuali di kamar nomor 047 Hotel Pirus, sejam sebelumnya suara tawa dua orang manusia, dan denting gelas dan botol minuman memenuhi ruangan. dua jam berikutnya hanya lenguhan dan desah nafas saja yang memenuhi kamar.
*
Dimas datang mengendap-endap membuka pintu dengan sangat perlahan hampir tak bersuara, ia berjinjit-jinjit memasuki ruang tamu, melewati ruang keluarga, kosong, biasanya ada anak kecil yang sedang menonton televisi di sana. Ia mendengar suara di dapur, perlahan ia berjalan lagi, berusaha sebisanya tidak menimbulkan suara, dilihatnya sosok yang dicarinya sedang menghadap meja masak membelakanginya, ia lalu meletakkan bunga yang dibawanya di atas kulkas, dengan sigap dan cepat tangannya memeluk sosok yang sedang serius menghadap ke meja masak itu.
Reni terkejut hampir berteriak tapi tersenyum dan mencubit tangan yang tengah memeluknya dari belakang itu, “Astaga Dim, kamu mengagetkan saja” ia menghentikan kegiatannya mengiris bahan masakan dan menolehkan kepala menghadap Dimas yang tengah memeluknya dari belakang, entah ia sangat suka kerapkali Dimas memeluknya seperti ini
“Randah sudah tidur?” bisik Dimas di telinga Reni
Reni memandang wajah Dimas yang tampak tampan sekali malam itu, “Randah sedang di rumah neneknya” jawabnya singkat, sambil tersenyum.
Bibir Dimas perlahan beralih ke leher Reni yang jenjang, “Berarti kamu milikku malam ini” katanya kemudian, dengan cepat tangannya yang kekar mengangkat tubuh mungil Reni dan menggendongnya menuju kamar atas. Keduanya tertawa-tawa.
*
“Aku sudah dilamar, dua bulan dari sekarang kami akan menikah, apa kau akan datang?” Dewi membetulkan make up wajahnya di depan cermin kamar saat Fahmi berjalan memasuki kamar membawakannya sarapan, beberapa roti bakar dan dua cangkir kopi. Sarapan seperti biasa.
“Aku tak mengira kamu mau saja dijodohkan dengannya” Fahmi berjalan ke jendela kamar menikmati pemandangan kota Samarinda pagi hari, diambilnya rokok kemudian meyalakannya.
“Kamu tak memberiku pilihan, sampai sekarang kamu tak juga memperlihatkan tanda-tanda akan menceraikan istrimu” Dewi berbalik menatap Fahmi. Ia menatap sosok yang dikaguminya beberapa bulan belakangan, sosok yang setahun sebelumnya dicintainya dengan diam-diam sampai akhirnya perasaan itu terbalas, walau belum lagi lunas.
“Setelah urusanku lunas, aku akan segera meninggalkannya”
“Tapi kapan? Kita tak mungkin terus-terusan sembunyi-sembunyi seperti ini” Dewi mulai putus asa.
Fahmi tak lagi menjawab, bibirnya sibuk meniupkan asap yang baru saja memenuhi paru-parunya. Ia benar-benar mencintai gadis di hadapannya.
*
“Kami akan pindah ke Berau beberapa bulan lagi” kata Reni dengan tatapan kosong, “Apa yang akan kau lakukan sekarang?” pandangannya beralih pada Dimas
“Aku akan menikah beberapa bulan ke depan, mungkin setelah jjauh darimu aku benar-benar bisa melupakanmu, dan tidak lagi mengacau rumah tanggamu” Dimas membetulkan duduknya, tangannya meraih rokok di kantong celana yang diletakkannya sembarangan di bawah tempat tidur.
Reni mendesah panjang, ia turun dari tempat tidur, memakai penutup tubuh sekenanya, “Aku mau ambil bir kaleng, kamu mau?”
“Boleh”
Sudah sejak lama ia ingin mengakhiri hubungannya ini, ia tak ingin merusak rumah tangga sahabatnya sendiri. Dimas menyadari itu, karenanya ia tak ingin melanjutkan lebih jauh lagi, cukup hubungan gelapnya setahun terakhir ini, ia ingin membangun rumah tangganya sendiri. Menjauhi kehidupan lamanya dan memulai hidup baru yang tenang dan damai dengan orang yang benar-benar dipilihnya menjadi teman hidup.
“ini” Reni datang membawa dua kaleng bir dingin, “Mungkin ini yang terakhir, aku ingin menikmatinya bersamamu”
**
“Sudah dimasukkan semua?” Fahmi menutup bagasi mobil travel yang disewanya untuk mengantar ke bandara.
“Kurasa sudah, barangmu sudah semua kan?” Reni balik bertanya.
“Sudah, alat pancing, sepeda lipat, laptop, buku, lalu apa lagi ya, sudah semua aku yakin.”
“Ya sudah kita berangkat sekarang.”
Siang itu mereka sekeluarga menuju bandara untuk bertolak ke Berau, memulai kehidupan baru, mungkin juga awal yang baru bagi Reni, ia ingin melupakan semuanya, buru-buru ia mengelap air matanya yang hampir saja menetes. Dimas hanyalah kenangannya bukan masa depan, bukan harapannya di masa mendatang. Ia menghela nafas panjang, tangannya meraba perutnya, perut yang sudah tiga bulan menyimpan kehidupan dari Dimas. “Dimas Satya Paringrang, itu namanya kelak, Dim. Dialah bukti cintaku padamu adalah abadi,” air matanya kembali menetes dan cepat-cepat dihapusnya, untunglah suaminya sedang melamun menghadap ke jendela.
“Aku akan segera menjemputmu, Yan. Baik-baiklah kamu di sana” mata Fahmi menerawang mengamati jalanan yang mereka lewati, ia yakin akan cintanya, ia yakin kesetiaan Dewi, ia tahu Dewi tak mungkin berkhianat padanya. Mereka sudah saling berjanji, lagipula, janin yang sudah dua bulan pada tubuh Dewi adalah miliknya. Dewi dan janin itu adalah simbol pengikat kesetiaan mereka berdua, ia sangat yakin itu.
**
Sementara itu diwaktu  yang sama, di tempat yang berbeda, suasana bahagia menyelimuti pelataran gereja. Tepuk tangan riuh rendah dari ratusan tamu undangan meramaikan sebuah sebuah acara kudus pernikahan, dua orang sedang berbahagia mengikat janjinya untuk saling setia, Dewi dan Dimas.

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak