“Pulanglah besok pagi saja” Dewi menggeliat, tangannya memeluk Fahmi
yang terbaring di sampingnya, “Aku masih kangen kamu” bisiknya manja.
“Dia pasti curiga belakangan aku pulang pagi tanpa pernah memberi
kabar sebelumnya” Fahmi membetulkan duduknya lalu mengecup kening Dewi.
Dewi malah makin mengeratkan pelukannya, “Aku tak mau tahu,”
ciumannya mendarat di dada dan bibir Fahmi, “Aku benar-benar ingin kamu
milikku seutuhnya malam ini” bisiknya pelan.
Jalanan Samarinda terlihat lengang malam itu meski malam minggu,
nampaknya hawa dingin membuat orang-orang memilih bersantai di rumah
masing-masing. Tak terkecuali di kamar nomor 047 Hotel Pirus, sejam
sebelumnya suara tawa dua orang manusia, dan denting gelas dan botol
minuman memenuhi ruangan. dua jam berikutnya hanya lenguhan dan desah
nafas saja yang memenuhi kamar.
*
Dimas datang mengendap-endap membuka pintu dengan sangat perlahan
hampir tak bersuara, ia berjinjit-jinjit memasuki ruang tamu, melewati
ruang keluarga, kosong, biasanya ada anak kecil yang sedang menonton
televisi di sana. Ia mendengar suara di dapur, perlahan ia berjalan
lagi, berusaha sebisanya tidak menimbulkan suara, dilihatnya sosok yang
dicarinya sedang menghadap meja masak membelakanginya, ia lalu
meletakkan bunga yang dibawanya di atas kulkas, dengan sigap dan cepat
tangannya memeluk sosok yang sedang serius menghadap ke meja masak itu.
Reni terkejut hampir berteriak tapi tersenyum dan mencubit tangan
yang tengah memeluknya dari belakang itu, “Astaga Dim, kamu mengagetkan
saja” ia menghentikan kegiatannya mengiris bahan masakan dan menolehkan
kepala menghadap Dimas yang tengah memeluknya dari belakang, entah ia
sangat suka kerapkali Dimas memeluknya seperti ini
“Randah sudah tidur?” bisik Dimas di telinga Reni
Reni memandang wajah Dimas yang tampak tampan sekali malam itu,
“Randah sedang di rumah neneknya” jawabnya singkat, sambil tersenyum.
Bibir Dimas perlahan beralih ke leher Reni yang jenjang, “Berarti
kamu milikku malam ini” katanya kemudian, dengan cepat tangannya yang
kekar mengangkat tubuh mungil Reni dan menggendongnya menuju kamar atas.
Keduanya tertawa-tawa.
*
“Aku sudah dilamar, dua bulan dari sekarang kami akan menikah, apa
kau akan datang?” Dewi membetulkan make up wajahnya di depan cermin
kamar saat Fahmi berjalan memasuki kamar membawakannya sarapan, beberapa
roti bakar dan dua cangkir kopi. Sarapan seperti biasa.
“Aku tak mengira kamu mau saja dijodohkan dengannya” Fahmi berjalan
ke jendela kamar menikmati pemandangan kota Samarinda pagi hari,
diambilnya rokok kemudian meyalakannya.
“Kamu tak memberiku pilihan, sampai sekarang kamu tak juga
memperlihatkan tanda-tanda akan menceraikan istrimu” Dewi berbalik
menatap Fahmi. Ia menatap sosok yang dikaguminya beberapa bulan
belakangan, sosok yang setahun sebelumnya dicintainya dengan diam-diam
sampai akhirnya perasaan itu terbalas, walau belum lagi lunas.
“Setelah urusanku lunas, aku akan segera meninggalkannya”
“Tapi kapan? Kita tak mungkin terus-terusan sembunyi-sembunyi seperti ini” Dewi mulai putus asa.
Fahmi tak lagi menjawab, bibirnya sibuk meniupkan asap yang baru saja
memenuhi paru-parunya. Ia benar-benar mencintai gadis di hadapannya.
*
“Kami akan pindah ke Berau beberapa bulan lagi” kata Reni dengan
tatapan kosong, “Apa yang akan kau lakukan sekarang?” pandangannya
beralih pada Dimas
“Aku akan menikah beberapa bulan ke depan, mungkin setelah jjauh
darimu aku benar-benar bisa melupakanmu, dan tidak lagi mengacau rumah
tanggamu” Dimas membetulkan duduknya, tangannya meraih rokok di kantong
celana yang diletakkannya sembarangan di bawah tempat tidur.
Reni mendesah panjang, ia turun dari tempat tidur, memakai penutup tubuh sekenanya, “Aku mau ambil bir kaleng, kamu mau?”
“Boleh”
Sudah sejak lama ia ingin mengakhiri hubungannya ini, ia tak ingin
merusak rumah tangga sahabatnya sendiri. Dimas menyadari itu, karenanya
ia tak ingin melanjutkan lebih jauh lagi, cukup hubungan gelapnya
setahun terakhir ini, ia ingin membangun rumah tangganya sendiri.
Menjauhi kehidupan lamanya dan memulai hidup baru yang tenang dan damai
dengan orang yang benar-benar dipilihnya menjadi teman hidup.
“ini” Reni datang membawa dua kaleng bir dingin, “Mungkin ini yang terakhir, aku ingin menikmatinya bersamamu”
**
“Sudah dimasukkan semua?” Fahmi menutup bagasi mobil travel yang disewanya untuk mengantar ke bandara.
“Kurasa sudah, barangmu sudah semua kan?” Reni balik bertanya.
“Sudah, alat pancing, sepeda lipat, laptop, buku, lalu apa lagi ya, sudah semua aku yakin.”
“Ya sudah kita berangkat sekarang.”
Siang itu mereka sekeluarga menuju bandara untuk bertolak ke Berau,
memulai kehidupan baru, mungkin juga awal yang baru bagi Reni, ia ingin
melupakan semuanya, buru-buru ia mengelap air matanya yang hampir saja
menetes. Dimas hanyalah kenangannya bukan masa depan, bukan harapannya
di masa mendatang. Ia menghela nafas panjang, tangannya meraba perutnya,
perut yang sudah tiga bulan menyimpan kehidupan dari Dimas. “Dimas Satya Paringrang, itu namanya kelak, Dim. Dialah bukti cintaku padamu adalah abadi,” air matanya kembali menetes dan cepat-cepat dihapusnya, untunglah suaminya sedang melamun menghadap ke jendela.
“Aku akan segera menjemputmu, Yan. Baik-baiklah kamu di sana”
mata Fahmi menerawang mengamati jalanan yang mereka lewati, ia yakin
akan cintanya, ia yakin kesetiaan Dewi, ia tahu Dewi tak mungkin
berkhianat padanya. Mereka sudah saling berjanji, lagipula, janin yang
sudah dua bulan pada tubuh Dewi adalah miliknya. Dewi dan janin itu
adalah simbol pengikat kesetiaan mereka berdua, ia sangat yakin itu.
**
Sementara itu diwaktu yang sama, di tempat yang berbeda, suasana
bahagia menyelimuti pelataran gereja. Tepuk tangan riuh rendah dari
ratusan tamu undangan meramaikan sebuah sebuah acara kudus pernikahan,
dua orang sedang berbahagia mengikat janjinya untuk saling setia, Dewi
dan Dimas.
0 comments