#06 Martabak Telur Davidhukom

Kamisan S2 #6 - Martabak Telur: Martabak Telur Rasa Rindu

15.49Unknown


Source Image : Google
Source Image : Google

Lelaki itu berdiri di jembatan, menatap dari jauh seorang anak kecil yang sedang bermain bersama ayahnya, lalu pandangannya beringsut pada gadis  yang sepertinya adalah ibu dari anak itu, ia tersenyum. Pria itu merapatkan topi juga jaket, membiarkan gerimis menembus tubuhnya, “Andai kamu tahu aku selalu mengamatimu dari kejauhan, “ gumamnya sambil tersenyum.
**
“Aku akan memasakkan sesuatu untukmu,  jadi daripada kau mengacau di sini lebih baik kau tunggu saja di ruang makan” kata lelaki itu suatu hari pada gadis manis di depannya, gadis itu menurut saja sambil menekuk wajahnya yang cemberut lantaran kelaparan, tapi lelaki tadi bersikeras ingin memasak untuknya, “Awas saja kalau rasanya acak-acakan” gumamnya dalam hati.
Selang beberapa menit kemudian, gadis itu mulai memperhatikan yang diperbuat lelaki tadi untuknya, lelaki itu mulai memasukkan tumisan daging giling, daun bawang, bawang bombay, dan bermacam bahan lainnya menjadi satu kemudian mengorengnya. Ketika adonan bertemu minyak panas bau wangi semerbak memenuhi udara, membuat perut gadis itu makin berisik menuntut jatah makan.
“Astaga daritadi kamu cuma membuat telur dadar??” seru gadis itu ketika melihat hasil akhirnya. Mulutnya menganga tak percaya, demikian lama ia menunggu dan cuma itu yang didapat. Ini tak adil, pikirnya.
“Ini martabak telur! Kau tak lihat resepnya?” jawab lelaki di depannya, tangannya mengambil garpu di laci, lalu mengetuk-ketukkaannya ke dahi gadis yang dari tadi cemberut itu, “Telur dadar tidak pakai daging, Al.”
“Tapi Ray kamu mencampurkan seluruh adonan jadi satu lalu menggorengnya, itu namanya telur dadar, martabak telur nggak gitu” gadis itu masih mencoba mendebat.
“Itu martabak telur Al, telur dadar itu tak pakai daging” jelas lelaki itu masih dengan argumen yang sama.
Ishh, dimana-mana martabak telur itu dibalut dengan kulit yang terbuat dari tepung terigu, tidak dicampur sampai hasilnya acak adul begini” kata gadis itu tak mau kalah.
“Hei!” seru lelaki itu tak terima tapi tak punya kata-kata lagi untuk membalas ucapan gadis di depannya, “Sudah coba saja dulu” tuntasnya, mengakhiri perdebatan kurang jelas itu.
Gadis itu menurut saja, diambilnya garpu lalu mengiris bagiannya di atas piring. Baru sepotong gadis itu memasukkan makanan itu dalam mulut, matanya mengerjap-ngerjap, “Ini enak” katanya.
Senyum lelaki di depannya melebar. Sejurus kemudian piring di depan gadis itu sudah berpindah tangan, “Sudah cukup, jatahmu cuma segitu” katanya dengan senyum culas. Ia pergi meninggalkan gadis itu dengan acar dan sambal di atas meja di ruang makan.
Gadis tadi cuma bengong seakan tak sadar yang baru saja dialaminya, perutnya sedang lapar-laparnya tapi lelaki tadi justru begitu saja memainkan dirinya. Dahinya berkerut, bibirnya makin cemberut, matanya yang sipit makin terlihat segaris saja, “RAYI!!!” teriak gadis itu kemudian.
**
“Itu anakmu, Al? Aku tak mengira kamu memberinya nama sama denganku, dia makin besar, aku berharap kamu menceritakan semuanya kelak padanya jika dia dewasa. Astaga kurasa dia jadi anak yang bandel jika dewasa kelak,” lelaki itu tersenyum, matanya tak lepas dari gadis yang ada di depannya. Gadis itu seakan menyadari kehadirannya, ia kemudian bercerita, tentang bagaimana ia bertemu suaminya, bagaimana Rayi kecil hadir di dunia, bagaimana ia memasakkan telur dadar hingga menjadi menu favorit bagi anak dan suaminya itu.
“Dia sudah suka makan sayur sekarang” katanya suatu kali,
“Kau tahu Ray, giginya lepas kemarin”  katanya di saat yang lain
**
Keduanya ada di ruang tamu sekarang, setelah kejar-kejaran tak jelas. “Darimana kau belajar membuat ini?” tanya Alea, ia puas, makanan itu kini dilahapnya sendiri setelah melewati perebutan yang melelahkan.
“Dari mantanku dulu” jawab lelaki di sampingnya tersenyum.
“Oh..” Alea cuma menyahut, pendek, entah, makanan di mulutnya mendadak ingin dimuntahkan. Dadanya terasa sesak, ia mulai sedikit cemburu.
“Kurasa kau mengenalnya juga” lanjut Rayi melihat gelagat tak nyaman pada gadis di sampingnya.
Alea menoleh cepat, mulutnya kembali menganga tak percaya, “Hah? Siapa?”
“Farah queen” jawab Rayi lalu tertawa.
“GARING!” sahut Alea sebal, lalu melanjutkan makan.
Rayi masih tertawa geli. setelah meletakkan piring, dengan gerakan kilat tangan Alea sudah sampai di lengan Rayi cepat, sebuah cubitan kecil, tapi sakit dan panas mendarat di sana.
“Aw! Sakit Al!” Rayi meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengannya, “Sekali-sekali kau cubit sendirilah lenganmu itu, biar tahu bagaimana rasanya,” lanjutnya kemudian.
“Hi hi hi” Alea terkekeh senang sebalnya terbalas, “Ajari aku membuatnya!” serunya setelah menghabiskan sepiring penuh makanan tadi.
“TIdak akan pernah selama hobimu mencubit itu tak juga hilang” jawab Rayi bersungut-sungut
“Oh jadi kamu memang lebih memilih merasakan cubitan daripada mengajari aku membuatnya ya, oke” kata Alea bersiap melancarkan cubitan berikutnya.
Mata Rayi melebar, ah pertanda buruk, pikirnya
**
Suami Alea datang bersama anaknya, mengajaknya untuk pulang, tepat ketika matahari sudah menghilang.
“Iya, Bu. Ayo kita pulang, Bu!” rewel si anak.
“Iya. Ayo pulang! Nanti di rumah ibu masakkan telur dadar paling enak di dunia untuk Rayi dan ayah, ya?”
Alea bangkit, berjalan lebih dulu. Kedua lelaki di belakangnya saling mengedipkan mata lalu berlari mengejar perempuan yang paling mereka cintai di dunia.
Rayi tersenyum melihat mereka pergi, ia merapatkan topi dan jaketnya, sejurus kemudian tubuhnya berangsur menghilang melesat menuju langit.
**
“Ajari aku!” kata Alea lagi.
Tangan Rayi menghadap ke depan, menahan Alea melancarkan aksi cubitan mematikannya, “Ah iya-iya oke, aku akan mengajarimu” katanya mengalah, “Dengan satu syarat…”
Gadis itu sedikit tertegun, “Apa?” tanya Alea sedikit cemas, Rayi paling usil dalam hal begini.
“Kamu harus menikah dulu denganku”
***


Inspirasyen : dari sini
Ceritanya pingin ngelanjutin itu, tapi embuh malah nggak nyambung,… X)))

You Might Also Like

0 comments

Entri Populer

Formulir Kontak